Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
kekeringan

kekeringan

Ratings: (0)|Views: 675|Likes:
Published by Marhaen Net

More info:

Published by: Marhaen Net on Aug 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, ODT, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/24/2011

pdf

text

original

 
PENDAHULUANBanjir dan kekeringan merupakan dua kejadian ekstrimitas yang berbeda seperti dua sisi dari satukeping mata uang logam. Kejadian tersebut silih berganti, bahkan diprakirakan tidak akan dapat diatasidalam jangka menengah. Fakta sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa besaran banjir dankekeringan baik intensitas, frekuensi, durasi dan dampak yang ditimbulkan terus meningkat.Perbandingannya, tahun 1997 lahan sawah yang terkena banjir seluas 58.197 ha, sementara tahun 2006yang terkena meningkat seluas 322.476 ha (554%). Sedangkan untuk kekeringan, luas sawah yangterkena pada tahun 1998 seluas 161.601 ha dan meningkat tajam pada tahun 2006 dengan luas sawahyang terkena mencapai 267.088 ha (60%). Tahun 1997 merupakan kejadian ekstrim dengan adanyafenomena El-Nino kuat sehingga lahan sawah yang terkena kekeringan mencapai 517.614 ha.Sementara di Jawa kondisinya lebih memprihatinkan lagi karena dengan kemampuan memasok 50-55% produksi padi nasional, sebagian besar lahan sawah beririgasi dan tadah hujan yang rawankekeringan 1. 448 829 ha (42%), rawan banjir 340 698 ha (9%), rawan banjir dan kekeringan 427 894ha (13%), dan hanya 36% yang tidak rawan. Proporsi ini dipastikan akan terus memburuk karena lahanyang sampai saat ini belum rawan banjir dan kekeringan dapat berubah menjadi rawan banjir, rawankekeringan atau rawan keduanya. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa banjir dan kekeringan merupakanmasalah nasional yang harus diselesaikan secara bertahap dengan mengerahkan segala sumberdaya dansemua pemangku kepentingan.Paling tidak ada enam argumen yang mendasari disusunnya buku cetak biru pengelolaan banjir dankekeringan partisipatif ini: (i) peningkatan luas wilayah persawahan yang terkena banjir dankekeringan, dengan dampak penurunan produksi sampai gagal panen (puso) terus meningkat (ii) terjadi banjir dan kekeringan pada tahun yang sama saat terjadi anomali iklim maupun kondisi iklim normal(iii) transisi dan periode ulang (return period) anomali iklim cenderung acak (randomized), sehinggasangat menyulitkan dalam adaptasi (iv) kekeringan dan banjir berulang pada tahun yang sama di lokasiyang sama (v) dampak anomali iklim bervariasi antara wilayah dan antar waktu (vi) banjir dankekeringan hanya dapat diturunkan besarannya tetapi tidak dapat dihilangkan, sehingga diperlukan pengelolaan terencana dengan semua pemangku kepentingan.Berdasarkan ilustrasi kompleksitas, dinamika dan dampak masalah banjir dan kekeringan, makadiperlukan pengelolaan partisipatif dengan memberikan hak dan kewajiban yang proporsional terhadapsemua pemangku kepentingan dengan menekankan tindakan penyesuaian dan anitisipatif agar risikoyang ditimbulkan dapat direduksi dan diantisipasi lebih dini.Buku I cetak biru terdiri atas 4 (empat) bab yaitu Bab I berisi tentang Pendahuluan, Bab II menguraikantentang Terminologi mengenai Banjir dan Kekeringan antara lain tentang Pengertian Banjir danKekeringan, Penyebab Banjir dan Kekeringan serta sebaran Wilayah Banjir dan Kekeringan.Bab III menguraikan tentang Dampak Banjir dan Kekeringan terhadap Produksi Padi. Dampak banjir dan kekeringan menunjukkan kecenderungan peningkatan luas areal terkena dan puso serta Kejadian banjir dan kekeringan yang berulang di tahun yang sama dan lokasi yang sama sehingga menimbulkandampak yang sangat besar terhadap penurunan produksi pertanian khususnya padi.Bab IV menguraikan tentang Kerangka Pikir Pengelolaan Banjir dan Kekeringan. Pengelolaan banjir dan kekeringan harus dilakukan melalui pendekatan strategis, antisipatif, dan operasional yangdifokuskan pada ketiga pendekatan yang partisipastif dari seluruh pemangku kepentingan berdasarkan prioritas wilayah penanganan kerawanan banjir dan kekeringan. Pendekatan tersebut meliputi: penentuan prioritas pengelolaan banjir dan kekeringan, identifikasi faktor penyebab banjir dankekeringan serta metode pengelolaannya.Berdasarkan data pemantauan lapangan kejadian banjir dan kekeringan, maka ada tiga faktor dominan
 
