Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Siapa Saja Mahram Itu?

Siapa Saja Mahram Itu?

Ratings: (0)|Views: 395|Likes:
Published by Dwi Yoga Pranoto
Siapa Saja Mahram Itu ? Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini Al Makassari Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya difathah. Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yai
Siapa Saja Mahram Itu ? Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini Al Makassari Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya difathah. Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yai

More info:

Published by: Dwi Yoga Pranoto on Aug 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2011

pdf

text

original

 
Siapa Saja Mahram Itu ?
 Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini Al Makassari 
 Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang merekamaksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalahorang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya di-fathah.Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Disisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.
Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, danmahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).
 
Kelompok pertama,
yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:1.
 
I
 bu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita2.
 
Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita3.
 
Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu4.
 
Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atauseibu5.
 
Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu6.
 
Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita7.
 
Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanitaMereka inilah yang dimaksudkan Allah subhanahu wa ta¶ala (yang artinya):
³Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmuang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang erempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang erempuan«´
(An-Nisa: 23)
Kelompok kedua,
juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnyaadalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan Allah subhanahu wa ta¶ala (yang artinya):
³Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibukalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.´
(An-Nisa 23)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susuitu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu.
I
ni menunjukkan secara tanbih bahwasuaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandungdari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama. Maka ayat ini dan hadits yang marfu¶(artinya):
³Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena punyusuan.´
(Muttafaqun µalaihi dari
I
 bnu µAbbas), keduanyamenunjukkan tersebarnya hubungan mahram dari pihak ibu dan ayah susu sebagaimana tersebarnya pada kerabat (nasab). Maka ibu dari ibudan bapak (orang tua) susu misalnya, adalah mahram sebagai nenek karena susuan dan seterusnya ke atas sebagaimana pada nasab. Anak dari orang tua susu adalah mahram sebagai saudara karena susuan, kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara(keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah.Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahramsebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.Adapun dari pihak anak yang menyusu, maka hubungan mahram itu terbatas pada jalur anak keturunannya saja. Maka seluruh anak keturunan dia, berupa anak, cucu dan seterusnya ke bawah adalah mahram bagi ayah dan ibu susunya.Hanya saja, berdasar pendapat yang paling kuat (rajih), yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa¶di,Asy-Syaikh
I
 bnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung padamasa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta¶ala (yang artinya):
³Para ibu hendaklah menyusukananaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya.´
(Al-Baqarah: 233)Dan Hadits µAisyah radhiallahu µanha muttafaqun µalaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-
I
rwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.Dan yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang(puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaatlalu dihisap kembali.
A
dapun kelompok ketiga,
jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:1.
 
I
stri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.2.
 
I
stri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.3.
 
I
 bu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.4.
 
Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, danseterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23. Nomor 1, 2 dan 3 hanya menjadi mahram dengan akad yang sah meskipun belum melakukan jima¶ (hubungan suami istri). Adapun yangkeempat maka dipersyaratkan bersama dengan akad yang sah dan harus terjadi jima¶, dan tidak dipersyaratkan rabibah itu harus dalamasuhannya menurut pendapat yang paling rajih yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh
I
 bnu µUtsaimin rahimahullahu.Dan mereka tetap sebagai mahram meskipun terjadi perceraian atau ditinggal mati, maka istri bapak misalnya tetap sebagai mahrammeskipun dicerai atau ditinggal mati. Dan Rabibah tetap merupakan mahram meskipun ibunya telah meninggal atau diceraikan, danseterusnya.
 
