Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Prospek Peranan Pemuliaan Tanaman Padi Dalam Dinamika an Zaman

Prospek Peranan Pemuliaan Tanaman Padi Dalam Dinamika an Zaman

Ratings: (0)|Views: 397 |Likes:
Published by Riz Bronze

More info:

Published by: Riz Bronze on Aug 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2012

pdf

text

original

 
Nama: Ristia PambudiNim: 134080006Prodi: AgroteknologiPROSPEK PERANAN PEMULIAAN TANAMAN PADI DALAM DINAMIKAPERKEMBANGAN ZAMAN
Padi merupakan bahan makanan pokok bagi sekitar setengah penduduk dunia. Di Indonesia padimerupakan makanan pokok utama, disusul jagung dan ketela pohon. Sekitar 90% produksi dankonsumsi padi berada di Asia. Khusus di Asia tenggara, padi merupakan penyumbang 70-80%kalori dan 40-70% protein bagi kebutuhan penduduknya. Peningkatan produksi padi tetapmerupakan tantangan utama di masa depan. Pada tahun 2025 kebutuhan padi nasionaldiprediksikan sebesar 70 juta ton gabah kering giling (GKG), dengan asumsi pertambahan penduduk 1,35% per tahun dan tingkat konsumsi 133 kg/kapita/th. Hal itu berarti 20 juta tonlebih besar daripada produksi tahun 2001 yaitu sebesar 50 juta ton. Produksi tersebut dapatdicapai pada luas lahan dan intensitas tanam seperti saat ini, jika rata-rata nasional hasil tanaman padi mencapai 6 t/ha atau 1,6 t/ha lebih tinggi daripada yang telah dicapai saat ini, yaitu 4,4 t/ha.Data menunjukkan bahwa dengan aktivitas penelitian (termasuk pemuliaan tanaman) seperti saatini, dalam waktu 15 tahun peningkatan hasil yang berhasil diraih hanya 0,5 t/ha, atau berartimemakan waktu 32 tahun untuk memenuhi kebutuhan pangan 21 tahun yang akan datang.Disisi lain, konversi lahan pertanian, penurunan kualitas lahan, sulitnya membuka lahan pertanian yang baru, serta dinamika nasional dan global yang kompleks, memperberat tantanganyang sudah ada. Tanpa upaya yang serius, permasalahan tersebut tidak akan teratasi. Pemuliaantanaman merupakan suatu metoda yang secara sistematik merakit keragaman genetik mennjadisuatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (Makmur, 1985). Menurut Poehlman andSleper (1995), dalam pemuliaan tanaman berperan ilmu (science) dan seni (art) yang ada padadiri pemulia dalam melakukan pemuliaan tanaman. Varietas unggul sebagai hasil kegiatan pemuliaan tanaman merupakan salah satu teknologi kunci dalam peningkatan hasil padi.
 
Menurut Las (2002) peningkatan produksi padi didominasi peranan peningkatan produktivitas(teknologi) sebesar 56,1%, perluasan areal 26,3%, dan 17,6% interaksi antara keduanya.Sementara itu dalam teknologi, peran varietas bersama pupuk dan air terhadap peningkatan produktivitas padi adalah 75%. Lahan sawah sangat berperan dalam produksi padi di Indonesia.Lebih dari 90% produksi beras nasional di Indonesia dihasilkan dari lahan sawah (BPS, 2001),sementara lebih dari 80% total areal pertanaman padi sawah ditanami varietas unggul (BPS,2000, dikutip Daradjat, dkk., 2001). Informasi tersebut memberikan indikasi bahwa, varietasunggul khususnya padi sawah merupakan kunci keberhasilan peningkatan produksi padi diIndonesia. Tinjauan sejarah dan perspektif kedepan pemuliaan padi sawah khususnya diIndonesia, diharapkan dapat mengungkap dinamika dan perannya dalam penyediaan pangan diIndonesia dulu, kini, dan esok.
Perakitan Padi Hibrida
Padi hibrida merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi terjadinya stagnasi peningkatan potensi hasil varietas-varietas tipe sebelumnya. Kunci kemampuan hibrida untuk memecahkankemandekan peningkatan potensi hasil adalah potensi heterosisnya (hybrid vigor), yaitusuperioritas F1 hibrida atas tetuanya (Virmani et al., 1997). Pengembangan padi hibrida diawalidengan penemuan CMS (cytoplasmic male sterile) dan paket teknologi produksi benih padihibrida. Teknologi padi hibrida dalam hal ini memerlukan pemanfaatan tiga galur, yaitu CMS,Restorer, dan Maintainer, sehingga biasa disebut dengan teknik tiga galur Selanjutnya berkembang teknik hibrida dua galur yang memanfaatkan galur EGMS = Environment GenicMale Sterility. Galur EGMS dapat menjadi steril pada kondisi tertentu sehingga digunakansebagai mandul jantan, tetapi dapat menjadi fertil pada kondisi yang lain sehingga digunakanuntuk memperbanyak galur EGMS tersebut. Satu galur yang lain adalah tetua jantan.Menurut Virmani et al (1997), teknik tiga galur memerlukan dukungan komponen-komponen berikut :1. Galur mandul jantan (CMS = galur A) yang 100% mandul dan stabil kemandulannya2. Galur pemulih kesuburan (restorer = galur R) yang tinggi daya pemulihan kesuburannya,serta daya gabung khususnya, sehingga nilai heterosis tinggi
 
