/  8
 
IHWAL ISTILAH CINA DAN CHINA
1
oleh Abdul Gaffar RuskhanBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1.Pengantar
Di dalam masyarakat istilah “Cina” merupakan hal yang lazim. Kelazimanitu terbukti dengan beberapa ungkapan yang menggunakan kata “Cina”.Misalnya, dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia
terdapat ungkapan
cinabuta
orang yang menikahi perempuan dengan dibayar (supayaperempuan itu setelah dicerai dapat kawin lagi dengan bekas suaminyayang telah tiga kali menalaknya); muhalil’. Di samping itu, ada lagi
Cinakolong
‘orang Cina pekerja tambang’;
Cina perantauan
‘nenek moyang dankebudayaan bangsa Cina daratan atau Taiwan;
2
keturunan Cina yangtinggal di luar negeri Cina dan Taiwan’. Bahkan, ada bentuk verba
mencina
menjadi seperti Cina’. Belum lagi nama tanaman
 petai cina
dan jenis baju
baju cina;
nama makanan
tahu cina
, nama tempat
Pondokcina
,
Bidaracina,
dan
Pacinan.
Bagi orang Minangkabau sebelum mengawali
 pasambahan
(pidato adat berbalasan), ada pantun yang menggunakan kata
Cino
(Cina)
Dari Jepun handak ka Japun, Cino memuek pacah-balah, ampun baribu kaliampun, jiko ado kato nan salah” 
(Dari Jepun hendak ke Jepun, Cina memuatpecah-belah, ampun beribu kali ampun, jika ada kata yang salah).Kamus merekam kata yang digunakan masyarakat bahasa. Hasilrekaman itu dipublikasikan kepada masyarakat bahwa suatu kata atauungkapan pernah atau masih digunakan oleh masyarakat. Kenyataan itu
1
Makalah yang disajikan dalam Diskusi “Duduk Perkara Istilah ‘Cina’: Berbagai Pendapatdan Pilihan Lain” yang diselenggarakan oleh FBMM bekerja sama dengan LKBN Antarapada 12 Agustus 2011 di Auditorium Wisma Antara
1
 
tidak dapat diingkari bahwa kata atau ungkapan apa pun yang pernahdigunakan masyarakat bahasa harus dan perlu dicatat dalam kamussebagai khazanah bahasa yang bersangkutan. Bisa jadi suatu ungkapan itutidak mengenakkan, seperti
Cina buta
. Namun, pekamus tidak mungkinmengubahnya dengan kata atau ungkapan yang menenakkan ataumelewatkan dalam kamus. Data kebahasaan adalah fakta yang secaraobjektif harus diterima. Ungkapan sebagai kelompok kata atau gabungankata yang menyatakan makna khusus (makna unsur-unsurnya seringkalimenjadi kabur) (Sugono dkk., 2008;1529) sudah merupakan kesepakatandalam masyarakat.Di dalam khazanah Islam, ditemukan sabda Rasulullah tentang “Cina”,
Utlubul ‘ilma walau bissin’ 
(‘Tuntutlah ilmu itu walau ke negeri Cina’. Kata
as-sin
diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu/Indonesia dengan “Cina”.Dengan demikian, penggunaan kata
Cina
sudah menjadi sesuatu yanglumrah dalam perkembangan bahasa Indonesia. Yang menjadi persoalan adalah apakah istilah
Cina
itu akandikembalikan kepada istilah asingnya? Padahal, istilah asingnya itumerupakan istilah yang digunakan sesuai dengan ejaan bahasa Inggris.Apakah dalam kebijakan bahasa Indonesia ada istilah yang sudah mapandikembalikan kepada ejaan asalnya dari bahasa Inggris atau mungkinbahasa lain?
2.Sejarah Istilah Cina dan Kaitannya dengan Tiongkok danTionghoa
Di dalam banyak bahasa kata
Cina
disesuaikan dengan kaidah bahasa yangbersangkutan. Menurut Sutami (2008a), kata
Cina
dalam bahasa Inggrismenjadi
China,
dalam bahasa Belanda
China/Chinees,
dalam bahasa Jerman
Chinesische,
dalam bahasa Prancis
Chinoar.
Kata itu berasal dari bahasa
2
 
Sanskerta yang bermakna ‘negeri yang sangat jauh’. Kata tersebut sudahterdapat dalam kitab
Mahabrata
sekira 1.400 tahun sebelum Masehi. Lebihlanjut, Sutami (2008b) menyebutkan bahwa kata
cina
tidak berasal daribahasa-bahasa di negara Cina, melainkan dari bahasa Sanskerta
chīna
yangberarti “daerah pinggiran” . Ensiklopedia
 Zhongguo Baike Da cidian
menyebutkan bahwa pada awalnya kata itu digunakan untuk menyebutnama suku-suku di sebelah utara Pegunungan Himalaya. Kemudian, kata itudigunakan untuk menyebut negara
 Zhongguo
yang dalam bahasa Hokkianberbunyi
Tiongkok 
dan dalam bahasa Inggris berbunyi
China.
Sebagaimana dikutip oleh Sutami (2008b), Kong Yuanzhi, seorangdosen dan peneliti budaya dari Peking University, dalam bukunya
Yindunixiya Malaixiya Tanxi
(Analisis Kebudayaan Indonesia dan Malaysia)(2000:300) mengutip kalimat dari
Kitab Kumpulan Terjemahan Nama-nama
(Fanyi Mingyiji) bahwa kata
cina
digunakan untuk menamakan negara yangberbudaya. Inilah makna asli kata
cina
.Agak berbeda dengan Sutami, Lembong (Tanpa Tahun) menyebutkanistilah Cina dibawa dan diperkenalkan oleh orang Barat yang datang keNusantara (awal) abad ke-17. Semula masyarakat menggunakan istilahCina dengan makna positif. Namun, karena politik Belanda
devide et impera,
hubungan orang Tionghoa dengan penduduk setempat menjaditidak baik karena penjajah menciptakan sentimen emosional. Penyebutan
Cina
dengan aksen yang penuh kebencian menimbulkan makna peyoratif terhadap istilah
Cina
.Menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia, menurut Lembong(Tanpa Tahun), Koran
Sin Po
pernah memelopori perubahan Cina menjadi Tionghoa. Tercapai kesepakatan antara Sin Po yang mewakili masyarakat Tionghoa dan kaum pergerakan untuk mengunakanan istilah Tionghoa.Nama Tionghoa dalam Seminar Ke-2 Angkatan Darat di Bandung, 25—31 Agustus 1966 diusulkan sebagai pengganti
Cina
. Hal itu dimaksudkan
3

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...