Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aspek Perpajakan Nilai Wajar 1

Aspek Perpajakan Nilai Wajar 1

Ratings: (0)|Views: 144 |Likes:
Published by muhamad_algamal

More info:

Published by: muhamad_algamal on Jul 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/05/2012

pdf

text

original

 
1 |Page 
Aspek PPh pada Nilai Wajar Akuntansi(Bagian I)Oleh:Muhamad Al Gamal, SE.Ak, MA.*
Krisis ekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia telah berdampak terhadap perubahan ekonomi yang sulitdiprediksi, di mana salah satunya adalah perubahan tingkat inflasi. Perubahan tingkat inflasi yang ekstrim berdampak pada laporan keuangan yang disusun oleh suatu entitas ekonomi, karena nilai historis aset dankewajiban yang disajikan di dalamnya menjadi kurang relevan. Padahal, hakikat laporan keuangan adalah refleksidari realitas ekonomi yang terjadi pada entitas tersebut. Kegagalan merefleksikan realitas ekonomi dapat berakibat pada kesalahan penggunanya dalam memahami informasi yang disajikan, sehingga salah dalam membuatkeputusan.Pengalaman dan pelajaran dalam menghadapi perubahan ekonomi yang ekstrim ini telah mendorong paraakuntan untuk mencari alternatif terbaik dalam melakukan penilaian terhadap aset dan kewajiban. Dalam hal ini,konsep nilai wajar terkini
(current fair value)
dipandang lebih dapat merefleksikan realita ekonomi yang terjadi.Jika dilihat dari sisi perpajakan, penggunaan nilai wajar tersebut berdampak terhadap kepentingan para stakeholder  perpajakan, utamanya Administrasi Pajak dan Wajib Pajak. Bagi Adminstrasi Pajak dampaknya adalah terhadapoptimalisasi pengumpulan pajak dan bagi Wajib Pajak adalah terhadap optimalisasi pemenuhan kewajiban perpajakan.Berangkat dari hal tersebut, tulisan ini mencoba mengulas bagaimana suatu konsep penilaian, dalam hal ininilai wajar 
(fair value/FV)
dapat difahami dan diterapkan dalam transaksi bisnis dan perpajakan secara ³fair´, yaitutercapainya keseimbangan kepentingan antara Administrasi Pajak dan Wajib Pajak. Pembahasan nilai wajar akuntansi sebagian besar merujuk pada
 International Accounting Standard 
(IAS) dan
 International Financial  Reporting Standard 
(IFRS), karena realitanya hampir semua standar akuntansi di dunia sedang melakukankonvergensi dengan IAS/IFRS, termasuk di Indonesia.Mengingat keterbatasan jumlah halaman, dalam artikel ini hanya akan membahas mengenai gambaran umumnilai wajar akuntanasi. Sementara untuk aspek pajak penghasilan terhadap nilai wajar akuntansi-nya akan diulas pada edisi mendatang.
Tinjauan Akuntansimengenai Pengukuran dan Penilaian 
 N
ilai
(value)
merupakan output dari aktivitas pengukuran terhadap suatu objek. Secara umum ada tiga tujuandalam melakukan penilaian yaitu;
1
untuk tujuan perpajakan, transaksi bisnis dan pelaporan keuangan. Padaawalnya, istilah penilaian dipakai untuk tujuan perpajakan. Dalam sejarah kuno peradaban dunia seperti Mesir,Babilonia, Yunani, Romawi dan Persia mengenakan pajak atas semua kekayaan pribadi dan persekutuan
(partnerships).
Guna mengetahui berapa jumlah pajak yang terhutang atas asset-aset tersebut, dibutuhkan aktivitas penentuan nilai dari aset yang merupakan asal mula aktivitas penilaian yang ada saat ini.Dalam perkembangan selanjutnya, aktivitas penilaian dilakukan untuk memperoleh standar nilai barang atau jasa yang netral dan tidak bisa dalam transaksi bisnis. Berdasarkan nilai tersebut, dapat dilakukan transaksi jual beli,kesepakatan asuransi dan sebagainya. Sedangkan penilaian untuk tujuan pelaporan keuangan, baru berkembang beberapa tahun belakangan dengan adanya ketentuan dari badan-badan pembuat aturan akuntansi
(regulatorybodies)
seperti IASB
(International Accounting Standard Board)
di Inggris dan FASB
(Financial Accounting Standard Board)
di Amerika Serikat, yang mensyaratkan penggunaan nilai wajar dalam pelaporan keuangan.Untuk tujuan akuntansi, nilai mencerminkan karakteristik ekonomi yang melekat pada aset atau kewajibanyang lazim dinyatakan dalam nilai uang
(monetary value).
Oleh karena terdapat beberapa bentuk nilai uang, seperti biaya perolehan
(acquisition cost)
, biaya pengganti
(replacement cost),
harga jual
(exit price),
nilai bersih yangdapat direalisasikan
(net realizable value),
nilai wajar 
(fair value),
nilai sekarang
(present value)
dan sebagainya
 ,
maka timbul perdebatan mengenai konsep
nilai uang 
mana
 
