Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tantangan Humanisme Dan Konsep Maslahat Dalam Islam

Tantangan Humanisme Dan Konsep Maslahat Dalam Islam

Ratings: (0)|Views: 169 |Likes:
Published by muhammadfatikhun

More info:

Published by: muhammadfatikhun on Jun 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2011

pdf

text

original

 
Tantangan Humanisme dan Konsep Maslahat Dalam Islam
Kamis, 28 Oktober 2010 08:10 Artikel
Oleh: Lilik Mursito
 
(Peserta PKU ISID Gontor Angkatan ke-III)
 
A.
 
Pendahuluan
 
Syariat Islam dibuat untuk menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia dan menghindarkan merekadari kerusakan. Sebagaimana tercermin dalam hadits Rasulullah Saw yang berbunyi
 
  
 
[1]. Lafadz
 
 berarti larangan membahayakan diri sendiri atau orang lain, sedangkan
  
 
 
berarti larangan salingmembahayakan antara 2 orang lain. Ini adalah kaidah yang agung, dengannya Rasulullah menutup segala pintukerusakan dan bahaya. Maka, tidak ada syariat kecuali didalamnya ada maslahat.[2]
 
Dewasa ini, paham humanisme sudah berkembang seiring trend pemikiran Islam liberal yang mulaimenggejala di hampir seluruh belahan dunia Islam. Salah satu argumentasi kaum liberal untuk menolak penerapansyariat Islam adalah berdasarkan pertimbangan maqasid syariah.[3]Kaitannya dengan humanisme, merekamembidik maslahah yang dianggap terlalu tunduk di bawah hegemoni teks, tanpa mempertimbangkan realitashidup manusia[4]. Maka perlu membendung sentralitas teks dan memperluas gerak nalar untuk memilahkemaslahatan meskipun tidak sesuai dengan teks-teks ilahiyah.[5]Sedangkan nalar dalam Islam geraknyadibatasi.[6]Dan nalar tidak terlalu mendominasi dalam maslahat, karena dalam Islam yang menjadi sandaran darimaslahat itu selalu petunjuk syara¶, bukan semata berdasarkan akal manusia.[7] Salah satu contoh adalah penerapan teori batasnya Syahrur dalam hukum qishas. Agar islam tidakdikatakan kejam seorang hakim dapat memberikan hukuman lebih rendah dari hukum bunuh, karena itu adalahbatas maksimal. Karena landasan normatif surat al Baqoroh ayat 178-179 tidak dipahami secara tekstual tapikontekstual.[8]Contoh yang lain adalah tentang pembolehan homoseksual, dengan menyatakan bahwa asas fiqhadalah maslahat dan manfaat, kalau menurut dia manfaat ya boleh.[9]
 
Maslahat dalam Islam landasannya adalah petunjuk syara¶, bukan semata berdasarkan akal manusia.[10] Sedangkan dalam Humanisme[11]yang menjadi acuan adalah manusia. Di sisi lain, Humanisme sendiri adalahmerupakan kata yang ambivalen.[12]Maka, jika humanisme diterapkan dalam menentukan maslahat, tatananhukum dalam Islam akan menjadi rusak.Melihat deskripsi singkat di atas, maka penting kiranya untuk dibahas tentang konsep maslahat dalamislam dan dalam perpekstif Humanisme serta perbedaan antara keduanya.
 
B
.
 
