iii
yang tercermin dalam pertumbuhan ekonomi yang mengalami kecenderunganmeningkat.
Kedua
, kecuali Laos, Kamboja dan Brunei, semua negara Asia Tenggaramempunyai dan mengembangkan industri pertahanan domestik, baik berdasarkan lisensinegara Barat maupun hasil desain dalam negeri. Selain untuk kepentingan pasar dalamnegeri (
captive market
), hasil produksi mereka juga untuk kepentingan ekspor. Faktor-faktor domestik lainnya sebagai penunjang adalah: masalah keamanan internal terkaitdengan gerakan separatis, pengamanan jalur lalulintas laut, dan perlindungan sumberdayaalam dalam lingkunan Zona Ekonomi Eksklusif.Di pihak lain, meningkatnya pembangunan persenjataan di negara-negara Asia Tenggara pada periode pasca Perang juga disebabkan karena pada saat yang bersamaan(1991-1993) belum terbentuk suatu mekanisme regional yang dapat mengatur masalah-masalah keamanan di antara sesama negara kawasan. Selanjutnya, setelah terbentuknya ASEAN Regional Forum (ARF) pun yang berfungsi sebagai forum untuk membahas danmembicarakan masalah-masalah kemanan di Asia-Pasifik, peningkatan pembangunanpersenjataan tetap berlangsung. Kehadiran ARF belum sepenuhnya mampu meredamdinamika persenjataan, hal ini dikarenakan: 1) Instrumen-instrtumen kebijakan keamanan ARF masih belum berjalan semestinya; 2) ARF lebih bersifat forum dialog yang bersifatlonggar sehingga kesepakatan-kesepakatannya tidak terlalu mengikat anggotanya; dan 3)Sebagian besar anggota ARF, terutama negara-negara besar, belum sepenuhnya meyakinikemampuan ARF dalam mengatasi persoalan-persoalan keamanan, dianataranya masalahLaut Cina Selatan dan konflik Cina-Taiwan.Berdasarkan perbandingan dinamika persenjataan diatas, terutama dalampenggelaran dan akuisisi persenjataan, dapat dilihat pula peta peningkatan dan kekuatanmiliter negara-negara Asia Tenggara, dimana postur kekuatan militer Indonesiamenunjukkan profil utama (dari aspek kuantitas) dibanding negara-negara lainnya. Tetapibila kuantitas persenjataan yang dimilikinya dilihat berdasarkan proporsi danpersentasenya terhadap jangkauan wilayah operasi, wilayah kedaulatan, dan jumlahpenduduk yang harus dilindunginya, profil kekuatannya tampak jauh lebih kecil(bersahaja) dibanding sebagian besar negara-negara lainnya.Realitas diatas, menggarisbawahi pentingnya pembangunan kekuatanpersenjataan Indonesia untuk mencapai postur kekuatan militer yang ideal. Pentingnyapeningkatan postur militer ini terkait dengan kepentingan pengamanan wilayah danmenjaga persatuan, keutuhan dan kedaulatan tanah air. Dilihat dari kenyataan geografik (luasnya wilayah), kenyataan demografi (besarnya jumlah penduduk), kebutuhan ruang untuk hidup (keinginan untuk sejajar secara politis dengan negara lain), dan perlunyakekuatan penangkal, pertimbangan untuk pembangunan kekuatan militer Indonesia dari waktu ke waktu tetap penting dan mendesak sampai mencapai kondisi ideal.Kata kunci:
Postur militer, kepentingan nasional, keamanan nasional, lomba senjata, pembangunan persenjataan, dinamika persenjataan, dilema keamanan, ancaman keamanan,keamanan regional, pertahanan mandiri, proyeksi militer, perdagangan senjata,kapabilitas ekonomi, industri pertahanan
.