Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hubungan Paritas Dengan Perdarahan Post Partum

Hubungan Paritas Dengan Perdarahan Post Partum

Ratings: (0)|Views: 1,450 |Likes:
Published by novyana

More info:

Published by: novyana on Jun 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

original

 
Di akses tgl 25 nov 2010Okti nikilahhttp://oktinikilah.blogspot.com/2009/03/paritas-vs-perdarahan-postpartum-1.htmlsenin, 02 Maret 2009
PARITAS vs PERDARAHAN POSTPARTUM
 
1. Paritas
a. Pengertian Para adalahseorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viabel)
(Wiknjosastro,2002).
Paritas adalah keadaan pada wanita yang telah melahirkan janin yang beratnya 500 gram ataulebih, mati atau hidup dan apabila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umur gestasi 22 minggu terhitung dari hari pertama haid terakhir yang normal (UNPAD, 1998).Paritas adalah seseorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak yang dapat hidup
(Harjono,1996).
Paritas ibu yang bersangkutan mempengaruhi morbiditas dan mortalitas ibudan anak. Risiko terhadap ibu dan anak pada kelahiran bayi pertama cukup tinggi,akan tetapirisiko ini tidak dapat di hindari. Kemudian risiko itu menuru pada paritas kedua dan ketigaserta meningkat lagi pada paritas keempat dan seterusnya
(Mochamad, 2000; Cahyono,2000)
b. Jenis
1) Nullipara Seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi yang viable untuk  pertama kali2) Primipara Wanita yang telah melahirkan bayi yang viabel untuk pertama kalinya3) Multipara (pleuripara) Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viabel beberapa kali, yaitu 2-4 kali4) Grandemultipara Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viabel lima kaliatau lebih.5) Great grandemultipara Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viabel 10kali atau lebih. (UNPAD, 1998; Wiknjosastro, 2002).
2. Perdarahan Post Partum
a. Pengertian Perdarahan postpartum adalah perdarahan setelah bayi lahir, sedangkan tentang jumlah perdarahan, di sebutkan sebagai perdarahan yang lebihdari normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital (pasien mengeluh lemah,limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, tekanan darah sistolik <90>100x/menit,kadar Hb <8>(Prawiroharjo,2002).Perdarahan postpartum adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertamasetelah lahirnya bayi
(Pritchard, 1991).
Definisi yang paling umum diterima dari perdarahan post partum adalah kehilangan darahyang melebihi 500 ml segera setelah partus. Namun bila kehilangan darah diukur dengan baik, temuan berikut lebih diobservasi secara konsisten, yaitu : 1) Kehilangan rata-rata darah pada persalinan melalui vagina berjumlah hampir 600 ml 2) Hanya sekitar 5% wanita yangkehilangan darah lebih dari 1000 ml 3) Perkiraan darah yang hilang selalu kira-kira separuhdari kehilangan darah yang jumlahnya diukur dengan baik 
b. Fisiologi perdarahan postpartum
Umumnya pada persalinan yang berlangsung normal,setelah janin lahir, uterus masih mengadakan kontraksi yang mengakibatkan penciutan cavumuteri, tempat implantasi plasenta. Akibatnya, plasenta akan lepas dari tempat implantasinya.
 
