Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Katalog Pameran Tunggal Edhi Sunarso, Galeri Salihara,14-28 Agustus 2010

Katalog Pameran Tunggal Edhi Sunarso, Galeri Salihara,14-28 Agustus 2010

Ratings: (0)|Views: 1,381 |Likes:
Pameran Tunggal Seni Patung & Peluncuran Buku Edhi Sunarso, Galeri Salihara, Jakarta, 14-28 Agustus 2010
Pameran Tunggal Seni Patung & Peluncuran Buku Edhi Sunarso, Galeri Salihara, Jakarta, 14-28 Agustus 2010

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: Indonesia Contemporary Art Network on Jul 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

pdf

 
Edhi SunarSo 1
Harima pergi meninggalkan belang,pematng sembnyi meninggalkan rang.Saya bar saja memihkan sebah pepatahntk menggambarkan smbangan besarpematng Edhi Snarso. Kita di Jakarta sdahtak berhingga kali menyaksikan sejmlahpatngnya tanpa perl tah siapa penciptanya.Patng “Selamat Datang” di Bndaran HotelIndonesia, patng “Dirgantara” di Pancoran,dan patng “Pembebasan Irian Barat” diLapangan Banteng, misalnya, bkan hanyamenjadi penanda penting ib kota kita, namn jga mermskan apa dan bagaimana rangkota semestinya. Patng-patng it seakansdah menjadi bagian dari bawah-sadar kita:seakan tidak ada Jakarta tanpa kehadiranmereka. Ya, Jakarta
kita
, bkan Jakarta
mereka
. Ketika para pengembang, sadagar,dan birokrat mendorong Jakarta ke dalam“globalisme” dan menyer bahwa masadepan sdah tiba hari ini, patng-patng itmenegaskan bahwa masa lal adalah hari ini.Saya tidak sedang menganjrkanspaya anda sekalian kembali ke masa lal.Manakala rang-rang pblik kita, khssnyadi Jakarta, hanya sekadar sisa rang dari“internasionalisasi” pembangnan Jakarta,maka patng-patng Edhi Snarso senantiasamengingatkan kita bahwa rang-rang pblikkita dl adalah rang-rang organik, yangmenebalkan kehadiran kita sebagai warga.Patng-patng yang dibat pada 1960-an itbkan hanya mewjdkan apa yang dikatakanChairil Anwar “bangsa mda menjadi,bar bisa bilang ak”, namn jga menjadibkti bahwa di masa kemarin kita mampmerancang rang kota dengan sangat baik.Benar bahwa Presiden Skarno berada “dibalik” pembatan patng-patng it, namnadalah Edhi Snarso sendiri yang secarabebas-lgas mengatasi nasionalisme sempitdengan menciptakan bentk-bentk yangmendarah-daging, yang menciptakan geloralain. Pada hari ini kita dapat mengatakanbahwa patng-patng it masih berdaya hidpsekalipn rang-rang di sekitarnya makinbersiat homogen dan “niversal”. Monmen-monmen it membktikan bahwa Jakartakita, di hadapan kapitalisme mtakhir sednia,masih bersiat “pascakolonial”.Dalam kesempatan ini saya ingin jgamengatakan bahwa Edhi Snarso adalah
the last o the Mohicans
dari generasiseniman yang tmbh pada masa RevolsiKemerdekaan. Angkatan ini telah berjasabesar dengan memperkenalkan konsep—dan jga metode—“jiwa nampak”: senimanhars memperjangkan keseorangannya,individalitasnya, membat jiwanya sendiriterlihat dalam bentk-bentk ciptaannya;namn di sisi lain, ia jga, sebagai anakmasyarakat dan sejarahnya, mengancanggr-gr yang, sekalipn terpih, tetapberterima. Jiwa nampak” bkan hanyaperjangan demi kesenian modern yangbersiat nasional, tetapi jga “teknik”ntk menggali bentk dengan, misalnya,menggnakan model hidp. Adapn EdhiSnarso sendiri, di antara teman-temanseangkatannya, adalah jga sosok langka.Ia tidak terlibat di panggng-panggngperdebatan seni; ia tak melahirkan kredokesenian; ia tak pernah terdengar berkomentartentang karya-karya orang lain; ia pn selal jah dari sorot kamera. Ia bekerja diam-diam, dan membiarkan patng-patngnyasendiri berbicara langsng kepada kita. Dan,monmen-monmen it ternyata bkan hanyaberkata, tapi jga
mengerjai 
kesadaran kita.Edhi Snarso jga langka dalam artibahwa ia mengalami, ata melihat dari sangatdekat, gelombang trn-naik dalam sejarah
SEKADAR PENGANTAR
 
