Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Artikel Tata Cara Pernikahan Dalam Islam

Artikel Tata Cara Pernikahan Dalam Islam

Ratings: (0)|Views: 1,084|Likes:
Published by Dwi Yoga Pranoto

More info:

Published by: Dwi Yoga Pranoto on Aug 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/12/2013

pdf

text

original

 
TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM : AQAD NIKAH
OlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas2. Aqad NikahDalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu adanya:1. Rasa suka sama suka dari kedua calon mempelai2. Izin dari wali3. Saksi-saksi (minimal dua saksi yang adil)4. Mahar5. Ijab Qabul WaliYang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang paling berhak untuk menikahkan wanitamerdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara seayahseibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman. [1]Ibnu Baththal rahimahullaah berkata, Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali. Jumhur ulama di antaranya adalah ImamMalik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-Syafii, dan selainnya berkata, Wali dalam pernikahan adalah ashabah (dari pihak bapak),sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali. [2]Disyaratkan adanya wali bagi wanita. Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita sebagai penghormatan bagi wanita,memuliakan dan menjaga masa depan mereka. Walinya lebih mengetahui daripada wanita tersebut. Jadi bagi wanita, wajibada wali yang membimbing urusannya, mengurus aqad nikahnya. Tidak boleh bagi seorang wanita menikah tanpa wali, danapabila ini terjadi maka tidak sah pernikahannya.Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:ÃóíøõãóÇ ÇãúÑóÃóÉò äóßóÍóÊú ÈöÛóíúÑö ÅöÐúäö æóáöíöøåóÇ ÝóäößóÇÍõåóÇ ÈóÇØöáñ¡ ÝóäößóÇÍõåóÇ ÈóÇØöáñ¡ÝóäößóÇÍõåóÇ ÈóÇØöáñ¡ ÝóÅöäú ÏóÎóáó ÈöåóÇ ÝóáóåóÇ ÇáúãóåúÑõ ÈöãóÇ ÇÓúÊóÍóáøó ãöäú ÝóÑúÌöåóÇ¡ ÝóÅöäöÇÔúÊóÌóÑõæúÇ ÝóÇáÓøõáúØóÇäõ æóáöíøõ ãóäú áÇó æóáöíøó áóåõ.Siapa saja wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya bathil (tidak sah), pernikahannya bathil, pernikahannyabathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar dengan sebab menghalalkan kemaluannya.Jika mereka berselisih, maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali. [3]Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:áÇó äößóÇÍó ÅöáÇøó Èöæóáöíòø.Tidak sah nikah melainkan dengan wali. [4]Juga sabda beliau shallallaahu alaihi wa sallam:áÇó äößóÇÍó ÅöáÇøó Èöæóáöíòø æóÔóÇåöÏóì ÚóÏúáò.
 
Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil. [5]Tentang wali ini berlaku bagi gadis maupun janda. Artinya, apabila seorang gadis atau janda menikah tanpa wali, makanikahnya tidak sah.Tidak sahnya nikah tanpa wali tersebut berdasarkan hadits-hadits di atas yang shahih dan juga berdasarkan dalil dari Al-Quranul Karim.Allah Taala berfirman:"Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangimereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulahyang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu danlebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. [Al-Baqarah : 232]Ayat di atas memiliki asbaabun nuzul (sebab turunnya ayat), yaitu satu riwayat berikut ini. Tentang firman Allah: Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka, al-Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata, Telah menceritakan kepadakuMaqil bin Yasar, sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan dirinya. Ia berkata,ÒóæøóÌúÊõ ÃõÎúÊðÇ áöíú ãöäú ÑóÌõáò ÝóØóáøóÞóåóÇ ÍóÊøóì ÅöÐóÇ ÇäúÞóÖóÊú ÚöÏøóÊõåóÇ ÌóÇÁó íóÎúØõÈõåóÇ¡ ÝóÞõáúÊõáóåõ: ÒóæøóÌúÊõßó æóÝóÑóÔúÊõßó æóÃóßúÑóãúÊõßó ÝóØóáøóÞúÊóåóÇ Ëõãøó ÌöÆúÊó ÊóÎúØõÈõåóÇ¿ áÇó¡ æóÇááåö áÇóÊóÚõæúÏõ Åöáóíúßó ÃóÈóÏðÇ! æóßóÇäó ÑóÌõáÇð áÇó ÈóÃúÓó Èöåö æóßóÇäóÊö ÇáúãóÑúÃóÉõ ÊõÑöíúÏõ Ãóäú ÊóÑúÌöÚóÅöáóíúåö. ÝóÃóäúÒóáó Çááåõ åóÐöåö ÇúáÂíóÉö ÝóÞõáúÊõ: ÇúáÂäó ÃóÝúÚóáõ íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö. ÞóÇáó: ÝóÒóæøóÌóåóÇÅöíøóÇåõ.Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu menceraikannya. Sehinggaketika masa iddahnya telah berlalu, laki-laki itu (mantan suami) datang untuk meminangnya kembali. Aku katakan kepadanya,Aku telah menikahkan dan mengawinkanmu (dengannya) dan aku pun memuliakanmu, lalu engkau menceraikannya.Sekarang engkau datang untuk meminangnya?! Tidak! Demi Allah, dia tidak boleh kembali kepadamu selamanya! Sedangkania adalah laki-laki yang baik, dan wanita itu pun menghendaki rujuk (kembali) padanya. Maka Allah menurunkan ayat ini:Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka. Maka aku berkata, Sekarang aku akan melakukannya (mewalikandan menikahkannya) wahai Rasulullah. Kemudian Maqil menikahkan saudara perempuannya kepada laki-laki itu.[6]Hadits Maqil bin Yasar ini adalah hadits yang shahih lagi mulia. Hadits ini merupakan sekuat-kuat hujjah dan dalil tentangdisyaratkannya wali dalam akad nikah. Artinya, tidak sah nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda. Dalam hadits ini, Maqilbin Yasar yang berkedudukan sebagai wali telah menghalangi pernikahan antara saudara perempuannya yang akan rujudengan mantan suaminya, padahal keduanya sudah sama-sama ridha. Lalu Allah Taala menurunkan ayat yang mulia ini (yaitusurat al-Baqarah ayat 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan mereka. Jika wali bukan syarat, bisa saja keduanyamenikah, baik dihalangi atau pun tidak. Kesimpulannya, wali sebagai syarat sahnya nikah.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah berkata, Para ulama berselisih tentang disyaratkannya wali dalam pernikahan. Jumhurberpendapat demikian. Mereka berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri. Merekaberdalil dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas tentang perwalian. Jika tidak, niscaya penolakannya (untukmenikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya) tidak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai hakmenikahkan dirinya, niscaya ia tidak membutuhkan saudara laki-lakinya. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa tidak ada seorangShahabat pun yang menyelisihi hal itu. [7]Imam asy-Syafii rahimahullaah berkata, Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka tidak ada nikah baginya(tidak sah). Karena Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Maka nikahnya bathil (tidak sah).[8]
 
