Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Gagasan _blue Ocean Strategy_WO Sriwedari _ PitoyoAmrih

Gagasan _blue Ocean Strategy_WO Sriwedari _ PitoyoAmrih

Ratings: (0)|Views: 232|Likes:
Published by Pitoyo Amrih
Gagasan yang disampaikan dalam diskusi Wayang Orang Sriwedari menyongsong masa depan, tgl 30 Juli 2011, di Sasana Sangunsuka, House of Danar Hadi, Solo
Gagasan yang disampaikan dalam diskusi Wayang Orang Sriwedari menyongsong masa depan, tgl 30 Juli 2011, di Sasana Sangunsuka, House of Danar Hadi, Solo

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: Pitoyo Amrih on Aug 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2011

pdf

text

original

 
Diskusi WO Sriwedari, House of Danar Hadi, Solo, 30 Juli 2011Pitoyo Amrih
 – 
halaman 1 dari 5
Gagasan “
 Blue Ocean Startegy
” bagi WO Sriwedari
 
Pitoyo Amrih101 tahun Wayang Orang (WO) Sriwedari bukanlah waktu yang sebentar. 101 tahun seharusnya bisadianalogikan bila ia sebuah pohon jati, maka pastilah merupakan kualitas pohon yang tinggi, dengan akaryang kukuh mencengkeram ke dalam tanah, serta dahan, ranting dan daun yang rimbun semakinmeneduhkan bagi siapa pun yang ingin mendapat manfaatnya untuk terhindar dari terik matahari.Tapi 101 tahun bisa juga berarti sebuah awal perjuangan ketika dalam kurun waktu tersebut, seseorangatau sesuatu kurang bisa mengikuti perubahan yang terus saja ada. Dan itu mungkin yang terjadi padaWO Sriwedari. Bukan berarti bahwa apa yang terjadi saat ini sudah pada titik bencana, tapi lebih kepadapenglihatan bahwa seharusnya kita bisa jauh lebih baik dalam menjawab tantangan jaman demi eksistensidan membuat WO Sriwedari kembali menjadi sesuatu yang spektakuler seperti pernah terjadi suatu ketikadulu.Saya mencoba berbagi gagasan terhadap apa yang sebaiknya dilakukan untuk kembali membawa WOSriwedari kepada jaman keemasannya dulu. Melihat WO Sriwedari, saya coba sederhanakan agar kita
lebih mudah melihat, ke dalam dua pendekatan, yaitu “Wayang” dan “Bisnis Pertunjukan”.
 
WO Sriwedari dari pendekatan “Wayang”
 
“Wayang”
, seperti yang coba selalu saya sampaikan di setiap seminar dan diskusi tentang wayang, karenasifatnya yang begitu kompleks, saya juga sederhanakan demi kemudahan dalam menjangkau danmemetakan masalah yang mungkin ada, ke dalam 3 perspektif. Ke-3 perspektif ini saya bangun daridefinisi wayang itu sendiri yaitu : Sebuah
media pertunjukan kreatif dengan peraga
, dengan
membawa analogi kisah-kisah
, yang disana berisi
nilai-nilai kehidupan untuk dikomunikasikan
.Sehingga ke-3 perspektif yang saya maksud adalah melihat wayang sebagai media kreatif pertunjukandengan peraga, wayang dari sisi kisah-kisah yang dipakai dalam pertunjukannya, dan wayang sebagai alatpengkomunikasi nilai.Wayang Orang adalah salah satu bagian dari media pertunjukan kreatif dengan peraga. Yang dalamevolusinya, dari sejarahnya kita bisa melihat disana terdapat perkembangan seni tari, seni peran, senidrama, seni suara, seni tata panggung, seni tata busana, termasuk perkembangan sentuhan-sentuhanteknologi didalamnya seperti pencahayaan, efek-suara, efek-panggung, dan sebagainya. Dari sini tentunyakita bisa mengurai komponen-komponen mana saja yang menjadi pembeda atau hal ciri khas yangmendaulat bahwa media pertunjukan itu adalah sebuah pertunjukan Wayang Orang. Sementara pasti adadari uraian tersebut, komponen-komponen yang bisa dikembangkan dan diberi aroma kekinian agar lebihmenarik dan diminati khalayak, terutama generasi muda kita.Di sinilah kemudian dalam pengelolaannya, butuh
fungsi Riset , Pengembangan
 
dan Perencanaan
dariManajement WO Sriwedari. Output fungsi ini, selain yang bersifat strategis, bagaimana pun juga tetapharus menjamin produktifitas pembuatan naskah untuk di-lakon-kan seperti kebanyakan seni pertunjukan.Naskah yang tidak sekedar naskah konvensional. Tetapi naskah yang berangkat dari kajian mendalamtentang hal-hal apa yang harus tetap ada, hal-hal apa yang bisa dikembangkan, bagaimanamengembangkannya, adakah hal-hal baru dan menarik yang mengakomodasi kekinian yang bisa
 
