Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Antara Bid’ah dan Mashalih mursalah

Antara Bid’ah dan Mashalih mursalah

Ratings: (0)|Views: 684|Likes:

More info:

Categories:Types, Research
Published by: elan sudjanamihardja on Aug 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

 
Antara
 Bid’ah
dan
Mashalih mursalah By Abu Hudzaifah al Atsary
Saudaraku seiman, yang akan kita bahas kali ini sangatlah penting, yaitu persamaan dan perbedaan antara bid’ah dan
mashalih mursalah
. Dalam buku
Mana Dalilnya 1
, si penulis tak bisa membedakan antara
bid’ah
dan
mashalih mursalah,
akibatnya ia menggolongkan hal-hal yang merupakan
mashalih mursalah
ke dalam bid’ah
)
. Seperti ketika menjelaskan bid’ah wajib, ia mengatakan:Bid’ah wajib ialah bid’ah yang harus dilakukan demi menjaga terwujudnya kewajibanyang telah ditetapkan Allah. Diantaranya adalah:1.Mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an menjadi satu mushaf demi menjagakeaslian Al Qur’an, karena telah banyak penghapal Al Qur’an yang meninggaldunia, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dan Umar t.2.Memberi titik dan harakat (garis tanda fathah, kasrah dan dzamma pada huruf-huruf Al Qur’an). Pada zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin y, AlQur’an ditulis tanpa titik dan harakat. Pemberian harakat dan titik barudilakukan pada masa Tabi’in. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan baca yang dapat menimbulkan salah pengertian dan penafsiran.3.Membukukan Hadits-hadits Nabi Muhammad e sebagaimana yang telahdilakukan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan ahli Hadits lainnya.4.Menulis buku-buku tafsir Al Qur’an demi menghindari salah penafsiran danuntuk memudahkan masyarakat memahami Al Qur’an.5.Membuat buku-buku fiqih sehingga hukum agama dapat diterapkan dengan baik dan mudah. 
)
Sebelum menjelaskan kerancuan klasifikasi di atas, ada baiknya kalau kita mengenalterlebih dahulu apa yang dimaksud dengan
mashalih mursalah
itu.
Definisi
 Mashalih mursalah
Istilah di atas merupakan salah satu istilah
ushul fiqih
yang masyhur, yang tersusundari dua kata;
mashalih
(ح ٌل ِاص َم َ) dan
mursalah
(ة ٌ َس َر ْم ُ). Kata yang pertama adalah  bentuk jamak dari ‘mashlahah’ (ة ٌ َ َص ْم َ) yang artinya manfaat/kemaslahatan. Sedangkan
mursalah
artinya yang diabaikan. Jadi
mashalih mursalah
 
secara bahasa
artinya ialah kemaslahatan-kemaslahatan yang diabaikan.Agar lebih jelas, kita harus tahu bahwa setiap kemaslahatan pasti tak lepas dari salahsatu keadaan berikut;1.
Mashlahah mu’tabarah
(kemaslahatan yang diperhitungkan)2.
Mashlahah mulghaah
(kemaslahatan yang dibatalkan)3.
Mashlahah mursalah
(kemaslahatan yang diabaikan)
Mashlahah mu’tabarah
pengertiannya ialah setiap manfaat yang diperhitungkan olehsyari’at berdasarkan dalil-dalil syar’i. Aplikasi dari
mashlahah mu’tabarah
ini biasanya kita temui dalam masalah
qiyas
. Misalnya ketika syari’at mengharamkan
 
khamer, sesungguhnya ada suatu alasan yang selalu diperhitungkan dalam hal ini,yaitu sifat memabukkan.Rasulullah SAW bersabda:ق م هو)  ٌر َ َ ر ٍ ْخ َ  ّك ُو َ ر ٌ ْخ َ ر ٍ ِ ْم ُ  ّك ُ2003.(  
“Setiap yang memabukkan adalah khamer, dan setiap khamer itu haram”
(H.R.Muslim no 2003).Karenanya, segala sesuatu yang memabukkan -entah itu makanan, minuman, atauapapun- dihukumi sama dengan khamer.
Qiyas
semacam ini merupakan bentuk  pengamalan akan
mashlahah mu’tabarah
 