 Imam Ibnu Hazm rahimahullaah berkata, Tidak halal bagi wanita untuk menikah, baik janda maupun gadis, melainkan denganizin walinya: ayahnya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya, atau anak laki-laki pamannya... [9]Imam Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, Nikah tidak sah kecuali dengan wali. Wanita tidak berhak menikahkan dirinyasendiri, tidak pula selain (wali)nya. Juga tidak boleh mewakilkan kepada selain walinya untuk menikahkannya. Jika iamelakukannya, maka nikahnya tidak sah. Menurut Abu Hanifah, wanita boleh melakukannya. Akan tetapi kita memiliki dalilbahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,áÇó äößóÇÍó ÅöáÇøó Èöæóáöíòø.Pernikahan tidak sah, melainkan dengan adanya wali. Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum PernikahanApabila pernikahan tidak sah, kecuali dengan adanya wali, maka merupakan kewajiban juga meminta persetujuan dari wanitayang berada di bawah perwaliannya. Apabila wanita tersebut seorang janda, maka diminta persetujuannya (pendapatnya).Sedangkan jika wanita tersebut seorang gadis, maka diminta juga ijinnya dan diamnya merupakan tanda ia setuju.Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,áÇó ÊõäúßóÍõ ÇúáÃóíöøãõ ÍóÊøóì ÊõÓúÊóÃúãóÑó æóáÇó ÊõäúßóÍõ ÇáúÈößúÑõ ÍóÊøóì ÊõÓúÊóÃúÐóäó. ÞóÇáõæúÇ: íóÇÑóÓõæúáó Çááåö¡ æóßóíúÝó ÅöÐúäõåóÇ¿ ÞóÇáó: Ãóäú ÊóÓúßõÊó.Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta perintahnya. Sedangkan seorang gadis tidak boleh dinikahkankecuali setelah diminta ijinnya. Para Shahabat berkata, Wahai Rasulullah, bagaimanakah ijinnya? Beliau menjawab, Jika iadiam saja. [11]Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu anhuma bahwasanya ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shal-lallaahu alaihi wasallam dan mengadu bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia tidak ridha. Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ia ingin meneruskan pernikahannya, ataukah ia ingin membatalkannya). [12] MaharDan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan. [An-Nisaa: 4]Mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan.Mahar (atau diistilahkan dengan mas kawin) adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akanmenikahinya. Mahar merupakan milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yanglainnya, kecuali dengan keridhaannya.Syariat Islam yang mulia melarang bermahal-mahal dalam menentukan mahar, bahkan dianjurkan untuk meringankan maharagar mempermudah proses pernikahan.Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda:Åöäøó ãöäú íõãúäö ÇáúãóÑúÃóÉö ÊóíúÓöíúÑõ ÎöØúÈóÊöåóÇ æóÊóíúÓöíúÑõ ÕóÏóÇÞöåóÇ æóÊóíúÓöíúÑõ ÑóÍöãöåóÇ.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->