Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
60Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Partisipasi Politik

Makalah Partisipasi Politik

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 6,035 |Likes:
Published by eindrayadi

More info:

Published by: eindrayadi on Aug 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

 
MAKALAHPEMILU DI INDONESIA
“Mengapa Seseorang Berpartisipasi Dalam Pemilu?”OlehKelompok 13
Amizar IsmaNIM. 109033200035Eko IndrayadiNIM. 109033200006Kholil IkhwanNIM. 108033200039Meutia RachmawatiNIM. 109033200008
JURUSAN ILMU POLITIK SEMESTER IVFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERISYARIF HIDAYATULLAH JAKARTATAHUN 2010/2011
 
1.Latar Belakang Masalah
Partisipasi politik dalam negara demokrasi merupakan indikatoimplementasi penyelenggaraan kekuasaaan negara tertinggi yang absah olehrakyat (kedaulatan rakyat), yang dimanifestasikan keterlibatan mereka dalam pesta demokrasi (Pemilu). Semakin tinggi tingkat partisipasi politimengindikasikan bahwa rakyat mengikuti dan memahami serta melibatkan diridalam kegiatan kenegaraan. Sebaliknya tingkat partisipasi politik yang rendah pada umumnya mengindikasikan bahwa rakyat kurang menaruh apresiasi atauminat terhadap masalah atau kegiatan kenegaraan. Rendahnya tingkat partisipasi politik rakyat direfleksikan dalam sikap golongan putih (golput) dalam pemilu.Sebagai konsekuensi negara demokrasi, Indonesia telah menyelenggarakansepuluh kali pemilihan umum (Pemilu) secara reguler, yaitu Tahun 1955, 1971,1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004 dan 2009 untuk pemilihan calonlegislatif (Pileg) dan pemilihan calon presiden dan wakil presiden (Pilpres).Secara spesifik dunia internasional memuji, bahwa Pemilu Tahun 1999sebagai Pemilu pertama di era Reformasi yang telah berlangsung secara aman,tertib, jujur, dan adil dipandang memenuhi standar demokrasi global dengantingkat partisipasi politik 92,7%, sehingga Indonesia dinilai telah melakukanlompatan demokrasi. Namun jika dilihat dari aspek partisipasi politik dalam sejarah pestademokrasi di Indonesia, Pemilu tahun 1999 merupakan awal dari penurunantingkat partisipasi politik pemilih, atau mulai meningkatnya golongan putih(golput), dibandingkan dengan Pemilu sebelumnya dengan tingkat partisipasi politik pemilih tertinggi 96,6% pada Pemilu tahun 1971.Realitas tersebut mengindikasikan bahwa telah terjadi apatisme dikalangan pemilih, di saat arus demokratisasi dan kebebasan berpolitik masyarakatsedang marak-maraknya. Fenomena tersebut sepertinya menguatkan pernyataanAnthony Giddens (1999) dalam bukunya
 Runaway World 
,
 How Globalisation is Reshaping Our Lives
. “haruskah kita menerima lembaga-lembaga demokrasitersingkir dari titik di mana demokrasi sedang marak”. Tentunya potensi Golputdalam pesta demokrasi nasional maupun lokal tersebut kiranya cukup
 
mengkhawatirkan bagi perkembangan demokrasi yang berkualitas. Sebab potensiGolput yang menunjukkan eskalasi peningkatan dapat berimplikasi melumpuhkandemokrasi, karena merosotnya kredibilitas kinerja partai politik sebagai mesin pembangkit partisipasi politik.
2. Definisi Partisipasi Politik 
Partisipasi politik yang meluas merupakan ciri khas modernisasi politik.Istilah partisipasi politik telah digunakan dalam berbagai pengertian yang berkaitan dengan perilaku, sikap dan persepsi yang merupakan syarat mutlak bagi partisipasi politik. Huntington dan Nelson dalam bukunya Partisipasi Politik di Negara Berkembang memaknai partisipasi politik sebagai :
By political participation we mean activity by private citizens designed toinfluence government decision-making. Participation may be individual or collective, organized or spontaneous, sustained or sporadic, peaceful or violent, legal or illegal, effective or ineffective. (partisipasi politik adalahkegiatan warga Negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi, yangdimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh Pemerintah.Partisipasi bisa bersifat individual atau kolektif, terorganisir atau spontan,mantap atau sporadik, secara damai atau dengan kekerasan, legal atau illegal,efektif atau tidak efektif 
.
1
Dalam definisi tersebut partisipasi politik lebih berfokus pada kegiatan politik rakyat secara pribadi dalam proses politik, seperti memberikan hak suaraatau kegiatan politik lain yang dipandang dapat mempengaruhi pembuatankebijakan politik oleh Pemerintah dalam konteks berperan serta dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dengan demikian partisipasi politik tidak mencakup kegiatan pejabat-pejabat birokrasi, pejabat partai, dan lobbyist professional yang bertindak dalam konteks jabatan yang diembannya.Dalamperspektif lain McClosky dalam International Encyclopedia of the SocialScience menyatakan bahwa :
The term “political participationwill refer to those voluntary activities by which members of a society share in the selection of rulers and,directly orindirectly, in the formation of public policy (partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui maknamereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara
1
Samuel P Huntington dan Joan Nelson, Partisipasi Politik di Negara Berkembang, Jakarta :Rineka Cipta, 1994, hal. 4

Activity (60)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Widya Yuana liked this
Parjuangan Lubis liked this
Acha Sila liked this
Ayu Wulandari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->