Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
A A

A A

Ratings: (0)|Views: 283|Likes:
azzz
azzz

More info:

Published by: 'Phoenix'RahmanTexaz on Jun 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2011

pdf

text

original

 
44
Edisi April 2008
PENDAHULUAN
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas ternak ruminansia di negaratropis seperti Indonesia adalah kurangmemadainya kuantitas maupun kualitas pakanyang diberikan. Dedaunan yang berasal dari pohon merupakan salah satu alternatif yangdapat dijadikan sumber hijauan makananternak (HMT), khususnya di musim kemarau pada saat produksi HMT konvensional dari jenis rerumputan dan leguminosa rendah. Namun demikian kebanyakan dedaunantersebut mengandung senyawa fenolik dalamkonsentrasi yang tinggi, khususnya dalam bentuk senyawa tanin (Makkar & Becker,1998).Tanin merupakan salah satu senyawametabolit sekunder yang terdapat pada tanamandan disintesis oleh tanaman. Tanin tergolong
Penentuan Aktivitas Biologis Tanin Beberapa Hijauan secara
in Vitro
Menggunakan ’Hohenheim Gas Test’ denganPolietilen Glikol Sebagai Determinan
A. Jayanegara
a
& A. Sofyan
b
a
Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor 16680, e-mail: anu_jayanegara@yahoo.com
 b
Bagian Pakan dan Nutrisi Ternak, Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI 
(Diterima 12-09-2007; disetujui 17-01-2008)
ABSTRACT
Leaves from trees are alternative source of forage for ruminant’s feed. However,most of the leaves contain high concentration of phenolic compounds, especially in theform of tannins. This experiment was aimed at quantifying biological activity of tanninsusing
in vitro
gas production method without and with the addition of polyethylene glycol(PEG). The leaves used in this experiment was
Salix alba
,
 Rhus typhina
and
 Peltiphyllum peltatum
. Several rumen fermentation variables, such as organic matter digestibility (OMD),metabolizable energy (ME) and total VFA production were measured. The results showedthat crude protein, NDF and hemicellulose contents of 
S. alba
leaves were the highest,while there was no difference in ADF content from the others. Biological activity of tanninsin
S. alba
,
 R. typhina
and
 P. peltatum
were 0.7%, 45.7% and 122.6%, respectively. Therewas a signi
cant correlation between total phenols and tannins’ biological activity (r=0.70;P<0.05), whereas no signi
cant correlation was found for total tannins and condensedtannins. It was concluded that the addition of PEG increased
in vitro
gas production,organic matter digestibility, metabolizable energy and total VFA production after 24 hoursincubation period.
 Key words: tannins, PEG, in vitro, fermentation, Hohenheim gas test 
Media Peternakan, April 2008, hlm. 44-52ISSN 0126-0472Terakreditasi SK Dikti No: 56/DIKTI/Kep/2005Vol. 31 No. 1
 
