Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Everything's OK (Tintin Wulia, 2003)

Everything's OK (Tintin Wulia, 2003)

Ratings: (0)|Views: 152|Likes:
Published by adaidenggak

More info:

Categories:Types, Reviews, Film
Published by: adaidenggak on Sep 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2011

pdf

text

original

 
KUMPULAN ARSIP TULISAN KELOMPOK DISKUSI FILEM A.I.G.?
Everything’s OK (Tintin Wulia, 2003): Jelas, Kota Bermasalah!*
Penulis:Tooftolenk Manshur ZikriSumber:
 Jurnal Segiempat 
, Arsip Agustus 2011, Laman Film ReviewPublikasi:http://jurnalsegiempat.wordpress.comURL:
 
* Untuk karya video, silakan lihat di
 
!
 
 Jurnal Segiempat // Kelompok Diskusi Filem A.I.G.?
 
umum bahwa seorang pekerja seni menjadikan ruang dan aktivitas sehari-harinya menjadi lahan atau objek untuk menciptakan sebuah karya. Kritik dari para seniman yangtertuang dalam karya itu merupakan salah satu efek yang muncul kemudian dari fenomena yang berkembang di dalam ruang lingkup kesehariannya.Pernyataan ekspresi seniman-seniman ini lah yang kemudian menjadi bagian yang turut sertadipertimbangkan dalam usaha mencari solusi dan pembentukan kebijakan untuk menyelesaikanmasalah yang tumbuh setiap hari, bahkan setiap waktu, atau juga untuk menjadi referensi dalamusaha membaca dan memprediksi dari perkembangan fenomena itu kedepannya. Dengan katalain, menilik dan membaca sebuah karya seniman yang berasal dari latar belakang tertentu dapatdijadikan celah untuk membaca tatanan kehidupan para insan dalam ruang lingkup yangdimaksud, atau sebaliknya, kecenderungan dan kebiasaan serta budaya dari manusia di ruanglingkup tertentu bisa membantu untuk menerjemahkan maksud seniman atas karyanya.
Kelompok Diskusi Filem Ada Ide Nggak?, FISIP, Universitas Indonesia[2]
 
 Jurnal Segiempat // Kelompok Diskusi Filem A.I.G.?
Dua sudut pandang ini saling berhimpit dan menjadi satu kesatuan. Dan itu akan kita coba untuk membaca dan menginterpretasi karya Tintin Wulia, 
 Everything’s OK 
 
 
(2003), yang menjadikankota Jakarta sebagai objek dan soal dalam sebuah karya video berdurasi 5 menit. Ada beberapa alasan mengapa karya video Tintin yang akan kita bahas dalam tulisan ini.Pertama karena kehadirannya yang menjadi salah satu karya penting dalam waktu sepuluh tahunterakhir dalam perkembangan seni video di Indonesia. Kedua, selain dari segi kualitasnya yang mendapat apresiasi baik dari para pengamat seni video nasional maupun internasional, video inikita anggap memiliki keharusan untuk dibahas karena memuat konten yang sangat kuat, dan isuyang dibahas di dalamnya masih sangat relevan untuk diperbincangkan hingga sekarang ini.Ketiga, tidak lain adalah karena ada persoalan sosiologis dan kriminologis yang cukup pentinguntuk dibicarakan.
 Everything’s Ok 
 —beberapa kali masuk dalam festival video nasional dan internasional, salahsatunya 
OK. Video, JakartaVideo Art  Festival 2003
 —merupakan suatu sajian animasi denganteknik  
 stop motion
 yang menggabungkan 
image
 dan 
 footage
 
 pembuatan sebuah maketminiatur kota di atas kertas putih, yang secara gamblang dapat kita simpulkan sebagai miniatur Kota Jakarta. Di awal video, kita melihat beberapa rumah yang berdiri di lingkungan pepohonanasri (dan juga terdapat di antaranya semacam minatur orang-orangan yang sedang bersantai).Sekelabat kemudian, rumah demi rumah berdiri, dilanjutkan dengan pembangunan gedung bertingkat. Lahan tanah yang awalnya lengang menjadi semakin padat, terlebih lagi ketika  pembangunan kota bergerak cepat tak beraturan, berdirinya Tugu Monumen Nasional, dan kemudian (seolah) lenyap tak kelihatan karena terhalang oleh plang pembangunan apartemendan plang-plang iklan. Di tengah-tengah video, diperlihatkan adegan hujan uang dan lembaran-lembarannya membanjiri kota (miniatur kota). Di tengah-tengah banjiran uang itu lah muncul(yang diperlihatkan seperti kelahiran seorang bayi) Tugu Monumen Nasional. Dan di akhir video, gambaran lahan yang lengang itu diperlihatkan kembali, tetapi lahan lengang itu (yang disusun di atas sebuah kertas putih) ditaruh di atas kota yang semraut.Cukup unik ketika kita melihat video ini bahwa si pembuat video tidak mengemasnya menjadianimasi 
 stop motion
 yang umumnya biasa kita lihat, yaitu gambar benar-benar diperlihatkan bergerak sendiri. Dalam beberapa adegan di video ini, kita banyak melihat terekamnya dengasengaja tangan-tangan yang meletakkan miniatur-miniatur rumah dan bangunan-bangunan
Kelompok Diskusi Filem Ada Ide Nggak?, FISIP, Universitas Indonesia[3]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->