Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kisah Para Murtadin - By Andrew G. Bostom

Kisah Para Murtadin - By Andrew G. Bostom

Ratings: (0)|Views: 868|Likes:
Published by Gilbert Hanz

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Aug 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2012

pdf

text

original

 
Islamic Apostates' Tales
 
KISAH MURTADIN ISLAM
 
Oleh Andrew G. Bostom
FrontPageMagazine.com
 
Sebuah ulasan dari buku"
" (Meninggalkan Islam: Murtadin Berbagi Pengalaman)
 
Edited by Ibn Warraq.
 
 Tak lama setelah Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa yg menghukum mati SalmanRushdie karena novel "The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan)" bulan Maret 1989, koranOrserver London memuat sepucuk surat dari seorang muslim Pakistan. Penulis, ygmenolak disebutkan namanya, menyatakan "Salman Rushdie mewakili saya" danmelanjutkan dengan menjelaskan:"Suaraku belum mendapat tempat di surat kabar. Ini adalah suara dari mereka yangdilahirkan muslim tapi ingin mundur ketika mereka dewasa, akan tetapi tidak diizinkandengan konsekuensi kematian. Orang yang tidak tinggal dalam lingkungan Islam tidak bisa membayangkan sanksi ini, yg ditegakkan secara pribadi dan external, yangmenyebabkan dilarangnya menyatakan ketidakpercayaan terhadap agama. 'Saya tidak percaya Tuhan' adalah ucapan yang mustahil di ruang publik bahkan di kalangan keluargadan teman-teman... Jadi kami menahan lidah kami, kami-kami yang ragu-ragu"Fatwa Khomeini begitu membuat "Ibn Warraq" marah sehingga dia menulis sebuahbuku, "
Why I am Not A Muslim
" (
Mengapa Saya Bukan Muslim
) yang jauh melebihibuku
The Satanic Verses
karangan Rushdie dalam hal kritikan yg pedas terhadap dogmadan mitos islam. Warraq melanjutkan dengan menyunting dua naskah ilmiah tentanganalisa kritis terhadap Qur'an ("
The Origins of the Koran
" -- Asal Usul Quran dan "
What the Koran Really Says
" -- Apa Yang Sebenarnya Dikatakan oleh Quran) dan sebuahliteratur sejarah yg banyak mendapat pujian tentang kehidupan Muhammad "
The Quest  for the Historical Muhammad 
" -- Pencarian Sejarah Terhadap Muhammad. Di sampingmenjadi penyunting, Warraq juga menyumbangkan essay-essay yg mendalam dan orisinilkepada ketiga koleksi essay kritis iniSangatlah tidak masuk akal sehat bahwa tulisan pengarang yang begitu beralasan danintelek dipandang sebagai begitu membakar, sehingga dia harus menulis menggunakannama samaran "Ibn Warraq" untuk menjaga keselamatannya. Langkah pengamanan ygberhati-hati ini sekarang mungkin adalah yg paling terjamin, setelah publikasipekerjaannya yg terakhir "
 Leaving Islam: Apostates Speak Out 
", sebuah kumpulan essayWarraq yg brilian dan pengalaman pribadi para murtadin islam yang sangat menyentuhdan menyingkapkan fakta.Seorang murtadin adalah seseorang yang meninggalkan imannya. Seperti yang dikutipWarraq, murtad adalah fenomena yang biasa dan lumrah di kalangan Barat karena:"Istilah murtad telah menghilang dari Barat, di mana seseorang lebih berbicara tentang'orang Katolik yg non-aktif' atau 'orang Kristen yg tidak mempraktekkan ajaran' daripadamurtad. Tidak ada sanksi apapun untuk berubah kepercayaan dari Kekristenan kekepercayaan tahayul bulan ini, dari paham New Age ke islam"Akan tetapi, dengan kebalikan yg kontras, seperti yg dijelaskan dalam kata pengantarWarraq:
 
