Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
10Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sengketa Israel Palestina

Sengketa Israel Palestina

Ratings: (0)|Views: 2,931|Likes:

More info:

Published by: Napoleon GoMaparte PanglimaPalestina on Jun 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/31/2013

pdf

text

original

 
Sengketa Israel-PalestinaJelang Konferensi Damai (2)
Diskriminasi Warga Arab hingga Denda Tilang
Oleh:Tofan MahdiDari Tel Aviv, IsraelMengunjungi Negeri Sengketa Israel-Palestina Jelang Konferensi Damai (2)Salah satu isu paling berat pada perundingan Israel-Palestina menyangkut status kota Jerusalem. Apaharapan warga Palestina tentang kota yang menjadi tempat suci agama Islam, Kristen, dan Yahudi itu?TOFAN MAHDI, Tel Aviv"Come to Israel before Israel come to You." (Datanglah ke Israel sebelum Israel mendatangi Anda). Ini joke yang juga sangat populer tentang Negeri Yahudi itu.Karena menduduki sebidang tanah yang dulu milik warga Arab-Palestina, Israel oleh negara-negara Arabtetangganya lebih dianggap sebagai penjajah. Sebab, di beberapa wilayah pendudukan sepertiJerusalem dan Tepi Barat, aparat keamanan Israel menerapkan sejumlah aturan ketat dan diskriminatif.Status Kota Jerusalem dan kawasan Tepi Barat itulah yang akan dibahas secara detail dala m konferensidi Annapolis, Maryland, Amerika, bulan depan. Jika disepakati, perjanjian damai Israel-Palestina yangdisponsori AS kembali diteken.Secara geografis, Jerusalem dibagi dua wilayah: barat dan timur. Warga Yahudi tinggal di Jerusalembarat, sedangkan warga Arab-Palestina (Islam dan Kristen) di Jerusalem timur. Namun, setelah PerangArab-Israel pada 1967, administrasi dan kontrol keamanan seluruh wilayah kota itu dikendalikan Israel.Jumlah permukiman dan warga Yahudi di Jerusalem timur pun terus bertambah."Meski tinggal dalam satu wilayah, warga Yahudi dan Arab-Palestina hidup saling curiga. Masing-masinghidup eksklusif, menjaga jarak, dan selalu khawatir penyerangan secara fisik," kata Hasan Nasralah,warga Arab-Palestina yang tinggal di Jerusalem timur.Seperti halnya Tel Aviv, Haifa, dan kota-kota besar lain di Israel, pengamanan di Jerusalem sangat ketat.Aparat keamanan yang bersenjata bertugas di berbagai sudut kota. Mereka ada di hotel, supermarket,mal, dan tempat-tempat publik lain.
 
Setel ah maraknya aksi intifadah dan bom bunuh diri melawan pendudukan Israel, setiap mobil yangmasuk halaman hotel harus melalui pemeriksaan ketat. Bahkan, ruang-ruang konferensi di hotelberbintang pun dibangun di lantai bawah tanah (underground level)."Tidak seluruh hotel. Tetapi, banyak yang seperti itu. Alasan sesungguhnya menyangkut lahan yangterbatas. Tetapi, aspek keamanan juga menjadi pertimbangan," ujar Roley Horowitz, warga Yahudi yangbermigrasi dari India.Meski sekarang Kota Jerusalem diklaim sebagai ibu kota negara Yahudi itu, warga Palestina terusberjuang agar kelak kota ini menjadi ibu kota negaranya. Di kota ini berdiri salah satu tempat suci umatIslam, yaitu Masjid Al Aqsa. Di areal, Al Aqsa juga berdiri Qubah al Sahra (Dome of The Rock). Daritempat ini, Nabi Muhammad mengawali perjalanan ke langit (dalam peristiwa Isra Mikraj) untukmenerima perintah salat lima waktu.Dengan dalih keamanan pula, akses warga muslim untuk beribadah di Al Aqsa, Jerusalem, makinterbatas. Ada sejumlah check point (pos pemeriksaan) untuk masuk ke sana."Yang diberi akses masuk ke Al Aqsa, umumnya, warga Arab Palestina berusia di bawah 18 tahun dan diatas 45 tahun," kata Syekh Bukhari, salah seorang pemuka agama Islam di Jerusalem timur.Saya beruntung bisa melaksanakan ibadah salat Jumat pada 18 Oktober pekan lalu. Saat itu, sayamelihat tindakan tentara Israel yang memeriksa warga Arab-Palestina yang akan masuk ke masjidtersebut. Semua harus menunjukkan identitas. Mobil juga diperiksa. Lantas, tentara Israel itulah yangberhak menentukan siapa yang bisa masuk dan siapa yang tidak.Warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat (Hebron, Nablus, Ramallah, dan sejumlah kota lain) jelasdilarang masuk ke Al Aqsa. Tak ada toleransi sama sekali. Selain itu, sejak ada ratusan kilometer tembokpembatas yang dibangun Israel, akses warga Tepi Barat menuju ke Jerusalem menjadi sangat terbatas.Jadi, Al Aqsa h anya bisa diakses oleh muslim di Jerusalem setelah lolos pemeriksaan tentara Israel."Wisatawan asing seperti Anda lebih mudah (masuk ke Al Aqsa) daripada kami," kata Bukhari.Hidup di Jerusalem bagi warga Arab-Palestina juga sarat dengan diskriminasi. Memang, mereka memilikiopsi jika mau menjadi warga negara Israel. Namun, sebagian besar warga Arab-Palestina menolak."Kami tetap warga Palestina. Namun, karena tinggal di Jerusalem yang dikuasai Israel, kami harusmemegang kartu identitas penduduk Israel," kata Shuha, warga Jerusalem timur yang mengantarkansaya ke Ramallah.Shuha menceritakan sejumlah perlakuan yang menyinggung perasaan warga Arab-Palestina. Suatu hari,pencuri masuk ke rumah Shuha. Dia lalu melaporkan kejadian tersebut kepada polisi Israel.Tahu korbannya adalah warga Arab-Palestina, kata dia, tidak ada seorang polisi pun yang datang."Juga kalau ditilang akibat pelanggaran lalu-lintas. Denda untuk warga Arab-Palestina pasti lebih mahaldaripada denda bagi orang Yahudi. Terus tera ng, kami sangat berat hidup seperti ini," kata wanitaberwajah cantik itu.
 
