Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
41Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Moneter Dan Kebijakan Fiskal Di Indonesia

Kebijakan Moneter Dan Kebijakan Fiskal Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 3,595 |Likes:

More info:

Published by: Nanang Syafruddin Turky on Jun 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

 
KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL DI INDONESIA
Untuk mengatur kestabilan perekonomian di Indonesia, pemerintah menggunakan duakebijakan yakni kebijakan moneter dan kebijakan fiscal. Kebijakan moneter adalah suatukebijakan yang digunakan pemerintah untuk mengatur sector financial, ssedangkan kebijakanfiscal adalah suatu kebijakan yang digunakan pemerintah untuk mengatur sector riil.A.
Kebijakan Moneter
Untuk melihat suatu kebijakan moneter yang diambil efektif atau tidak, pemerintah perlu melihat tolak ukur stabilitas moneter.Setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah harus memiliki target dan ukurankeberhasilan. Hal ini penting, untuk mengukur atau sebagai acuan, apakah kebijakan tersebut berhasil atau tidak. Dalam perekonomian beberapa indkator yang biasanya digunakan untuk menilai kebijakan moneter adalah :1. Jumlah Uang Beredar (JUB)2. Laju inflasi yang cukup rendah terkendali3. Suku bunga pada tingkat yang wajar 4. Nilai tukar rupiah yang realistis, dan5. Ekspektasi/harapan masyarakat terhadap moneter Dari kelima indikator tersebut, hanya JUB yang tidak dapat dimonitor dan dirasakanlansung oleh masyarakat, sementara itu indikator nomor 2 sampai dengan 5, relatif dapatdilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Dengan alasan ini, berikut ini akandijelaskan secara ringkas dari keempat indikator tersebut.
Laju Inflasi
Bagi dunia perbankan laju inflasi yang tinggi akan menimbukan kesulitan bagi Bank untuk mengerahkan dana masyarakat, karena dengan inflasi yang tinggi tersebut, tingkat
bunga riil 
(bunga nominal-inflasi) akan menurun, sehingga mengurangi keinginanmasyarakat untuk menyimpan kekayaannya dalam produk-produk perbankan.Dampak selanjutnya adalah, bunga riil yang menurun bila dibandingkan tingkat bungariil di luar negeri
akan memicu
larinya dana masyarakat ke luar negeri, karena dirasakanmasyarakat lebih menguntungkan menyimpan dananya di luar negeri.Kedua dampak inflasi diatas akan menyebabkan Perbankan kekurangan dana yang berasal dari masyarakat, dan ini berarti kemampuan Bank dalam menyediakan dana untuk investasi juga turut berkurang, akibatnya laju pertumbuhan produksi dan ekonomi juga akanmelambat.Selain itu, inflasi yang tinggi juga akan memicu ketidakpastian dalam banyak aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya dalam hal perencanaan dan operasional perusahaan, termasuk dalam perbankan.
Suku Bunga
Selain yang telah sering dijelaskan sebelumnya, bahwa dari sisi masyarakat tingginyasuku bunga memang akan menambah keinginan masyarakat untuk menyimpan dananya di bank, namun di sisi lain, tingginya suku bunga tersebut akan mengurangi niat dunia usahauntuk mengambil kredit bagi pengembangan usahanya.
 Akibatnya
dana yang sudah terlajur masuk ke perbankan dengan adanya bunga tinggi tersebut, tidak dapat tersalurkan danmenimbulkan permasalahan baru bagi perbankan, yakni, Kemana dana masyarakat tersebutakan disalurkan ? Apabila masalah ini tidak segera mendapat jalar keluar, maka perbankanterancam akan menghadapi masalah likuiditas dan tentu saja masalah penghasilan dari bungayang seharusnya diperoleh.Dengan penjelasan yang sedikit berbeda, rendahnya tingkat bunga memang akanmendorong banyak pelaku dunia usaha untuk mengambil dana di perbankan, namun karena
 
