Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011

PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011

Ratings: (0)|Views: 1,851|Likes:
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memiliki potensi cukup besar dengan areal perkebunan dan produksinya cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan pada 2010, Indonesia menduduki posisi kedua menggeser Ghana sebagai produsen biji kakao dunia setelah Pantai Gading. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sejak 2009 hingga 2011 merevitalisasi kebun kakao yang sudah tua dengan anggaran sebesar Rp13,7 triliun. Pemerintah juga melakukan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas), dalam rangka percepatan peningkatan produktivitas tanaman dan mutu kakao, terdiri dari peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi tanaman kakao rakyat dengan teknologi terkini.
Dengan luas areal 1,7 juta ha, produksi kakao Indonesia saat ini mencapai 800 ton lebih. Namun produksi yang melimpah itu, tidak dibarengi dengan peningkatan industri pengolahannya. Sekitar 80% produksi kakao diekspor dalam bentuk biji. Sementara, industri olahan domestik kesulitan mendapatkan bahan baku, kalaupun ada harganya cukup tinggi. Kondisi ini membuat industri olahan di dalam negeri menghentikan operasi pabriknya. Dari sebanyak 15 pabrik yang ada, pada awal 2010 hanya tersisa 5 pabrik yang beroperasi.
Berdasarkan Peraturan Menteri keuangan No. 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, ekspor biji kakao dikenakan “Bea Keluar” mulai 1 April 2010. Bea keluar kakao diberlakukan berjenjang mengikuti perkembangan harga di pasar dunia. Semakin tinggi harga kakao, tarif bea keluar semakin besar. Biji kakao tidak dikenakan BK jika harga di pasar dunia kurang dari US$2.000 per ton. Namun jika harga berkisar US$2.000-US$2.750 per ton, BK ditetapkan 5%, dikenakan BK 10% apabila harga berkisar US$2.750 – US$3.500 per ton, dan 15% jika harga biji kakao di atas US$3.500 per ton.
Pembahasan dalam buku studi ini selain meliputi perkembangan kinerja produksi kakao nasional dan dunia, juga membahas kondisi dan permasalahan yang dihadapi industri pengolahan biji kakao di dalam negeri, meliputi aspek pemasaran, kebijaksanaan pemerintah, analisa strategis, dan resiko yang dihadapi industri kakao. Terakhir disajikan peluang dan prospek industri kakao di dalam negeri, termasuk untuk sektor perbankan serta direktori industri kakao.
Kami berharap, buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di sektor industri kakao serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung seperti industri makanan & minuman dan sektor perbankan. Laporan ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis kakao di Indonesia.

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Ruang Lingkup
1.3. Sumber Informasi

2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUM EKONOMI INDONESIA
2.1. Populasi Penduduk Indonesia
2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk secara nasional
2.1.2. Pertumbuhan penduduk berdasarkan provinsi
2.1.3. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur
2.1.4. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia
2.2. Gambaran Umum Ekonomi Indonesia
2.2.1. Pertumbuhan ekonomi 2009 lampaui target
2.2.2. Laju Ekonomi 2010 Diproyeksi 5.5%
2.2.3. Berpeluang direvisi
2.2.4. Ekonomi kuartal II tumbuh 6,2%
2.2.5. Laju inflasi
2.2.6. 2010 Capai 6,96%
2.2.7. Kenaikan TDL 15% Lebih
2.2.8. Pendapatan Per Kapita Indonesia
2.2.9. Kurs Rupiah
2.2.10. Cadangan Devisa
2.3. Neraca Transaksi Berjalan
2.3.1. Utang luar negeri baru US$18 miliar
2.3.2. Tendensi bisnis naik
2.4. Undang-Undang APBN 2011 Disahkan
2.5. Asumsi Defisit Meleset