Ko
nsep
M
aslahat
 
dalam
I
slam
 
1)
 
D
efinisi
 
 
Kata maslahah berasal dari bentukan tiga huruf sha, la dan ha. Dan darinya terbentuk kata shalaha,shaluha, ashlaha, Shaalaha, Isthalaha, ishtashlaha, Shalahiyah dan ash shulhu.[13]Menurut Al fayumi kata kerjashaluha, antonim dari ³fasada´ yang bermakna rusak. Kemudian ditambah alif didepannya menjadi ashlaha, yangbermakna mendatangkan kebaikan dan kebenaran. Dan kata maslahah bermakna kebaikan, yang merupakanbentuk tunggal dari mashalih.[14]Sedangkan Fairuz Abadi mengambil dari kata kerja Shalaha-yasluhu, Shalaahanwa suluhan, yang bermakna hilangnya kerusakan; bermanfaat atau cocok. Kemudian ditambah huruf hamzahdidepan sehingga menjadi ashlaha-yuslihu-islaahan, yang bermakna berbuat sesuatu yang berfaedah(bermanfaat).[15]
 
Menurut Ibnu Mandzur kata maslahah berasal dari kata ³shalaha´ yang berarti baik, antonim dari kata ³fasada´ (rusak). Ia adalah
ma
sd 
a
(bentuk kata benda) dari kata shalaha yang ditambah alif didepannya(ashlaha). Maslahah adalah bentuk tunggal dari kata mashalih, yang bermakna shalah yaitu manfaat atau lawandari kerusakan, dan istishlah antonim dari istifsad.[16]
 
Maka sebagaimana dikatakan oleh Al Buthi bahwa kata maslahah sama dengan kata manfaat dari sisiwazan (timbangan) dan makna. Dan setiap apapun yang mengandung manfaat, berupa mendatangkan faedah dankenikmatan atau berupa perlindungan seperti menjauhkan dari bahaya atau rasa sakit, semua itu pantas disebutdengan maslahah.[17]
 
Yusuf Hamid mengatakan bahwa kata maslahah mutlak kembali kepada 2 hal. Yang pertama,sebagaimana Al Buthi bahwa kata maslahah sama dengan kata manfaat (dalam bahasa arab), dari sisi wazan(timbangan) dan makna, ini adalah makna hakiki. Yang kedua secara
majaz 
, berarti perbuatan yang mengandungkebaikan dan manfaat, maksudnya dalam konteks kausalitas. Seperti halnya perniagaan yang mengandungmanfaat materi dan menuntut ilmu yang mengandung manfaat maknawi.[18]
 
Izzudin Ibnu Abdil Azis Ibnu Abdis Salam sendiri menyatakan bahwa kata al mashalih (bentuk plural darial maslahah) dan al mafasid (bentuk plural dari al fasadu) sering diungkapkan dengan kata khoir (kebaikan) danasy syarr (keburukan), an naf¶u (manfaat) dan adh dhoorr (bahaya), al hasanah (kebaikan) dan as sayi¶ah(keburukan). Karena maslahah mencakup semua kebaikan dan manfaat, sedangkan al mafasid mencakup seluruhkeburukan dan bahaya. Al qur¶an sendiri selalu menggunakan kata al hasanah untuk menunjukan pengertian almaslahah dan kata as sayi¶ah untuk menunjukan pengertian al mafsadah.[19] Jadi, secara etimologi kata maslahah adalah sinonim dari kata manfaat. Dia digunakan untukmenunjukkan sesuatu atau seseorang yang menjadi baik atau bermanfaat. Dan secara alternatif untukmenunjukkan keadaan yang mengandung kebajikan atau terhindar dari bahaya.
 
Selanjutnya pengertian maslahah secara definitif. Dalam mengartikan maslahah secara definitif terdapatperbedaan rumusan dikalangan ulama. Berikut ini kami sebutkan definisi dari beberapa ulama.Imam Al ghozali menjelaskan bahwa menurut asalnya maslahah itu berarti sesuatu yang mendatangkanmanfaat (keuntungan) dan menjauhkan mudarat (kerusakan), namun hakekat dari maslahah adalah memeliharatujuan syara¶ dalam menetapkan hukum. Sedangkan tujuan syara¶ dalam menetapkan hukum itu ada lima, yaitumemelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.[20] 
 
Al Khawarizmi memberikan definisi yang hampir serupa dengan definisi al ghozali di atas, yaitu:´memelihara tujuan syara¶ (dalam menetapkan hukum) dengan cara menghindarkan kerusakan dari manusia.´ [21]
 