 penyebab banjir yang harus diperhitungkan yaitu faktor klimatologis, hidrologis dan agronomis. Letak geografis diantara dua benua, dan dua samudra serta terletak di sekitar garis khatulistiwa merupakanfaktor klimatologis dominan keragaman iklim penyebab banjir dan kekeringan di Indonesia. Posisigeografis ini menyebabkan Indonesia berada pada belahan bumi dengan iklim monsoon tropis yangsangat sensitif terhadap anomali iklim baik El-Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean DipoleMode (IOD) maupun Median Jullien Oscillation (MJO). ENSO menyebabkan terjadinya kekeringanapabila menghangat (El Nino), sebaliknya menyebabkan terjadinya banjir jika pendinginan (La Nina).Pengaruh IOD dibagi menjadi dua, IOD positif menyebabkan penurunan di wilayah Indonesia bagianselatan, sedangkan IOD negatif menyebabkan terjadinya curah hujan tinggi di wilayah yang sama.Sementara MJO akan berpengaruh pada awal musim hujan yang dimulai dari bagian barat Sumatera bergerak terus ke timur.Hasil analisis iklim 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan terbentuknya polaiklim baru yang mengarah terjadinya perubahan iklim. Tahun 2007 perubahan itu antara lain dicirikanterjadinya dua periode musim kemarau dan musim hujan dalam satu tahun (), sehingga pola curahhujan berubah dari mono modal menjadi bimodal. Dampak negatif terhadap sektor pertanian yang paling signifikan adalah bergesernya awal musim hujan dengan banjirnya dan kemarau dengankekeringannya. Implikasi langsungnya adalah kacaunya pola tanam, perubahan durasi musim danintensitasnya. Perubahan iklim ini diperburuk dengan terjadinya degradasi Daerah Aliran Sungai(DAS), sehingga mengganggu neraca air hidrologis. Implikasinya, terjadinya kelebihan air pada musimhujan dan atau kekurangan air pada musim kemarau, sehingga menyebabkan banjir dan ataukekeringan di lahan pertanian, kerusakan pertanaman padi, menurunnya produksi bahkan di beberapawilayah mengalami puso.Secara ilmiah, variabilitas iklim antar wilayah dan waktu akibat anomali dan atau perubahan iklimtidak dapat dikendalikan. Antisipasi melalui pendekatan adaptasi yang paling operasional adalah pendekatan klimatologis, hidrologis dan agronomis yang selama ini belum optimal dilakukan petani.Berdasarkan pelajaran dan pengalaman kejadian banjir dan kekeringan sebelumnya, maka sudahselayaknya sektor pertanian dirancang lebih bersahabat dengan fenomena tersebut melalui adaptasi jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Dengan peningkatan kemampuan sumber daya petani, diharapkan petani akan lebih menyadari dan lebih disiplin dalam mentaati jadwal tanam yangketat dan pilihan komoditas yang tepat.BANJIR DAN KEKERINGANA. Pengertian Banjir dan KekeringanBanjir adalah tergenangnya lahan pertanian selama periode genangan dengan kedalaman tertentu,sehingga menurunkan produksi pertanian. Sedangkan kekeringan adalah tidak terpenuhinya kebutuhanair mendukung proses produksi pertanian secara optimal, sehingga menurunkan produksi pertanian.B. Penyebab Banjir dan KekeringanSecara faktual faktor determinan penyebab banjir dan kekeringan adalah kondisi iklim ekstrim,terganggunya keseimbangan hidrologis, dan penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukannya.Besaran banjir dan kekeringan sangat ditentukan jumlah, intensitas faktor penyebab serta durasiterjadinya.Penyimpangan iklim akibat ENSO, IOD dan MJO menyebabkan produksi uap air dan awan di sebagianIndonesia bervariasi dari ekstrimitas tinggi ke rendah atau sebaliknya, sehingga menyebabkan penyimpangan iklim terhadap kondisi normalnya. Interaksi ketiga faktor tersebut sangat menentukan besaran faktor klimatologis yang terjadi.Kekeringan dan banjir juga dipengaruhi faktor hidrologis yang diindikasikan dari perbedaan debitsungai maksimum dan minimum. Kerusakan hidrologis umumnya terjadi akibat degradasi Daerah
 
