Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
11Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penemuan hukum (3)

Penemuan hukum (3)

Ratings: (0)|Views: 755 |Likes:
Published by Andy Padriadi
PERAN HAKIM DALAM PENEMUAN HUKUM (RECHTSVINDING)
(Studi Kasus terhadap Hakim Pengadilan Negeri Bandung dalam Penerapan Pasal 360 ayat (1) KUHP) dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdata atau ganti rugi menurut kebiasaan)

PENDAHULUAN Krisis multi dimensi yang melanda bangsa Indonesia saat ini, perlu segera diatasi melalui reformasi di segala bidang sehingga memungkinkan bangsa Indonesia bangkit kembali dan memperkukuh kepercayaan diri atas kemampuannya, termasuk dalam bidang huku
PERAN HAKIM DALAM PENEMUAN HUKUM (RECHTSVINDING)
(Studi Kasus terhadap Hakim Pengadilan Negeri Bandung dalam Penerapan Pasal 360 ayat (1) KUHP) dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdata atau ganti rugi menurut kebiasaan)

PENDAHULUAN Krisis multi dimensi yang melanda bangsa Indonesia saat ini, perlu segera diatasi melalui reformasi di segala bidang sehingga memungkinkan bangsa Indonesia bangkit kembali dan memperkukuh kepercayaan diri atas kemampuannya, termasuk dalam bidang huku

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Andy Padriadi on Jun 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

 
PERAN HAKIM DALAM PENEMUAN HUKUM (RECHTSVINDING)
(Studi Kasus terhadap Hakim Pengadilan Negeri Bandung dalam Penerapan Pasal360 ayat (1) KUHP) dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdataatau ganti rugi menurut kebiasaan)
PENDAHULUAN
Krisis multi dimensi yang melanda bangsa Indonesia saat ini, perlu segera diatasi melaluireformasi di segala bidang sehingga memungkinkan bangsa Indonesia bangkit kembali danmemperkukuh kepercayaan diri atas kemampuannya, termasuk dalam bidang hukum.Cita-cita reformasi secara umum dituangkan dalam GARIS-GARIS BESAR HALUAN NEGARA, yang berbunyi sebagai berikut, "Garis-Garis Besar Haluan Negara ditetapkan denganmaksud memberikan arah penyelenggaraan negara dengan tujuan mewujudkan kehidupan yangdemokratis, berkeadilan sosial, melindungi Hak Azasi Manusia, menegakkan supremasi hukumdalam tatanan masyarakat dan bangsa yang beradab, berakhlak mulia, mandiri, bebas, maju dansejahtera untuk kurun waktu lima tahun kedepan.” (TAP MPR Nomor IV/MPR/1999).Sedangkan secara khusus, cita-cita reformasi di bidang hukum terdapat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara bidang hukum, butir kelima, keenam, dan kedelapan tentang aparat penegak hukum dan peradilan yang antara lain sasarannya disebutkan sebagai berikut, “Meningkatkanintegritas moral dan keprofesionalan aparat penegak hukum (tak terkecuali bagi Hakim), untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan, dukungan saranadan prasarana hukum, pendidikan serta pengawasan yang efektif; Mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri dan bebas dari pengaruh penguasa dan pihak manapun; danMenyelenggarakan proses peradilan secara cepat, mudah, murah dan terbuka, serta bebasKorupsi, Kolusi, dan Nepotisme dengan tetap menjunjung tinggi asas keadilan dan kebenaran.”(TAP MPR Nomor IV/MPR/1999). Berdasarkan uraian di atas, ternyata arah kebijakan pembangunan bidang hukum antara laindititik beratkan pada aparat penegak hukum (Hakim) dan peradilan. Sebagaimana telah diketahui bahwa hakim adalah salah satu organ peradilan (pengadilan) yang mempunyai peranan pentingdalam penegakan hukum.Menurut Sudikno Mertokusumo (1996:140), penegakan dan pelaksanaan hukum seringmerupakan penemuan hukum (rechtsvinding) dan tidak sekedar penerapan hukum. Penemuanhukum merupakan kewajiban bagi hakim, sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat (1) jo Pasal16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (selanjutnyadisebut Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman).Pasal 28 ayat (1) menyebutkan bahwa, “Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Dalam rangka penemuan hukumini, jika isi ketentuan Pasal 28 ayat (1) dihubungkan dengan Pasal 16 ayat (1) yang berbunyi,“Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yangdiajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk 
 
