Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BAB_Pendekatan an Pendidikan

BAB_Pendekatan an Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 970|Likes:
Published by Alamsyah Nurseha

More info:

Published by: Alamsyah Nurseha on Aug 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
Bab «. Tentang Pendekatan.
Model pendekatan bertujuan menjawab kegelisahan utama yang menjadi sasaran utamadibuatnya rendik. Beberapa Model Pendekatan dalam perecanaan pendidikan adalah sebagai berikut.
1. ³Intra-educational´ extrapolation model.
Konsepnya relative sederhana dan terbuka(
 straightforward 
)
. Namun teknisnya cukup menantang dan kompleks, terlebih manakala terlibatke dalamnya berbagai pilihan perubahan dari satu ke lain bagian. Cara kerjanya menghitungimplikasi kuantitatif dari karakter yang jadi target pendidikan. Bila ingin mencapai target tertentu pada tahun tertentu, maka perencana pendidikan harus mengektrapolasi dari angka-angka yangditargetkan tersebut kepada angka lain seperti suplai guru, pembangunan gedung baru, pencetakan buku ajar, serta schedule waktu dari setiap item target. Dalam kaitan ini statistik merupakan instrument penting, supaya analisis tentang capaian, target dari satu bagian ke bagiandaerah lain dapat diurai dengan tepat dan baik.
2
. The demographic projection model
merupakan pendekatan yang secara imajinatif  bersifat menyeluruh.
 Model ini menyiapkan parameter pokok dalam menghitung jumlah penduduk (variable tingkat kelahiran yang dikaitkan dengan cohort besaran usia) terkait dengan sistem pendidikan masa depan yang harus dipersiapkan.
Dari sini diproyeksikankepada unsur-unsur lain pendidikan seperti komposisi dan jumlah anak didik pada usia tertentu pada tahun-tahun tertentu, kemudian implikasinya terhadap besaran, distribusi pelayanan,tingkat-tingkat pendidikan, maupun tahun-tahun yang ditargetkan, sesuai dengan ³the size of theage cohort´ anak didik. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh Negara-negara di Eropa Baratdan Amerika Utara setelah Perang Dunia kedua.
3
. Pendekatan Tuntutan Sosial (
 S 
ocial Demand Approach
)
 
The social demand model
, merupakan bentuk yang lebih umum yang menggambarkankebijakan pendidikan yang dipengaruhi oleh ekspresi kepentingan dan kebutuhan masyarakatyang ada. Karena itu dari sudut yang berbeda, model ini dianggap keluar dari analisis ekonomi,serta tidak terkalkulasi baik oleh manpower model atau rate of return models. Model ini sangatstrategis manakala perencanaan pendidikan diorientasikan kepada pencapaian tujuanmasyarakaat secara umum, seperti kesamaan hak asasi, penekanan pada otentisitas budaya, danupaya melegitimasi distribusi kekuatan politik. Atau model ini diorientasikan kepada kebutuhansebagian masyarakat seperti regional tertentu, kelompok bahasa tertentu, yang pada hakikatnya ± kadangkala-- berupa tantangan dari kepentingan seorang kuat warga masyarakat.Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa pada dasarnya hampir dapat dikatakan tidak ada perencanaan yang tidak terkait dengan
´
the social demand model´ 
,
walau bentuk dansistimatisasi konsepnya dalam pengembangan konteks perencanaan, berubah dari waktu kewaktu.Dalam
dunia pendidikan tinggi
, model ini terkait dengan jumlah tuntutan individu pada pelayanan pendidikan sesuai biaya yang ditentukan. Faktanya, pendekatan ini memprediksi jumlah pendaftar yang akan datang dengan didasari perhitungan terhadap faktor yangmenentukan kebutuhan masyarakat. Ada enam faktor yang menentukan kebutuhan yaitudemographic, pendidikan, finansial (pendapatan keluarga dan biaya pendidikan tinggi
)
, budayadan masyarakat (seperti realitas perbedaan
)
, pelayanan (keadaan dan kualitas layanan
)
, dan pilihan-pilihan individu (harapan pengembalian biaya
)
.Pertimbangan faktro-faktor ini terkait pada pendaftar mahasiswa baru masa yang akandatang, dan para perencana dapat menyerap keadaan yang konservatif atau yang aktif. Kebijakan posisi aktif biasanya untuk mendorong kebutuhan masyarakat dan menciptakan peluang-peluang
 
