Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kontroversi Ucapan Selamat Natal

Kontroversi Ucapan Selamat Natal

Ratings: (0)|Views: 11|Likes:
Published by Dwi Yoga Pranoto
Rumaysho.com

Serial al Wala’ wal Baro’

Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Ucapan selamat natal sejak beberapa tahun ini menjadi kontroversi. Sebagian kalangan membolehkan kaum muslimin untuk mengucapkan selamat natal pada nashrani karena dianggap sebagai bentuk ihsan (berbuat baik). Dalil yang digunaka
Rumaysho.com

Serial al Wala’ wal Baro’

Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Ucapan selamat natal sejak beberapa tahun ini menjadi kontroversi. Sebagian kalangan membolehkan kaum muslimin untuk mengucapkan selamat natal pada nashrani karena dianggap sebagai bentuk ihsan (berbuat baik). Dalil yang digunaka

More info:

Published by: Dwi Yoga Pranoto on Aug 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2011

pdf

text

original

 
Rumaysho.com
Serial al Wala’ wal Baro’
 
1
Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga,para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Ucapan selamat natal sejak beberapa tahun ini menjadi kontroversi. Sebagian kalangan membolehkankaum muslimin untuk mengucapkan selamat natal pada nashrani karena dianggap sebagai bentuk
ihsan
 (berbuat baik). Dalil yang digunakan dalam membolehkan hal ini adalah firman Allah
Ta’ala
,
ٗتٔ   ب ب ِغمر ٘ٗشجر ؤ وس ٔ  وش    ٔف وٔرم   ٔ   و   ٔِغم[خزل حسع:
8
].
 Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiadamemerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allahmenyukai orang-orang yang berlaku adil.
(QS. Al Mumtahanah: 8). Inilah di antara alasan untukmelegalkan mengucapkan selamat natal pada orang nashrani. Mereka memang membawakan dalil,namun apakah pemahaman yang mereka utarakan itu membenarkan mengucapkan selamat natal?Semoga Allah menolong kami untuk menyingkap tabir manakah yang benar dan manakah yang keliru.Hanya Allah yang beri pertolongan.
Sebab Turun Ayat
Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Dalam hal ini ada beberapa pendapat di kalangan ahlitafsir 
1
. Di antara pendapat tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun p
ada Asma’ binti Abi
Bakr 
radhiyallahu ‘anhuma
-, di mana ibundanya
Qoti
lah binti ‘Abdil ‘Uzza
- yang musyrik
2
dan ia
1
Sebagian ulama pakar tafsir (seperti Qotadah) menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 berlaku untuksemua orang kafir. Jadi kita diperintahkan untuk berlaku baik dengan orang kafir. Namun menurut pendapat ini,ayat tersebut telah mansukh (dihapus) dengan surat At Taubah ayat 5 yang memerintahkan untuk memerangiorang kafir (Lihat
Zaadul Masiir 
, Ibnul Jauziy, 6/19,Mawqi’ Al Islam). Akan tetapi, pakar tafsir lainnya tetap
menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 adalah ayat yang tidak mansukh dan mereka berdalil dengan
kisah Asma’ binti Abu Bakr (Lihat
Tafsir Juz Qod Sami’a
, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 170, Maktabah Makkah,
cetakan pertama, tahun 2003 ).
2
 
Kebanyakan ulama mengatakan bahwa ibu Asma’ mati dalam keadaan musyrik. Sebagian ulama menga
takan
bahwa ibunya mati dalam keadaan Islam. Nama ibu Asma’ ada yang menyebut Qoylah dan ada pula yang
menyebut Qotilah. (Lihat
Syarh Muslim,
An Nawawi, 7/89, Dar Ihya’ At Turots Al Arobi, Beirut, cetakan kedua,
1392). Qotilah adalah istri Abu Bakr yang sudah dicerai di masa Jahiliyah. (Lihat
‘Umdatul Qori Syarh Shahih Al
Bukhari,
Badaruddin Al ‘Aini Al Hanafi, 20/169, Asy Syamilah)
 
 
Rumaysho.com
Serial al Wala’ wal Baro’
 
2
diperintahkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
untuk tetap menjalin hubungan denganibunya. Ini adalah pendapat dari
‘Abdullah bin Az Zubair.
3
 
Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “
Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik
”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut, Asma’ mengatakan
,
جٖ ٔ ٔف ًخجٔس ؤ زرؤ-ع   -ٖجٖ ذإغف-ع   - ٔآ«»
 
Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya
4
. Kemudian akumenanyakan pada Nabi
sha
llallahu ‘alaihi wa sallam
 ,
bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya?
Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.”
 
