Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
37Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PENDIDIKAN MENURUT HAMKA

PENDIDIKAN MENURUT HAMKA

Ratings:

4.6

(5)
|Views: 4,650 |Likes:

More info:

Published by: Fahira Fahmi Idris, SE on Sep 27, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2012

pdf

text

original

 
PENDIDIKAN MENURUT HAMKAby Masad Masrur (masadmasrur.blog.co.uk)Judul Buku:Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan IslamOleh:Samsul NizarPenerbit:Prenada Media Grip JakartaEdisi:Cetakan I Februari 2008Haji Abdul Karim bin Abdul Malik Amrullah atau HAMKA, adalah salah satu ulamabesar yang pernah dimiliki oleh Ummat Islam Indonesia. Ia adalah seorang peloporgerakan tajdid di daerah kelahirannya Minangkabau dan kental dengan didikan Islamyang ditimbanya di Sumatera Thawalib, yaitu sekolah beraliran pembaruan yangdidirikan oleh ayahnya, Abdul Malik Amrullah. Di kemudian hari ia juga dikenalsebagai salah satu intelektual dan aktivis Islam yang disegani dan bergelar Doktormeski ia sendiri tidak banyak sekolah di sekolah formal. Berikut ini adalah salahsatu buku yang memperbincangkan tenang pendidikan Islam versi HAMKA yangditerbitkan dalam rangka 100 tahun kelahirannya.HAMKA lahir di Sungai Batang,Maninjau, Sumatera Barat pada Ahad 16 Februari 1908 dari keluarga yang taanberagama. Ayahnya adalah Abdul Karim Amrullah, atau sering disebut Haji rasul,seorang ulama yang pernah mendalami Islam di Mekakkah dan pelopor kaum mudo dantokoh Muhammadiyah Minangkabau. Sementara ibunya bernama Siti Shafiyah Tandjung.Dari geneologis ini dapat diketahui, bahwa ia berasal dari keturunan yang taatberagama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaru Islam di Minangkabau padaakhir abad XVIII dan awal abad XIX. HAMKA lahir dari struktur masyarakatmatrilineal, yaitu masyarakat yang justru menempatkan posisi laki-laki yang tidakbegitu strategis dibanding posisi perempuan yang sangat dominan.Sejak kecil, HAMKA menerima dasar-dasar agama dan belajar membaca Al-Quran dariayahnya. Ketika usia 6 tahun, ia dibawa ayahnya ke Padangpanjang. Usia 7 tahunmasuk ke sekolah, meski akhirnya ia keluar dari sekolah itu setelah 3 tahunbelajar, dan malah belajar mengaji dengan ayahnya sampai khatam. Sejak kecil, iasenang nonton film. Bahkan karena hobinya ini, ia pernah diam-diam mengicuh guru
 ngajinya karena ingin menonton Film Eddie Polo dan Marie Walcamp. Kebiasaanmenonton film ini berlanjut terus, dan kerapkali ia mendapat inspirasi menuliskarya-karya sastra dari menonton film ini.Tatkala berusia 12 tahun, kedua orang-tuanya bercerai. Perceraian orangtuanya inimerupakan pengalaman pahit yang dialaminya. Tak heran jika pada fatwa-fatwanya, iasangat menentang tradisi kaum laki-laki Minangkabau yang kawin lebih dari satu.Sebab bisa merusak ikatan keharmo-nisan rumah tangga. Dalam adat Minang-kabauwaktu itu, memiliki istri lebih dari satu adalah kebanggaan bagi keluarga pihaklaki-laki. Seorang perempuan (istri) tidak akan khawatir menjadi janda dua atautiga kali karena diceraikan suami. Sebab, tidaklah sulit baginya karena semuaanak-anaknya telah dijamin oleh harta pusaka rendah dan menjadi tanggungjawabmamak-mamaknya (saudara laki-laki dari pihak perempuan). Demikian juga dengan H.Abdul Karim Amrullah, sebagai seorang ulama yang memiliki status sosial tinggi,meski per-ceraian yang dilakukannya akibat perse-lisihan yang ada campur tanganpihak keluarga, perceraian ini mengakibatkan HAMKA kehilangan kasih sayingsebagaimana mestinya. Akhirnya HAMKA kecil harus menjadi anak tinggal dandipandang hina karena tidak memiliki saudara perempuan di kampung dan tidak
 memiliki keluarga utuh dan lengkap, sebab 10 bulan kemudian ibunya menikah lagidengan seorang saudagar dari tanah Deli dan adiknya ikut bersama mereka.Kondisi ini pula yang ikut menyebabkan kerenggangan tali kekeluargaan dengan pihak
 