Aliran Sungai (DAS) terutama bagian hulu yang lerengnya terjal dan mengalami alih fungsi lahan dari bervegetasi menjadi non vegetasi yang tidak meloloskan air (impermeable). Menurut data DepartemenKehutanan, dari 470 DAS di Indonesia, 62 DAS diantaranya kritis, sehingga seringkali mengalami banjir dan kekeringan. Sesuai dengan kesepakatan tiga menteri (Menteri PU, Kehutanan, danPertanian) tanggal 9 Mei 2007 di Bogor, maka dalam rangka penyelamatan sumber daya air, DAS-DASkritis tersebut menjadi prioritas penanganan antar sektor (DAS kritis prioritas terlampir). Produksisedimen yang tinggi akan mendangkalkan waduk, sungai dan saluran, sehingga menurunkan kinerjalayanan irigasi. Laju kerusakan yang jauh lebih tinggi dibandingkan rehabilitasinya, menyebabkanmasalah banjir dan kekeringan di wilayah hilir semakin besar.Lahan pertanian terutama di daerah hilir yang sumber airnya dari bendung atau bendungan (bangunan penangkap air di sungai) kinerjanya sangat dipengaruhi kerusakan hidrologis akibat menurunnyakapasitas tampung saluran dan pasokan air secara signifikan. Kerusakan hidrologis daerah tangkapanair bagian hulu menyebabkan waduk dan saluran irigasi terisi sedimen, sehingga kapasitas tampung air menurun tajam. Terjadinya curah hujan ekstrim tinggi menyebabkan airnya melimpas sehinggaterjadilah banjir. Sebaliknya, rendahnya cadangan air waduk yang disimpan pada musim penghujanmenyebabkan cadangan air musim kemarau sangat rendah sehingga merupakan pemicu terjadinyakekeringan.Kerusakan hidrologis juga menyebabkan aliran air sungai menurun drastis atau bahkan tidak ada samasekali. Data dari Departemen PU, menunjukkan bahwa terdapat 5.590 sungai induk yang terhimpunkedalam 89 Satuan Wilayah Sungai (SWS). Dari sejumlah sungai induk tersebut, 600 sungaidiantaranya berpotensi menimbulkan banjir, 62 diantaranya tergolong kritis dan super kritis.Penentuan jadwal tanam dan pemilihan jenis komoditas tanpa memperhitungkan ketersediaan air merupakan penyebab terjadinya kekeringan agronomis. Fenomena ini banyak dijumpai pada lahansawah irigasi golongan III ke atas, lahan-lahan tadah hujan ataupun areal gadu liar. Dampak negatif yang paling ekstrim akibat gadu liar adalah puso. Kekeringan agronomis umumnya terjadi akibatkebiasaan (habit) petani yang memilih memaksakan menanam padi walaupun ketersediaan airnya tidak mencukupi. Diperlukan bimbingan dan penyuluhan intensif, percontohan penyesuaian dan pengawalan pola tanam yang tepat, pembukaan peluang pasar komoditas alternatif, serta pemberdayaan petaniuntuk mengurangi beban kerugian yang dialami.C. Wilayah Banjir dan KekeringanWilayah banjir dan kekeringan sebagian besar berada di daerah aliran sungai yang kondisihidrologisnya mengalami kerusakan. Wilayah banjir umumnya tersebar di :Dataran rendah dan berdrainase buruk,Sepanjang wilayah sungai terutama dataran banjir (flood plain) danDaerah pantaiWilayah kekeringan umumnya tersebar di :Areal pertanian tadah hujanDaerah irigasi golongan 3Daerah gadu liaDaerah endemik kekeringanKERANGKA PIKIR PENGELOLAAN BANJIR DAN KEKERINGANSampai saat ini data, peta dan informasi tabular, spasial dan temporal tentang banjir dan kekeringanmasih dikumpulkan dan disimpan di berbagai instansi Pemerintah seperti Departemen PekerjaanUmum, Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana, Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan,Kantor Menteri Lingkungan Hidup, Departemen Dalam Negeri, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional maupun swasta. Fragmentasi data dan informasi banjir dan kekeringan ini sangat menyulitkan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->