Pelepasan ini dapat dimulai dari tengah (sentral menurut Schultze), atau pinggir plasenta(marginal menurut Mathews-Duncan), atau serempak dari tengah dan dari pinggir plasenta.Cara yang pertama ditandai oleh makin panjang keluarnya tali pusat dari vagina ( tanda ini dikeluarkan oleh Ahlfeld) tanpa adanya perdarahan pervaginam. Sedangkan cara yang keduaditandai dengan adanya perdarahan pervaginam apabila plasenta mulai terlepas. Umumnya perdarahan tidak melebihi 400 ml, bila lebih maka tergolong patologik 
( Sarwono,1997).
Oleh karena itu, pada pelepasan plasenta selalu diikuti oleh perdarahan karena sinus- sinusmaternalis di tempat insersinya pada dinding uterus terbuka. Biasanya perdarahan itu tidak  banyak, sebab kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menekan pambuluh-pembuluh darahyang terbuka sehingga lumennya menutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuandarah
(Sarwono, 1997).
Apabila sebagian plasenta lepas sementara sebagian lagi belumterlepas, maka akan terjadi perdarahan karena uterus tidak bisa berkontraksi dangan baik  pada batas antara dua bagian itu. Selanjutnya apabila sebagian plasenta sudah lahir, tetapisebagian kecil masih melekat pada dinding uterus maka dapat timbul perdarahan pada masanifas (Sarwono, 1997). Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian : 1) Perdarahan post partum primer (early post partum hemorrhage) Yang terjadi dalam 24 jam setelah bayi lahir.Terbanyak dalam 2 jam pertama. 2) Perdarahan post partum sekunder (late post partumhemorrhage) Yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara hari ke-5 sampai 15 post partum.(William, 2001; Manuaba, 1998; Llewellyn, 2001).
c. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya diperoleh sebaran sebagai berikut (Mochtar, 1998).Atonia uteri 50% - 60% Retensio plasenta 16% - 17% Plasenta restan 23% - 29% Laserasi jalan lahir 4% - 5% Kelainan darah 0,5% - 0,8% Penyebab perdarahan post partum berdasarkan waktu terjadinya adalah sebagai berikut (Manuaba,1998). 1) Perdarahan post partum primer Beberapa penyebab dari perdarahan post partum primer adalah sebagai berikut: a) Atonia Uteri Atonia uteri adalah ketidakmampuan rahim berkontraksi dengan baik setelah persalinan (Friedman, 1998). Perdarahan postpartum bisa dikendalikan melalui kontraksi danretraksi serat-serat miometrium. Kontraksi dan retraksi ini menyebabkan terlipatnya pembuluh-pembuluh darah sehingga aliran darah ke tempat plasenta menjadi terhenti.Kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi miometrium dinamakan atonia uteri dankeadaan ini menjadi penyebab utama perdarahan postpartum (Oxorn,1990). Adapun faktor  predisposisinya antara lain sebagai berikut :
(1) Multiparitas
Uterus yang telah melahirkan banyak anak cenderung bekerja tidak efisiendalam semua kala persalinan. Paritas tinggi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya perdarahan postpartum ( Pritchard,1991). Hal ini disebabkan pada ibu dengan paritas tinggiyang mengalami persalinan cenderung terjadi atonia uteri. Atonia uteri pada ibu dengan paritas tinggi terjadi karena kondisi miometriunm dan tonus ototnya sudah tidak baik lagisehingga menimbulkan kegagalan kompresi pembuluhdarah pada tempat implantasi plasetayang akibatnya terjadi perdarahan postpartum.
(2) Peregangan uterus yang berlebihan (over distensi)
Uterus yang mengalami peregangansecara berlebihan akibat keadaan-keadaan seperti bayi besar, kehamilan kembar dan polihidramnion cenderung mempunyai daya kontraksi yang jelek (Depkes RI, 1999).(3) Kerja uterus tidak efektif pada kala I dan kala II, kemungkinan besar akan diikuti olehkontraksi serta retraksi miometrium yang jelek dalam kala III.(4)
Kelelahan akibat partus lama
Bukan hanya rahim yang lelah cenderung berkontraksilemah setelah melahirkan tetapi juga ibu yang kelelahan kurang mampu bertahan terhadapkehilangan darah(5) Pimpinan persalinan yang salah dalam kala uriKesalahan yang paling sering adalah mencoba mempercepat kala III. Dorongan dan pemijatan uterus mengganggu mekanisme fisiologis pelepasan plasenta dan dapatmenyebabkan pemisahan sebagian plasenta yang mengakibatkan perdarahan.
 
