Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Artikel Abi Di Media

Artikel Abi Di Media

Ratings: (0)|Views: 14 |Likes:
Published by Fifi Nofiaturrahmah

More info:

Published by: Fifi Nofiaturrahmah on Jun 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2011

pdf

text

original

 
Kamis
, 11 Maret 2010
Empati yang MembebaskanKamis, 10 Desember 2009 | 04:56 WIBAchmad M Akung
Keadilan sesungguhnya adalah satu di antara sekian banyak atribut Tuhan yang sangat indah.Manusialah, karena keluhuran akal budinya, yang diberi amanat menjaganya dalam setiap gerak kehidupan.Berlaku adil dan diperlakukan adil adalah formula normatif terbaik dalam kehidupan. Tidak sederhanamemang karena keadilan tidak selamanya bersifat obyektif. Kadang keadilan adalah realitas yangdipersepsikan sehingga sifatnya menjadi sangat subyektif.Adalah hak publik pula untuk memiliki persepsi tersendiri tentang apa itu keadilan. Dengan logikanyayang sederhana, masyarakat kadang bahkan lebih permana (cermat) dalam menakar keadilanketimbang para penegak hukum yang berkiblat dengan logika-logika njelimet.Apabila kita mengamini pandangan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, keadilan sejati tersebuttentu saja senada dengan apa yang disuarakan rakyat.Realitasnya, sekian lama kita berkutat dalam lembaga bernama negara, keadilan itu rasanya menjadisemakin sulit kita temui. Semakin banyak orang menangis, histeris, karena merasa ditidakadili.Keadilan justru dikorupsi oleh aparat yang diamanati rakyat untuk menegakkannya.Belum lagi drama cicak-buaya pupus dari ruang batin kita, kisah Minah dengan tiga biji kakao”temuannya” belum juga bisa dilupakan, kisah pilu peradilan kita tertoreh kembali.Kali ini Prita Mulyasari, yang tertebas ”pedang keadilan”. Prita kalah dalam gugatan perdata diPengadilan Tinggi Banten yang mengganjarnya denda Rp 204 juta karena dianggap mencemarkannama baik dan dokter sebuah rumah sakit ternama di Serpong. Meski proses hukum belum berakhir,rasa keadilan publik telanjur terusik.Ada getar rasa yang tidak terkata ketika penulis membaca cerita ”Keadilan Direcehkan, KoinDikumpulkan” (Kompas, 8/12/2009). Rasa senada juga pernah hadir ketika dukungan atas Bibit-Candra meluas di jejaring sosial dunia maya.
Psikologi empati
 
Dalam ranah psikologi, fenomena dukungan yang meluas di tengah masyarakat kepada pihak yangdipersepsikan sedang ditidakadili (dizalimi), seperti dalam kasus KPK dan Prita, adalah manifestasirasa empati yang dimiliki publik.Diksi empati berakar dari kata Yunani, empatheia, yang berarti ”ikut merasakan”. Awalnya,digunakan para teoretikus estetika untuk kemampuan memahami pengalaman subyektif orang lain.Empati melibatkan apa yang disebut sebagai pengambilan perspektif, yaitu sebuah kemampuan untuk mengambil alih secara spontan sudut pandang orang lain. Dalam konteks ini, individu mengubah poladiri secara imajinatif ke dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dari obyek empati.Empati sesungguhnya adalah anugerah yang khas dimiliki manusia sebagai bagian dari rasakamanungasan (sense of humaness). Tanpa empati yang tumbuh dan berakar kuat dalam diri,sesungguhnya kita telah terjerembab pada apa yang disebut Nick Haslam (2006) sebagai gejaladehumanisasi mekanistik.Hati publik yang terketuk dalam kasus Prita adalah tanda hati yang masih memiliki empati. Secaraimajinatif, publik memosisikan dirinya pada perasaan, pikiran, dan penderitaan seorang ibu rumahtangga, yang atas nama hukum dipaksa negara membayar ratusan juta, justru ketika ia menuntuthaknya.Empati itu lantas mengalirkan dukungan yang tidak sebatas pada pernyataan belaka, tetapi diikuti perilaku prososial berupa pengumpulan uang receh yang secara spontan dilakukan di beberapa kota diIndonesia.
Meliberasi diri
Secara harfiah, pengumpulan receh memang dimaksudkan untuk membebaskan Prita dari hukumandan beban finansial akibat tingginya denda yang harus dibayarkan. Namun secara implisit, gerakan inisesungguhnya sarat makna.Ruh zaman (zeitgeist) yang harus dihadapi dalam konteks kekinian memang membenturkan kitadengan realitas sulitnya mencari keadilan. Hukum yang dikonstruksi di negeri ini enggan berpihak kepada rakyat kecil. Sebaliknya, secara telanjang hukum justru menunjukkan keberpihakannya kepadagolongan tertentu. Namun apa daya, publik tak kuasa menghadapinya. Masyarakat dihinggapi perasaan tak berdaya(powerless), pesimis, dan frustrasi menghadapi mandulnya hukum dalam mencipta keadilan. Hari iniPrita, esok, atas nama hukum, mungkin kita yang akan ”dipritakan”.Koin receh adalah bentuk perlawanan dengan satire di tengah ketidakberdayaan, sekaligus adalahkanal nonagresi untuk meliberasi diri dari semua emosi, kejengkelan, dan ketegangan psikologis
 
