Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawaindustri dan mekanisasi tumbuh dan berkembang dalam rangkamewujudkan masyarakat industri yang maju dan mandiri. Berbagaimesin dan peralatan canggih dipergunakan dan diproduksi olehindustri-industri dan perusahaan-perusahaan. Mesin-mesin danperalatan tersebut di satu sisi sangat penting bagi pembangunannamun juga ternyata membawa dampak negatif bagi kesehatanmanusia khususnya tenaga kerja (Depnaker, 1993).Penggunaan teknologi yang tinggi di tempat kerja dalam halsarana dan prasarana yang menghasilkan suara atau bunyi ataukegaduhan yang tidak diinginkan (bising) akan menimbulkan gangguankesehatan khususnya pada pekerja, yaitu terjadinya penyakit akibatkerja. Bising yang sangat keras (di atas 85 dB untuk daerah pabrik,industri dan sejenisnya) dapat menyebabkan kemunduran yang seriuspada kondisi kesehatan seseorang pada umumnya, dan bilaberlangsung lama dapat menyebabkan kehilangan pendengaransementara, yang lambat laun dapat menyebabkan kehilanganpendengaran permanen. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnyagangguan pendengaran antara lain adalah intensitas kebisingan,frekuensi kebisingan, dan lamanya orang tersebut berada di tempatatau di dekat sumber bunyi, baik dari hari ke hari atau seumur hidup(Azwar, 1990).1
 
Masa kerja seseorang bekerja dapat mempengaruhi kinerja baikpositif maupun negatif. Akan memberi pengaruh positif pada kinerjabila dengan semakin lamanya masa kerja personal semakinberpengalaman dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya akanmemberikan pengaruh negatif apabila dengan semakin lamanya masakerja maka akan timbul kebiasaan pada tenaga kerja (Tulus, 1992).Kebisingan 75 dB untuk 8 jam per hari jika hanya terpapar satuhari saja pengaruhnya tidak signifikan terhadap kesehatan. Tetapi jikaberlangsung setiap hari terus menerus minggu demi minggu, bulandemi bulan, tahun demi tahun maka suatu saat akan melewati batasdimana paparan kebisingan tersebut akan menyebabkan gangguanpendengaran (Sasongko, 2000).Badan kesehatan dunia (WHO) melaporkan tahun 2000 adasejumlah 250 juta (4,2%) penduduk dunia menderita gangguanpendengaran dari dampak kebisingan dalam berbagai bentuk. Angkaitu diperkirakan akan terus meningkat. Di Amerika Serikat terdapatsekitar 5-6 juta orang yang terancam menderita tuli akibat bising.Sedangkan Belanda jumlahnya mencapai 200.000-300.000 orang, diInggris sekitar 0,2%, di Canada dan Swedia masing-masing sekitar 0,03% dari seluruh populasi. Dan sekitar 75 – 140 juta (50%) berada diAsia Tenggara. Indonesia cukup dominan, yaitu nomer 4 di AsiaTenggara sesudah Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%) dan India(6,3%) dan di Indonesia diperkirakan sedikitnya (4,6%) dan akan terusmeningkat (Budiono, 2003).2
 
Kita yakini bahwa belum ada satu perusahaan atau industri punyang dapat mengoperasikan faktor produksi tanpa memanfaatkantenaga kerja. Bahkan ada semacam kecenderungan, makin besar perusahaan dari segi kuantitas dan kualitas, makin besar jumlahkebutuhan akan tenaga kerja. Meskipun telah ditemukan teknologibaru berupa mesin-mesin otomatis dan komputerisasi berupaperangkat keras maupun perangkat lunak, tetapi bagi sebagian besar perusahaan belum dapat melaksanakan kegiatannya tanpa adanyatenaga kerja. Justru dengan semakin modernnya peralatan produksi(mesin-mesin), kebutuhan tenaga kerja yang profesional juga makinmeningkat (Sastrohadiwiryo, 2003).Tenaga kerja, sebagai sumber daya manusia yang sangat pentingperanannya dalam proses produksi, perlu memperoleh perlindunganterhadap kemungkinan bahaya kebisingan di tempat kerja. Ketulianakibat bising merupakan cacat yang bersifat menetap (
irreversible
),sehingga meskipun kelainan tersebut dikategorikan sebagaikecelakaan kerja yang berhak memperoleh kompensasi, upaya terbaikadalah mencegah agar tidak terjadi kerusakan pendengaran (Budiono,2003).Berkaitan dengan upaya penerapan kesehatan dan keselamatankerja, penggunaan Alat Pelindung Diri merupakan salah satu upayadalam pengendalian kebisingan tempat kerja sebagai pelengkappengendalian teknis maupun pengendalian administratif. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, khususnya3
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more