Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
25 Menentukan Pilihan

25 Menentukan Pilihan

Ratings: (0)|Views: 595|Likes:
Bende Mataram 25
Bende Mataram 25

More info:

Published by: Florentinus Davincente Corn on Jun 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/17/2012

pdf

text

original

 
25 MENENTUKAN PILIHAN
DI DALAM hati Adipati Surengpati sudah memperoleh keputusan hendakmenyerahkan gadisnya kepada sang Dewaresi yang tampan dan mempunyaikedudukan. Karena itu, tiga syarat yang akan dikemukakan harus bisadimenangkan calon menantu pilihannya. Tetapi selagi ia memeras otak hendakmemilih tiga sarat ujiannya, mendadak Gagak Seta berkata nyaring, "SaudaraSurengpati! Kau hendak menentukan pilihan calon menantumu dengan tiga syarat,itulah baik. Tapi dengarlah! Kita ini adalah golongan tukang pukul, kepalan dan adutendangan. Karena itu, tiga syarat yang hendak kau kemukakan harus mengenaiilmu tenaga. Seumpama engkau lantas mengajukan ilmu menggambar, ilmu sastra,ilmu sejarah, ilmu ketabilan, ilmu bumi, ilmu irama lagu atau ilmu alam terlebih-lebih mengenai ilmu mantra dan racun maka aku dan muridku dengan inimenyatakan kalah dan mengaku keyok. Karena itu daripada menanggung malulebih baik kami berdua meninggalkan panggung ujianmu.""Saudara Gagak Seta. Janganlah terburu-buru mengaku kalah!" sahut AdipatiSureng-pati cepat. "Kutanggung, bahwa tiga syarat yang hendak kukemukakanpasti ada hubungannya dengan ilmu jasmaniah. Yang pertama-tama mengenai adutenaga ilmu kepandaian...""Itulah tak dapat," potong Kebo Bangah menggugat."Kemenakanku sedang terluka.Bagaimana bisa mengadu tenaga jasmani.""Hal itu sudah tentu kuketahui," kata Adipati Surengpati dengan tertawa. "Akupuntak kan membiarkan kedua calon menantuku akan mengadu kepalan dantendangan di hadapanku. Bukankah dikemudian hari akan merusak tali kerukunankita?""Lantas apakah maksudmu hendak mengu-jinya dengan mengadu tenaga jasmani?"Kebo Bangah heran."Kujamin lagi, bahwa mereka berdua tak kan kuadu berkelahi.""Bagus! Bagus!" Kebo Bangah girang kemu-dian menebak-nebak. "Apakahmaksudmu, engkau sendiri hendak menguji tenaga jas-mani calon menantumu?""Itupun bukan," sahut Adipati Surengpati penuh teka-teki. "Dengan cara demikian,susahlah untuk dipertanggungjawabkan. Bukankah diwaktu aku menggerakkantenaga bisa mengatur daya berat dan daya ringan menurut kemauanku sendiri?Saudara Kebo Bangah dan saudara Gagak Seta! Tadi telah kusaksikan dengan matakepalaku sendiri, betapa tinggi ilmu kepandaian kalian sampai berkelahi dua ribu jurus masih belum juga memperoleh keputusan siapakah di antara kalian berduayang lebih unggul. Karena itu, kini baiklah kalian menguji tenaga jasmaniah sangDewaresi dan Sangaji. Agar aku mem-peroleh seorang menantu yang tangguh."
 
