Wiro SablengPendekar Kapak Maut Naga Geni 212Keris Tumbal Wilayuda
WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212Karya: BASTIAN TITO
KERIS TUMBAL WILAYUDA
PROLOG
SUARA beradunya berbagai macam senjata, suara bentakan garang ganas yangmenggeledek di berbagai penjuru, suara pekik jerit kematiansera suara mereka yang merintihdalam keadaan terluka parah dan menjelang meregang nyawa, semuanya menjadi satumenimbulkan suasana maut yang menggidikkan!Di mana-mana darah membanjir! Di mana-mana bertebaran sosok-sosok tubuh tanpanyawa! Bau anyir darah memegapkan nafas, menggerindingkan bulu roma! Pertempuran ituberjalan terus, korban semakin banyak yang bergelimpangan, mati dalam cara berbagai rupa.Ada yang terbabat putus batang lehernya. Ada yang robek besar perutnya sampai ususnyamenjela-jela. Kepala yang hampir terbelah, kepala yang pecah, dada yang tertancap tombak.Kutungan-kutungan tangan serta kaki!Di dalam istana keadaan lebih mengerikan lagi. Mereka yang masih setia dan berjuangmempertahnkan tahta kerajaan, yang tak mau menyerah kepada kaum pemberontak meski jumlah mereka semakin sedikit, terpaksa menemui kematian, gugur dimakan senjata lawan!Istana yang pagi tadi masih diliputi suasana ketenangan dan keindahan, kini tak bedaseperti suasana dalam neraka! Mayat dn darah kelihatan di mana-mana. Pekik jerit kematiantiada kunung henti. Perabotan istana yang serba mewah porak poranda. Pihak yang bertahansemakin terdesak. Agaknya dalam waktu sebentar lagi mereka akan tersapu rata dengan lantaiyang dulu licin berkilat tapi kini dibanjiri oleh darah!“Wira Sidolepen dan Braja Paksi, menyerahlah!,” teriak seorang laki-laki berbadankekar dan berkumis melintang. Seperti kedua orang yang dibentaknya itu diapun mengenakanpakaian perwira kerajaan.Bradja Paksi -- kepala balatentara Banten -- menggerang dan balas membentak."Bangsat pemberontak! Meski nyawaku lepas dari tubuh, terhadapmu aku tak akanmenyerah!”