/  233
 
BAB IPENDAHULUANA
.
Latar Belakang Masalah
Kemajuan suatu negara salah satunya ditentukan oleh suatu indikator yangdisebut Indeks Pembangunan manusia (IPM) yang terdiri dari bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Untuk itu diharapkan kesehatan sebagai salah satukomponen terpenting indeks pembangunan dapat mengembangkan kinerja dan perhatiannya dalam memberi pelayanan kesehatan yang optimal kepada seluruhmasyarakat.Menuju INDONESIA SEHAT 2010, dalam bidang kesehatan denganmenekankan PARADIGMA SEHAT yang lebih mengedepankan usaha preventif (pencegahan) dan promotif (promosi). Usaha pencegahan dan promotif kesehatanmengarahkan masyarakat untuk mempertahankan kesehatan dengan upaya-upaya pencegahan baik terhadap faktor-faktor yang berhubungan maupun terhadapdeterminannya.Sehat menurut WHO 1947 adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik, mental,sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya atau keadaan lemahtertentu. Tapi sejak tahun 1984, WHO menambahkan aspek spiritual(kerohanian/agama) salah satu unsur tambahan dalam pengertian kesehatanseutuhnya. Sehat paripurna adalah sehat fisik, psikologi, sosial dan spiritual.1
 
Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan terhadap usaha preventif terhadap masyarakat, walaupun gangguan psikosomatik tidak menjadi salah satudiagnosa yang terdapat dalam pelaporan puskesmas, yang terlapor adalah gangguan jiwa, neurotik, dan skizofrenia. Hal ini menjadi perhatian penulis, sejauh manasebenarnya pasien mengenal keluhannya, adakah pengaruh psikis yang membebanikeluhan fisiknya, bagaimana pasien mengelola stressnya, dan sejauh mana pasientermotivasi agar meningkatkan ibadahnya, sehingga keluhan fisik dan tekananterhadap psikis tidak berkepanjangan dan menjadi lebih buruk menjadi gangguan jiwa atau bahkan sakit jiwa.Gangguan jiwa dan perilaku menurut the world health Report 2001 dialamioleh kira-kira 25 % dari seluruh penduduk pada suatu masa dari hidupnya dan lebihdari 40 % diantaranya didiagnosa tidak tepat sehingga menghabiskan biaya untuk  pemeriksaan laboratorium dan pengobatan yang tidak tepat. Gangguan jiwa dan perilaku dialami kira-kira 10 % populasi orang dewasa. Dalam laporan itu dikutip juga penelitian yang menemukan bahwa 24 % dari pasien yang mengunjungi dokter  pada pelayanan kesehatan dasar ternyata mengalami gangguan jiwa. 69 % dari pasientersebut datang dengan keluhan fisik dan banyak diantaranya ternyata tidaditemukan gangguan fisiknya.(Yulizar dkk, Depkes , 2004:1)Pada tahun 2002, RSJ (Rumah Sakit Jiwa ) Bandung, melaluikan survei bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Jabar yang dilakukan di 120 puskesmas (pusatkesehatan masyarakat) di 24 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Hasilnya,memperlihatkan sebanyak 37,5 % pasien yang berobat di puskesmas, ternyata2
 
mengalami gangguan jiwa yang berdampak kepada gangguan fisik. "Karena gejalaklinisnya berupa pusing, mual, atau tidak bisa tidur, dokter puskesmasmendiagnosisnya sebagai penyakit fisik. Sehingga, gangguan jiwa yang dialamisebahagian pasien puskesmas tidak terdeteksi oleh dokter," katanya. Kemudian jugasurvei tahun 2003 yang dilakukan di klinik Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) puskesmas di 24 kota, dan kabupaten di Jabar didapati hasil sebanyak 27% ibu hamildan menyusui, mengalami gangguan jiwa. Selain merujuk kepada beberapa kalisurvei, perkiraan angka 30% juga melihat perilaku sebagian masyarakat sekarangyang cenderung brutal, anti sosial, dan tanpa merasa bersalah mengambil hak oranglain. Menurut Machmud, sampai dengan bulan September 2005, jumlah pasiengangguan jiwa yang dirawat di RSJ Bandung sudah lebih dari 12.000 orang, tahun2004 lalu sebanyak 13.000. Di antara pasien yang rawat inap di RSJ Bandung bahkanada yang masih anak-anak yakni berusia 13 tahun.(Pikiran Rakyat 28 oktober 2005)Ditambahkan lagi Menurut Surat Kabar pikiran rakyat tanggal 28 oktober 2005, penderita ganguan jiwa di Jawa Barat diperkirakan lebih dari 30 % penduduk,yang jumlah nya makin bertambah dengan kesulitan ekonomi, bahkan di Cirebonsendiri mencapai 250 sampai dengan 350 %. Menurut Wahid, satu-satunya psikiater di Rumah Sakit Gunung Jati, mengemukakan, bahwa usia terbanyak yang datang ke poliklinik maupun praktek pribadi didominasi oleh keluarga muda, laki-lakimerupakan jumlah terbesar dengan usia antara umur 30-40 tahun. Dengan statussosial merata dari yang rendahan, sampai menengah keatas. Wahid jugamenyebutkan jenis-jenis penyakit psikologi yang dialami pasiennya. Yang ringan dan3

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...

deleted_fbuser_1324812209left a comment

ass... isi nya menarik.... gmn cra ngedownload na bu????

husna sarileft a comment

asss..bu, tesisnya bagus sekali bu, kebetulan saya lagi nyusun skripsi dengan judul hubungan kegiatan keagamaan dengan adaptasi psikososial wanita menopause, banyak sekali ayat yang saya butuhkan dari tesis ibu, bisakah saya dapat soft copynya bu,email saya h5n4_s4ri@yahoo.com, terimakasih

saskieleft a comment

gmn cra downloadny y, ilmunya brmanfaat, bcspintas sy udh trtarik, tp untuk bc smua sy mgkn hrus save dl, tp g bsd download,

badaruddinhsleft a comment

salam. bagi2 ilmunya dong bu.. biar dapat amal jariah yg pahalanya jalan terus walaupun ibu dah berpulang ke rahmatullah. kirim dong tesisnya ke email saya: udienhs@yahoo.com saya doakan bu.. smg bahagia dunia akherat. wassalam. Badar

prince_of_demonleft a comment

Assalamualaikum. Thesisnya bagus sekali bu. Bolehkah saya minta copy filenya untuk tugas merangkum riset tentang kesehatan? kalau boleh, e-mail saya rizani.rahman@yahoo.com. Terima kasih