3. KONDISI BAHAN BAKU INDUSTRI KAKAO
3.1. Deskripsi
3.2. Bahan Baku Industri Kakao
3.3. Karakteristik Perkebunan Kakao
3.3.1. Padat Karya
3.3.2. Harga
3.3.3. Perawatan Intensif
3.3.4. Musim Perawatan
3.3.5. Komoditas Ekspor
3.3.6. Pengolahan di Dalam Negeri
3.4. Syarat Tumbuh Kakao
3.5. Bahan Tanaman
3.6. Jenis Kakao
3.6.1. Kakao M
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memiliki potensi cukup besar dengan areal perkebunan dan produksinya cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan pada 2010, Indonesia menduduki posisi kedua menggeser Ghana sebagai produsen biji kakao dunia setelah Pantai Gading. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sejak 2009 hingga 2011 merevitalisasi kebun kakao yang sudah tua dengan anggaran sebesar Rp13,7 triliun. Pemerintah juga melakukan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas), dalam rangka percepatan peningkatan produktivitas tanaman dan mutu kakao, terdiri dari peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi tanaman kakao rakyat dengan teknologi terkini.
Dengan luas areal 1,7 juta ha, produksi kakao Indonesia saat ini mencapai 800 ton lebih. Namun produksi yang melimpah itu, tidak dibarengi dengan peningkatan industri pengolahannya. Sekitar 80% produksi kakao diekspor dalam bentuk biji. Sementara, industri olahan domestik kesulitan mendapatkan bahan baku, kalaupun ada harganya cukup tinggi. Kondisi ini membuat industri olahan di dalam negeri menghentikan operasi pabriknya. Dari sebanyak 15 pabrik yang ada, pada awal 2010 hanya tersisa 5 pabrik yang beroperasi.
Berdasarkan Peraturan Menteri keuangan No. 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, ekspor biji kakao dikenakan “Bea Keluar” mulai 1 April 2010. Bea keluar kakao diberlakukan berjenjang mengikuti perkembangan harga di pasar dunia. Semakin tinggi harga kakao, tarif bea keluar semakin besar. Biji kakao tidak dikenakan BK jika harga di pasar dunia kurang dari US$2.000 per ton. Namun jika harga berkisar US$2.000-US$2.750 per ton, BK ditetapkan 5%, dikenakan BK 10% apabila harga berkisar US$2.750 – US$3.500 per ton, dan 15% jika harga biji kakao di atas US$3.500 per ton.
Pembahasan dalam buku studi ini selain meliputi perkembangan kinerja produksi kakao nasional dan dunia, juga membahas kondisi dan permasalahan yang dihadapi industri pengolahan biji kakao di dalam negeri, meliputi aspek pemasaran, kebijaksanaan pemerintah, analisa strategis, dan resiko yang dihadapi industri kakao. Terakhir disajikan peluang dan prospek industri kakao di dalam negeri, termasuk untuk sektor perbankan serta direktori industri kakao.
Kami berharap, buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di sektor industri kakao serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung seperti industri makanan & minuman dan sektor perbankan. Laporan ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis kakao di Indonesia.

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Ruang Lingkup
1.3. Sumber Informasi

2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUM EKONOMI INDONESIA
2.1. Populasi Penduduk Indonesia
2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk secara nasional
2.1.2. Pertumbuhan penduduk berdasarkan provinsi
2.1.3. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur
2.1.4. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia
2.2. Gambaran Umum Ekonomi Indonesia
2.2.1. Pertumbuhan ekonomi 2009 lampaui target
2.2.2. Laju Ekonomi 2010 Diproyeksi 5.5%
2.2.3. Berpeluang direvisi
2.2.4. Ekonomi kuartal II tumbuh 6,2%
2.2.5. Laju inflasi
2.2.6. 2010 Capai 6,96%
2.2.7. Kenaikan TDL 15% Lebih
2.2.8. Pendapatan Per Kapita Indonesia
2.2.9. Kurs Rupiah
2.2.10. Cadangan Devisa
2.3. Neraca Transaksi Berjalan
2.3.1. Utang luar negeri baru US$18 miliar
2.3.2. Tendensi bisnis naik
2.4. Undang-Undang APBN 2011 Disahkan
2.5. Asumsi Defisit Meleset