Mendengar ujar Adipati Surengpati, Gagak Seta tertawa. Terus berkata, "Carabegitu, tiada buruknya. Mari! Mari kita jodohkan!" Sehabis berkata demikian, lantassaja dia menghampiri sang Dewaresi."Tunggu dulu!" Adipati Surengpati buru-buru menyanggah."Kalian berdua harus tunduk pada suatu aturan tertentu. Pertama-tama, sangDewaresi sedang luka, pastilah dia tak bisa menghimpun tenaga untuk melawanpukulan saudaraGagak Seta. Begitu juga, Sangaji masih anak kemarin sore. Jika saudara KeboBangah ter-lalu menggunakan tenaga, masakan dia masih bisa mempertahankannyawanya. Karena itu yang diuji bukanlah tenaga jasmaninya, tapi ilmu kepandaiantenaga jasmani. Kedua, cara menguji kalian tidak boleh menginjak bumi. Kalianberempat harus memanjat pohon itu. Saudara Gagak Seta dan sang Dewaresi diatas pohon sebelah utara. Dan Saudara Kebo Bangah dan Sangaji di atas pohonsebelah timur. Siapa di antara kedua calon menantuku jatuh terlebih dahulu, dialahyang kalah. Dan yang ketiga, siapa yang melukai anak yang harus diuji, dialah yangkalah.Gagak Seta heran mendengar bunyi pera-turannya."Jadi apabila aku melukai kemenakan Kebo Bangkotan, maka aku dianggap kalah?""Ya... itulah maksudku," jawab Adipati Surengpati."Kamu berdua berilmu sangat tinggi, apabila tiada diatur semacam ini, sekali turuntangan apakah nyawa kedua anak muda bisa diperta-hankan. Saudara Gagak Seta!Apabila engkau membuat lecet saja kulitnya Dewaresi, kau kuanggap kalah!Demikian dengan saudara Kebo Bangah!"Gagak Seta menggaruk-garuk kepalanya. Tetapi ia tertawa juga. Akhirnya berkataseperti kepada dirinya sendiri."Adipati Surengpati benar-benar seorang siluman bangkotan. Semua keputusannyasangat aneh bin ajaib. Benar-benar cocok de-ngan sebutannya. Cobalah pikir, haiKebo Bandotan! Masakan melukai lawan sedikit saja, dianggap kalah? Aturan beginiadalah aturan yang paling aneh semenjak zaman pur-bakala! Tetapi baiklah, marikita tetapi peraturannya...!"Dalam pada itu Adipati Surengpati telah mengibaskan tanggan. Keempat orang itusegera memanjat dua pohon gundul yang berada di atas bukit. Gagak Seta dansang Dewaresi di sebelah utara dan Kebo Bangah dan Sangaji di sebelah timur.Seperti diketahui, kedua pohon itu gundul tiada daunnya selembar pun. Karena itu,keempat orang itu dapat diamat-amati setiap gerak-geriknya dengan jelas.
 
 Tatkala mereka berempat sudah berada di atas pohon. Adipati Surengpati berpikirseje-nak, ia tahu, sang Dewaresi lebih pandai dari pada Sangaji. Meskipun terluka,tapi otaknya cerdas. Pastilah dia emoh mengadu tenaga. Sebaliknya, hanyamengadu keringanan tubuhnya dengan meloncat-loncat menghindari. Dengandemikian bisa mengulur waktu.Kemudian berseru panjang, "Hai dengarkan! Asal aku menghitung satu-dua-tigamulailah bertempur! Dewaresi dan Sangaji apabila kamu jatuh terlebih dahulu, akuakan menganggapmu kalah!Mendengar ucapan Adipati Surengpati, Titisari berpikir keras untuk membantuSangaji dengan diam-diam. Tetapi melihat Kebo Bangah seorang pendekar berilmusangat tinggi, ia jadi bingung. Betapapun juga, tak dapat ia menghalang-halangikeperkasaan pendekar sakti itu. Tak lama kemudian terdengarlah suara Adipati Surengpati, "Dengar! Akumenghitung! Satu... dua... tiga...!"Maka bergeraklah keempat orang itu di atas pohon gundul. Mereka bergerak sangatcepat dan lincah bagai bayangan di atas permukaan air. Titisari menahan napas, mengkhawatirkan Sangaji. Pandangnya hampir takberkedip. Dilihatnya, Sangaji dapat bergerak dengan gesit dan tangkas bahkan bisamelampaui belasan jurus. Diam-diam ia heran dan tak terkecuali Adipati Surengpatiyang mengira kepandaian Sangaji biasa saja....Aneh! Mengapa ia belum bisa dijatuhkan? Adipati Surengpati sibuk menduga-duga.Kebo Bangah sendiri heran berbareng gelisah menghadapi perlawanan Sangaji mautak mau terpaksalah dia menggunakan tena-ganya. Namun ia tak dapatmengumbar kehendaknya sendiri, karena takut melukai. Karena itu ia berpikir kerasmencari akal untuk menjatuhkan. Dengan tiba-tiba saja ia menyapu Sangaji dengankedua kakinya bergantian. Apabila gagal, ia mengulangi lagi dan mengulangi sambilmengibaskan tangan pula.Diserang demikian, Sangaji melawan de-ngan ilmu sakti Kumayan Jati. Tubuhnyamelompat-lompat dengan gesit. Kedua ta-ngannya dibuka dan dipergunakansebagai gunting untuk membabat kaki Kebo Bangah. Tetapi dia bukan Gagak Setayang sudah mahir menggunakan ilmu sakti Kumayan Jati. Karena itu bagaimanapun juga ia masih kalah tenaga. Meskipun demikian, ia masih bisa sekali-kalimenyerang. Titisari yang berada di bawah berdebaran menyaksikan pertempuran mati-matianitu. Tatkala ia mengerling kepada Gagak Seta dan sang Dewaresi, ia melihat carabertempur yang lain.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->