Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
1. Resolusi Konflik 
Rekonsiliasi sebagai suatu bentuk resolusi konflik (
conflict resolution
) akhir-akhir ini menjadi sangat populer, terutamasetelah kasus Afrika Selatan dengan komisi kebenaran danrekonsiliasinya (
truth and reconciliation commission
), dianggapcukup berhasil. Rekonsiliasi dapat dianggap sebagai bagianatau satu cara untuk menuntaskan konflik, dalam hal inirekonsilasi diperlukan agar persoalan-persoalan pasca konflikdapat dituntaskan. Rekonsiliasi dapat juga disejajarkanpengertiannya dengan upaya transformasi konflik, yaitubagaimana mengubah konflik menjadi damai.Pada bagian ini akan dibahas teori-teori resolusi konflik,khususnya teori mengenai rekonsiliasi.Umumnya, para peneliti dan praktisi di bidang resolusikonflik menganggap peran masa lalu dalam perkembanganskenario konflik adalah sangat penting. Meskipun sejarah masalalu banyak mempengaruhi persepsi dan pengalamanindividu/kolektif terhadap konflik, topik ini sedikit sekalidibahas dalam penelitian-penelitian mengenai konflik (Cairns &
41
 
Roe, 2003). Secara lebih spesifik misalnya, hanya sedikitinformasi yang diperoleh tentang bagaimana ingatan kolektif (
collective memory 
) berperan dalam mempermudah ataumempersulit tercapainya resolusi konflik. Teori-teori mengenai resolusi konflik umumnya mencakuprentang yang sangat luas dengan akar dan landasan disiplinilmu yang bermacam-macam. Bab ini akan menyajikanperspektif teori resolusi konflik, terutama dalam perspektif ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi, dan lebih spesifikmengenai isu sejarah
(history 
) dan ingatan
(memory).
2. Teori Negosiasi
 Teori mengenai negosiasi sebagai cara menyelesaikankonflik umumnya mengambil
setting
dan konteks konflik dalambisnis dan organisasi (Bazerman & Neale, 1992; Breslin &Rubin, 1995; Fisher & Ury, 1991; Fisher & Brown, 1988; Jandt,1985; Lewicky, Saunders & Minton, 1999). Teori-teori yangdikembangkan dalam konteks ini biasanya memusatkanperhatiannya pada tingkat individu, walaupun belakanganbanyak teknik dan cara-cara negosiasi diaplikasikan juga untuk
setting
kelompok. Tujuan utama dari negosiasi secara umumadalah tercapainya kesepakatan yang bisa diterima pihak yang
42
 
bertikai. Pada umumnya penelitian-penelitian pada area inibanyak memusatkan perhatiannya pada pelbagai macamstrategi dan teknik-teknik untuk mencapai kesepakatan. Dalamkelompok literatur mengenai hal ini, isu-isu seperti kekuasaan
(power)
(Boulding, 1999; Dawson, 1999; Fisher, 1995; Kritek,1994), eskalasi dan de-eskalasi konflik (Bazerman & Neale,1992; Kriesberg, 1995; Rubin, Pruit & Him, 1994) sertapemecahan masalah secara berkolaborasi
(collaborative problem solving)
(Fisher & Ury, 1981; Gray, 1989; Jandt, 1985)banyak mendapat perhatian.Isu seputar masa lalu, ingatan
 
dan faktor sejarah masalampau
(historical past)
dalam skenario konflik biasanyakurang diperhatikan, kalau tidak dapat dikatakan diabaikansama sekali. Meskipun kebanyakan perundingan (negosiasi)pada kasus-kasus konflik akhir-akhir ini, terutama, misalnya,antara Israel dan Palestina, Irlandia Utara, memperlihatkan isusejarah masa lalu selalu menjadi ganjalan bagi kedua belahpihak untuk mencapai kesepakatan (Tint, 2002).Fisher dan Ury (1981) misalnya, menulis tiga buku yangcukup berpengaruh dalam literatur mengenai negosiasi.
Getting to Yes
(1981),
Getting Together 
(1988) dan
Getting
43
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more