Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Modul PLPG Bimbingan Konseling

Modul PLPG Bimbingan Konseling

Ratings: (0)|Views: 89 |Likes:
Published by Taufik Agus Tanto
Modul PLPG Bimbingan Konseling
Modul PLPG Bimbingan Konseling

More info:

Published by: Taufik Agus Tanto on Sep 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/22/2011

pdf

text

original

 
 
1
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 
Satu Untuk UNM
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Modul disusun dengan maksud utama: memberi manfaat yang optimal bagikelancaran dan efektivitas pelaksanaan PLPG Bimbingan Konseling. Guna mencapai maksudtersebut, penggunaan modul perlu memperhatikan beberapa karakteristik penting dari modulini.
Pertama
, uraian materi dalam modul ini disusun dengan mengacu pada PeraturanMenteri Pendidikan Nasional nomor 27 tahun 2008 tentang Kualifikasi Akademik dan StandarKompetensi Konselor. Dua kompetensi utama yang menjadi fokus kajian dalam modul adalahkompetensi pedagogik dan komptensi profesional. Modul terdiri atas 10 Kegiatan Belajar(KB). Uraian materi pada Kegiatan Belajar (KB) 1, 2, 3, dan 4 didasarkan terutama padaRambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan Konseling di Institusi Pendidikan Formal(Depdiknas, 2009), sedangkan uraian materi pada KB 5, 6, 7, dan 8 dikembangkanberdasarkan referensi terkait yang tersedia. Uraian materi pada setiap kegiatan belajardiusahan sesimpel mungkin sehingga bahan yang ada dalam modul hanya memenuhistandar minimum dari apa yang seharusnya dipelajari dan dikaji. Oleh karena itu, fasilitatordan peserta perlu memperkaya dengan bahan lain dari sumber referensi terkait lainnya.
Kedua
, modul ini berisi
lesson plan 
berbasis
active-learning 
. Pelaksanaan pelatihanterutama berpusat pada peserta (
trainee-centered 
). Keaktifan dan keterlibatan penuh setiappeserta adalah kondisi esensial yang harus menyertai pelaksanaan setiap sesi pelatihan.Walaupun sesi pelatihan banyak menggunkan format kelompok dan klasikal, namunperhatian terhadap kondisi, keunikan, dan kebutuhan khas setiap peserta merupakan faktorpenentu keberhasilan pelatihan. Oleh karena itu, fasilitator perlu mengupayakan agar padasetiap sesi yang dilakukan, setiap peserta didorong untuk mampu mengeksplorasipermasalahan, pemikiran, ataupun pengalaman individualnya masing-masing. Di sampingitu, model prosedur, langkah-langkah, ataupun format-format yang ada pada setiap aktivitasbersifat opsional. Fasilitator dapat meramu, mengkombinasi, atau bahkan menggantinyadengan metode/format lain yang dirasa lebih cocok, sejauh tidak menyimpang dari tujuan-tujuan yang ingin dicapai pada unit KB yang bersangkuitan dan tetap menggunakan prinsip
active-learning 
.
Ketiga
, struktur modul disusun dan dengan memperhatikan urutan logis penguasaankompetensi pedagogik dan kompetensi profesional konselor. Unit Kegiatan Belajar 1, 2, 3,dan 4 dimaksudkan menjadi bahan pengganti pelatihan pada bagian Pendalaman Materidalam PLPG, sementara Unit Kegiatan Belajar 5, 6, 7, dan 8 dimaksukan untuk menjadibahan pelatihan pada bagian Model-Model Bimbingan Konseling. Masing-masing unit KB
 
 
2
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 
Satu Untuk UNM
berdurasi waktu 5 x 50 menit (kecuali unit KB 5 dan 8 yang berdurasi 6 x 50 menit). Urutanpenyajian unit KB dalam modul diharapkan dapat diikuti secara konsisten agar tidak mengacaukan pemahaman peserta terhadap keseluruhan isi modul. Begitu pula,pelaksanaan pelatihan pada setiap unit KB perlu memperhatikan alokasi waktu yangdisediakan untuk unit tersebut agar tidak mengganggu pelaksanaan pelatihan pada unit-unitKB berikutnya.Deskripsi isi dan alokasi waktu setiap unit Kegiatan Belajar diuraikan pada Matrik berikut.
NoKodeUnitJudul Kegiatan BelajarDurasiWaktu
1.
 
KB 1 Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling 5 x 50 menit2.
 
KB 2 Program Bimbingan dan Konseling 5 x 50 menit3.
 
KB 3 Asesmen dan Perencanaan Bimbingan Konseling 5 x 50 menit4.
 
KB 4 Organisasi, Fasilitas, dan Evaluasi Bimbingan Knbseling 5 x 50 menit5.
 
KB 5 Konseling Behavioristik 6 x 50 menit6.
 
KB 6 Konseling Rational Emotive Behavior Therapy 5 x 50 menit7.
 
KB 7 Konseling Humanistik 5 x 50 menit8.
 
KB 8 Keterampilan Dasar Konseling 6 x 50 menit
 
 
3
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 
Satu Untuk UNM
PENGANTAR Pendahuluan
Keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam sistem pendidikannasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru,dosen, pamong belajar, tutor, widya iswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal1 ayat 6). Kesejajaran posisi antara kualifikasi tenaga pendidik satu dengan yang lainnyatidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki kontekstugas, ekspektasi kinerja, dan seting pelayanan spesifik yang satu dan yang lainnyamengandung keunikan dan perbedaan. Oleh sebab itu, di dalam naskah ini konteks danekspektasi kinerja guru bimbingan dan konseling atau konselor mendapatkan penegasankembali dengan maksud untuk meluruskan konsep dan praktik bimbingan dan konseling kearah yang tepat.Merujuk pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, tenagapendidik di bidang bimbingan dan konseling disebut dengan Guru Bimbingan dan Konselingatau Konselor. Meskipun sama-sama berada dalam jalur pendidikan formal, perbedaanrentang usia peserta didik pada tiap jenjang memicu tampilnya kebutuhan pelayananbimbingan dan konseling yang berbeda-beda pada tiap jenjang pendidikan. Batas ragamkebutuhan antara jenjang yang satu dengan jenjang yang lainnya tidak terbedakan sangattajam. Dengan kata lain, batas perbedaan antar jenjang tersebut lebih merupakan suatuwilayah. Di pihak lain, perbedaan yang lebih signifikan tampak pada sisi pengaturanbirokratik, seperti misalnya di Taman Kanak-kanak sebagian besar tugas guru bimbingan dankonseling atau konselor ditangani langsung oleh guru kelas taman kanak-kanak. Sedangkandi jenjang Sekolah Dasar, meskipun memang ada permasalahan yang memerlukanpenanganan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor, namun cakupanpelayanannya belum menjustifikasi untuk ditempatkannya guru bimbingan dan konselingatau konselor di setiap Sekolah Dasar, sebagaimana yang diperlukan di jenjang sekolahmenengah (SMP/MTs, SMA/MA, SMK). Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan siswadidik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harusdilaksanakan oleh guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling atau konselor, dantenaga pendidik dan kependidikan lainnya sebagai mitra kerja. Sementara itu masing-masingpihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri danpencapaian kompetensi peserta didik. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara gurubimbingan dan konseling atau konselor dengan guru mata pelajaran, antara lain dapatdilakukan melalui kegiatan rujukan (
referral 
). Masalah-masalah perkembangan peserta didik 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->