3. Galur pelestari kemandulan tepung sari (galur B) yang murni Negara yang pertama meneliti padi hibrida adalah Cina. Pada tahun 1960 telah ditemukan CMSyang pertama dan pada tahun 1973 diperoleh hibrida padi yang pertama. Pada tahun 1976disebar luaskan kepada petani dan memberikan nilai standart heterosis sebesar 20% - 30%.Hibrida terus berkembang pesat dan pada tahun 1994 lebih dari 50 % areal pertanaman padi diCina ditanami padi hibrida (Yuan, 1994). Selanjutnya, IRRI mulai meneliti kembali padihibrida pada tahun 1979 yang diikuti oleh 17 negara seperti India, Korea, Jepang, AmerikaSerikat, Brazil, Vietnam, dan beberapa perusahaan swasta internasional. Pada tahun 1986 IRRImeneliti TGMS dan memanfaatan bioteknologi dalam perakitan varietas padi hibrida(Rothschild, 1998). Indonesia memulai penelitian padi hibrida pada tahun 1983 (Suprihatno andSatoto, 1998), setelah sebelumnya mengintroduksi padi hibrida dari Cina pada tahun 1979(Danakusuma, 1985). Varietas padi hibrida diharapkan memiliki karakteristik daya hasil lebihtinggi daripada varietas yang umum ditanam petani saat ini. Selain keunggulan potensi hasiltersebut, padi hibrida harus disertai dengan berbagai sifat unggul yang terdapat pada varietas pembanding yang saat ini umum ditanam petani. Virmani (1994) melaporkan bahwa berdasarkan penelitian MK 1986 sampai MH 1992, diketahui bahwa padi hibrida dapatmeningkatkan hasil 15% - 20% daripada varietas nonhibrida (inbrida). Padi hibrida yangdihasilkan saat ini banyak memiliki latar belakang genetik galur-galur yang berasal dari IRRI. Namun demikian, pemanfaatan galur-galur yang beradaptasi baik di Indonesia mulaidilaksanakan, sehingga pada masa datang diharapkan hibrida yang dihasilkan sudah beradaptasiterhadap kondisi agroekosistem di Indonesia. Peluang untuk memperoleh padi hibrida yangdemikian cukup besar karena Virmani, et al (1997) melaporkan bahwa persilanganindica/japonica tropic prospektif menghasilkan hibrida yang unggul. Perakitan dan pengujian padi hibrida yang dilaksanakan di Indonesia telah menghasilkan tiga kombinasi hibrida harapanyang telah diuji multi lokasi (Adijono, dkk., 2000). Saat ini telah berhasil dilepas dua varietashibrida, yaitu Maro dan Rokan. Walaupun demikian, pengembangan padi hibrida saat ini masihmenghadapi beberapa kendala seperti :1. Standart heterosis yang tidak stabil pada lingkungan yang berbeda (Adiyono, dkk., 2000dan Yuniati, dkk., 2000)2. Produksi benih hibrida yang masih rendah, karena tidak sinkronnya pembungaan galur 

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Rahmi Saputri liked this
Mongkey Runs liked this
Alfaruq Alfa liked this
Riz Bronze liked this
Kurnia Ayu liked this
Riz Bronze liked this
Riz Bronze liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->