 Edisi April 2008
45senyawa polifenol dengan karakteristiknyayang dapat membentuk senyawa kompleksdengan makromolekul lainnya. Tanin dibagimenjadi dua kelompok yaitu tanin yang mudahterhidrolisis dan tanin terkondensasi. Taninyang mudah terhidrolisis merupakan polimer 
 gallic
atau
ellagic acid 
yang berikatan ester dengan sebuah molekul gula, sedangkan taninterkondensasi merupakan polimer senyawa
avonoid dengan ikatan karbon-karbon(Waghorn & McNabb, 2003; Westendarp,2006).Kemampuan tanin untuk membentuk kompleks dengan protein berpengaruh negatif terhadap fermentasi rumen dalam nutrisi ternak ruminansia. Tanin dapat berikatan dengandinding sel mikroorganisme rumen dan dapatmenghambat pertumbuhan mikroorganismeatau aktivitas enzim (Smith
et al.
, 2005).Tanin juga dapat berinteraksi dengan proteinyang berasal dari pakan dan menurunkanketersediaannya bagi mikroorganisme rumen(Tanner 
et al.
, 1994). Keberadaan tanin di sisilain berdampak positif jika ditambahkan pada pakan yang tinggi akan protein baik secarakuantitas maupun kualitas. Hal ini disebabkan protein yang berkualitas tinggi dapat terlindungioleh tanin dari degradasi mikroorganismerumen sehingga lebih tersedia pada saluran pencernaan pasca rumen. Kompleks ikatantanin-protein kemudian dapat lepas pada pH rendah di abomasum dan protein dapatdidegradasi oleh enzim pepsin sehingga asam-asam amino yang dikandungnya tersedia bagiternak. Hal ini menjadikan tanin sebagai salahsatu senyawa untuk memanipulasi tingkatdegradasi protein dalam rumen.Analisis senyawa tanin sangat diperlu-kan untuk mengkuanti
kasi keberadaan danaktivitas tanin pada HMT serta pengaruhnyaterhadap ternak ruminansia. Beberapa metodeanalisis tanin yang tersedia diantaranya adalahmenggunakan spektrofotometer (Inoue &Hagerman, 1988; Hartzfeld
et al.
, 2002),HPLC (Makkar, 2003) dan metode kapasitas presipitasi protein (Hoffmann
et al.
, 2002).Analisis aktivitas tanin yang mudah dansederhana sangat diperlukan khususnya baginegara-negara berkembang. Salah satu analisisaktivitas tanin yang mudah dan sederhanaadalah melalui inaktivasi tanin menggunakan polietilen glikol (PEG) yang efeknya diukur melalui produksi gas kumulatif secara
in vitro
 (Makkar, 2005; Bueno
et al.
, 2008). Penelitianini bertujuan untuk mengukur aktivitas biologistanin tanpa atau dengan penambahan PEG pada dedaunan dari tumbuhan
Salix alba
,
 Rhustyphina
dan
 Peltiphyllum peltatum.
Selainitu, diamati pula pengaruh penambahan PEGterhadap beberapa peubah fermentasi rumensecara
in vitro
.
MATERI DAN METODEMateri
Materi yang digunakan dalam penelitianini antara lain: dedaunan dari tumbuhan
S. alba
,
 R. typhina
dan
 P. peltatum
; medium inkubasicairan rumen-buffer dengan komposisi 630ml larutan buffer bikarbonat, 315 ml larutanmineral makro, 0,16 ml larutan mineral mikro,1,6 ml larutan 0,4% resazurin, 945 ml air terdestilasi, 60 ml larutan pereduksi dan 660 mlcairan rumen (Makkar 
et al.
, 1995); polietilenglikol (PEG; bobot molekul 6000, Merck No.817007); tabung
in vitro
; dan
water bath
.
MetodeInkubasi
in vitro.
Sampel hijauan dikeringkandalam oven bersuhu 60
o
C, digiling dan disaringmenggunakan alat penyaring berukuran 1mm. Sampel diinkubasi
in vitro
berdasarkanmetode Menke
et al.
(1979) yang dimodi
kasioleh Blümmel
et al.
(1997). Sebanyak 380 mgsampel diinkubasikan ke dalam medium berupacairan rumen-buffer dengan dan tanpa adanyaPEG. Cairan rumen diambil pada pagi hari darisapi Friesian Holstein ber 
stula sebelum diberimakan. Setelah koleksi, cairan rumen dibawake laboratorium, disaring dengan saringan
JAYANEGARA & SOFYANMedia Peternakan
 
