berkomunikasi sebaiknya kita mengikuti sesuai dengan lawan bicara kita (komunikan)?(Maaf saya menggunakan bahasa neurology, ini hanya untuk memudahkan komunikasisesuai jaman sekarang). Bukankah Allah itu Ad Dhohiru dan sekaligus Al Bathinu,artinya selain dengan bahasa kasat (oral) dalam kesadaran juga kita tambahkankomunikasi bathin (hati) atau subconsiousness.Apabila kondisi kita masih dalam posisi betha dipaksa masuk alpha/theta dihawatirkan bagi yang belum berpengalaman sulit sampai tahap AH-HA. Tahap betha adalah tahapdimana otak kiri masih bekerja aktif. Tahap alpha/theta adalah tahap dimana dalam posisirilek, dan spiritual berada. Apabila kita sudah masuk states ini lebih awal makakomunikasinya mudah nyambung. Ini dapat dirasakan sendiri.4)
Apakah kondisi khusu itu berupa kondisi nangis ngejer dan berakhir denganmerasakan kenikmatan?
Menurut hadis, ketika ditanyakan kepada Sayidina Ali tentang apa yang disembahnya,Sayidina Ali menjawab
"Bagaimana mungkin saya menyembah Allah yang tidak terlihat?".
Jadi, khusyu adalah menghadirkan Allah menjadi REAL (ihsan). Bukan nangis ataunikmat karena keduanya adalah fenomena di alam rasa saja. Tapi bahkan meningkatlebih dalam lagi.5
)Apakah esensi/spirit dari sholat itu?
Esensinya mengingat Allah, dan menghadirkan Allah Taala sebagai sesembahan kita.
6) Pertanyaan terakhir, shalat khusyu itu duduknya di awal, di tengah atau di akhir dalam tehnik shalat?
Shalat khusyu itu merupakan kesadaran kita yang di mulai sejak awal, sejak darimendengar adzan, berwudhu, sampai sholat itu sendiri berakhir. Dari Dhikir ke Dhikir,itulah esensi dari penciptaan jin dan manusia "Tidak kuciptakan jin dan manusiamelainkan untuk beribadah". Kenapa Adzan juga termasuk? Karena adzan adalah dhikr,kenapa wudhu termasuk? Karena wudhu adalah penyucian jiwa dan raga, selain badanhatinya juga dibersihkan biar suci, rasa wudhu itu sebaiknya juga dirasakan oleh hati.Dengan hati yang bersih maka komunikasi dengan Allah akan mudah terhubungdibandingkan dengan hati yang berselimutkan kotoran (crosstalk).Untuk itu kesadaran kita berhubungan dengan Allah Ta’ala harus terbangun. Hal inimemang tidak mudah karena kesadaran berhubungan dengan hati atau qalbu sedangkanqalbu sifatnya turun-naik (labil). Yang dimaksud kesadaran adalah kondisi terjaga (tidak pingsan), mampu melihat dan merasakan hakekat sesuatu kejadian. Bisa mengambilmakna di balik kejadian. Dia juga paham bahwa sesuatu kejadian itu bukan sesuatu yangkebetulan terjadi. Dia berhasil ”melihat”, ”memahami” bahkan ”merasakan” bahwa adasesuatu kekuatan (qudrat iradat Allah) yang hadir di balik kejadian.