Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Proceding FGD Kawasan Perbatasan Kalbar

Proceding FGD Kawasan Perbatasan Kalbar

Ratings: (0)|Views: 706 |Likes:
Published by A Hendy Sopyandi
Institusional building for The Acelerated Development of Border Areas Project, DSF-Bappenas
Institusional building for The Acelerated Development of Border Areas Project, DSF-Bappenas

More info:

Published by: A Hendy Sopyandi on Jun 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

 

“Institution Building For The Accelerated Development Of Border Areas”Di Provinsi Kalimatan BaratOleh : Ir. Asep Hendy Sopyandi(Regional Project Leader-Sanggau Kalbar)Orchadz Hotel, Pontianak 12 Mei 2011
 
 
IBDA-BA - i
Summary,

“Institution Building For The Accelerated Development Of Border Areas”Di Provinsi Kalimatan Barat
Kawasan perbatasan negara merupakan kawasan yang berada di depan dan sebagaipintu gerbang ke negara lain, dimana pertimbangan peningkatan kesejahteraanmasyarakat di kawasan tersebut termasuk pertimbangan aspek geo-strategis-politis danpertimbangan aspek keamanan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Salah satutantangan besar pengembangan kawasan perbatasan adalah bagaimana menyinergikansemua stakeholder terkait dalam pengembangan kawasan dengan segalapermasalahannya yang multidimensi, seperti terkait dengan kepastian garis batas(delimitasi dan demarkasi), pertahanan dan keamanan, kedaulatan, ketersediaaninfrastruktur, pergerakan lintas batas, dan kelembagaan, serta kesejahteraanpenduduk. Sejalan dengan Undang Undang No. 17 tahun 2007 tentang RencanaPembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP Nasional 2005-2025) telah menetapkanarah pengembangan wilayah perbatasan negara yaitu “dengan mengubah arahkebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi “inward looking”,menjadi “outward looking” sehingga wilayah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintugerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga”. Berdasarkan UUtersebut, di samping pendekatan keamanan (security approach), maka pengelolaanbatas wilayah negara dan pembangunan kawasan perbatasan juga menggunakanpendekatan kesejahteraan (prosperity approach). Dengan pendekatan tersebut makakawasan perbatasan negara merupakan kawasan strategis dalam meningkatkankesejahteraan masyarakat dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pulau Kalimantan memiliki wilayah perbatasan di delapan daerah kabupaten di duaprovinsi yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Kabupaten di KalimantanBarat yang memiliki lima wilayah perbatasan adalah Kabupaten Sanggau,Kapuas Hulu, Sambas, Sintang, Bengkayang
. Panjang garis perbatasanKalimantan Barat dengan Sarawak adalah 847,3 kilometer yang melintasi 98 desadalam 14 kecamatan, dan di Kalimantan Timur terdapat tiga wilayah perbatasan yaitu diKabupaten Nunukan, Kutai Barat, dan Malinau sepanjang 1.038 kilometer dan melintasi11 kecamatan serta 319 desa.Dari lima kabupaten di wilayah perbatasan Kalimantan Barat terdapat dua pintu lintasbatas yang resmi yaitu di Kabupaten Sanggau (Entikong) dan Kabupaten Kapuas Hulu(Nanga Badau) dengan fasilitas CIQS yang sudah cukup baik. Sedangkan wilayahperbatasan lainnya seperti di Kabupaten Sambas (Dusun Aruk Desa SebungaKecamatan Sajingan), Bengkayang, Kabupaten Sintang, , dan Kapuas Hulu, Malinau danKutai Barat masih belum memiliki pos lintas batas (bordergate) yang resmi dan masihdalam tahap pembangunan. Sesuai kesepakatan melalui forum Sosek Malindo, telah
 
IBDA-BA - ii
disepakati pembukaan beberapa pintu perbatasan secara bertahap di KabupatenKapuas Hulu, Sambas, Sintang dan Bengkayang.Potensi sumberdaya alam wilayah perbatasan di Kalimantan cukup besar dan bernilaiekonomi sangat tinggi, terdiri dari hutan produksi (konversi), hutan lindung, tamannasional, dan danau alam, yang semuanya dapat dikembangkan menjadi daerah wisataalam (ekowisata) serta sumberdaya laut yang ada di sepanjang perbatasan lautKalimantan Timur maupun Kalimantan Barat. Beberapa areal hutan tertentu yang telahdikonversi tersebut telah berubah fungsi menjadi kawasan perkebunan yang dilakukanoleh beberapa perusahaan swasta nasional maupun yang bekerjasama denganperkebunan asing yang umumnya berasal Malaysia. Seiring dengan lemahnyapengawasan dan penegakan hukum di wilayah tersebut, maka berbagai kegiatan ilegaltelah terjadi seperti pencurian kayu atau penebangan kayu liar (illegal logging) yangdilakukan oleh oknum cukong negara tetangga bekerjasama dengan masyarakatsetempat. Kegiatan penebangan kayu secara liar oleh penduduk setempat ini dipicuoleh kemiskinan dan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitarperbatasan, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan hidupserta lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di wilayah tersebut.Oleh sebab itu, untuk menampung issue dan permasalahan kemudian arahankebijakan, strategi dan sasaran strategi akan dibuat ke dalam matrik kebijakan sebagaiupaya dari penyusunan naskah kebijakan pengelolaan batas wilayah dan kawasanperbatasan secara terpadu. Sarana untuk menampung hal tersebut maka KementerianPPN/Bappenas RI melalui kerjasama dengan BNPP dan BPKPK (Badan PengelolaKawasan Perbatasan dan Kerjasama) Provinsi Kalimantan Barat melakukan kegiatanFocus Group Discussion (FGD) yang melibatkan stakeholder terkait di tingkat provinsidan kabupaten. Adapun kerangka pikir dalam pelaksanaan FGD ini mengacu kepadaRencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan BadanNasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) RI. Adapun aspek pengelolaan batas wilayahnegara, secara garis besar meliputi: 1) Penetapan dan Penegasan Batas, 2) Pertahanandan Keamanan; 3) Pembangunan Ekonomi Kawasan, 4) Pelayanan Sosial Dasar dan 5)Penguatan Kelembagaan yang telah di diskusikan dalam kelompok FGD. Dari isu, arahkebijakan, strategi di batas wilayah negara dan kawasan perbatasan, berikut ini dapatdisampaikan beberapa masukan FGD dalam kerangka penyusunan naskah kebijakanpengelolaan batas wilayah dan kawasan perbatasan perbatasan secara terpadu dariProvinsi Kalimantan Barat sebagai berikut:
1.
 
 Aspek Penetapan dan Penegasan Batas Wilayah
Masih terjadinya perbedaan pendapat/sengketa tata batas wilayah antara NegaraIndonesia dengan Serawak Negara bagian Malaysia akibat ketidakjelasan batas fisik dilapangan (seperti hilangnya patok batas dan saling claim batas wilayah sertapergeseran patok batas), terkait dengan persoalan tersebut perlu dilakukanperundingan secara terus menerus antar kedua negara dengan dibantu oleh

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->