"Semua kesaksian disini adalah saksi langsung terhadap keberanian pengarang, karenadiskusi bebas tentang islam tetap merupakan hal yg langka dan berbahaya, terutamadalam dunia islam dan bahkan dalam masa kita sekarang di dunia Barat. Sejumlahmurtadin memutuskan untuk menulis menggunakan nama aslinya, sebuah tandakemenangan kebebasan. Sebaliknya, banyak yang memilih untuk menulis menggunakannama samaran, dan karena hal ini menjadi hal yang mengganggu banyak orang di duniabarat yg sekuler, saya akan menjelaskan secara singkat alasannya. Murtad bisa dihukumdengan masa penjara yang lama dan bahkan kematian di banyak negara muslim sepertiPakistan dan Iran, dan karena banyak pengarang kami memiliki kerabat yang masihsering dikunjungi di negara-negara tersebut, maka adalah masuk akal dan demi keamananmereka tidak menggunakan nama asli mereka"Warraq mulai menulis "
 Leaving Islam
" dengan survey yg mendetail secara hukum danteologis terhadap fondasi murtad berdasarkan ayat-ayat Quran dan Hadits dan pendapat-pendapat tertulis dari empat institusi hukum Islam Sunni klasik. Dia kemudianmengikutkan dua tulisan modern pernyataan formal dari ahli hukum Islam tentangmurtad dari Lembaga Mufti Sunni Lebanon (1989) dan majelis ulama syiah di Iran(1986). Semua naskah resmi ini sependapat mengenai hukuman yg berat terhadapmurtadin yg tidak bertobat sesuai petunjuk Muhammad: Mati untuk pria, penjara seumurhidup untuk wanita.Survey ini kemudian diikuti dengan lima bab singkat (essay-essay) yg memberikankerangka berpikir dan pengalaman dari murtadin sepanjang sejarah Islam. Pada tanggal26 Juni 2003, wawancara radio Australia, Warraq meringkas tema-tema kunci dalam bab-bab ini sebagai berikut:"Saya pikir, saya berusaha menjelaskan di bagian pertama buku saya bahwa situasinyabenar-benar bervariasi dari abad ke abad, pemimpin ke pemimpin, negara ke negara. Danada beberapa pemimpin yang cukup toleran, yg lainnya sangat tidak toleran. Sayamemberi contoh tentang hasil karya al-Razi, dia adalah seorang dokter hebat, terkenal didunia Barat seperti Raziz di Eropa abad pertengahan, atau Razis dalam karya GeoffreyChaucer. Dia adalah pemuja dewa, tentu saja sangat anti islam, dan dia bertahan, diatidak dibunuh, hal ini menunjukkan kenyataan bahwa dia hidup di dalam kultur danmasyarakat yang relatif toleran. Tapi sialnya, hal ini tidak selalu benar. Anda kenalperiode Inquisition (semacam dewan religius untuk menekan aliran sesat / non-konvensional) -- Inquisisi Muslim, Minha, di bawah al Mahdi, yaitu abad ke-8 Masehidimana banyak orang dieksekusi. Terdapat ketidak-toleransian yg besar secara umumterhadap sufisme, karena para Sufi dianggap benar-benar tidak bisa diterimaSaya berharap bahwa (sejarah murtad dalam Islam) sedikit banyak -mungkin terdengarberlawanan- punya andil pada iklim toleransi, untuk menunjukkan bahwa kultur islamtidak selalu begitu keras dan seterusnya, bahwa ada masa-masa di mana orangmenyampaikan pengalamannya dan membela hak mereka untuk bertanya dan untuk meragukan. Penyair Almari, atau puisi-puisi Omar Khayyam, berharap bahwa umatMuslim yg percaya bisa juga menerima para
 freethinkers
(pemikir bebas) sebagai bagiandari kulturnya"

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
Laila Nurshaliha liked this
Gilbert Hanz liked this
Gilbert Hanz liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->