KETAHANAN PANGAN DANKEMANDIRIAN (SWASEMBADA)
Swasembada Pangan versus Ketahanan Pangan
Pada level nasional pengertian ketahanan pangan telah menjadiperdebatan selama tahun 1970 sampai tahun 1980an. Ketahanan pangannasional tidak mensyaratkan untuk melakukan swasembada produksipangan karena tergantung pada sumberdaya yang dimiliki. Suatu negarabisa menghasilkan dan mengekspor komoditas pertanian yang bernilaiekonomi tinggi dan barang-barang industri, kemudian membeli komoditaspangan di pasar internasional. Sebaliknya, negara yang melakukanswasembada produksi pangan pada level nasional, namun dijumpaimasyarakatnya yang rawan pangan karena ada hambatan akses dandistribusi pangan Stevens et al. (2000).Lassa (2006) dengan mengadopsi Stevens et al. (2000), telahmemberikan ilustrasi yang sangat baik mengenai negara-negara yangmelakukan swasembada pangan dengan kondisi ketahanan pangannya.(Tabel 2.1). Negara-negara kategori A (USA, Canada, Australia, Brunei)memiliki kapasitas pangan yang paling kuat karena memiliki kondisipangan ideal di mana mereka mampu berswasembada pangan tetapisekaligus juga memiliki ketahanan pangan yang kuat. Sedangkan NegaraC seperti Singapura, Norwegia dan Jepang, mereka sama sekali tidakswasembada pangan tetapi memiliki fondasi ketahanan pangan yang jauhlebih kuat dari Negara-negara kategori B seperti Indonesia, Filipina danMyanmar.
Tabel Swasembada Pangan dengan Ketidak tahanan Pangan