Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
MENYUDAHI ANALOGI—MENDAMAIKAN BIOLOGI DAN SOSIOLOGI MELALUI PSIKOANALISIS

MENYUDAHI ANALOGI—MENDAMAIKAN BIOLOGI DAN SOSIOLOGI MELALUI PSIKOANALISIS

Ratings: (0)|Views: 97|Likes:
Makalah disajikan pada Kelompok Kajian Kognisi, Sejarah dan Perubahan Sosial, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Depok, 11 Mei 2011
Makalah disajikan pada Kelompok Kajian Kognisi, Sejarah dan Perubahan Sosial, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Depok, 11 Mei 2011

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Hizkia Yosie Polimpung on Aug 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

 
1
MENYUDAHI ANALOGI—MENDAMAIKAN BIOLOGI DAN SOSIOLOGIMELALUI PSIKOANALISIS:Sebuah tawaran dialog lintas-disipliner dengan menilik sejarah kedaulatan negara
1
 
Oleh: Hizkia Yosie Polimpung 
 
Whenever a social phenomenon is directly explained by a psychological phenomenon, wemay be sure that the explanation is false.” —Emile Durkheim
3
 [One] should be very cautios and not forget that, after all, we are only dealing withanalogies and that it is dangerous, not only with men but also with concepts, to tear themfrom the sphere in which they have originated and been evolved.” —Sigmund Freud
Muara dari kedua nukilan yang saya cantumkan sebagai epigraf di atas sekiranya dapatdirangkumkan dalam satu frase ini: reduksionisme psikologis. Di kalangan ilmu sosial,psikologi (dan psikoanalisis)
4
sosial terkenal buruk dalam begitu saja menganalogikanindividu dengan kolektivitas (dalam hal ini masyarakat). Masyarakat, yang secara nominalmerupakan suatu kolektivitas individu, direduksi menjadi seekor individu saja. Akibatnya,
seakan-akan 
suatu masyarakat memiliki ketidaksadaran dan superego kolektif yangmentsruktur prilaku mereka, atau mungkin, sebagaimana Freud menunjuk Jermannya Nazi,menderita psikopatologi kolektif. Hal ini uniknya juga terjadi di kalangan Sosiolog. EmileDurkheim misalnya, mengikuti Herbert Spencer, menggunakan metafora organisme untukmemahami unit-unit sosial yang menjadi obyek kajiannya. Kosakata yang ia gunakan untukmenjelaskan, misalnya, masyarakat dan negara sarat dengan yang biasa digunakan untukmenunjuk
tubuh 
manusia:
The function of the rules of the individual moral code is in fact to fix in the individualconsciousness the seat of all morals – their foundations, in the widest sense ... Let us imaginewhat would happen to the functions of
heart, lungs, stomach 
and so on, if they were free likethis of all discipline... Just such a spectacle is presented by nations where there are noregulative
organs 
of economic life. ... we can therefore say that the State is a special
organ 
 whose responsibility it is to work out certain representations which hold good for thecollectivity. These representations are distinguished from the other collective representationsby their higher degree of
consciousness 
and
reflection 
. ... As we read on in history, we see thefunctions of the State multiplying as they increase in importance. This development of the
1
Makalah disajikan pada Kelompok Kajian Kognisi, Sejarah dan Perubahan Sosial, Fakultas Psikologi, UniversitasIndonesia, Depok, 11 Mei 2011.
2
Penulis adalah peneliti di PACIVIS Center for Global Civil Society Studies, Universitas Indonesia.
3
Dikutip dari Frederic Jameson, “Imaginary and Symbolic in Lacan,” dalam S. Felman, peny.,
Literautre and Psychoanalysis 
(Baltimore: JHU press, 1982), hal. 339.
4
Saya akan menggunakan kedua term ini secara saling bergantian untuk merujuk arti yang sama—yaitu sebuahdisiplin yang memusatkan perhatiannya pada aspek ke(tak)sadaran. Hal ini bukan berarti saya menyamakan begitu sajakedua term ini; terdapat perbedaan di antara keduanya. Namun demikian, sejauh ini kepentingan untuk membedakannyamasih belum dirasa perlu. Penjelasan akan diberi saat pembedaan di antara keduanya diperlukan.
 