)
. Karena dengan begitu kita dapatmenjaga akal manusia dari segala sesuatu yang merusaknya, yang dalam hal iniadalah khamer. Sedangkan menjaga akal merupakan
mashlahah
yang diperhitungkanoleh syari’at 
)
.Kesimpulannya, pengharaman setiap yang memabukkan seperti miras dan narkobamerupakan
mashlahah mu’tabarah
.Sedangkan
mashlahah mulghaah
, ialah kemaslahatan yang dianggap batal olehsyari’at. Contohnya ialah maslahat yang terkandung dalam khamer dan perjudian.Allah U berfirman:ةي نم :ربل)219(
Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: “
 Pada keduanyaterdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia
 , tetapi dosa keduanyalebih besar dari manfaatnya…”
(Al Baqarah: 219).Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa khamer dan judi itu mengandung beberapamanfaat bagi manusia, namun demikian hukumnya haram sehingga manfaatnyadianggap batal oleh syari’at Islam. Inilah yang dinamakan
mashlahah mulghaah
.Contoh lainnya ialah maslahat mencari kekayaan dengan cara menipu dan manipulasi.Kekayaan di sini merupakan maslahat, akan tetapi caranya bertentangan dengansyari’at, sehingga maslahat yang ditimbulkannya dianggap batal. Demikian pulawanita yang mencari uang lewat melacur umpamanya.Adapun
mashlahah mursalah
, maka tak ada dalil dalam syari’at yang secara tegasmemperhitungkan maupun membatalkannya.
Singkatnya
,
mashlahah mursalah
adalah maslahat-maslahat yang terabaikan –alias tidak ada dalil khusus yangmenetapkan atau menolaknya,– namun ia sesuai dengan tujuan-tujuan syari’at
)
.Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, kita tahu bahwa sesungguhnya syari’atditegakkan di atas azas mendatangkan manfaat dan menolak madharat. Karenanya,
segala sarana yang bisa mendatangkan manfaat bagi seorang muslim ataumenolak madharat darinya, boleh dipakai selama cara tersebut tidak bertentangan dengan syari’at[6]
)
. Inilah sebenarnya hakekat
mashalih mursalah
,dan inilah yang sering dianggap
bid’ah hasanah
oleh sebagian orang yang tidak faham.
 
Untuk lebih jelasnya, kami akan menyebutkan
beberapa persamaan antara bid’ahdan mashalih mursalah
:
NoMashalih MursalahBidah
1Tidak dijumpai di zaman Nabi Tidak dijumpai di zaman Nabi2Tidak memiliki dalil khusus yang secarategas berkaitan dengannyaTidak memiliki dalil khusus yangsecara tegas berkaitan dengannyaSedangkan
perbedaan antara keduanya ialah
:
NoMashlahah MursalahBidah
1Bisa bertambah dan berkurang atau bahkan ditinggalkan sesuai dengankebutuhan, karena ia
sekedar sarana
&
bukan tujuan hakiki,
alias bukanibadah yang berdiri sendiri.
 
Bersifat paten dan dipertahankan hinggatidak bertambah atau berkurang, karenaia
merupakan tujuan hakiki
aliasibadah yang berdiri sendiri dan
bukansarana
.2Sebab-sebabnya
belum ada
di zaman Nabi; atau sudah ada tapi
adapenghalangnya
Sebab-sebabnya
sudah ada
di zaman Nabi dan
tidak ada penghalangnya
.3Tidak mengandung unsur memberatkan,karena tujuan dasarnya ialah mencarikemaslahatan.Mengandung unsur memberatkan,karena tujuannya dasarnya untuk  berlebihan dalam beribadah.4Selaras dengan misi syari’at(
maqashidus syari’ah
)Tidak selaras dengan misi syari’at, bahkan cenderung merusaknya
 [7]
)
.Kalau kita merenungi perbedaan-perbedaan di atas, maka kerancuan yang terjadidalam menentukan mana bid’ah dan mana
mashlahah mursalah
bisa kita hindari.
Jikasalah satu ciri bid’ah di atas kita temukan dalam suatu masalah, makaketahuilah bahwa ia termasuk bid’ah,
demikian halnya dengan
mashalih mursalah
.Kemudian perlu diketahui pula bahwa
mashalih mursalah
terbagi menjadi tiga:
dharuriyyah
(bersifat darurat),
haajiyyah
(diperlukan), dan
tahsiniyyah
(sekedar tambahan/pelengkap). Contoh yang
dharuriyyah
ialah pembukuan Al Qur’an dalamsatu mushaf, sedangkan contoh yang
haajiyyah
ialah membuat
mihrab
di masjidsebagai petunjuk arah kiblat; dan contoh yang
tahsiniyyah
seperti melakukan adzanawal sebelum adzan subuh
)
. Bertolak dari sini, kita akan menjawab semua yangdianggap bid’ah di atas:
1. Pembukuan Al Qur’an dalam satu Mushaf 
Hal ini termasuk 
mashlahah mursalah
 
dharuriyyah
karena beberapa alasan;
pertama
:ia merupakan sarana untuk menjaga keotentikan Al Qur’an dan bukan tujuan hakiki.Karenanya, sekarang Al Qur’an tidak sekedar berwujud mushaf, akan tetapi sudahdirekam dalam kaset, CD, dan perangkat elektronik lainnya.
Kedua
: kendati sebab-sebabnya ada di zaman Nabi e, tapi ketika itu ada yang menghalangi para sahabatuntuk membukukannya. Karena ketika itu Al Qur’an belum turun seluruhnya, dansering terjadi
nasekh
(penghapusan hukum atau lafazh ayat tertentu). Padahal alasanuntuk membukukan sudah ada, dan sarana tulis-menulis pun ada.
Ketiga:
dengan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->