Selain yang disebutkan di atas, maka bukan mahram. Jadi boleh seseorang misalnya menikahi rabibah bapaknya atau menikahisaudara perempuan dari istri bapaknya dan seterusnya.Begitu pula saudara perempuan istri (ipar) atau bibi istri, baik karena nasab maupun karena penyusuan maka bukan mahram, tidak bolehsafar berdua dengannya, berboncengan sepeda motor dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, berjabat tangan, dan seterusnya dari hukum-hukum mahram tidak berlaku padanya. Akan tetapi tidak boleh menikahinya selama saudaranya atau keponakannya itu masih sebagai istrihingga dicerai atau meninggal. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta¶ala (yang artinya):
³Dan (haram atasmu) mengumpulkandua wanita bersaudara sebagai istri (secara bersama-sama)
(An-Nisa: 23)Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu µanhu muttafaqun µalihi bahwa Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam melarang mengumpulkanseorang wanita dengan bibinya sebagai istri secara bersama-sama. Wallahu a¶lam bish-shawab.(Lihat Tafsir 
I
 bnu Katsir, Tafsir As-Sa¶di, Syarhul Mumti¶, 5/168-210)
Sumber:www.asysyariah.com --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 MAHROM BAG
I
WAN
I
TAOlehUstadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Mahrom merupakan masalah yang penting dalam
I
slam karena ia memiliki beberapa fungsi yang penting dalam tingkah laku, hukum-hukumhalal/haram. Selain itu juga, Mahrom merupakan kebijaksanaan Allah dan kesempurnaan agama-Nya yang mengatur segala kehidupan.Untuk itu, seharusnya kita mengetahui siapa-siapa saja yang termasuk mahrom dan hal-hal yang terkait dengan mahrom.Banyak sekali hukum tentang pergaulan wanita muslimah yang berkaitan erat dengan masalah mahrom, Seperti hukum safar, kholwat(berdua-duaan), pernikahan, perwalian dan lain-lain.
I
ronisnya, masih banyak dari kalangan kaum muslimin yang tidak memahaminya, bahkan mengucapkan istilahnya saja masih salah, misalkanmereka menyebut dengan "Muhrim" padahal muhrim itu artinya adalah orang yang sedang berihrom untuk haji atau umroh.Dari sinilah, maka kami mengangkat masalah ini agar menjadi bashiroh (pelita) bagi ummat. Wallahu Al Muwaffiq[1]. Definisi MahromBerkata
I
mam
I
 bnu Qudamah rahimahullah : Mahrom adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan dan pernikahan. [1]Berkata
I
mam
I
 bnu Atsir rahimahullah : Mahrom adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya seperti bapak, anak,saudara, paman dan lain-lain. [2]Berkata Syaikh Sholeh Al-Fauzan : Mahrom wanita adalah suaminya dan semua orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebabnasab seperti bapak, anak, dan saudaranya, atau dari sebab-sebab mubah yang lain seperti saudara sepersusuannya, ayah ataupun anak tirinya.[3][2] Macam-Macam MahromDari pengertian di atas, maka mahrom itu terbagi menjadi tiga macam:Mahrom Karena Nasab (Keluarga)Mahrom dari nasab adalah yang disebutkan oleh Alloh Ta'ala dalam surat An-Nur: 31Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah merekamenampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dananganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuanmereka ....Para ulama' tafsir menjelaskan: "Sesungguhnya lelaki yang merupakan mahrom bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, merekaadalah: .[1]. AyahTermasuk dalam kategori bapak yang merupakan mahrom bagi wanita adalah kakek, baik kakek dari bapak maupun dari ibu. Juga bapak- bapak mereka ke atas. Adapun bapak angkat, maka dia tidak termasuk mahrom berdasarkan firman Alloh Ta' ala:"....Dan Alloh tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu ... " [Al-Ahzab : 4]Dan ayat ini dilanjutkan dengan firman-Nya:³Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak'mereka, itulah yang lebih adil disisi Alloh, dan jika kamutidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.... [Al-Ahzab :5]Berkata
I
mam Al Qurthubi rahimahullah: "Seluruh ulama tafsir sepekat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Zaid bin Haritsah. Para imamhadits telah meriwayatkan dari
I
 bnu Umar, Beliau berkata: "Dulu tidaklah kami memanggil Zaid bin Haritsah kecuali dengan Zaid binMuhammad sehingga turun firman Alloh Taala:"Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka...."[4]Berkata
I
mam
I
 bnu Katsir: "Ayat ini menghapus hukum yang terdapat di awal
I
slam yaitu bolehnya mengambil anak angkat, yang mana
 
