Sanskerta yang bermakna ‘negeri yang sangat jauh’. Kata tersebut sudahterdapat dalam kitab
Mahabrata
sekira 1.400 tahun sebelum Masehi. Lebihlanjut, Sutami (2008b) menyebutkan bahwa kata
cina
tidak berasal daribahasa-bahasa di negara Cina, melainkan dari bahasa Sanskerta
chīna
yangberarti “daerah pinggiran” . Ensiklopedia
Zhongguo Baike Da cidian
menyebutkan bahwa pada awalnya kata itu digunakan untuk menyebutnama suku-suku di sebelah utara Pegunungan Himalaya. Kemudian, kata itudigunakan untuk menyebut negara
Zhongguo
yang dalam bahasa Hokkianberbunyi
Tiongkok
dan dalam bahasa Inggris berbunyi
China.
Sebagaimana dikutip oleh Sutami (2008b), Kong Yuanzhi, seorangdosen dan peneliti budaya dari Peking University, dalam bukunya
Yindunixiya Malaixiya Tanxi
(Analisis Kebudayaan Indonesia dan Malaysia)(2000:300) mengutip kalimat dari
Kitab Kumpulan Terjemahan Nama-nama
(Fanyi Mingyiji) bahwa kata
cina
digunakan untuk menamakan negara yangberbudaya. Inilah makna asli kata
cina
.Agak berbeda dengan Sutami, Lembong (Tanpa Tahun) menyebutkanistilah Cina dibawa dan diperkenalkan oleh orang Barat yang datang keNusantara (awal) abad ke-17. Semula masyarakat menggunakan istilahCina dengan makna positif. Namun, karena politik Belanda
devide et impera,
hubungan orang Tionghoa dengan penduduk setempat menjaditidak baik karena penjajah menciptakan sentimen emosional. Penyebutan
Cina
dengan aksen yang penuh kebencian menimbulkan makna peyoratif terhadap istilah
Cina
.Menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia, menurut Lembong(Tanpa Tahun), Koran
Sin Po
pernah memelopori perubahan Cina menjadi Tionghoa. Tercapai kesepakatan antara Sin Po yang mewakili masyarakat Tionghoa dan kaum pergerakan untuk mengunakanan istilah Tionghoa.Nama Tionghoa dalam Seminar Ke-2 Angkatan Darat di Bandung, 25—31 Agustus 1966 diusulkan sebagai pengganti
Cina
. Hal itu dimaksudkan
3
Add a Comment