orangtuanya. Untuk sementara, ia tinggal bersama ayahnya di Padangpanjang. Akantetapi, karena karena seringnya mendapat cemoohan dari keluarga ayahnya yangdating, membuatnya tak tahan dan kemudian tinggal bersama andung-nya yang sangatmencintainya. Hampir setahun lamanya ia hidup terlunta-lunta sebagai anak tualangdan akhirnya ia sekolah mengaji ke Parabek, 5 km dari Bukittinggi dengan SyekhIbrahim Musa, karena andung-nya khawatir dengan masa depannya.Pendidikan formal yang dilalui HAMKA sebetulnya di mulai sejak tahun 1916 sampai1923 dengan belajar agama pada lembaga pendidikan Diniyah School di Padang-panjangserta Sumatera Thawalib di Padangpanjang dan Parabek. Pelaksanaan pendidikan waktuitu masih bersifat tradisional dengan emnggunakan system halaqoh. Materipendidikan waktu itu masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik sepertinahwu, sharaf, manthiq bayan, fiqh dan sejenisnya. Pendekatan pendidikan dilakukandengan menekankan pada sapek hafalan. Meskipun padanya diajarkan membaca danmenulis Arab dan latin, tetapi diutamakan adalah mempelajari kitab-kitab Arabklasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah rendah di Mesir. Akibatnya,banyak dia antara teman-temannnya yang fasih membaca kitab, tetapi tidak bisamenulis dengan baik. HAMKA tidak puas dengan sistem pendi-dikan semacam ini,tetapi ia tetap berusaha mengikutinya dengan baik.Dalam menerima berbagai informasi pendidikan karya-karya ilmuwan non-muslim, iamenunjukkan sikap hati-hati. Sikap demikian dilatatarbelakangi oleh dia pikiran,pertama, dalam bidang sejarah ia melihat adanya kesalahan data dan fakta yangsesungguhnya. Misalnya tentang persoalan di seputrar masuknya Islam ke Nusantara.Menurutnya, Islam masuk melalui saudagar dari Arab (Mekkah), bukan dari Gujaratmaupun Persia. Kedua, dalam bidang keagamaan, terdapat upaya untuk mendiskreditkanIslam. Tidak sedikit para penulis tersebut memberikan pesan misionaris.Sistem pendidikan tradisional, membuat-nya merasa kurang puas. Kegelisahanintelektual yang dialaminya menyebabkan ia berhasrat merantau guna menambahwawasannya. Tujuannya adalah pulau Jawa. Awalnya ia hendak ke Pekalongan mengun-jungi kakak iparnya, H. Sutan Mansur, tetapi ia dilarang ayahnya karena khawatirdengan perkembangan komunis waktu itu. Namun, akhirnya ia diizinkan danberangkatlah menumpang seorang saudagar yang hendak ke Jogjakarta dan Pekalongan.Di Peka-longan, tinggal bersama pamannya dan belajar dengan beberapa ulama sepertiKi Bagus Hadikusuma (tafsir), RM. Soeryo-pranoto (sosiolog), KH. Mas Masur(filsafat dan tarikh Islam), Haji Fachruddin, HOS Tjokroaminoto (Islam dansosialisme), Mirza Wali Ahmad Baig, A. Hasan Bandung dan terutama AR SUtan Mansur.Di Jogja, ia berkenalan dan sering melakukan diskusi dengan teman-teman seusianyayang memiliki wawasan luas dan cendekia. Mereka antara lain adalah MuhammadNatsir. Di sini, ia mulai berkenalan dengan ide pembaruan gerakan Sarekat Islamdan Muhammadiyah. Ide-ide modernisasi yang dihembuskan oleh pemikir Ilsam waktuitu telah banyak mempengaruhi pembentukan atmosfer pemikirannya tentang Islamsebagai suatu ajaran hidup, inklusif dan dinamis. Di sini, ia melihat perbedaanyang demikian tajam antara Islam yang hidup di Minangkabau dengan Islam diJogjakarta.Pada tahun 1925, ia kembali ke Pekalongan. Ia banyak belajar dari iparnya AR.Sutan Mansur, baik tentang Islam maupun politik. Di sini, ia berkenalan denganide-ide pembaruan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan rasyid Ridha yangberupaya mendobrak kebekuan ummat. Perkenalan dengan pemikiran mereka ini ikutmempengaruhi wacana pembaruan yang dilakukannya. Juni 1925, ia kembali ke maninjaumembawa semangat dan wawasan baru Islam yang dinamis. Ia membawa beberapa buahtangan, yaitu pemikiran dinamis ilmuwan muslim waktu itu, paling tidak ada duabuah buku yang dibawanya dari jawa. Kedua buku itu adalah Islam dan Sosialisme(kumpulan pidato HOS. Tjokroaminoto) dan Islam dan Materialisme (salinan merdekadari AD. Hani atas karangan Jamaluddin Al-Afghani). Berbekal pengetahuannya, iamulai berani tampil berpidato di muka umum. Ia membuka wawasannya dengan
 
