Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penentuan Hilal Awal Bulan Ramadhan Dan Syawal

Penentuan Hilal Awal Bulan Ramadhan Dan Syawal

Ratings: (0)|Views: 2|Likes:
Published by yayang sudaryana

More info:

Published by: yayang sudaryana on Aug 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/15/2011

pdf

text

original

 
Penentuan Hilal awal bulan Ramadhan dan Syawal
Penulis: Zuhair Syarif (Majalah Salafy, edisi XXIII, hal. 12-22)Fiqh, 06 - Oktober - 2003, 00:20:181. Cara menentukan Ibadah Puasa dan Iedul FithriAwal puasa ditentukan dengan tiga perkara :1. Ru’yah hilal (melihat bulan sabit).2. Persaksian atau kabar tentang ru’yah hilal.3. Menyempurnakan bilangan hari bulan Sya’ban.Tiga hal ini diambil dari hadits-hadits dibawah ini :1. Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya(hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan,maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081)2. Hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma :Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian mendahului bulanRamadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia(hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah(Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan di Shahih kan sanadnya oleh Al-Hakim dan disetujuioleh Adz-Dzahabi)3. Hadits dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu :Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila datang bulan Ramadhan, amka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalamMusykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain)4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awanmenghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan(ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132,Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab darisahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilaliserta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)Hadits-hadits semisal itu diantaranya dari Aisyah, Ibnu Umar, Thalhah bin Ali, Jabir bin
 
Abdillah, Hudzaifah dan lain-lain Radliallahu ‘anhum. Syaikh Al-Albani membawakanriwayat-riwayat mereka serta takhtrij-nya dalam Irwa’ul Ghalil hadits ke 109.Isi dan makna hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa awal bulan puasa dan Iedul Fithriditetapkan dengan tiga perkara diatas. Tentang persaksian atau kabar dari seseorang berdalildengan hadits yang keempat dengan syarat pembawa berita adalah orang Islam yang adil,sebagaimana tertera dalam riwayat Ahmad dan Daraquthni. Sama saja saksinya dua atau satusebagaimana telah dinyatakan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ketika beliau berkata :“Manusia sedang melihat-lihat (munculnya) hilal. Aku beritahukan kepada Nabi Shallallahu‘Alaihi wa Sallam bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkanmanusia untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Al-HafidhIbnu Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187)Catatan dari hadits-hadits diatas (oleh saya/uli):1. Penentuan hilal yang disyari’atkan dalam agama ini cukup melihat bulan dengan matatelanjang.2. Menentukan awal masuknya bulan dengan metode hisab dibantu dengan ilmu astronomitidak disyari’atkan dalam agama ini (bid’ah), perhatikan hadits-hadits seputar penentuan hilaldiatas.3. Allah menjadikan mudah agama ini, maka tidak perlu kita mempersulit diri.2. Perbedaan Mathla’ (Tempat Muncul Hilal) dan Perselisihan TentangnyaHadits-hadits diatas menerangkan dengan jelas bahwa dalam mengetahui masuk dan berakhirnya bulan puasa adalah dengan ru’yah hilal, bukan dengan hisab. Dan kontekskalimatnya kepada semua kaum muslimin bukan hanya kepada satu negeri atau kampungtertentu. Maka, bagaimana cara mengkompromikan hadits-hadits diatas dengan hadits Kuraibatau hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhum yang berbunyi :“Kuraib mengabarkan bahwa Ummu Fadll bintul Harits mengutusnya kepada Muawiyyah diSyam. Kuraib berkata : “Aku sampai di Syam kemudian aku memenuhi keperluannya dandiumumkan tentang hilal Ramadhan, sedangkan aku masih berada di Syam. Kami melihathilal pada malam Jum’at. Kemudian aku tiba di Madinah pada akhir bulan. Maka Ibnu Abbas bertanya kepadaku – kemudian dia sebutkan tentang hilal -- : ‘kapan kamu melihat Hilal?’Akupun menjawab : ‘Aku melihatnya pada malam Jum’at. Beliau bertanya lagi : ‘Engkaumelihatnya pada malam Jum’at ?’ Aku menjawab :’Ya, orang-orang melihatnya danmerekapun berpuasa, begitu pula Muawiyyah.’ Dia berkata : ‘Kami melihatnya pada malamSabtu, kami akan berpuasa menyempurnakan tiga puluh hari atau kami melihatnya(hilal).’Aku bertanya : ‘Tidakkah cukup bagimu ruyah dan puasa Muawiyyah ?’ Beliaumenjawab : ‘Tidak! Begitulah Rasulullah memerintahkan kami.’” (HR. Muslim 1087, At-Tirmidzi 647 dan Abu Dawud 1021. Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi di Shahih kan olehAl-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 1/213)Dalam hadits Kuraib diatas dan hadits-hadits sebelumnya para ulama berselisih pendapat.
 