2
functions is made materially perceptible by the parallel development of the
organ 
itself. ...
The social brain, like the human brain, has grown in the course of evolution.
5
 
Asumsi makro-subyektivitas 
Gestur analogi individu-kolektif dari kedua kubu ini bahkan merembes ke wilayahdisiplin lainnya, misalnya, sekaligus yang akan saya sajikan melalui makalah ini, ke kajianHubungan Internasional (HI). Namun sebelum masuk ke pembahasan tentang ini, adalahpenting untuk diketahui bahwa kajian HI (terutama pasca 1950-an) pada umumnya membagilevel analisisnya kepada tiga tingkatan: individu, negara dan sistem internasional. Bahkanpembagian ini berimplikasi pada pembagian kerja akademik: individu: bagian psikologisosial/politik; negara (domestik): bagian ilmu politik; sistem: bagian HI.
6
Namun demikian,pembagian ini tidaklah
saklek.
Sekitar tahun 1980an, terjadi sebuah perdebatan—tentangdeterens—di kalangan penstudi HI (dan Politik) yang membahas level yang sama, yaitu levelindividu. Tak pelak, aspek-aspek psikis mengedepan dalam pembahasan tersebut.Pada umumnya, peralihan kepada penjelasan-penjelasan psikologis ini dikarenakansemakin ragunya penstudi HI terhadap variabel ‘rasio’ dan ‘logika’ dalam analisis HI di satusisi, dan mulai maraknya jargon seperti ‘
irrational behavior’ 
dan ‘
rogue state 
’ dalam praktik danteori HI. Contoh yang sekiranya cukup relevan untuk ini adalah perdebatan panas disekitartahun 80-an sampai 90-an seputar deterens (
deterrence 
).
7
Perdebatan ini mempertentangkan(kadang malah menciptakan kolaborasi) dua kubu, yaitu teori pilihan rasional denganpsikologi kognitif. Oleh kubu psikologi kognitif, teori rasional dianggap mereduksi intipermasalahan deterens—yaitu problem kompleksitas, ketidakpastian dan ambiguitas dalamdilema keamanan yang disebabkan oleh struktur anaki internasional—kedalam matriks-matriks yang dipostulatkan sedemikian rupa, yang akhirnya menjadi aksioma yang secara butadijadikan pegangan bagi pengambilan keputusan. Teori rasional akhirnya justru malahmenjadi kontra-produktif bagi penyelesaian masalah, jika bukan mempercepat ekskalasikonflik menjadi terbuka. Sebaliknya, kubu psikologi kognitif mencoba memahami problemkompleksitas dan ketidakpastian ini dengan melihat faktor-faktor idiosinkretik pemimpin danpara pengambil keputusan, termasuk sejarah pribadi dan pembelajaran mereka terhadapsejarah.
8
 
5
Emile Durkheim,
Professional Ethics and Civil Morals 
, edisi kedua. (London: Routledge, 1996), pp. 3, 30, 50, 53. Cetakmiring dari saya.
6
Lebih jauh tentang ini, lihat Kenneth Waltz,
Man, The State and War: A Theoretical Analysis 
(NY: Columbia UniPress, 2001 [1959]) dan
Theory of International Politics 
(Mass.: Addison-Wesley, 1979).
7
Deterens merupakan strategi penangkalan yang dilakukan negara (pada masa Perang Dingin) untuk menakut-nakuti negara lain untuk tidak menyerang. Perdebatan deterens semakin mengedepan seiring memuncaknya ekskalasiperlombaan senjata yang berpotensi menjerumuskan dunia ke perang nuklir. Ulasan ini merupakan selayang pandangdari: Paul Huth dan Bruce Russett, “What makes deterrence works? Cases from 1900 to 1980,”
World Politics,
36, (1984),hal. 496-526; Robert Jervis, Richard Ned Lebow dan Janice G. Stein,
Psychology and Deterrence 
(Baltimore: Johns HopkinsUni Press, 1985); untuk dokumentasinya lihat George W. Downs, “The rational deterrence debate,”
World Politics,
41(1989), hal 225-38; Kenneth Oye, peny.,
Deterrence Debates: Problems of Definition, Specification, and Estimatio
(Ann Arbor:Uni of Michigan Press, 1993). Kolaborasi yang cukup mutakhir antara teori psikologi dan teori deterens adalah teorideterens sempurna dari Frank C. Zagare dan D. Marc Kligour,
Pefect Deterrence 
(Cambridge: Cambridge Uni Press, 2000).
8
Bdk. Jack S. Levy, “Learning and Foreign Policy: Sweeping a Conceptual Minefield,”
International Organizatio
, 48(2)(Spring, 1994), hal. 279-3 12.
 