Jika Israel tetap menguasai Jerusalem, Shuha yakin selamanya orang-orang Arab-Palestina menjadiwarga negara kelas dua. Mereka tidak bisa bekerja di pemerintahan dan sektor-sektor strategis lain."Sebagian besar kami di sini bekerja di sektor informal. Misalnya, menjadi pedagang dan sopir taksi,"ujarnya.Sejumlah upaya dilakukan kedua pihak (Arab-Yahudi) agar bisa berintegrasi. Salah caranya, mendirikansekolah multicultural. Harapannya, sekolah itu dapat memberikan pemahaman lebih baik tentang tigaagama yang sama-sama menjadikan Jerusalem sebagai tempat suci mereka: Islam, Kristen, dan Yahudi."Namun, kami akui respons atas sekolah multikultural seperti ini sangat kecil. Bahkan, di sekolah kamiyang sudah berdiri 10 tahun, hanya ada 40 siswa," kata Adena Levine, direktur Peace PreschoolInternational YMC, satu-satunya sekolah antaragama di Jerusalem.Meski banyak yang pesimistis, warga Arab Palestina berharap agar akan ada kesepakatan t entangpembagian wilayah Israel-Palestina, termasuk tentang status Kota Jerusalem, pada konferensi diAnnapolis bulan depan. Kalaupun diberikan kepada Palestina, opsi lain yang diharapkan adalah yurisdiksiJerusalem dikendalikan dunia internasional (PBB). Tidak lagi di bawah kekuasaan negeri Zionis Israel.(bersambung)
 Labels:dunia islam 
Penyelesaian Sengketa Palestina Perlu KeterbukaanPosted byRedaksion Mei 13, 2008 ·Leave a Comment  Jakarta ( Berita ) : Penyelesaian sengketa menahun di Palestina hanya dapat dilakukan jika kedua pihak,termasuk kelompok/negara yang ingin membantu, membuka diri dan membangun kepercayaan.Itu dikemukakan pengamat hubungan antarbangsa Universitas Indonesia Hariyadi Wiryawan di Jakartapada Senin [12/05] , saat diminta tanggapannya mengenai sengketa Palestina-Israel mengingat padatahun ini, Israel tepat berusia 60 tahun.Kalau ingin menuntaskannya, maka secara jujur, kita harus membuka diri terhadap sesama pihak, yangbertikai, dan sungguh-sungguh melihat akar permasalahannya, katanya dengan menambahkan bahwakedua pihak perlu duduk satu meja.Menurut dia, tanpa membuka diri, upaya dunia untuk menyelesaikan sengketa Palestina tidak akanmenghasilkan apa pun.Selama ini, tambah dia, berbagai upaya dunia belum menyentuh penuntasan masalah dan hanyamerupakan ungkapan dukungan atau simpati atas nasib rakyat Palestina, yang harus hidup di bawahtekanan Israel.Pada 14-16 Mei, Pusat Studi Islam dan Timur Tengah Universitas Indonesia bekerjasama dengan SuaraPalestina (VoP) menggelar konferensi internasional memperingati 60 tahun pembersihan suku diPalestina dengan tema Kebebasan dan Hak untuk Kembali, Palestina dan 60 Tahun PembersihanBangsa.Menurut ketua pelaksana konferensi itu, Mujtahid Hashem, beberapa tokoh penting dalam daftarpembicara adalah mahaguru Universitas Gadjah Mada Amien Rais, Ketua DPR Agung Laksono, KetuaUmum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi dan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.Sementara itu, tokoh antarbangsa yang akan hadir di antaranya koordinator Serikat Lembaga SwadayaMasyarakat Antarbangsa Pendukung Palestina Zahra Mustafawi, jurubicara Netural Karta International(Yahudi penentang zionis) Rabbi Yisroel Dovid Weiss, serta perwakilan Hizbullah dan Hamas.Mujtahid Hashem mengatakan, penyelenggaraan konferensi itu menandai peristiwa Nakba pada 1948,saat terjadi pembersihan suku di sebagian besar wilayah Palestina dalam upaya membentuk negaraIsrael.

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rudi Candra liked this
Anita Yoeny liked this
Edo Saja liked this
Ozie Genessa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->