Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Taiko Indo Bag 06

Taiko Indo Bag 06

Ratings: (0)|Views: 86|Likes:
Published by miharja
Lanjutan taiko
Lanjutan taiko

More info:

Published by: miharja on Sep 13, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2009

pdf

text

original

 
BANGSAWAN PANDI
Otowaka, yang kebetulan bebas tugas hari itu, sedang tidur siang diasrama resimennya. la terbangun, mengangkat kepala, dan melihat berkeliling."Siapa itu?""Ini aku!" suara itu berkata dari balik tanaman pagar. Dari atas balkon,Otowaka melihat seseorang berdiri di luar pagar. la melangkah ke teras."Siapa itu? Kalau memang ada perlu, pergilah ke gerbang depan.""Gerbangnya terkunci."Otowaka berusaha melihat wajah orang itu, lalu berseru, "Astaga, kau siMonyet, anak Yaemon, bukan?""Ya.""Kenapa tidak kaukatakan dari tadi? Kenapa kau malah kasak-kusuk seperti hantu di luar?""Soalnya gerbang depan tidak terbuka, dan waktu aku mengintip dari belakang, aku melihat Tuan sedang tidur," ia berkata penuh hormat."Kemudian Tuan tampak agak gelisah, sehingga aku memutuskan untuk memanggil sekali lagi.""Kau tidak perlu malu-malu begitu. Sepertinya istriku yang menguncigerbang waktu dia pergi berbelanja. Biar kubukakan untukmu."Setelah Hiyoshi membasuh kaki dan memasuki rumah, Otowaka menatap-nya untuk waktu lama, sebelum berkata, "Ke mana saja kau selama ini?Sudah dua tahun berlalu sejak kita bertemu di jalan. Selama itu tak ada berita apa kau masih hidup atau sudah mati, dan ibumu khawatir sekali.Apa kau sudah memberitahunya bahwa kau baik-baik saja?""Belum.""Kau belum pulang ke rumahmu?""Aku sempat pulang sebentar sebelum datang ke sini."133
a
eBook oleh
Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
MR. Collection's 
"PERMISI!" sebuah suara berseru untuk kedua kalinya.
 
"Dan sampai sekarang kau belum juga menemui ibumu?""Sebenarnya, semalam aku diam-diam pergi ke rumah kami, tapi setelahmelihat wajah ibuku, aku segera berbalik dan menuju ke sini.""Kau memang aneh. Bukankah rumah itu tempat kau dilahirkan? Kenapakau tidak memberitahu mereka bahwa kau sehat-sehat saja, agar merekatidak cemas terus?""Aku pun sudah rindu sekali pada Ibu dan Kakak, tapi waktu akumeninggalkan rumah, aku bersumpah bahwa aku baru akan kembali setelah berhasil menjadi orang. Dalam keadaan seperti sekarang, aku tak bisamenghadap ayah tiriku."Sekali lagi Otowaka menatap pemuda di hadapannya. Jubah katunHiyoshi yang semula berwarna putih kini tampak kotor karena debu,hujan, dan embun. Rambutnya yang tipis dan berminyak, tulang pipinyayang terbakar matahari, melengkapi kesan kelelahan. la kelihatan sepertiorang yang gagal mencapai cita-citanya."Bagaimana kau cari makan selama ini?""Aku menjual jarum.""Kau tidak bekerja untuk seseorang?""Aku sempat mengabdi di dua atau tiga tempat. Memang bukan rumahtangga samurai kelas tinggi, tapi...""Seperti biasa, kau segera bosan sendiri, bukan? Berapa umurmu sekarang?""Tujuh belas.""Tak ada yang bisa dilakukan jika seseorang memang bodoh, tapi janganterus-menerus bersikap tolol. Ada batasnya. Orang pandir memiliki kesabaranuntuk diperlakukan seperti orang pandir, tapi itu tidak berlaku untukmudan kesalahan-kesalahanmu. Bagaimana ibumu tidak bersedih dan ayahtirimu tidak malu? Monyet! Apa yang akan kaulakukan sekarang?"Meski Otowaka menegur Hiyoshi karena kurang tekun, ia juga merasakasihan pada anak ini. Otowaka dulu berteman dekat dengan Yaemon, dania sadar bahwa Chikuami memperlakukan anak-anak tirinya dengan kasar.Ia berdoa agar Hiyoshi suatu hari nanti berhasil menjadi orang, demialmarhum ayahnya.Pada saat itulah istri Otowaka kembali dari pasar, dan ia segera angkat bicara untuk membela Hiyoshi. "Dia anak Onaka, bukan anakmu! Jadi,kenapa kau memarahinya? Kau hanya buang-buang napas saja. Aku kasihan padanya." Ia mengambil buah semangka yang sejak tadi didinginkan didalam sumur, membelahnya, lalu menawarkannya pada Hiyoshi."Dia baru tujuh belas tahun, bukan? Ah, berarti dia memang belumtahu apa-apa. Umurmu sendiri sudah lewat empat puluh tahun, tapi kaumasih juga prajurit biasa. Sebaiknya kau jangan anggap dirimu istimewa.""Diam," ujar Otowaka. Ia tampak tersinggung. "Justru karena aku tidak ingin melihat anak-anak muda melewatkan hidup mereka seperti aku, aku134
 