yang paling bermanfaat terhadap pengguna laporanakuntansi. Penggunaan salah satu metode tersebut dalam proses pengukuran disebut sebagai penilaian
(valuation).
 
y
 
Penulis adalah Dosen Jurusan Akuntansi Universitas Andalas dan Analis Perpajakan pada Target Consulting Group
1
Alfred M. King, et. al.,
G
uide to Fair Value Under IFRS : Edited By James P. Catty,
(
 N
ew Jersey : John Wiley &Sons, Inc.), 2010, 1.
 
2
|Page 
IASB mengartikan pengukuran
(measurement)
sebagai;
"the process of determining the monetary amounts at which the elements of the financial statements are to be recognised and carried in the balance sheet and income statement. This involves the selection of the particular basis of measurement´.
2
Dalam hal ini, penilaian memegang peranan penting karena akan menentukan besaran angka yang tercantum dalam laporan akuntansi. Penilaian yang berbeda akan menghasilkan besaran angka yang berbeda pula, sehingga pada akhirnya akan memengaruhi para pengguna laporan tersebut dalam membuat keputusan.
Tinjauan Perpajakanmengenai Pengukuran dan Penilaian 
Untuk tujuan perpajakan, khususnya Pajak Penghasilan (PPh), pengukuran bertujuan untuk menentukan penghasilan yang dapat dikenakan pajak. Pajak penghasilan dikenakan atas penghasilan yang diterima ataudiperoleh wajib pajak dalam tahun pajak. Istilah penghasilan yang ³diterima³ atau ³diperoleh´ merujuk kepada pengakuan dan pengukuran. Pengakuan berkenaan dengan kapan penghasilan dianggap diterima atau diperoleh,sedangkan pengukuran berkenaan dengan berapa jumlah penghasilan yang diakui tersebut. Dengan demikian, untuk tujuan perpajakan, pengakuan dapat bermakna saat penghasilan dilaporkan sebagai penghasilan kena pajak²dalamSurat Pemberitahuan (SPT). Pengukuran bermakna penentuan jumlah penghasilan kena pajak yang dilaporkantersebut.
3
Oleh karena dalam penghitungan penghasilan kena pajak juga memasukkan biaya-biaya yang bolehdikurangkan, maka pengertian pengakuan dan pengukuran untuk tujuan pajak²khususnya pajak penghasilan²jugamencakup pengakuan dan pengukuran biaya-biaya tersebut.Mengenai penghasilan yang dilaporkan dalam SPT, Pasal 4 dan penjelasan Pasal 3 (1) Undang-Undang (UU)Republik Indonesia
 N
omor 28 Tahun 2007 menyebutkan bahwa SPT harus diisi dan dilaporkan dengan benar,lengkap dan jelas. Benar yang dimaksud di sini adalah benar dalam hal perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, benar dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaanyang sebenarnya. Sedangkan lengkap berarti memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak danunsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT. Jelas berarti, melaporkan asal usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.Pengertian penilaian
(valuation)
tidak dinyatakan secara tegas dalam suatu aturan perpajakan.
4
 