dahulu kaum muslimin memperlakukan anak angkat seperti anak sendiri dalam masalah kholwah dan yang lainnya´.Maka Alloh memerintahkan mereka untuk mengembalilcan nasab mereka kepada bapak-bapak mereka yang sebenarnya. Oleh karena itulahAlloh membolehkan menikah dengan bekas istri anak angkat. Dan Rosululloh menikah dengan Zainab binti Jahsy setelah di ceraikan olehZaid bin Haritsah. Alloh berfirman:³Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak adakeberatan bagi orang mu'min untuk mengawini istri-istri anak angkat mereka... [Al Ahzab : 37]Oleh karena itu Alloh berfirman tentang wanita-wanita yang diharamkan menikah dengannya:³Dan istri anak kandungmu... [An Nisa' : 23]Jadi tidak termasuk yang diharamkan istri anak angkat. [5]Berkata
I
mam Muhammad Amin Asy Syinqithi: "Difahami dari firman Alloh Ta'ala : "Dan istri anak kandungmu" [An Nisa': 23]. Bahwaistri anak angkat tidak termasuk yang diharamkan, dan hal ini ditegaskan oleh Alloh dalam surat Al Ahzab ayat 4, 37, 40." [6 ]Adapun bapak tiri dan bapak mertua akan kita bahas pada babnya.Setelah mengetahui definisi mahrom dari para ulama' dan sebagian dari jenis mahrom (yakni mahrom karena nasab keluarga), maka pembahasan selanjutnya adalah mengenai contoh-contoh dari mahram dengan sebab keluarga. Juga, berikut ini akan dibahas secara singkattentang persusuan. Bagaimana definisinya dan batasan-batasannya?[2]. Anak laki-lakiTermasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah cucu, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunanmereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahrom berdasar pada keterangan di atas. Dan tentang anak tiri dan anak menantulaki-laki akan kita bahas pada babnya.[3]. Saudara laki-laki, baik saudara laki-laki kandung maupun saudara sebapak ataupun seibu saja.[4]. Anak laid-laki saudara (keponakan), baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keturunan mereka. [7][5]. Paman, baik paman dari bapak ataupun paman dari ibu.Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan: "Tidak disebutkan paman termasuk mahrom dalam ayat ini [An Nur: 31] di karenakan kedudukan paman sama seperti kedudukan kedua orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak. Alloh Ta'ala berfirman:³Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembahsepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu
I
 brahim,
I
smail dan
I
shaq...." [Al-Baqarah: 133]Sedangkan
I
sma'il adalah paman dari putra-putra Ya'qub. [8]Dan bahwasanya paman termasuk mahrom adalah pendapat jumhur ulama'. Hanya saja imam Sya'bi dan
I
krimah, keduanya berpendapat bahwa paman bukan termasuk mahrom karena tidak disebutkan dalam ayat ini juga dikarenakan hukum paman mengikuti hukum anaknya(padahal anak paman atau saudara sepupu bukan termasuk mahrom -pent).[9]Mahrom Karena PersusuanPembahasan ini kita bagi menjadi beberapa fasal sebagai berikut:Definisi Hubungan PersusuanPersusuan : Adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu. [10]Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahrom adalah lima kali persusuan, berdasar pada hadits dari Aisyah, beliau berkata³Termasuk yang di turunkan dalam Al Qur'an bahwa sepuluh kali persusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus denganlima kali persusuan." [11]
I
ni adalah pendapat yang rajih di antara seluruh pendapat para ulama'. [12]Dalil Tentang Hubungan Mahrom Dari Hubungan Persusuan1). Dari Al Qur'an : Firman Alloh Ta'ala tentang wanita-wanita yang haram dinikahi:³...Juga ibu-ibu yang menyusui kalian serta saudarasaudara kalian dari persusuan... [An Nisa': 23]2). Dalil dari Sunnah: Dari Abdulloh
I
 bnu Abbas ia berkata : Rasululloh bersabda:Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab. [13]Dari Aisyah ia berkata. "Sesungguhnya Aflah saudara laki-laki Abi Qu'ais meminta izin untuk menemuiku setelah turun ayat hijab, makasaya berkata: "Demi Alloh, saya tidak akan memberi izin kepadamu sebelum saya minta izin kepada Rosululloh, karena yang menyusuiku bukan saudara Abi Qu'ais, akan tetapi yang menyususiku adalah istri Abi Qu'ais. Maka tatkala Rosululloh datang, saya berkata: WahaiRasululloh, sesungguhnya lelaki tersebut bukanlah yang menyusuiku, akan tetapi yang menyusuiku adalah istrinya. Maka Rasululloh bersabda: "
I
zinkan baginya, karena dia adalah pamanmu" [14]Siapakah Mahrom Wanita Sebab Persusuan?Berdasarkan ayat dan hadits di atas maka kita ketanui bahwa mahrom dari sebab persusuan seperti mahrom dari nasab yaitu:

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->