Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Terapan Nano Material Pada Bidang Biologi Dan Farmasi an Dan ya - b

Terapan Nano Material Pada Bidang Biologi Dan Farmasi an Dan ya - b

Ratings: (0)|Views: 190 |Likes:
Published by Horasdia Saragih

More info:

Published by: Horasdia Saragih on Jun 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2011

pdf

text

original

 
1
 
Nanomaterial: Pendekatan Baru PenanggulanganKanker dan Diabetes
Horasdia SARAGIH
 Laboratorium Sains Terapan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan AlamUniversitas Advent Indonesia Jl. Kolonel Masturi No. 288 Parongpong, Bandung 40559, INDONESIAe-mail: horas@dosen.fisika.net 
ABSTRAK
Kanker dan diabetes adalah dua jenis penyakit yang sampai saat ini masih belum dapat diatasi secara sem- purna, sehingga oleh karena itu menjadi penyebab dominan kematian manusia. Efek samping kemoterapimenjadi masalah baru yang harus dihadapi oleh penderita kanker dan kurangnya suplai insulin dalam cairandarah menjadi masalah utama pada penderita diabetes. Obat kanker yang sangat beracun pada kemoterapi ti-dak dapat menyasar secara selektif sel-sel kanker, sel-sel normal juga cenderung dinonaktifkan. Dalam kasusdiabetes, sel beta yang ada di pankreas sebagai generator insulin tidak dapat dipacu untuk memproduksi in-sulin sesuai kebutuhan sehingga kelebihan kandungan gula di dalam cairan darah menjadi tidak terkendali.Penemuan karakteristik nanomaterial yang unik memberikan harapan yang sangat berarti terhadap penyele-saian permasalahan di atas. Nanomaterial seperti
carbon nano tube
(CNT) dapat secara selektif hanya me-masuki sel-sel yang terserang kanker. CNT dapat leluasa menembus membran sel dan keluar-masuk sel tan- pa mengganggu kerja sel. Oleh karena itu CNT dapat dijadikan sebagai
carrier 
pada sistim penghantaranobat pada penderita kanker pada proses kemoterapi. Sementara di lain pihak, usaha yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan kurangnya kandungan insulin di dalam darah adalah dengan teknik oral. Namunoleh karena ukuran partikel insulin yang digunakan relatif besar, maka sulit bagi insulin untuk menembus le-luasa pembuluh darah. Dengan demikian, permasalahan ukuran partikel insulin harus diatasi. Teknik yang paling efektif adalah menggunakan rekayasa nanoteknologi untuk mendisain ukuran partikel insulin dalamorde nanometer, atau memacu sel beta dengan nanocitosan untuk memproduksi secara tepat insulin yang di- butuhkan. Pada tulisan ini perkembangan penangangan kedua jenis penyakit di atas dengan pendekatan na-noteknologi akan diuraikan.
Kata kunci
: NANOMATERIAL, SWCNT, MWCNT, NANOKITOSAN, KANKER, DIABETES.
1.
 
PENDAHULUAN
 Nanomaterial adalah suatu materi yang uku-rannya berada pada kisaran 1-100 nanometer (nm).Materi ini dapat dalam bentuk kristal yang atom-atomnya tersusun secara teratur maupun dalam bentuk non-kristal (Kumar 
et al.
, 2005). Ditemu-kan bahwa perilaku materi yang berukuran nano-meter sangat berbeda dibanding dengan perilaku pada ukuran yang lebih besar (
bulk 
). Perbedaanyang sangat dramatis terjadi pada sifat fisika, ki-mia dan sifat biologinya. Perbedaan yang terjadimemberikan manfaat yang sangat besar sehinggamembawa material berukuran nanometer sebagaimaterial unggul pada berbagai bidang terapan,termasuk biologi dan farmasi.Yang paling menarik lagi adalah sejumlah si-fat-sifat yang dimilikinya dapat diubah-ubah seca-ra signifikan melalui pengontrolan ukuran padaorde nanometer tersebut, pengaturan komposisikimia, modifikasi permukaan, dan pengontrolaninteraksi antar-partikelnya. Sifat-sifat yang bergan-tung pada ukuran ini dipercaya sebagai hasil daritingginya rasio luas permukaan terhadap volumematerial.Beberapa tahun terakhir penelitian terhadapnanomaterial menjadi intensif dilakukan di berba-gai negara, baik menyangkut metode sintesanyamaupun sifat-sifat yang dihasilkannya. Pada bi-dang energi, nanomaterial dilibatkan untuk meng-hasilkan sel surya yang lebih efesien. Pada bidangkesehatan, obat-obatan dikembangkan mengguna-kan nanomaterial sehingga lebih cepat larut dan bereaksi untuk menghasilkan apa yang disebutdengan obat pintar (
 smart drug 
) yang dapat men-cari sel-sel tumor secara presisi dan mematikannyatanpa mengganggu sel-sel sehat tetangganya (So-na, 2010; Wong
et al.
, 2011). Berbagai metodesintesa dan terapan baru, dilaporkan hari demi ha-ri.Proses sintesa nanomaterial dapat dilakukansecara
top down
maupun secara
bottom up
(Kumar 
et al.
, 2005). Secara
top down
, material yang beru-kuran besar digiling (
 grinding 
) sampai ukurannya
 