 N
amun, konsepdan metode penilaian untuk tujuan selain pajak dapat diadopsi untuk tujuan perpajakan, misalnya penilaian untuk tujuan pelaporan keuangan. Gunadi menjelaskan, walaupun karakteristik dan tujuan pelaporan keuangan fiskal adayang berbeda dengan tujuan pelaporan keuangan komersial, konsep-konsep dasar akuntansi pada umumnya dapat berlaku pada keduanya, kecuali ketentuan perpajakan mengatur lain.
5
Hal ini juga ditegaskan dalam UU
 N
omor 28Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Penjelasan Pasal 28 Ayat 7 dalam UU tersebutmenyebutkan
³pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesiamisalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundang-undangan mengatur lain´.
 Serupa dengan penilaian menurut akuntansi dan pandangan Gunadi mengenai pengakuan, pengukuran,akuntansi fiskal dan akuntansi komersial, penilaian untuk tujuan perpajakan akan bermakna pendekatan dan metodetertentu yang digunakan dalam menentukan jumlah penghasilan²atau dasar pajak lainya²yang dapat dikenakan pajak. Pendekatan dan metode-metode tersebut dapat saja menggunakan pendekatan dan metode-metode akuntansi,kecuali perpajakan mengatur lain. Misalnya, untuk pengukuran penghasilan dapat menggunakan nilai wajar imbalanyang diterima atau akan diterima.
6
 Oleh karena penghasilan yang diukur adalah penghasilan yang seharusnya dilaporkan dalam SPT, makametode-metode penilaian penghasilan harus sesuai dengan syarat pengisian dan pelaporan SPT, yaitu harus benar,lengkap dan jelas. Benar berarti, metode penilaian penghasilan sudah benar secara perhitungan dan penulisan,sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan sesuai atau
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Sedangkan lengkap berarti, metode penilaian penghasilan yang digunakan telah memasukkan semua penghasilan yang seharusnya menjadi objek pajak. Jelas bermakna, metode penilaian penghasilan tersebut harusmemasukkan informasi pendukung secara rinci, seperti asumsi-asumsi yang digunakan dan fakta-fakta lain yangrelevan. Untuk memenuhi tiga kriteria tersebut, suatu metode penilaian penghasilan pada SPT harus didukung olehinformasi, dokumen dan bukti lainya yang memadai.
2
IASB Framework, para. 99.
3
Gunadi,
 Akuntansi Pajak Sesuai Dengan Undang ± Undang Pajak Terbaru,
(Jakarta : Penerbit Grasindo), 2009,153.
4
Baca : ³aturan perpajakan Indonesia´.
5
Gunadi,
op. cit 
., 15.
6
IAS 18, para. 9.
 
3
|Page 
Konsep ³Wajar´ dalam Akuntansi
 
Belkaoui
7
menjelaskan bahwa pada awalnya istilah
 fair 
atau
 fairness
di dalam akuntansi hanya terkait dengan
 fairness in presentation
(kewajaran dalam penyajian laporan keuangan), yaitu suatu representasi netralitas akuntandalam penyusunan laporan keuangan. Ia kemudian memperluas pengertian
 fairness
kepada
 fairness in distribution
 (kewajaran dalam distribusi) dan
 fairness in disclosure
(kewajaran dalam pengungkapan).Kewajaran dalam distribusi (
 fairness in distribution
) berkaitan dengan aspek moral dari keadilan
(justice).
 Penggagasnya adalah para pakar akuntansi sosial
(social accounting).
Mereka berpendapat bahwa sebagai akuntansisosial, akuntansi seharusnya juga merefleksikan biaya dan manfaat sosial dari aktifitas ekonomi suatu entitasterhadap masyarakat umum, termasuk bagaimana pengelolaanya. Sehingga indikator kewajaran (
 fairness
) dilihat berdasarkan sejauh mana entitas mendistribusikan tanggungjawab sosialnya terhadap masyarakat dan sejauh manakepekaan sosialnya dalam merespon suatu kondisi sosial masyarakat.Konsep keadilan yang digunakan pada
kewajaran dalam distribusi
ini tergantung asumsi yang mendasarinya.Salah satu teori keadilan yang dapat menjelaskan prinsip
kewajaran dalam distribusi
adalah
teori keadilan
G
erwith.
8
Teori ini menyatakan bahwa setiap orang atau pihak yang terlibat dengan aktivitas ekonomi dari suatu entitasdiakui haknya dengan cara yang setara (
equal 
). Dengan demikian, jika diaplikasikan pada akuntansi, maka
teorikeadilan
G
erwith
akan memposisikan seluruh pemangku kepentingan/
 stake holders
(investor, kreditor, pemerintah,karyawan, pemasok, pelanggan dan lain sebagainya) pada posisi yang setara dalam hal pengukuran, pelaporan danalokasi kekayaan
 
