Wiro SablengPendekar Kapak Maut Naga Geni 212Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin
“Hari ini kuperbolehkan kau meninggalkan tempat ini,Pranajaya. Tapi kelak dikemudian hari kau musti kembali kemariuntuk menuntut satu ilmu baru yang sekarang ini kugodok. Kaupergi dari sini dan musti berhasil mencari ketiga manusia yang telahmembunuh kau punya bapak.... Tempo hari aku sudah pernahterangkan. Kau masih ingat siapa nama julukan ketiga manusia itu?”“Mereka adalah Tiga Setan Darah, guru,” jawab Pranajaya.“Betul,” kata sang guru. “Ketiganya berada di Kotaraja. Sudahsejak lama kuketahui hidup di sana sabagai bergundal-bergundalnyaBaginda. Tapi ingat Prana! Sekali-kali jangan selesaikan perhitunganmudengan mereka di dalam Kotaraja. Itu barbahaya besar karena Kotarajapenuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu yang menjadi kaki tanganBaginda…““Dengan bekal ilmu yang guru, wariskan serta pedang Ekasakti yang guru berikan tak satu lawanpun yang saya takutkan di atas bumiini. Apalagi saya tahu bahwa saya berada di atas kebenaran!”Empu Blorok tersenyum dan rangkapken kedua tangannya dimukadada.“Aku sedang mendengar ucapan jantanmu,” kata Empu Blorokpula. “Tapi walau bagaimanapun membuat kegaduhan di dalamKotaraja sangat berbahaya bagi keselamatan jiwamu. Di samping itu akumengingat pula akan tugas yang hendak kuberikan padamu. Jadi Prana,ringkas kata kau musti membereskan Tiga Setan Darah di luar Kotaraja,bagaimana caranya terserah kau.”Sang murid manggut-manggutkan kepalanya. “Tadi gurumenyebutkan satu tugas untukku… Mohon penjelasan lebih lanjut,” kataPranajaya. “Bila perhitunganmu dengan Tiga Setan Darah telah selesaimaka kau harus pergi ke Pulau Seribu Maut.”Pranajaya tak pernah mendengar tentang pulau itu dan tidak pulatahu di mana letaknya. Maka diapun menanyakannya.“Pulau itu,” menjawab Empu Blorok, “terletak diujung timurpulau Jawa. Di situ bercokol seorang manusia bernama Bagaspati.