memeriksa dan mengadilinya". Maka, dapat disimpulkan bahwa penemuan hukum oleh hakimdilakukan apabila hukum tidak atau kurang jelas mengatur tentang perkara yang diperiksa olehhakim, tetapi juga dapat dilakukan apabila hukum telah jelas mengatur, hal ini disebabkan karenahukum harus senantiasa mengikuti perkembangan masyarakat.Pelaksanaan tugas penemuan hukum oleh hakim, sangat berhubungan dengan fungsi hukumsebagai pengendalian sosial, dan fungsi hukum sebagai sarana perubahan masyarakat. (AchmadAli, 1996 : 98, 100). Hukum sebagai alat pengendali sosial, tidaklah sendirian di dalammasyarakat, melainkan menjalankan fungsi itu bersama-sama dengan pranata-pranata sosiallainnya yang juga melakukan fungsi pengendalian sosial. Fungsi hukum sebagai alat pengendalisosial merupakan fungsi "pasif" di sini artinya hukum menyesuaikan diri dengan kenyataanmasyarakat.Persoalannya bagaimana penyelesaian yang dilakukan oleh masyarakat apabila terjadi suatumasalah (peristiwa hukum), dalam hal ini baiknya dikemukakan contoh. Misalnya, A menabrak B, sehingga menyebabkan B luka-luka. Dalam kasus seperti ini, biasanya antara A ataukeluarganya melakukan perundingan secara kekeluargaan (damai) dengan pihak B ataukeluarganya, dengan cara menetapkan sejumlah uang sebagai uang penggantian pengobatan(biaya rumah sakit atau perawatan). Cara penyelesaian seperti ini merupakan kebiasaan dalammasyarakat.Cara penyelesaian seperti di atas, bersifat perdamaian dan lebih mendekati penyelesaian secara perdata, seperti tersebut dalam Pasal 1365 dan 1366 KUH Perdata tentang perbuatan melanggar hukum karena kelalaian, juga tersebut dalam Pasal 1371 tentang hak ahli waris menuntut gantikerugian yang mengakibatkan luka-luka karena kelalaian. Di sisi lain masalah ini juga dapatdilimpahkan kepengadilan secara pidana. Hal ini terjadi apabila Polisi terlanjur mengetahuikejadian tersebut dan jaksa membuat dakwaan dengan dasar Pasal 360 ayat (1) KUHP. Seperti perkara yang diajukan ke Pengadilan Negeri Kls I Bandung, Putusan Nomor 264/ Pid/ B/2000/PN.Bdg. Dalam putusannya Hakim menyatakan bersalah dan menetapkan hukumanwalaupun tersangka memberikan ganti rugi (tidak semuanya).Seharusnya hakim dalam rangka penemuan hukum, dalam kasus semacam ini, mengikutikebiasaan masyarakat dengan membuat suatu keputusan/ketetapan yang akhirnya diikuti olehmasyarakat tersebut. Keputusan/ketetapan dimaksud merupakan fungsi hukum sebagai sarana perubahan masyarakat, dalam arti lain hukum berfungsi sebagai alat rekayasa sosial (AchmadAli, Ibid, 1996 : 103).Dalam pelaksanaan tugas penemuan hukum, hakim mempunyaikemandirian artinya hakim mempunyai kebebasan dalam menegakkan hukum dan keadilanmelalui penafsiran dan mencari dasar-dasar dan asas-asas yang melandasinya. Tetapi kebebasandimaksud tidaklah mutlak karena dapat dikesampingkan oleh undang-undang.Pasal 13 Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa :1) Organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang beradadibawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung.”2) ……….
 
3) Ketentuan mengenai organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) untuk masing-masing lingkungan peradilan diatur dalam Undang-Undang sesuai dengan kekhususan lingkungan peradilan masing-masing.Ketentuan pasal di atas, memberikan peluang kepada hakim untuk dapat lebih leluasa melakukan penemuan hukum, karena pertanggung jawaban hakim tidak lagi kepada dua lembaga(Departemen Hukum dan HAM dan Mahkamah Agung), tetapi hanya kepada satu lembaga yaituMahkamah Agung.Ketentuan Pasal 13 Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman ini, sebelumdilakukan perubahan merupakan kendala bagi hakim untuk melakukan tugas dan kewajibannya,karena di samping ia bertanggung jawab kepada Departemen Kehakiman juga harus bertanggung jawab kepada Mahkamah Agung.
Identifikasi Masalah
Bagaimana sikap hakim dalam penemuan hukum (rechtsvinding), hubungannya dengankemungkinan penghapusan sifat melawan hukum dalam perkara KARENA KESALAHAN/KELALAIANNYA SEHINGGA ORANG LAIN LUKA-LUKA (Pasal 360 ayat (1) KUHP)dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdata atau ganti rugi menurut kebiasaan.
PEMBAHASANPenemuan hukum
Salah satu kewajiban hakim sebagai organ pengadilan adalah melakukan penemuan hukum(rechtsvinding), dimana penemuan hukum tersebut merupakan rangkaian tak terpisahkan dalamrangka penegakan hukum. Di dalam kepustakaan pengertian penemuan hukum disebutkan olehSudikno Mertokusumo, (Op. Cit, 1996: 142-143), bahwa “Penemuan hukum lazimnya diartikansebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberitugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa hukum konkrit. Ini merupakan proseskonkretisasi dan individualisasi peraturan hukum yang bersifat umum dengan mengingat peristiwa konkrit. Sementara orang lebih suka menggunakan “pembentukan hukum" daripada"penemuan hukum" oleh karena istilah penemuan hukum memberi sugesti seakan-akanhukumnya sudah ada.” Sudikno membicarakan penemuan hukum dalam arti luas.Lebih jauh Sudikno (Ibid) mengemukakan bahwa, “Pada dasarnya setiap orang melakukan penemuan hukum. Setiap orang selalu berhubungan dengan orang lain, hubungan mana diatur oleh hukum dan setiap orang akan berusaha menemukan hukumnya untuk dirinya sendiri, yaitukewajiban dan wewenang apakah yang dibebankan oleh hukum padanya.” Penemuan hukumterutama dilakukan oleh hakim dalam memeriksa dan memutus suatu perkara. Penemuan hukumoleh hakim ini dianggap yang paling berwibawa. Hanya kalau hasil penemuan hukum olehhakim adalah hukum, maka hasil penemuan hukum oleh ilmuwan bukanlah hukum, melainkanilmu atau doktrin. Sekalipun yang dihasilkan itu bukanlah hukum, namun di sini kalau diikutidan diambil alih oleh hakim dalam putusannya, menjadi hukum. Doktrin bukanlah hukummelainkan sumber hukum.

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Lyla Perdana liked this
Sandro Cassano liked this
darurat liked this
devisdheff liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->