yang sama. Dengan demikian, perencanaan yang diasarkan pada kebutuhan masyarakat seringterkait dengan kebijakan pemasukan dan rendahnya biaya pengeluaran, bantuan siswa dan program yang menjadi orientasi kelompok minoritas.Tehnik memprediksi pendaftar memiliki beberapa prinsip, seperti metode ratio pendaftar,yang didasarkan pada perhitungan antara pendaftar ke perguruan dengan populasi usiamahasiswa, dan metode cohort (
c
ohort survival method)
, yang dikaitkan dengan kemungkinancohort pada tingkat keberhasilan. Keduanya sama-sama memerlukan data mahasiswamengulang, dropouts, bahkan data tentang faktor penentu kebutuhan masyarakat. Perencanaan pada negara-negara miskin juga perlu memperhitungkan kendala lain yakni kapasitas lembaga..Manakala tujuan nasional lebih rendah dari jumlah warga yang terdidik, pendekatan modelini kurang diminati. Dan lantaran model ini muncul atas dasar teori ekonomi bagian (
 parti
c
ular e
c
onomi
c
theory
)
maka model ini menawarkan sekaligus dua hal, yakni implikasi pembiayaandan konsekuensi SDM dari ramalannya.
4
. Pendekatan Ketenagakerjaan (
 Manpower Approach
). P
ada umumnya merupakan prioritas pendidikan negara-negara berkembang, tempat tekanan terhadap perkembanganekonomi sangat kuat. Asumsinya bahwa perkembangan ekonomi tidak mungkin dilaksanakantanpa dukungan tenaga kerja yang terampil (berpikir ilmiah, bertindak profesional, serta etisdalam hubungan sosial
)
. Dalam pada itu
 pemerataan kesempatan pendidikan
merupakantuntutan bangsa yang berdemokrasi dan berorientasi kerakyatan. Karena itu sifatnya lebih politis.Bentuk aksinya adalah kewajiban belajar. Pendekatan
effektivitas
menegaskan pentingnyaefisiensi dalam pemanfaatan dana, sehingga kemampuan budget pemerintah atau suatu negaratermanfaatkan secara cermat dan optimal. Pada pendekatan
³man power model´
, inti persoalannya terletak pada estimasi kebutuhan ekonomi nasional (atau bagiannya
)
terhadapsumber daya terlatih.Pada tingkat perguruan tinggi, pendekatan ini terkait dengan pertumbuhan ekonomi yangharus dibarengi dengan penyiapan tenaga terampil, dan karenanya harus direncanakan berdasar kebutuhan masyarakat terhadap buruh. Dalam kerangka pikir ini struktur keterampilan SDMharus diramal dan kemudian hasil ramalan tersebut dirubah pada kemungkinan angka pendaftar di perguruan tinggi. Teori terkuat dari model ini adalah bahwa pasar tidak dapat dirinci lebihditil, juga kekosongan waktu dan karena itu harus dipantau oleh instrumen perencanaan untuk  penyesuaian pada perubahan jumlah harga.Beberapa asumsi terkait dengan ragam metode perencanaan yang berorientasi SDM di perguruan tinggi ini, bahwa ada hubungan pasti antara input kualifiaksi SDM dengan penghasilan ekonomi; bahwa pekerja tidak dapat berreaaksi secara lancar (smoothly
)
untuk merubah gajih/penghasilan; bahwa elastisitas bagian antara para para pekerja dari pelatihan yang berbeda adalah mendekati nol; dan bahwa suplai SDM yang memenuhi kualifikasi, tidak terikat pada kebutuhan.Metode-metode berikut dapat dibedakan dalam meramal kebutuhan SDM.a
)
Metode Meramal Pekerja. Peramalan jenis pekerjaan itu penting, walau hasil surveitentang lowongan kerja masa depan agak meragukan. Terdapat inkonsistensi yang tinggi sebagaihasil dari penurunan respon para pekerja, sebab kurangnya definisi yang sama dari kualifikasi,dan sebab ketidaksamaan pasaran kerja. b
)
Metode Perbandingan. Metode ini menghitung ramalan persyaratan masa depan SDMmelalui observasi hubungan antara struktur pekerjaan dan struktur pendidikan pada negara-negara terpilih yang secara ekonomi ada di barisan terdepan negara. Berdasarkan pada hipotesis penyimpangan universal dari pertumbuhan, metode ini kesimpulannya bersifat kasar.
 