Perselisihan ini disebutkan dalam Fathul Bari Juz. 4 hal. 147. Ibnu Hajar berkata : “ParaUlama berbeda pendapat tentang hal ini atas beberapa pendapat :Pendapat Pertama :Setiap negeri mempunyai ru’yah atau mathla’. Dalilnya dengan hadits Ibnu Abbasradhiallahu ‘anhuma dalam Shahih Muslim. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dariIkrimah, Al-Qasim Salim dan Ishak, At-Tirmidzi mengatakan bahwa keterangan dari ahliilmu dan tidak menyatakan hal ini kecuali beliau. Al-Mawardi menyatakan bahwa pendapatini adalah salah satu pendapat madzab Syafi’i.Pendapat Kedua :Apabila suatu negeri melihat hilal, maka seluruh negeri harus mengikutinya. Pendapat inimasyhur dari kalangan madzhab Malikiyah. Tetapi Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa ijma’telah menyelisihinya. Beliau mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwa ru’yah tidak sama pada negara yang berjauhan seperti antara Khurasan (negara di Rusia) dan Andalus(negeri Spanyol).Al-Qurthubi berkata bahwa para syaikh mereka telah menyatakan bahwa apabila hilaltampak terang disuatu tempat kemudian diberitakan kepada yang lain dengan persaksian duaorang, maka hal itu mengharuskan mereka semua berpuasa...Sebagian pengikut madzhab Syafi’i berpendapat bahwa apabila negeri-negeri berdekatan,maka hukumnya satu dan jika berjauhan ada dua :1. Tidak wajib mengikuti, menurut kebanyakan mereka2. Wajib mengikuti. Hal ini dipilih oleh Abu Thayib dan sekelompok ulama. Hal inidikisahkan oleh Al-Baghawi dari Syafi’i.Sedangkan dalam menentukan jarak (jauh) ada beberapa pendapat :1. Dengan perbedaan mathla’. Ini ditegaskan oleh ulama Iraq dan dibenarkan oleh An- Nawawi dalam Ar-Raudlah dan Syarhul Muhadzab.2. Dengan jarak mengqashar shalat. Hal ini ditegaskan Imam Al-Baghawi dan dibenarkanoleh Ar-Rafi’i dalam Ash-Shaghir dan An-Nawawi dalam Syarhul Muslim.3. Dengan perbedaan iklim.4. Pendapat As-Sarkhasi : “Keharusan ru’yah bagi setiap negeri yang tidak samar atasmereka hilal.”5. Pendapat Ibnul Majisyun : “Tidak harus berpuasa karena persaksian orang lain...” berdalildengan wajibnya puasa dan beriedul fithri bagi orang yang melihat hilal sendiri walaupunorang lain tidak berpuasa dengan beritanya.Imam Syaukani menambahkan : “Tidak harus sama jika berbeda dua arah, yakni tinggi danrendah yang menyebabkan salah satunya mudah melihat hilal dan yang lain sulit atau bagisetiap negeri mempunyai iklim. Hal ini diceritakan oleh Al-Mahdi dalam Al-Bahr dari ImamYahya dan Hadawiyah.”Hujjah ucapan-ucapan diatas adalah hadits Kuraib dan segi pengambilan dalil adalah perbuatan Ibnu Abbas bahwa beliau tidak beramal (berpuasa) dengan ru’yah penduduk Syam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->