46
Edisi April 2008
nilon berukuran 100
μ
m dan ditambahkan pada buffer tereduksi. Larutan rumen-buffer dijenuhkan dengan gas CO
2
selama 10 menitsebelum dimasukkan ke dalam tabung untuk menjamin kondisi anaerob dalam reaksi.Sampel dimasukkan ke dalam tabung danditutup dengan piston yang telah dilubrikasidengan vaselin. Sebanyak 40 ml cairan rumen- buffer dimasukkan ke dalam masing-masingtabung, kemudian tabung segera dimasukkanke dalam
water bath
bersuhu 39
o
C. Produksigas diamati pada jam ke-0, 4, 8 12 dan 24setelah dilakukan inkubasi.
Rancangan percobaan dan analisis data.
Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3
×
2 dengan jenis hijauan sebagai faktor pertama dan penambahan PEG sebagai faktor kedua.Masing-masing perlakuan dilakukan ulangansebanyak 3 kali. Perlakuan yang diujikandalam penelitian ini adalah sebagai berikut:Perlakuan 1:
S. alba
 Perlakuan 2:
S. alba
+ PEG (750 mg)Perlakuan 3:
 R. typhina
 Perlakuan 4:
 R. typhina
+ PEG (750 mg)Perlakuan 5:
 P. peltatum
Perlakuan 6:
 P. peltatum
+ PEG (750 mg)Peubah yang diamati dalam penelitianini adalah: (1) komposisi nutrien hijauan, (2)kandungan tanin hijauan (total fenol, totaltanin dan tanin terkondensasi), (3) produksigas kumulatif, (4) aktivitas biologis tanin,(5) kecernaan bahan organik (KBO), (6)energi metabolis (EM), dan (7) kandunganasam lemak terbang total (volatile fatty acids;VFA). Komposisi nutrien hijauan dianalisismenggunakan analisis proksimat dan seratVan Soest (Van Soest & Robertson, 1985).Kandungan total fenol dan total tanin dianalisismenggunakan metode Folin-Ciocalteu,sedangkan kandungan tanin terkondensasidianalisa menggunakan metode butanol-HCl (Makkar, 2003). Aktivitas biologis taninditentukan berdasarkan peningkatan produksigas
in vitro
dengan atau tanpa PEG pada waktufermentasi 24 jam. Kecernaan bahan organik dan energi metabolis ditentukan berdasarkan persamaan hasil eksperimen Menke
et al.
 (1979) pada 24 jam setelah inkubasi berikut:
KBO (%) = 4,88 + 0,889 Gas + 0,45 PK +0,0651 Abu; r 
2
=0,92EM (MJ/kg BK) = 2,20 + 0,136 Gas + 0,057 PK;
2
=0,94
(data energi metabolis dikonversi dari satuanMJ/kg BK menjadi kkal/kg BK)Produksi gas
in vitro
yang diukur setelahinkubasi 24 jam sangat berkorelasi secarastoikiometri dengan produksi total VFA, serta berinteraksi secara statistik dengan ada atautidaknya PEG (Getachew
et al.
, 2000). Olehkarena itu kandungan total VFA didapatkandari persamaan dengan atau tanpa adanya PEG berikut:
VFA (mmol; tanpa PEG) =0,0239 Gas – 0,0601; r 
2
=0,953VFA (mmol; dengan PEG) =0,0207 Gas + 0,0207; r 
2
=0,925
(data produksi total VFA dikonversi dari sa-tuan mmol menjadi mM)Data yang dihasilkan kemudian diujisecara statistik menggunakan sidik ragam(analysis of variance; ANOVA) dan jika perlakuan berpengaruh nyata maka dilakukanuji Tukey (Steel & Torrie, 1980).
HASIL DAN PEMBAHASANKomposisi Nutrien dan Kandungan TaninHijauan
Hasil analisis komposisi nutrien hijauan berdasarkan analisis proksimat dan analisisserat Van Soest diperlihatkan pada Tabel 1.Berdasarkan Tabel 1 di atas terlihat bahwakandungan protein kasar 
S. alba
paling tinggidibandingkan dua jenis hijauan lainnya.Demikian pula dengan kandungan NDF-nya
Vol. 31 No. 1PENENTUAN AKTIVITAS

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->