Diskusi WO Sriwedari, House of Danar Hadi, Solo, 30 Juli 2011Pitoyo Amrih
 – 
halaman 2 dari 5dimunculkan. Dan itu semua harus menjangkau semua aspek seni yang diantaranya seperti saya utarakandi atas.Selain itu, sudah seharusnya, upaya yang dilakukan tidak hanya dari perspektif Wayang sebagai mediapertunjukan. Dalam perspektif lain juga harus menjadi garapan yang terintegrasi bagi fungsi-fungsiterkait. Misalnya dari perpektif kisah yang dipakai dalam pertunjukkan wayang. Kisah yang palingpopuler dibawakan dalam pertunjukan Wayang memang bermuara pada kitab Ramayana dan Mahabarata.Tapi evolusi budaya Jawa terhadap kisah itu telah membuat gubahan kisah itu menjadi sangat ber-atmosfer Jawa. Disini pulalah peran
fungsi Riset, Pengembangan dan Perencanaan
tadi untuk selalumembuat tafsir-tafsir kisah baru.Bagi praktisi dunia pertunjukan wayang, kisah itu memang seperti sudah baku. Namun ke-baku-an ituterkadang memenjara kreatifitas sehingga selalu menghasilkan bentuk cerita yang itu-itu saja. Disinilah
kemudian terdapat tantangan untuk menuliskan “ranting
-
ranting” kisah itu lebih kaya dan beragam tanpamengubah “pohon” cerita itu send
iri. Dan bila perlu fungsi ini, bisa membuat pustaka sendiri, danmengumpulkan kisah-kisah itu yang terdokumentasi dalam karya tulisan. Bahkan siapa tahu dari sisi inipun bisa menjadi produk sendiri
 – 
selain produk tontonan-, misal produk diskusi sastra, produk penjualanbuku tentang wayang, dan sebagainya.Perspektif ini juga bisa digarap menjadi salah satu bagian
fungsi Pemasaran
manajemen WO Sriwedari.Ambil contoh kebiasaan umum para penikmat film atau theater. Biasanya mereka memburu sinopsiscerita yang akan dipanggungkan, sebelum memutuskan untuk menonton pertunjukan itu. Kisah itu bisadikomunikasikan melalui media yang saat ini semakin beragam, tidak hanya radio, televisi, tapu jugamulti media internet. Bagaimana sinopsis kisah itu dikomunikasikan biasanya juga akan sangatmempengaruhi keputusan seseorang untuk menonton pertunjukkan itu.Ragam kisah ini tentunya juga semakin luas kemungkinannya ketika kita melihat bahwa sebenarnyakisah-kisah wayang sendiri tidak melulu dari pohon gubahan kisah Ramayana, Mahabarata, ada kisahWayang Madya, Wayang Wasana, kisah Menak, Babad Tanah Jawa, semuanya bisa menjadi sumberkisah yang selalu dapat dikemas menjadi sesuatu yang menarik.Satu lagi per
spektif “Wayang” adalah dari sisi pengkomunikasian nilai
-nilai. Sebuah pertunjukan kisahmemang boleh hanya sekedar mempertunjukkan sebuah kisah. Tapi banyak dari mereka juga membawainti cerita yang biasanya berisi nilai-nilai kehidupan untuk dikomunikasikan. Hal ini juga menjadi lahanyang bisa digarap fungsi Riset, sehingga sebuah naskah bisa berawal dari konsep nilai yang akandisampaikan. Konsep Nilai yang bisa jadi dari awal sejak promosi akan pertunjukkan itu, nilai tersebut
sudah dikomunikasikan kepada khalayak, sehingga tidak hanya menjadi produk „tontonan‟ tap
i juga
 produk „pengembangan diri‟. Seminar 
-seminar pengembangan diri dan para motivatornya yang bisa hidupberlebih dari apa yang mereka jual merupakan bukti bahwa orang haus akan nilai-nilai bagipengembangan diri mereka.Dan semua itu, dari perspektif definisi wayang yang mana pun, tetap harus memberi konstribusibagaimana kemasan dan isi pertunjukkan itu nanti bisa menarik dan diminati khalayak. Kemasan dan isi,sejak dari pertunjukkan itu dikomunikasikan, dipromosikan, dipertontonkan, atau bahkan bilamemungkinkan sampai pertunjukkan itu disikusikan, sehingga tercipta komunitas yang memungkinkan
 