3
Dalam pemaparan di atas, tampak bahwa faktor psike masuk menjadi variabel analisissebagai konsekuensi mutlak dari kenyataan bahwa negara dipimpin oleh
seorang 
manusia yangmemiliki aspek non-rasional yang kadang-kadang tidak dapat dijelaskan dengan pendekatan-pendekatan rasional konvensional. Namun ada juga penstudi HI yang berusaha melihat psikekolektif sebagai variabel analisis, dan dengan demikian membawa literatur psikologi sosial kedalam diskusi-diskusi teoritiknya. John Ruggie dan rekan-rekan konstruktivisnya merupakanbeberapa di antaranya. Konstruktivis berusaha melampaui analisis konvensional yang lebihmemfokuskan analisis pada psike pemimpin, dengan menunjukkan bahwa psike kolektifseperti kepercayaan bersama, pandangan bersama, rasa kepemilikian (
sense of belonging 
)bersama dan identitas kolektif merupakan faktor yang juga memainkan peran penting dalamHI. Proses interaksi, proses identifikasi kelompok, dan proses pembentukan norma dan nilai,bahkan kepatuhan terhadap norma dan nilai tersebut akhirnya mewarnai analisis-analisiskubu ini.
9
Analisis-analisis kubu ini nampaknya begitu populer, sampai-sampai mampumenyulut suatu peralihan emosional dalam studi HI.
10
Tidak berhenti di situ, pemikir-pemikir yang menggunakan pendekatan filosofi yang lebih kontemporer pun bergerak lebih jauh dengan mendeklarasikan peralihan estetis yang melibatkan faktor-faktor takterjelaskan” dalam penjelasan-penjelasan HI.
11
 Sekalipun analisis-analisis tersebut amat beragam dalam memahami psike—danpastinya merupakan suatu kontribusi besar bagi perkembangan studi HI, setidaknya adabenang merah yang dapat ditarik, yaitu kesemuanya masih menyimpan suatu asumsi makro-subyektivitas, yaitu menganalogikan negara sebagai manusia. Analogi ini, sebagaimanapenulis tekankan pada bab sebelumnya, yang merupakan fitur utama yang mewarnai teorisasihubungan internasional, adalah suatu analogi yang sifatnya aksiomatik. Atau dengan kata lain,dari klaim-klaim “ilmiah” teori-teori HI, adalah analogi ini yang paling tidak ilmiah”—tidakada landasan pasti yang mengafirmasi analogi ini. Namun “aneh
bin 
ajaib”-nya, teoritisi-teoritisi HI pada umumnya, mulai mahasiswa sampai profesor, seolah-olah berpura-puratidak tahu dan malah menerimanya secara
taken for grante
.
12
Kutipan dari dua punggawa HI
9
Beberapa di antaranya yang relevan: Martha Finnemore dan Kathryn Sikkink, “International norms dynamics andpolitical change,”
International Organization,
52(4) (1998), hal. 887-918; Richard Price,
The Chemical Weapons Taboo.
(Ithaca:Cornell Uni Press, 1997); Nina Tannenwald, The
Nuclear Taboo: The United States and the Non-Use of Nuclear Weapons Sinc1945 
(Cambridge: Cambridge Uni Press, 2007).
10
Tulisan Neta Crawford lah yang digadang-gadang sebagi penyulut peralihan emosional. Neta C. Crawford, "ThePassion of World Politics: Propositions on Emotion and Emotional Relationships,"
International Security 
, 24( 4) (Spring,2000), hal. 116-156; untuk selayang pandang, lihat Juha Käpylä,
Emotions as Socio-Political: An Essay on the Conceptualization of Emotions (from the Point of View of Politics)
, makalah untuk Konvensi tahunan ke-51 International Studies Association,New Orleans, USA (February 2010). [Makalah tidak terbit]
11
Adalah Roland Bleiker yang mendeklarasikan peralihan ini, Roland Bleiker, “The Aesthetic Turn in InternationalPolitical Theory,”
Millennium: Journal of International Studie
, 30(3) (2001), hal. 509-33. Untuk selayang pandang, lihat HizkiaY. S. Polimpung,
Peralihan Estetis.
Handout pada Pelatihan Teori Hubungan Internasional Kontemporer, Pusat KajianWilayah Amerika Universitas Indonesia, Jakarta (18-20 Mei 2009).
12
Bahkan orang-orang biasa (
lay person 
) pada umumnya juga menganggap demikian. Seperti kata Wendt, “
In our daily lives citizens and policy-makers alike routinely treat states as if they were people, talking about them as if they had the same kinds ointentional properties that we attribute to each other 
.” Alexander Wendt,
Social Theory of International Politics 
(Cambridge:Cambridge Uni Press, 1999), hal. 195. Penulis akan membahas ini lebih jauh pada bab berikutnya sebagai problemteologi politik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->