bertikai. Pada umumnya penelitian-penelitian pada area inibanyak memusatkan perhatiannya pada pelbagai macamstrategi dan teknik-teknik untuk mencapai kesepakatan. Dalamkelompok literatur mengenai hal ini, isu-isu seperti kekuasaan
(power)
(Boulding, 1999; Dawson, 1999; Fisher, 1995; Kritek,1994), eskalasi dan de-eskalasi konflik (Bazerman & Neale,1992; Kriesberg, 1995; Rubin, Pruit & Him, 1994) sertapemecahan masalah secara berkolaborasi
(collaborative problem solving)
(Fisher & Ury, 1981; Gray, 1989; Jandt, 1985)banyak mendapat perhatian.Isu seputar masa lalu, ingatan
dan faktor sejarah masalampau
(historical past)
dalam skenario konflik biasanyakurang diperhatikan, kalau tidak dapat dikatakan diabaikansama sekali. Meskipun kebanyakan perundingan (negosiasi)pada kasus-kasus konflik akhir-akhir ini, terutama, misalnya,antara Israel dan Palestina, Irlandia Utara, memperlihatkan isusejarah masa lalu selalu menjadi ganjalan bagi kedua belahpihak untuk mencapai kesepakatan (Tint, 2002).Fisher dan Ury (1981) misalnya, menulis tiga buku yangcukup berpengaruh dalam literatur mengenai negosiasi.
Getting to Yes
(1981),
Getting Together
(1988) dan
Getting
43