2 MonuMEn
kesenian kita sampai hari ini. Ia menjadi bagiandari generasi pertama seni rpa modernIndonesia yang sebagian besar eksponennyasdah tiada (namn, jika generasinya gemarberkiat-politik, maka Edhi sebaliknya), dania mengalami kamps tempatnya mengajarmenjadi psat perlawanan terhadap generasi-generasi seniman terdahl; ia sendiri tetapdiam-snyi dalam arti jga tak menjadi sasarandari para pemberontak mda-belia it. Sayapercaya ia tak terpengarh oleh sema it,dan tetap terserap oleh kerja, kerja, kerjabelaka. Memang ia menjelajahi gaya-gaya lain,misalnya saja gaya “abstrak”, tetapi ia selal jah dari rih-rendah kritik seni. (Sementarait, saya percaya, angkatan-angkatan yanglebih mtakhir bergerak ke arah “senikonseptal”, yang makin mengabaikan “jiwanampak”.) Di tengah ars seni kontemporerkita hari ini, mantan gerilyawan ini bagaikananakronisme: kritik terhadap ars dominanyang berser bahwa apa saja boleh,
anything goes
, asal dilandasi kredo yang kat.Pameran di Galeri Salihara ini memangtidak bersiat retrospekti, tetapi, bagi saya,ia penting dalam tiga arti. Pertama, ia adalah jendela ntk meninja kembali karya-karyamonmental Edhi Snarso; saya tekankanhal ini karena pada masa belakangan ini kita jarang sekali memikirkan pendirian patngdalam hbngannya dengan penyelenggaraanrang pblik, ata sebaliknya. Pajangan danssnan oto karya sejmlah otograer bkanhanya dokmentasi yang hangat, namn jga “arkeologi pengetahan” yang bersiatmengggah, mngkin jga menghast. Keda,karya-karya yang terpajang akan mennjkkanevolsi kekaryaan Edhi Snarso; namnmngkin saja kata “evolsi” tidak tepat,karena si pematng tidak berjalan melalisat garis lempang: ia bisa berbelok tiba-tiba,“mengkhianati” cirinya terdahl, mengambilgaya lain yang tak terdga, dan kembali lagike belakang. Ketiga, pameran ini, sepertipameran Edhi Snarso di Yogyakarta padaJanari lal, menampilkan sang pematngke tengah panggng; maa, bkan dirinyayang ditonjolkan, melainkan saranya,kesaksiannya akan sebah “zaman keemasan”ketika sang
maecenas-
pengasa dan sangseniman menjalin hbngan timbal-balik ntkmembangn kesenian yang bersiat pblik.Kami di Galeri Salihara merasa berolehkehormatan besar ntk menyelenggarakanpameran ini. (Perl kami katakan jgabahwa Galeri Salihara senantiasa berminatmenampilkan sisi lain, sisi tak terdga dariseniman-seniman yang sdah mencapaikeddkan khss dalam khazanah seni rpakita.) Kita sema merasa berbahagia karenaEdhi Snarso berada di tengah kita; ya, bkanhanya “berada”, karena ia pasti tak akanberlama-lama di tengah. Ia telah mengamalkan“kematian sang pengarang” jah sebelmkita mendengar prinsip ini. Hanya monmen-monmennya yang dibiarkannya bicara, spayakita tah bagaimana menyelenggarakan rang-rang pblik dengan sepenh hati.
Nirwan DewantoGaleri Salihara
 
Edhi SunarSo 3
Bagi saya tahn ini merpakan waktyang sangat penting. Sesai menerimapenghargaan dari Insitt Seni Indonesia (ISI)Yogyakarta, terasa sekali bahwa tahn 2010menjadi tahn yang memic kreativitas sayalebih lanjt, tertama ntk melakkan kerjaindivid. Di sia saya yang makin bertambahta, ternyata keberlangsngan kreati takpernah pdar. Maka setelah pameran yangsaya kerjakan di Jogja Gallery, Yogyakarta diawal tahn ini, langsng dilanjt ke Salihara diblan Agsts.Dengan dibant oleh teman-teman yangrata-rata masih mda, saya sangat berntng.Bagaimana tidak, pada dasarnya sebagaipematng, bkanlah hal yang gampangntk mewjdkan keinginan mematng danmemamerkannya. Apalagi pada setiap patng-patng yang saya kerjakan memerlkanwakt yang lmayan lama dan hars ditopangdengan pembiayaan yang besar. Sehinggasetiap tahn saya hanya mamp mengerjakanbeberapa patng individ. Da pameranyang terselenggara di tahn yang sama inimerpakan angerah di saat kreativitas saya jga memncak.Patng-patng yang saya sajikan saatini merpakan sekmplan karya yangsaya kerjakan sejak tahn 1950-an hinggasekarang. Karena pameran tnggal saatini merpakan pameran yang bersiatkesejarahan baik bagi saya mapn bagiperkembangan seni patng pada mmnya.Dalam pameran ini saya bersama kratorAsikin Hasan memtskan ntk menyajikanpatng-patng grati-realis yang secaratematik merpakan bagian dari ide-idesaya mengenai tema sosial, nasionalismedan perempan. Di lar karya patng, sayasangat setj dengan ide krator mengenaimnclnya gagasan ntk menyajikandokmentasi karya dan sejarah monmenyang pernah saya bat. Semoga dokmen inimenjadi bagian yang penting bagi keberadaankota mapn negara ini.Bersamaan dengan ini pla tak lpasaya sampaikan capan terima kasih kepadaberbagai pihak. Semoga sema yang sayakerjakan mendapat rahmat dan berglirmenjadi wacana bagi sema orang.
Edhi Sunarso
SAMBuTAN PERuPA

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
sblackto12 liked this
Imay Meyy-meii liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->