2
 
 berorde nanometer. Alat penggiling paling populer adalah
ball mill 
. Di samping itu dilakukan dengancara evaporasi. Material berukuran besar dipa-naskan sampai pada temperatur uapnya sehinggaterevaporasi menghasilkan partikel-partikel beru-kuran nanometer. Nanomaterial yang dihasilkan pada kedua cara di atas distabilisasi dengan meng-gunakan larutan kimia seperti
 polyvinyl alcohol 
 (PVA) atau
 polyethilene glycol 
(PEG) sehinggamembentuk nanokoloid yang stabil. Sayangnya,cara evaporasi berbiaya tinggi karena mengguna-kan peralatan yang mahal.Secara
bottom up
sintesa nanomaterial dilaku-kan dengan mereaksikan berbagai larutan kimiadengan langkah-langkah tertentu yang spesifik sehingga terjadi suatu proses nukleasi yang meng-hasilkan nukleus-nukleus sebagai kandidat nanpar-tikel setelah melalui proses pertumbuhan. Laju pertumbuhan nukleus dikendalikan sehinggamenghasilkan nanopartikel dengan distribusi uku-ran yang relatif homogen.Logam koloid (nanomaterial logam dalam bentuk koloid) telah berhasil disintesa secara
topdown
maupun secara
bottom up
. Secara
bottom up
, paduan logam organik (
metalorganic
) seringnakan. Paduan logam organik didekomposisi (di-reduksi) secara terkontrol sehingga ikatan logamdan ligannya terpisah. Ion-ion logam hasil posisi bernukleasi membentuk nukleus-nukleusyang stabil, yang dibangkitkan baik dengan meng-gunakan katalis maupun melalui proses tumbukan.Selanjutnya nukleus-nukleus stabil tersebut ber-tumbuh membentuk nanopartikel. Secara skematis proses ini ditunjukkan pada gambar 1 (Kumar 
et al.
, 2005). Untuk menghindari proses aglomerasiantara nanopartikel-nanopartikel yang ada, lang-kah stabilisasi dilakukan dengan menggunakanlarutan separator.
Gambar 1.
Skema proses pembentukan nanomaterial logam koloid secara
bottom up
(Kumar 
et al.
, 2005)
.
2.
 
TEMPERATUR LEBUR NANOMATERI-AL
Temperatur lebur suatu material sangat ber-gantung pada ukuran partikelnya. Semakin kecilukuran suatu partikel makin kecil temperatur le- burnya (Schaefer, 2010). Emas pada ukuran besar (
bulk 
) memiliki temperatur lebur 1.064
o
C, semen-tara jika ukurannya 2 nm temperatur leburnya tu-run menjadi 200
o
C. Hubungan temperatur lebur dengan ukuran partikel dinyatakan oleh persamaan1):
 
1

(1)
 