3. KONDISI BAHAN BAKU INDUSTRI KAKAO
3.1. Deskripsi
3.2. Bahan Baku Industri Kakao
3.3. Karakteristik Perkebunan Kakao
3.3.1. Padat Karya
3.3.2. Harga
3.3.3. Perawatan Intensif
3.3.4. Musim Perawatan
3.3.5. Komoditas Ekspor
3.3.6. Pengolahan di Dalam Negeri
3.4. Syarat Tumbuh Kakao
3.5. Bahan Tanaman
3.6. Jenis Kakao
3.6.1. Kakao M

More info:

categoriesBusiness/Law, Finance
Published by: MEDIA DATA RISET, PT on Jun 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/23/2012

pdf

text

original

 
 
PENAWARAN
Studi :
PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGANINDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011
(Paska Penerapan Bea Keluar/BK Kakao)
 Juni, 2011
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yangmemiliki potensi cukup besar dengan areal perkebunan dan produksinya cenderung terusmeningkat setiap tahunnya. Bahkan pada 2010, Indonesia menduduki posisi keduamenggeser Ghana sebagai produsen biji kakao dunia setelah Pantai Gading. Pemerintahmelalui Kementerian Pertanian sejak 2009 hingga 2011 merevitalisasi kebun kakao yangsudah tua dengan anggaran sebesar Rp13,7 triliun. Pemerintah juga melakukan GerakanPeningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas), dalam rangka percepatanpeningkatan produktivitas tanaman dan mutu kakao, terdiri dari peremajaan, rehabilitasi,dan intensifikasi tanaman kakao rakyat dengan teknologi terkini.Dengan luas areal 1,7 juta ha, produksi kakao Indonesia saat ini mencapai 800 tonlebih. Namun produksi yang melimpah itu, tidak dibarengi dengan peningkatan industripengolahannya. Sekitar 80% produksi kakao diekspor dalam bentuk biji. Sementara, industriolahan domestik kesulitan mendapatkan bahan baku, kalaupun ada harganya cukup tinggi.Kondisi ini membuat industri olahan di dalam negeri menghentikan operasi pabriknya. Darisebanyak 15 pabrik yang ada, pada awal 2010 hanya tersisa 5 pabrik yang beroperasi.Berdasarkan Peraturan Menteri keuangan No. 67/PMK.011/2010 tentang PenetapanBarang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, ekspor biji kakaodikenakan “
Bea Keluar 
” mulai 1 April 2010. Bea keluar kakao diberlakukan berjenjangmengikuti perkembangan harga di pasar dunia. Semakin tinggi harga kakao, tarif bea keluarsemakin besar. Biji kakao tidak dikenakan BK jika harga di pasar dunia kurang dariUS$2.000 per ton. Namun jika harga berkisar US$2.000-US$2.750 per ton, BK ditetapkan 5%,dikenakan BK 10% apabila harga berkisar US$2.750 – US$3.500 per ton, dan 15% jika hargabiji kakao di atas US$3.500 per ton.Pembahasan dalam buku studi ini selain meliputi perkembangan kinerja produksikakao nasional dan dunia, juga membahas kondisi dan permasalahan yang dihadapiindustri pengolahan biji kakao di dalam negeri, meliputi aspek pemasaran, kebijaksanaanpemerintah, analisa strategis, dan resiko yang dihadapi industri kakao. Terakhir disajikanpeluang dan prospek industri kakao di dalam negeri, termasuk untuk sektor perbankanserta direktori industri kakao.Kami berharap, buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama parapengambil keputusan di sektor industri kakao serta bagi kalangan bisnis yang terkait secaralangsung maupun tidak langsung seperti industri makanan & minuman dan sektorperbankan. Laporan ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akanmenjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis kakao di Indonesia.1
 
 
Buku studi setebal 350 halaman ini, per bukunya kami tawarkan dengan harga
Rp6.000.000 (Enam Juta Rupiah)
untuk versi bahasa Indonesia dan
US$850 (Delapan RatusLima Puluh US Dollar)
untuk versi bahasa Inggris. Untuk pemesanan dan informasi dapatmenghubungi
PT Media Data Riset
melalui telepon nomor
(021) 809 6071, dan faximile(021) 809 6071
dengan mengisi formulir terlampir. Pemesanan untuk luar negeri atau luar Jakarta akan ditambah biaya kirim. Demikian penawaran ini, atas perhatiannya kamiucapkan terima kasih. Jakarta, Juni 2011
PT Media Data RisetDrh. H. Daddy Kusdriana, M.SiDirektur Utama
2
 