Selanjutnya Izzudin Ibnu Abdil Azis mendefinisikan maslahah dalam 2 bentuk. Yang pertama hakiki,maksudnya berupa ´kesenangan dan kenikmatan´. Dan kedua, bentuk majazi, maksudnya ´sebab-sebab yangmendatangkan kesenangan dan kenikmatan´ tersebut, dan bisa jadi faktor datangnya maslahah adalah justrumafasid (kerusakan).[22]Definisi ini didasarkan bahwa pada prinsipnya ada empat bentuk manfaat, yaitukelezatan dan sebab sebabnya serta kesenangan dan sebab-sebabnya.[23]
 
Menurut Yusuf Hamid maslahah adalah implikasi dari suatu tindakan atas dasar ketentuan-ketentuansyar¶i yang mendorong terwujudnya maksud syari¶ dalam pembuatan hukum guna mendapatkan kebahagiaandunia dan akhirat.[24] Yang terakhir definisi dari Asy syatibi. Beliau mendefinisikan maslahah dari dua sudut pandang, yaitu darisegi terjadinya maslahah dalam kenyataan dan dari segi tergantungnya tuntunan syara¶ kepada maslahah. Darisegi terjadinya maslahah dalam kenyataan, berarti: ´sesuatu yang kembali kepada tegaknya kehidupan manusiaserta kesempurnaan hidupnya, tercapai apa yang dikehendaki oleh sifat syahwati dan aklinya secara mutlak,sehingga dia merasakan kenikmatan´.[25]
 
Sedangkan dari segi tergantungnya tuntunan syara¶ kepada maslahah, yaitu kemaslahatan yangmerupakan tujuan dari penetapan hukum syara¶. Untuk meraihnya Allah Ta¶ala menuntut manusia untuk berbuat,sehingga mencapai kesempurnaan dan lebih mendekati kehendak syara¶. Kalaupun dalam pelaksanaannyamengandung kerusakan sebenarnya bukan itu yang diinginkan oleh syara¶.[26]Jadi, dari beberapa definisimaslahah para ulama diatas, dapat kita ambil pendapat Imam Asy Syatibi sebagai perwakilan sekaliguskesimpulan. Karena definisi yang beliau utarakan mencakup definisi dari ulama-ulama yang lain.
 
Dari dua definisi diatas, baik secara etimologi maupun secara terminologi, dapat kita ambil beberapakesimpulan. Diantaranya adalah bahwa maslahah terkadang dapat dilihat secara rasional dan terkadang tidak,karena ada beberapa perkara yang bentuknya kerusakan namun ujungnya berbuah maslahah atau sebaliknya.Kemudian ada perbedaan antara definisi maslahah secara umum (etimologi) dan syara¶ (terminologi) yang terletakpada tujuan syara¶ yang dijadikan rujukan. Secara etimologi maslahah merujuk pada tujuan pemenuhankebutuhan manusia dan karenanya mengandung pengertian untuk mengikuti syahwat dan hawa nafsu. Sedangkansecara syar¶i, ukuran dan rujukannya adalah tujuan syara¶ yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan danharta, tanpa melepaskan tujuan pemenuhan kebutuhan manusia yaitu mendapatkan kesenangan danmenghindarkan ketidaksenangan.
2
)
 
M
acam
M
acam
M
aslahah
 
Telah dijelaskan di atas bahwa maslahah dalam artian syara bukan hanya didasarkan pada pertimbanganakal dalam menilai baik buruknya sesuatu, bukan pula karena dapat mendatangkan kenikmatan danmenghindarkan keburukan; tetapi lebih jauh dari itu, bahwa apa yang dianggap baik oleh akal juga harus sejalandengan tujuan syara¶ dalam menetapkan hukum yaitu memelihara lima prinsip pokok kehidupan. Misalnyalarangan meminum minuman keras. Adanya larangan ini menurut akal sehat mengandung kebaikan atau maslahah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->