rendahnya tingkat bunga tersebut, apalagi bila dibandingkan dengan tingkat bunga di luar negeri; masyarakat akan lebih tertarik menyimpan dananya di perbankan luar negeri,sehingga perbankan dalam negeri akan kekurangan dana yang sedang dibutuhkan oleh duniausaha. Dampak lebih jauh lagi adalah terhambatnya investasi yang terjadi di sektor industrikarena kesulitan mendapatkan dana, sehingga produksi akan melambat.
Nilai Tukar Rupiah
 Nilai tukar yang stabil tentu akan lebih memberi iklim kepastian bagi semua pelakuusaha, termasuk sektor perbankan, dunia usaha dan masyarakat. Nilai tukar rupiah yangrendah saat ini dapat dijadikan saat yang baik dunia usaha yang beorientasi ekspor, dan inidapat memicu peningkatan permintaan kredit dari dunia usaha untuk melanjutkan danmeningkatkan produk ekspornya. Dengan kejadian ini tentu akan menguntungkan dunia perbankan. Penyesuaian nilai tukar yang terlalu cepat akan sangat merugikan karena hal inidapat mendorong bergeraknya aliran dana masyarakat ke luar negeri. Dengan demikianantara nilai tukar dan inikator kebijakan moneter lainnya memiliki hubungan yang sangaterat, khususnya bagi kebijakan pemerintah yang sedang ditempuh untuk menstabilkan danmeningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Ekspektasi/harapan Masyarakat
Meskipun lebih sulit untuk diukur, namun ekspektasi masyarakat mulai mendapat perhatian besar dalam rangka pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia. Ekspektasiumumnya terjadi melalui ekspektasi masyarakat terhadap tingkat inflasi dan ekspektasiterhadap nilai tukar.Ekspektasi masyarakat yang berlebihan terhadap besaran inflasi akan mendorong
 semakin tingginya harga-harga
, sehingga akan mengurangi tingkat konsumsi dan daya saing produk dalam negeri yang akan ekspor. Sementara itu, ekspektasi masyarakat yang negatif terhadap nilai tukar akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat pada matauang rupiah, sehingga dapat memicu mengalirnya dana masyarakat keluar negeri.Apabila hal ini terjadi maka perbankan akan kesulitan dalam menghimpun danamasyarakat yang sangat diperlukan untuk keperluan investasi dunia usaha.Dengan penjelasan keempat indikator moneter tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, sangatlah dipengaruhi oleh keempatindikator tersebut, sehingga kebijakan moneter yang ditempuh pemerintah akan hal itu, harusmemberikan hasil yang baik, dalam arti terkendali, wajar, dan realistis.
Strategi Kebijakan Moneter
Untuk mendapatkan indikator moneter seperti disyaratkan di atas, pemerintah yangdalam hal ini otoritas moneter, memerlukan stratei yang tepat dan sesuai dengan kondisi diIndonesiaSecara umum, strategi moneter yang dapat dipilih antara lain adalah :
1. Startegi Kebijakan moneter longgar (Easy Monetary Policy) atau Strategikebijakan moneter ketat (Tight Monetary Policy)
Kebijakan moneter longgar akan ditempuh untuk menggiatkan kembali perekonomianyang sedang lesu, dengan cara mempermudah dan menambah jumlah uang beredar, agar  permintaan konsumsi naik 
 produksi naik. Namun demikian dalam perekonomian terbuka dan sistem devisa bebas, kebijakanmoneter yang longgar dapat menimbulkan dampak seperti gambar berikut ini.
 
Sementara itu, kebijakan moneter ketat akan memberi dampak sebaliknya, terutamadalam rangka meredam kenaikan harga atau inflasi yang berlebihan, sehingga tekananterhadap neraca pembayaran berkurang karena produk dalam negeri kembali dapat bersaing,meskipun dengan kebijakan ini akan berdampak pula pada menurunnya pertumbuhanekonomi, karena jumlah uang yang beredar dikurangi, yang berarti permintaan juga berkurang produksi berkurang.Sebuah dilema memang akan terjadi, tatkala perekonomian Indonesia menghadapidua kondisi yang bersamaan, yakni lesunya ekonomi dan tertekannya neraca pembayaranatau melemahnya daya saing produk lokal. Penerapan kebijakan moneter longgar memangakan menyelamatkan ekonomi yang lesu, namun akan memperparah kondisi neraca pembayaran Indonesia…sementara penerapan kebijakan moneter ketat akan menyelamatkanneraca pembayaran dan manikkan daya saing, namun akan berdampak padamenurunnya/lesunya perekonomian. Kalau sudah demikian, kebijakan mana yang akandipilih ?Dengan dilema tersebut, pemerintah kemudian memang dituntut untuk dapat meramukebijakan yang paling pas dan menetapkan skala prioritas pemecahan masalah yang ada,sehingga lesunya perekonomian dapat diatasi dan daya saing produk ekspor Indonesia jugamembaik, dan ini memang bukan pekerjaan yang mudah.
2. Countercyclical Monetary Policy atau Accomodative Monetary PolicyCountercyclical Monetary Policy
Untuk memperlunak konjungtur/naik turunnya perekonomian, pemerintah perlusecara aktif malakukan intervensi di pasar uang, yakni dengan melakukan ekspansi moneter disaat perekonomian mengahadapi masa resesi dan melakukan konstraksi moneter saat perekonomian mengalami
boom
/laju yang terlalu cepat. Penjelasan ini dapat dilihat padagambar berikut :

Activity (41)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
DeGe Dragoonz liked this
Iphul Tanda Seru liked this
Indah Prameswari liked this
Refdamas liked this
kangwinjihwang liked this
Agasi Rizal liked this
Merry Antasari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->