c
)
Metode ratio pekerjaan. Tulang punggung metode ini adalah membagi secara adil jenis- jenis SDM kepada parameter populasi : tenaga kerja/buruh, segmen lain dari buruh terampil, pendaftar pendidikan tinggi, keperluan jenis pelayanan. Rationya diproyeksikan kepada perkiraan persyaratan masa depan.d
)
Metode ³fixed coeffcient´. Metode ini berdasarkan kepada struktur ramalan pekerjaan, produktivitas buruh, output tiap industri, dan melalui kesamaan pekerjaan dan kualifikasi pendidikan tinggi. Ramalan sektor kebutuhan spesialis dan pendaftar dibuat sebagai dasar hubungan pasti.e
)
Ramalan persyaratan SDM untuk spesialis sebagian penduduk. Ratio output buruh,matrik input-output, coefficient staf, dan ratio pekerjaan dikombinasi untuk mengestimasi jumlah spesialis yang akan dilatih untuk pekerjaan khusus seperti dokter atau guru.
5
. Analisis Biaya Dan Keuntungan (
ost Benefit Analysis
atau
The Rate of ReturnModel).
Model ini menggambarkan investasi untuk menaikkan pendapatan investor. Model initerkait dengan konsep-konsep tehnik dan penelitian mengenai ekonomi pendidikan. Perdebatandifokuskan pada konsep dan tehnik pengukuran. Pertanyaan paling pentingnya adalah hakikatdan penyebab perbedaan antara kembalian biaya pada masyarakat dan individu. Keragamantingkat pengembaliaan modal pada tingkat dan sektor pendidikan tertentu, jenis pria dan wanita,serta peran pendidikan dalam masalah politik dan simbol-simbol kehidupan social.Prinsip utama pendidikan melalui perhitungan untung rugi adalah pendidikan merupakaninvestasi sumber daya manusia (
human capital investment 
)
. Karena itu biaya yang dikeluarkanuntuk kegiatan pendidikan harus dapat dikembalikan. Dalam skala kecil seperti individu ataurumah tangga, perhitungan tentang hal demikian bukan sesuatu yang sukar. Namun dalam skalanasional, perhitungannya cukup rumit. Pertanyaan pokoknya adalah bagaimana logika pembangunan pendidikan terkait dengan logika pertumbuhan ekonomi?Tidak seperti perencanaan berorientasi SDM, metode ini sangat berorientasi pasar danisyarat-isyarat pasar. Untuk mendukung metode ini pendidikan tinggi merupakan investasi biayayang pada perhitungan waktu tertentu akan memberi tambahan penghasilan. Analisis padametode ini mengkombinasikan informasi tentang biaya pendidikan tinggi yang berlaku (biayakontan dan penghasilan yang sedang berlaku
)
dan informasi tentang ³value´ pasaran buruh. Halini terkait dengan orang-orang yang jadi figur lulusan.Beberapa masalah yang mengganggu perhitungan penghasilan adalah :
Pertama
,
proporsi tambahan pendapatan dapat menjadikan pendidikan tinggi sebagai alatyang tidak dapat diperkirakan.
Kedua
,
perkiraan keuntungan non moneter dari hasil pendidikansukar untuk dipahami. Bagaimanapun analisis cost-benefit didasarkan kepada observasi lintassektor, mengabaikan kondisi supply-demand masa depan, yang merupakan kondisi krusial dalam perencanaan. Konsekuensinya, metode effektivitas biaya (
c
ost-effe
c
tiveness methods
)
 dipergunakan sebagai cara perbandingan antara perkembangan ekonomi dengan kegiatan pelatihan.Walaupun kedua pendekatan (metode SDM dan metode cost-benefit
)
ini dianggapmemiliki perbedaan yang tajam, namun keduanya tidak sama-sama eksklusif. Keduanyamemberikan sumbangan yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan tinggi. Kedua pendekatan inipun dapat diintegrasikan kepada metode social-demand.Model-model perencanaan pendidikan tinggi telah berkembang menyentuh bidang-bidang lain. Namun pada garis besarnya dapat dikatagorisasikan pada dua model yakni outline modelnasional dan model institusional. Keduanya digunakan untuk ekonomi pasar dan pendekatanmengikuti perencanaan pemerintah pusat.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->