 
3
DAFTAR ISI
PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGANINDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011
(Paska Penerapan Bea Keluar/BK Kakao)
 Juni, 2011
1. PENDAHULUAN
3.4. Syarat Tumbuh Kakao3.5. Bahan Tanaman1.1. Latar Belakang3.6. Jenis Kakao1.2. Ruang Lingkup3.6.1. Kakao Mulia/Kakao Edel (
Fine flavour cocoa
)1.3. Sumber Informasi3.6.2. Kakao Lindak/Kakao bulk (
 Bulk cocoa
)
2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUMEKONOMI INDONESIA
3.7. Pola Tanam2.1. Populasi Penduduk Indonesia3.7.1. Tumpang sari2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk secara nasional3.7.2. Pemeliharaan3.7.3. Panen2.1.2. Pertumbuhan penduduk berdasarkan provinsi3.8. Lahan Potensial3.9. Luas Areal Terus Meningkat2.1.3. Komposisi Penduduk menurutKelompok Umur3.10. Penyebaran Tanaman Kakao3.10.1. Sulawesi Sentra Produksi2.1.4. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia3.10.2. Bengkulu Merehabilitasi 1700 Ha3.11. Produktivitas2.2. Gambaran Umum Ekonomi Indonesia3.12. Mutu dan Standarisasi2.2.1. Pertumbuhan ekonomi 2009lampaui target3.12.1. Karakter fisik 3.12.2. Kontaminasi dan Pencemaran2.2.2. Laju Ekonomi 2010 Diproyeksi5.5%3.12.3. Kadar lemak 3.12.4. Organoleptik 2.2.3. Berpeluang direvisi3.12.5. Standar Mutu2.2.4. Ekonomi kuartal II tumbuh 6,2%3.12.6. Syarat Mutu2.2.5. Laju inflasi3.12.7. Standar dan Persyaratan EksporProduk Kakao Negara Mitra2.2.6. 2010 Capai 6,96%2.2.7. Kenaikan TDL 15% Lebih3.13. Revitalisasi Kebun Kakao Butuh DanaRp13,7 Triliun2.2.8. Pendapatan Per Kapita Indonesia2.2.9. Kurs Rupiah3.14. Program Gernas2.2.10. Cadangan Devisa3.14.1. Latar belakang2.3. Neraca Transaksi Berjalan3.14.2. Sasaran2.3.1. Utang luar negeri baru US$18miliar3.14.3. Kegiatan 20093.14.4. Pelaksanaan2.3.2. Tendensi bisnis naik 3.14.5. Manfaat2.4. Undang-Undang APBN 2011 Disahkan3.15. Perusahaan Perkebunan Kakao2.5. Asumsi Defisit Meleset3.16. Perkembangan Produksi3.16.1. Produksi tumbuh 2,1% per tahun
3. KONDISI BAHAN BAKU INDUSTRIKAKAO
3.16.2. Produksi menurut pengusahaan3.16.3. Sulawesi Terbesar3.1. Deskripsi3.17. Tahun 2015, Indonesia Produsen TerbesarDunia3.2. Bahan Baku Industri Kakao3.3. Karakteristik Perkebunan Kakao3.17.1. Negara Pesaing3.3.1. Padat Karya3.18. Investasi Baru di Sektor Perkebunan Kakao3.3.2. Harga3.19. Bea Keluar (BK) Ekspor Kakao3.3.3. Perawatan Intensif 3.19.1. Latar belakang3.3.4. Musim Perawatan3.19.2. Manfaat BK Ekspor Biji Kakao3.3.5. Komoditas Ekspor3.19.3. Wajib Fermentasikan3.3.6. Pengolahan di Dalam Negeri3.19.4. Notifikasi Biji Kakao

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Binti Solikha liked this
Lien Loveyou liked this
Munir Bramanti liked this
THazka Obrain liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->