3
 
dengan
m
∞ 
 )
temperatur lebur pada ukuran
bulk 
,
α 
adalah suatu konstanta yang bergantung pada jenis material,
 ρ 
adalah massa jenis material,
 R
 adalah jari-jari partikel, dan
 H 
adalah kalor latenfusi material.Penurunan temperatur lebur akibat mengecil-nya ukuran partikel dipahami dari konsep ikatanantar atom. Atom-atom yang menempati posisi didalam material mengalami ikatan dengan atom-atom lain yang ada di sekelilingnya dari segalaarah sehingga ikatannya sangat kuat. Sementaraatom-atom yang ada di permukaan hanya menga-lami ikatan dari arah dalam dan dari arah sampingsehingga ikatan yang dialaminya sangat lemah.Semakin kecil ukuran partikel, persentasi jumlahatom yang ada di permukaan menjadi semakin be-sar dibanding dengan jumlah atom yang ada didalam partikel sehingga semakin banyak atom-atom yang mengalami ikatan lemah. Akibatnya,energi ikat rata-rata antar atom makin lemah danmenurunkan temperatur lebur.
3.
 
LEBAR CELAH PITA ENERGI NANO-MATERIAL
Lebar celah pita energi suatu material di- pengaruhi oleh ukuran partikelnya (Schaefer,2010). Dalam prakteknya lebar celah pita energidapat diperoleh dari pengujian dengan mengguna-kan spektrometer 
Ultraviolet Visible
(
UV-VisSpectrometer 
). Oleh karena itu, jika lebar celah pita energi suatu material dapat diperoleh, makaukuran partikelnya dapat ditentukan. Hubunganantara jari-jari partikel
dan lebar celah pita energi
Δ
 E 
dapat dihitung dengan menggunakan perumu-san yang diturunkan oleh Brus, yaitu:
∆  


,
 (2)dimana:
 E 
 g 
adalah energi transisi hasil pengukurannanopartikel,
 E 
 g  Bulk 
 
adalah energi transisi materialdalam ukuran
bulk 
,
h
adalah konstanta Plank,
e
adalah muatan elektron,
m
o
adalah massa diamelektron,
m
e
adalah massa efektif elektron,
m
h
ada-lah massa hole,
ε 
 
dan
ε 
o
masing-masing adalahkonstanta dielektrik material dan permitivitasnya pada ruang hampa.Suku pertama pada persamaan 2 muncul seba-gai akibat dari keterbatasan ruang gerak elektrondan hole di dalam partikel oleh karena ukuran par-tikel yang sangat kecil (orde nanometer). Efek ukuran ini memperbesar lebar celah pita energi(memperbesar jarak antara pita valensi dengan pitakonduksi). Untuk ukuran material yang sangat be-sar (
bulk 
), nilai
dapat dianggap menuju
se-hingga nilai suku pertama dan kedua menjadi nol.Suku kedua muncul akibat adanya tarikan Co-loumb antara elektron dengan hole setelah elektronmengalami eksitasi. Ruang gerak elektron yangterbatas mengakibatkan jarak elektron dan holemenjadi terbatas dalam arti tidak bisa jauh. Aki- batnya, tarikan antara keduanya selalu ada yang berimbas pada pengurangan energi yang dimilikielektron setelah mengalami eksitasi.
4.
 
REAKTIVITAS KIMIA NANOMATERI-AL
Pengurangan ukuran suatu material ke ordenanometer mengubah secara drastis sifat reaktivi-tas kimianya. Hal ini terjadi karena fraksi jumlahatom yang menempati permukaan meningkat.Reaktivitas kimia suatu partikel sangat bergantung pada jumlah atom yang ada pada permukaan parti-kel tersebut karena atom-atom inilah yang akanmelakukan kontak langsung dengan atom-atom partikel yang lain (Schaefer, 2010).Misalkan suatu partikel memiliki jari-jari r.Luas permukaan partikel adalah S
o
=4
π
2
. Jika jari- jari efektif suatu atom adalah a, maka luas penam- pang efektifnya adalah s=
π
a
2
. Dengan demikian, jumlah atom yang menempati permukaan partikeladalah:

(3)Volume partikel adalah V
o
=(4/3)
π
3
dan volumesatu atom adalah v=(4/3)
π
a
3
. Dengan demikian jumlah atom yang terkandung dalam partikel ter-sebut adalah:
 
 
(4)sehingga fraksi jumlah atom yang menempati permukaan adalah:

 
(5)Dari persamaan 5 dapat secara jelas terlihat bahwa bila jari-jari partikel r diperkecil, makafraksi jumlah atom yang terdapat di permukaan partikel akan semakin meningkat sehingga me-ningkatkan reaktivitas kimia partikel.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->