merasa terpanggil untuk memberikan nasihat. Begitu menjalani upacara akil balig, mereka sudah dianggap dewasa, meski kenyataannya mungkin berbeda.Tapi kalau mereka sudah berusia tujuh belas tahun, mereka tidak boleh bersikap seperti anak-anak lagi. Ini barangkali kurang sopan, tapi lihatlah junjungan kita, Tuan Nobunaga. Berapa umurnya menurutmu?" Otowakahendak melanjutkan ucapannya, tapi kemudian cepat-cepat mengalihkantopik pembicaraan—mungkin karena enggan bertengkar dengan istrinya."Oh, ya, kemungkinan besar besok kami akan pergi berburu lagi denganYang Mulia. Setelah itu, dalam perjalanan pulang, kami akan berlatihmenyeberangi Sungai Shonai dengan berkuda dan berenang. Siapkan barang- barangku—sepotong tali untuk baju tempurku, dan sandal jeramiku."Hiyoshi, yang sejak tadi menundukkan kepala sambil mendengarkan percakapan antara suami-istri itu, duduk tegak dan berkata, "Maafkan aku jika aku bersikap lancang.""Kau mau mulai resmi-resmian lagi?""Aku tidak bermaksud begitu. Apakah Tuan Nobunaga sering pergi berburu dan berenang?""Sebetulnya tidak pada tempatnya aku berkata begini, tapi dia memanganak muda yang sukar diatur.""Dia agak sembarangan, bukan?""Kadang-kadang memang begitu, tapi dia bisa juga bersikap sopansekali.""Dia memiliki reputasi buruk di seluruh negeri.""O ya? Hmm, yang jelas dia tidak populer di antara musuh-musuhnya."Hiyoshi tiba-tiba berdiri dan berkata, "Aku minta maaf karena telahmengganggu hari libur Tuan.""Kau sudah mau berangkat lagi? Kenapa kau tidak menginap di sini saja, paling tidak untuk satu malam? Apakah aku membuatmu tersinggung?""Tidak, sama sekali tidak.""Aku takkan menghalangimu kalau kau tetap berkeras, tapi kenapa kautidak pergi menemui ibumu?""Baiklah. Malam ini juga aku akan pergi ke Nakamura.""Syukurlah." Otowaka mengantar Hiyoshi sampai ke pintu gerbang, tapidalam hati ia merasa ada yang tidak beres.Malam itu Hiyoshi tidak pulang ke rumahnya. Di mana ia bermalam?Barangkali ia tidur di tempat keramat di pinggir jalan, atau di bawahcucuran atap sebuah kuil. Ia dibekali uang oleh Matsushita Kahei, tapi di Nakamura, setelah mengintip melalui pagar tanaman untuk melihat apakahibunya baik-baik saja, ia telah melemparkan uang itu ke pekarangan. Tak sepeser pun tersisa di kantongnya, namun karena malam di musim panastidak panjang, ia hanya perlu menunggu sebentar sampai fajar tiba.Pagi-pagi sekali ia meninggalkan Desa Kasugai dan menuju ke arahBiwajima. Ia berjalan santai dan makan sambil berjalan. Ia punya beberapa135

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->