berlangganan surat kabar dari Jawa. Dan dengan surat kabar inilah ia juga mulaiberkenalan dengan beberapa pemikiran yang berkembang waktu itu, baik pemikirandalam maupun luar negeri. Sperti pemikiran, Soekarno, Mustafa Kemal Attaturk danlain sebagainya. Ia sendiri tetap belajar tentanga dat daerahnya dengan Dt. SingoMangkuto dan membuka kursus pidato Tabligh Muhammadiyah dengan menulis naskah
 kumpulan idatonya pada buku dengan judul Khatib al-Ummah.Tahun 1927 ia berangkat ke Mekkah untu menunaikan haji sambil mejadi kores-pondenharian Pelita Andalas. Sekem-balinya dari Mekkah, ia tidak langsung ke
 Minangkabau, tetapi singgah di Medan untuk beberapa waktu lamanya. Di Medan, iabanyak menulis artikel di pelbagai majalah, seperti Seruan Islam di Tanjungpura,
 Bintang islam dan Suara Muhammadiyah. Atas desakan iparnya AR. Sutan Mansur,
 ia kemudian diajak kembali ke Padangpanjang menemui ayahnya yang demikianmerindukannya. Di sini, ia dinikahkan dengan Siti Raham, ia dikaruinai 11 anak,antara lain Hisyam (meninggal usia 5 tahun), Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan,Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu
 setengah tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973 ia menikah lagi dengan seorangperempuan Cirebon, yaitu Hj. Siti Khadijah. Perkawinan keduanya ini tidakmemperoleh keturunan karena faktor usia.Pemikiran dan KaryanyaKreatifitas jurnalistik HAMKA makin kelihatan melalui beberapa karya tulisnya.Tahun 1928, HAMKA menulis roman per-tamanya Si Sabariyah. Ia juga memimpin
 majalah Kemajuan Zaman di Medan. Pada tahun 1929, muncul buku-bukunya Sadjarah
 Sajjidina Abubakar Shidiq, Ringkasan Tarich Umat Islam, Agama dan Perempuan,Pembela Islam dan Adat Minangkabau (kemudian buku ini dilarang oleh KolonialBelanda). Karirnya di Muhammadiyah makin diperhitungkan ketika pidatonya Agama
 Islam dan Adat Minangkabau disampaikannya pada Kongres Muhammadiyah ke-19 di
 Bukittinggi 1930. Berkat kepiawaiannya dalam berdakwah, di ia diundang ke berbagaitempat di Sumetera seperti Bengkalis, bagan Siapiapi, Labuhan Bilik, Medan danTebing Tinggi. Kepiawaiannya juga terlihat pada saat berpidato di KongresMuhammaiyah berikutnya di Jogjakarta tahun 1931 dengan judul Muhammadiyah di
 Sumatera. Ketika di Makassar, melak-sanakan tugasnya sebagai mubaligh
 Muhammadiyah, ia menerbitkan al-Mahdi sebuah majalah yang juga memuat
 pengetahuan Islam yang terbit sebulan sekali.HAMKA memiliki peran yang luas dalam pembaruan Islam di Makasar dan Minang-kabau.Ia menawarkan model pendidikan Islam yang reformis. Bahkan, melalui ide-idepembaruannya, ia membuka wawasan intelektual ummat Islam dan mensejajarkanpendidikan Islam dengan pendidikan yang dikelola pemerintah Kolonial. Ia mencobamelakukan periodesasi perjalanan intelek-tualnya delam empat periode: pertama,masa munculnya konversi intelektual. Proses ini terjadi tatkala ia melihat adanyaketimpangan terhadap pola pemikiran ummat Islam yang jumud, serta pendidikan Islamyang hanya berorientasi Arab dan dikotomis. Kedua, tahap pencarian identitas danpembentukan wawasan intelektual. Masa ini dipengaruhi oleh pemikiran ketika iabelajar di Pekalongan dan Jogjakarta. Persentuhannya dengan ide-ide Islam modernisyang berkembang waktu itu, telah ikut mempengaruhi warna dan dinamikapemikirannya. Ketiga, tahap pengemba-ngan intelektual awal. Masa ini adalahsetelah kembali dari Jawa. Dinamika ini bisa dilihat dari upayanya mengembangkanide pembaruan, baik ketika di Minangkabau maupun di Medan dan Makassar. Prosestersebut dilakukan melalui wadah Muhammadiyah maupaun karya-karyanya. Keempat,tahap pengembangan intelektual kedua dan pemaparan pemikiran-pemikiranpembaruannya. Masa ini diawali ketika berangkat ke Jakarta, dan terutama tahun1952 sampai akhir hayatnya.Ketika zaman Jepang, HAMKA memang sempat mendapat posisi sebagai anggota Syu SangiKai (Dewan Perwakilan Rakyat), setelah banyak sekali pelarangan yang dilakukanJepang terhadap perkumpulan dan majalah yang dipimpinnya. Dan sikap kompromi

Activity (37)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
herlas liked this
Nurul Aini added this note
i like it...............
Alay Ngalay liked this
Fae Wb liked this
Fae Wb liked this
Feby Polymorpa liked this
Abufaqih Surjana liked this
suryadikadir liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->