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa
setelah itu Allahmenurunkan firman-Nya
(yang artinya), “
 Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adilterhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama
(QS. Al Mumtahanah: 8)
5
 
Makna Ayat
Ibnu Jarir Ath Thobari -
rahimahullah
- mengatakan,
“Allah tidak melarang kalian
untuk berbuat baik,menjalin hubungan dan berbuat adil dengan setiap orang dari agama lain yang tidak memerangi kaliandalam agama. Karena Allah
Ta’ala
berfirman (yang artinya)
,
 Allah tiada melarang kamu untuk berbuatbaik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula)mengusir kamu dari negerimu
. Setiap orang yang mempunyai sifat dalam ayat ini patut bagi kita berlakuihsan (baik) padanya. Tidak ada yang dispesialkan dari yang lainnya.
6
 Ibnu Katsir -
rahimahullah
- menjelaskan
,
Allah tidak melarang kalian berbuat ihsan (baik) terhadaporang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin dalam agama dan juga tidak menolong mengeluarkanwanita dan orang-orang lemah, yaitu Allah tidak larang untuk berbuat baik dan berbuat adil kepadamereka. Karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.
7
 
Loyal (Wala’) pada Orang Kafir itu Terlarang
 
Wala’
(loyal) tidaklah sama dengan berlaku ihsan (baik).
Wala’ secara istilah bermakna
menolong,memuliakan dan loyal dengan orang yang dicintai.
8
 
Sehingga wala’ (loyal) pada ora
ng kafir akanmenimbulkan rasa cinta dan kasih sayang dengan mereka dan agama yang mereka anut. Larangan loyalterhadap orang kafir ini sudah diajarkan oleh kekasih Allah
–Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
- dan kita punselaku umat Islam diperintahkan untuk mengikuti jalan beliau. Allah
Ta’ala
berfirman,
3
Lihat
Zaadul Masiir 
, Ibnul Jauziy, 8/236-237, Al Maktab Al Islami Beirut, cetakan ketiga, tahun 1404 H.
4
Makna ini berdasarkan riwayat Abu Daud. Al Qodhi mengatakan bahwa makna lain dari
roghibah
adalah benci
dengan Islam. Jadi, ibunda Asma’ sangat benci dengan Islam, sehingga ia pun bertanya pada Rasul
shallallahu
‘alaihi wa sallam
, apakah masih boleh ia menjalin hubungan dengan ibunya. Lihat
Syarh Muslim,
An Nawawi, 7/89.
5
HR. Bukhari no. 5798.
6
 
 Jaami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an
, Ibnu Jarir Ath Thobari, Muhaqqiq: Ahmad Muhammad Syakir, 23/323, MuassasahAr Risalah, cetakan pertama tahun 1420 H.
7
 
Tafsir A
l Qur’an Al ‘Azhim
, Ibnu Katsir, Muhaqqiq: Sami bin Muhammad Salamah, 8/90, terbitan Dar At Thoyibah,cetakan kedua, 1420 H.
8
Lihat
 Al Wala’ wal Baro’
, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani, hal. 307, Asy Syamilah.
 
 
Rumaysho.com
Serial al Wala’ wal Baro’
 
3
شو ٔ ٔ ٔ جر ٖٔ ىٔ ءشث ٖب ٔمٔ  ب  ٔ ٔ٘شثب ٔف ٌخغ ٌحعؤ ى ذو   ٔث ٔار ٖز ًثؤ ءج ح ىث ث ث ىث
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamadengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : "Sesungguhnya kami berlepas diri daripadakamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antarakami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah sa
 
 ja.
"(QS. Al Mumtahanah: 4)Di samping ini adalah ajaran Nabi Ibrahim,
larangan loyal (wala’) pada orang kafir 
juga termasuk ajaranNabi kita Muhammad
shal
lallahu ‘alaihi wa sallam
. Allah
Ta’ala
berfirman,
  ب ٔ ٖةف ى ز   ٍث ءٔؤ ث ءٔؤ سٖ  ٔٖزر  آ ٔ ٗ ؤ   ٔٔ م ٔ 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadipemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganmereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim
.” (QS. Al Maidah: 51)
 
Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang
kafir adalah sesuatu yang diharamkan.
9
 
Perlu Dibedakan a
ntara Ihsan (Berbuat Baik) dan Wala’ (Loyal)
 
Perlu kiranya dipahami bahwa
birr 
atau
ihsan
(berbuat baik) itu jauh berbeda dengan
wala’
(bersikaployal).
Ihsan
adalah sesuatu yang dituntunkan.
Ihsan
itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orangkafir. Sedangkan bersikap
wala
pada orang kafir tidak diperkenankan sama sekali.Fakhruddin Ar Rozi -
rahimahullah
-
mengatakan, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (
birr 
) kepadamereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (
wala’
) pada mereka. Inilahbentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin berbuat baik (
birr 
) dengan orang musyrik. Namun dalam halloyal (
wal
a’
) pada mereka itu tidak dibolehkan.”
10
 
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “
Berbuat baik, menyambung hubungan kerabat dan berbuat ihsan(terhadap non muslim) tidaklah melazimkan rasa cinta dan rasa sayang (yang terlarang) padanya.Sebagaiman rasa cinta yang terlarang ini disebutkan dalam firman Allah,
عس ّ ّ  ّ  شٔ  ٔّث ٔا   ر 
 
9
Lihat
 Al Muhalla
, Ibnu Hazm, 11/138, Mawqi
’ Ya’sub.
 
10
 
Mafatihul Ghoib,
Fakhruddin Ar Rozi, 15/325, Mawqi’ At Tafasir.
 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->