akibat keadilan yang tak tertegakkan. Sementara uang receh sengaja dipilih untuk menggambarkan begitu mudah dan murahnya keadilan itu dibeli.Sebagai catatan penutup, semoga aparat penegak hukum memiliki nurani yang cukup untuk merasakan sentilan mesra penuh cinta dari rakyat yang menjelang putus asa mendamba keadilan.Jangan biarkan ia berubah menjadi amarah yang membara.Sungguh, publik menantikan saatnya negara bisa berempati dan menunjukkan keberpihakannyakepada rakyat, menyemai keadilan di seluruh penjuru negeri.
 Achmad M Akung 
Mahasiswa Pascasarjana Psikologi UGM; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, Semarang 
 
 WACANA 
03 Februari 2009
Tersesat dalam Aliran Sesat
Oleh Achmad M Akung
MASYARAKAT
kita kembali dikejutkan oleh kemunculan aliran sesat (sekte) baru di Kebagusan, PasarMinggu, Jakarta Selatan (Suara Merdeka, 29 Januari 2009). Menilik namanya, Satrio Piningit Weteng Buwono,sekilas aliran itu dekat dengan kejawen. Namun, siapa mengira sekte itu ”berangkat” dari ajaran Islam yangdimodifikasi oleh pemimpinnya, Agus Imam Solichin.Sekte itu mengajarkan pengikutnya melakukan ritual yang bertentangan dengan Islam, berjanji menanggungdosa para pengikutnya, masuk ke arasi Tuhan tanpa melewati kematian, serta ibadah yang dilakukan tanpa busana. Kelanjutannya, adalah ritual seks bersama dengan bergantian pasangan sesama pengikut. Semuadilakukan atas ajaran Sang Guru, yang belakangan juga mengaku sebagai tuhan.Dari perspektif psikologi agama dan dinamika psikososial, fenomena itu menarik untuk dicermati. Sektememang bukan barang baru dalam kehidupan masyarakat kita; tapi mengapa fenomena itu terus saja munculdengan pengikut yang taqlid wuta, tunduk mengimani segenap kenyelenehannya.
Morfologi Sekte
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1999), sekte diartikan sebagai sekelompok orang yang mempunyaikepercayaan atau pandangan agama yang secara substantif berbeda dari pandangan fundamental agama yanglebih lazim diterima oleh masyarakat. Sekte merupakan menyimpang dari agama besar dan agama samawi yangsudah mapan secara legal formal.Di Indonesia, sekte merupakan permasalahan semua agama-agama legal, karena faktanya semua agama tersebutmemiliki potensi tumbuhnya gerakan sempalan. Sekte biasanya memang berangkat dengan mendomplengajaran agama tertentu, untuk selanjutnya bermetamorfosis, menyempal, bahkan melawan agama asalnya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->