Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
OTONOMI DAERAH

OTONOMI DAERAH

Ratings: (0)|Views: 150 |Likes:
Published by Gilar Dbara

More info:

Published by: Gilar Dbara on Jul 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2013

pdf

text

original

 
Pancasila dan Pendidikan kewarganegaraan
Perkembangan Otonomi Daerah dan Dampak yang Ditimbulkan
Disusun oleh:
Gilar Imam Ariyadi10660002
PROGAM STUDY TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGAYOGYAKARTA2010
 
OTONOMI DAERAH
I. SEJARAH OTONOMI DAERAHGelombang perubahan yang melanda Indonesia pasca jatuhnya pemerintahan orde baru, membuka wacana dan gerakan baru diseluruh aspek kehidupan masyarakat, tak terkecualidalam dunia pemerintahan. Semangat yang menyala-nyala untuk melakukan reformasi, bahkancennderung melahirkan euphoria, memberikan energi yang luar biasa bagi bangkintya kembaliwacana otonomi daerah, setelah hampir sepertiga abad ditenggelamkan oleh rezim otoritarianorde baru dengan politik stick and carrot-nya (Sri Budi Santoso : 2000). Salah satu unsur reformasi total itu adalah tuntutan pemberian otonomi yang luas kepada daerah kabupaten dankota. Marsdiasmo (1999), menyatakan bahwa tuntutan seperti itu adalah wajar, paling tidak untuk dua alasan. Pertama, intervensi pemerintah pusat yang terlalu besar di masa yang lalu telahmenimbulkan masalah rendahnya kapabilitas dan efektivitas pemerintah daerah dalammendorong proses pembangunan dan kehidupan demokrasi di daerah , Kedua, tuntutan pemberian otonomi itu juga muncul sebagai jawaban untuk memasuki era new game yangmembawa new rules pada semua aspek kehidupan manusia di masa akan datang.Dalam sejarah perkembangannya kebijakan otonomi daerah di Indonesia mengikuti pola seperti pada bandul jam yaitu beredar antara sangatsentralistik dansangat desentarlistik. Apabila kebijakan yang dilaksanakan sangat sentralistik maka bandulnyaakan ditarik kembali kepada arah titik keseimbanganm desentralistik demikian pulasebaliknya. Hal ini dapat dilihat dengan mengikuti perkembangan pelaksanaan otonomi daerahmelalui peraturan perundang-undangan yang mengaturnya mulai dari UU nomor 1 tahun 1945sampai dengan UU Nomor 22 tahun 1999.Otonomi Daerah di Indonesia dilaksanakan dalam rangka desentralisasi di bidang pemerintahan. Desentralisasi itu sendiri setidak-tidaknya mempunyai tiga tujuan. Pertama, tujuan politik, yakni demokratisasi kehidupan berbangsa dan bernegara pada tataran infrastruktur dansuprastruktur politik. Kedua, tujuan administrasi, yakni efektivitas dan efisiensi proses-prosesadministrasi pemerintahan sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat, tepat,transparan serta murah. Ketiga, tujuan social ekonomi, yakni meningkatnya taraf kesejahteraanmasyarakat.(Sadu Wasisitiono;2003
)
II. PENGERTIAN OTONOMI DAERAH
 
A. Pengertian DesentralisasiDesentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia.dengan adanya desentralisasi maka muncullan otonomi bagi suatu pemerintahan daerah.Desentralisasi sebenarnya adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana didefinisikan sebagai penyerahan kewenangan. Dalam kaitannya dengan sistem pemerintahan Indonesia, desentralisasi akhir-akhir ini seringkali dikaitkan dengan sistem pemerintahan karena dengan adanya desentralisasi sekarang menyebabkan perubahan paradigmapemerintahan di Indonesia. Desentralisasi juga dapat diartikan sebagai
 
 pengalihan tanggung jawab, kewenangan, dan sumber-sumber daya (dana, manusia dll)dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Dasar pemikiran yang melatarbelakanginyaadalah keinginan untuk memindahkan pengambilan keputusan untuk lebih dekat denganmereka yang merasakan langsung pengaruh program dan pelayanan yang dirancang dandilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini akan meningkatkan relevansi antara pelayananumum dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat lokal, sekaligus tetap mengejar tujuanyang ingin dicapai oleh pemerintah ditingkat daerah dan nasional, dari segi sosial danekonomi. Inisiatif peningkatan perencanaan, pelaksanaan, dan keuangan pembangunansosial ekonomi diharapkan dapat menjamin digunakannya sumber-sumber daya pemerintah secara efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan lokal.B. Sentralisasi dan DesentralisasiSentralisasi dan desentralisasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara adalah persoalan pembagian sumber daya dan wewenang. Pembahasan masalah ini sebelumtahun 1980-an terbatas pada titik perimbangan sumber daya dan wewenang yang ada pada pemerintah pusat dan pemerintahan di bawahnya. Dan tujuan “baik” dari perimbangan ini adalah pelayanan negara terhadap masyarakat.Di Indonesia sejak tahun 1998 hingga baru-baru ini, pandangan politik yangdianggap tepat dalam wacana publik adalah bahwa desentralisasi merupakan jalan yangmeyakinkan, yang akan menguntungkan daerah. Pandangan ini diciptakan oleh pengalaman sejarah selama masa Orde Baru di mana sentralisme membawa banyak akibat merugikan bagi daerah. Sayang, situasi ini mengecilkan kesempatandikembangkannya suatu diskusi yang sehat bagaimana sebaiknya desentralisasidikembangkan di Indonesia. Jiwa desentralisasi di Indonesia adalah “melepaskan dirisebesarnya dari pusat” bukan “membagi tanggung jawab kesejahteraan daerah”.Sentralisasi dan desentralisasi tidak boleh ditetapkan sebagai suatu proses satuarah dengan tujuan pasti. Pertama- tama, kedua “sasi” itu adalah masalah perimbangan.Artinya, peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan selalu merupakan dua halyang dibutuhkan. Tak ada rumusan ideal perimbangan. Selain proses politik yang sukar ditentukan, seharusnya ukuran yang paling sah adalah argumen mana yang terbaik bagimasyarakat.Masalah sentralisasi dan desentralisasi bukan lagi dipandang sebagai persoalan penyelenggara negara saja. Pada akhirnya kekuatan suatu bangsa harus diletakkan padamasyarakatnya. Saat ini di banyak wilayah, politik lokal dikuasai selain oleh orang-orang partai politik juga kelompok-kelompok yang menjalankan prinsip bertentangan dengan pencapaian tujuan kesejahteraan umum. Kekuatan kelompok pro pembaruan lemah di banyak daerah dan langsung harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik lokaldengan kepentingan sempit.Birokrasi sekali lagi adalah alat pemerintah pusat untuk melakukan perbaikandaerah. Birokrasi, jika dirancang secara sungguh-sungguh, bisa berperan sebagai alatmerasionalisasikan masyarakat. Pemerintah pusat, misalnya, membantu pemerintah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->