Diskusi WO Sriwedari, House of Danar Hadi, Solo, 30 Juli 2011Pitoyo Amrih
 – 
halaman 3 dari 5adanya pasar bagi produk selain tontonan itu sendiri, antara lain produk buku, gift WO Sriwedari, actionfigure tokoh wayang, dan lain sebagainya.
WO Sriwedari s
ebagai “Bisnis Pertunjukan”
 
Dari pendekatan ini, sebuah bisnis pertunjukkan adalah tetap sebuah organisasi usaha. Yang untuk menjamin kesinambungannya, seperti layaknya sebuah usaha, harus tetap menghasilkan laba. Danpendekatan ini tetap seperti layaknya pada konsep bisnis klasik, kita bisa melihatnya pada alur Input-Proses-Output. Dan bila kita sudah sampai pada pembahasan ini, mau tidak mau memang kita harus mulaiberpikir kepada penataan manajemen yang profesional yang tidak hanya melihat Wayang Orang sebagaibagian dari budaya untuk dilestarikan, tapi juga berpikir bagaimana
„WO Sriwedari‟
bisa menjadi
inisiating brand 
‟ bagi sebuah organisasi usaha yang prospektif.
 Pada alur
input
(5M), kita bisa jabarkan:Sumberdaya Manusia (SDM), saya yakin bahwa beliau-beliau yang saat ini menjadi pelaku aktif baik darisisi manajemen maupun pelaku pertunjukkan sendiri, adalah aset yang sudah lebih dari cukup bagikebutuhan sumberdaya manusia. Yang perlu ditingkatan menurut saya adalah pada bagaimanapengelolaan SDM bisa lebih dikelola secara profesional bagi sebuah bisnis pertunjukan modern.Sumberdaya Bangunan dan peralatan, masalah sengketa tempat yang dipakai sebagai pertunjukkan tetap,adalah hal yang mendesak untuk dipecahkan. Tidak hanya tanggung-jawab manajemen, tapi jugatanggung jawab Pemerintah Kota dalam hal ini sebagai representasi masyarakat, karena memang kitasepakati bersama, bahwa Wayang Orang adalah bagian dari agenda pelestarian budaya yang menjaditanggung jawab bersama. Sehingga secara bertahap bisa dibuat sebuah bangunan pertunjukkan yangmemadai dan bisa mengakomodasi teknologi terkini akan sebuah pertunjukkan. Sampai kemudian kepadadesain akan kebutuhan peralatan untuk tata-panggung, tata-suara, dan tata-gerak yang efektif.Sumberdaya Material, bisa ditafsirkan sebagai kebutuhan akan bahan baku pada setiap pertunjukan. Olahtata-busana misalnya, ataupun hal-hal yang bisa jadi menjadi bagian dari kebutuhan tata-gerak, tata-panggung dan tata-suara.Sumberdaya Metoda, saya pikir sudah saatnya para pelaku bisnis pertunjukan ini juga memilikipengetahuan dan wawasan akan metoda-metoda dan alat-alat manajemen bagaimana mengelola sebuahusaha pertunjukkan sehingga menghasilkan sebuah pentas yang efektif dan memberi laba yangmenguntungkan bagi kesinambungan usaha itu sendiri.Sumberdaya Modal, di atas saya sudah meyinggung tuntutan agar bagaimana bisnis pertunjukkan inimenjadi sesuatu yang prospektif. Prospektif selain merupakan jaminan akan kesinambungan usaha itusendiri, juga berarti mempunyai daya tarik bagi pemodal.Pada alur
proses
”, masalah ini bisa didekati pada „
decision field 
sehingga memberikan keputusan-keputusan yang terencana, terukur, terkendali dan terkontrol pada sudut pandang :

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->