(6) Perlekatan plasenta terlalu erat Seperti pada plasenta akreta partialis dimana kontraksiuterus terganggu, gangguan terhadap kemampuan uterus berkontraksi juga bisa disebabkanoleh sisa plasenta atau selaput ketuban dan kandung kemih yang penuh.(7) Anestesi Anestesi inhalasi yang dalam dan lama dengan menggunakan bahan sepertihalothan atau ether merupakan faktor yang sering menjadi penyebab. Terjadi relaksasimiometrium yang berlebihan, kegagalan kontraksi serta retraksi, atonia uteri dan perdarahan post partum.(8) Faktor medis (Depkes, 1999). (a) Anemia (b) Penyakit-penyakit lain, misalnya kencingmanis, hepatitis, dan hemoglobinopati. (9) Faktor obstetrik lainnya (Depkes, 1999). (a)Riwayat perdarahan post partum (b) Eklampsi, induksi persalinan, partus presipitatus, bedahsesar, korioamnionitis atau endometritis, DIC (Dissemined Intra Vascular Coagulation/pembekuan darah intra vaskuler merata).
b) Retensio Plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir setengah jamsesudah bayi lahir (Wiknjosastro, 2002; Manuaba, 1998). Penyebab retensio plasenta adalah :(1) Fungsionil (a) His kurang kuat (b) Plasenta sukar terlepas karena : - Mempunyai inersi disudut tuba - Berbentuk plasenta membranasea atau plasenta anularis - Berukuran sangat kecilPlasenta yang sukar lepas karena sebab-sebab tersebut diatas disebut plasenta adesiva(2) Patologi anatomis (Mochtar, 1998; Wiknjosastro, 2002) (a) Plasenta inkreta, dimana vilikorealis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua sampai ke miometrium (b) Plasentaakreta, yang menembus lebih dalam ke dalam miometrium tetapi belum menembus serosa.(c) Plasenta perkreta, yang menembus sampai serosa atau peritoneum dinding rahim.(3) Faktor uterus (Friedman, 1998). (a) Kelainan bentuk uterus (bicornus, berseptum) (b)Mioma uterus (c) Riwayat tindakan pada uterus yaitu tindakan bedah sesar, operasi uterusyang mencapai kavum uteri, abortus dan dilakukan kuretase yang bisa menyebabkanimplantasi plasenta abnormal. Retensio sebagian atau seluruh plasenta dalam rahim akanmengganggu kontraksi dan retraksi, menyebabkan sinus-sinus tetap terbuka, danmenimbulkan perdarahan post partum. Begitu bagian plasenta terlepas dari dinding uterus, perdarahan terjadi dari daerah tersebut. Bagian plasenta yang masih melekat melintangiretraksi miometrium dan perdarahan berlangsung terus sampai sisa organ tersebut terlepasserta dikeluarkan (Wiknjosastro, 2002). Pada retensio plasenta baik seluruh atau sebagianlobus suksenturiata, sebuah kotiledon atau suatu fragmen plasenta yang tertinggal padadinding uterus dapat menyebabkan perdarahan post partum. Tidak ada hubungan antara banyaknya bagian plasenta yang masih melekat dengan beratny perdarahan. Hal yang perludiperhatikan adalah derajat atau dalamnya perlekatan plasenta tersebut (Hacker, 2001).
Faktor-faktor predisposisi terjadinya retensio plasenta
(1) Paritas Ibu Pada multiparaakan terjadi kemunduran dan cacat pada endometrium yang mengakibatkan terjadinyafibrosis pada bekas implantasi plasenta pada persalinan sebelumnya, sehingga vaskularisasimenjadi berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan janin, plasenta akan mengadakan perluasan implantasi dan vili khorialis akan menembus dinding uterus lebih dalam lagisehingga akan terjadi plasenta adhesiva sampai perkreta. Ashar Kimen mendapatkan angkakejadian tertinggi retensio plasenta pada multipara, sedangkan Puji Ichtiarti mendapatkankejadian retensio plasenta tertinggi pada paritas 4-5 (Cahyono, 2000).(2) Umur Makin tua umur ibu maka akan terjadi kemunduran yang progresif dariendometrium sehingga untuk mencukupi kebutuhan nutrisi janin diperlukan pertumbuhan plasenta yang lebih luas.
c) Plasenta Restan
Adanya sisa plasenta yang sudah lepas tapi belum keluar ini akanmenyebabkan perdarahan yang banyak. Sebabnya bisa karena atonia uteri, karena adanyalingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III, yangakan menghalangi plasenta keluar (Mochtar, 1998).

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Fatha Rani Sepa liked this
Suci Wulandari liked this
Wella Septria liked this
Hendrico Chenk liked this
Ana Febrian liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->