 perusahaan. Dalam hal ini, akuntansi dapat berfungsi sebagai sarana untuk mendistribusi ulangkekayaan diantara para pemangku kepentingan
(stakeholders).
 Kewajaran dalam pengungkapan (
 fairness in disclosure
) bertolak dari konsep
kewajaran dalam distribusi.
Jika prinsip
kewajaran dalam distribusi
mencoba mengakomodasi kepentingan seluruh
 stakeholders
dalam pendistribusian informasi dan kekayaan
 ,
maka
kewajaran dalam pengungkapan
mencoba untuk menerapkan prinsipkewajaran melalui pengungkapan informasi pada laporan keuangan berdasarkan kepentingan seluruh
 stakeholders
.Dengan demikian,
kewajaran
diindikasikan dengan terpenuhinya kebutuhan informasi setiap stakeholders melalui pengungkapan di dalam laporan keuangan. Hal ini akan berdampak kepada pengembangan bentuk-bentuk pelaporankeuangan yang tidak hanya berdasarkan kepada kaidah dan standar akuntansi tertentu, namun dapat sajamenggunakan kaidah dan aturan selain akuntansi.Sejalan dengan apa yang dikemukan oleh Belkaoui, Scott
9
menyatakan bahwa akuntansi seharusnya mengikuti prinsip-prinsip dasar berikut ini:1.
 
Keadilan
(justice),
bahwa semua kepentingan yang terlibat di dalam situasi ekonomi suatu entitas seharusnyamendapat perlakuan yang adil.2.
 
Kebenaran
(Truth).
Maksudnya, Informasi yang disajikan tidak boleh mengandung kesalahan.3.
 
Kewajaran
(Fairness).
Kaidah, aturan dan prosedur akuntansi seharusnya tidak mengutamakan kepentingan pihak tertentu dibandingkan pihak yang lain.
Penilaian ³Kewajaran´ Penghasilan
Dalam kaitannya dengan nilai wajar, penghasilan menurut akuntansi adalah penghasilan yang diakui dan diukur  berdasarkan kaidah dan ketentuan akuntansi. IASB dalam IASB Framework mengartikan penghasilan
(income)
 sebagai berikut;
³Income is increases in economic benefits during the accounting period in the form of inflows or enhancements of assets or decreases of liabilities that result in increases in equity, other than those relating tocontributions from equity participants´.
10
 
Penghasilan mencakup pendapatan
(revenue)
dan keuntungan
(gain).
11
 
IAS 18
 paragraph
7 mengartikan pendapatan sebagai
³the gross inflow of economic benefits (cash,receivables, other assets) during the period arising in the course of the ordinary activities (such as sales of goods, sales of services, interest, royalties, and dividends)
 
of an entity when those inflows result in increases in equity,other than increases relating to contributions from equity participants´.
Atau,
income
yang berasal dari aktivitasnormal
(ordinary activities)
perusahaan. Sedangkan keuntungan adalah item-item lain yang memenuhi kriteria
income
dan dapat berasal dari aktivitas normal perusahaan atau dari aktivitas lainya.
12
 Agar suatu penghasilan dapat masuk kedalam laporan keuangan harus ada pengakuan
(recognition). IASB Framework 
mendefinisikan pengakuan
 
 penghasilan sebagai masuknya suatu hal yang memenuhi karakteristik 
7
Ahmed Riahi-Belkaoui.
 Accounting Theory : Fifth Edition.
(London : Thomson Learning), 2004, 249.
 
8
Teori Keadilan
G
erwith
berlandaskan pada
"Principle of 
G
eneric Consistency" 
(PGC), yang menyatakan
³everyagent must act in accordance with his or her own and all other agents' generic rights to freedom and well-being´.
 
9
Eldon S Hendriksen, et. al.,
 Accounting Theory : 5
th
Edition.
USA : (The McGraw-Hill Companies, Inc), 1992,223.
10
IASB Framework, para. 70 (a).
11
 
 Ibid 
, para. 74.
 
12
IASB Framework, para. 75.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->