Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Governmental Environment Peran Pemerintah Dalam Pengelolaan Bidang Usaha Rotan Di Indonesia

Governmental Environment Peran Pemerintah Dalam Pengelolaan Bidang Usaha Rotan Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 267|Likes:

More info:

Published by: Yohan Suryanto Pramono on Sep 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/05/2012

pdf

text

original

 
GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT
Peran Pemerintah Dalam Pengelolaan BidangUsaha Rotan di Indonesia
Topik:
Governmental Environment 
Dosen: Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPPDisusun Oleh:
Yohan Suryanto Pramono(10 / 310533 / PEK / 15410)
MAGISTER BISNISFAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNISUNIVERSITAS GADJAH MADA2011
 
A.
 
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara penghasil rotan terbesar di dunia, diperkirakan 80% bahanbaku rotan di seluruh dunia dihasilkan oleh Indonesia, sisanya dihasilkan oleh Negara lain sepertiPhilippina, Vietnam dan negara-negara Asia lainnya
2)
. Daerah penghasil rotan Indonesia tersebardi Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, Pulau Sulawesi dan Pulau Papua dengan potensi rotanIndonesia sekitar 622.000 ton/Tahun
1)
. Sebelum tahun 1986, Indonesia merupakan pengeksporbahan baku rotan terbesar di dunia, sedangkan industri pengolahan rotan nasional pada saat itubelum berkembang. Sejak tahun 1986, yaitu dengan dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan No.274/KP/X/1986 tentang larangan ekspor bahan baku rotan, industri pengolahan rotan nasionalmengalami perkembangan yang sangat pesat yaitu meningkat dari hanya 20 perusahaan menjadi300 perusahaan
14)
. Sementara itu, industri pengolahan rotan di luar negeri (Taiwan dan Eropa) yang bahan bakunya mengandalkan dari Indonesia banyak mengalami kebangkrutan danmengalihkan usahanya ke Indonesia, khususnya di daerah Cirebon. Pada tahun 2009,Departemen Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Tataniaga Rotan. Regulasi tersebut pada intinya membatasi ekspor rotanuntuk jenis dan diameter tertentu, menerapkan kewajiban memasok industri dalam negerisebelum ekspor, dan adanya persyaratan bagi eksportir untuk dapat mengekspor rotannya.Sebagaimana diketahui, pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah untuk pengelolaansumber daya rotan berada di bawah Departemen Kehutanan dan Perkebunan, sedangkan untukpembinaan, pemanfaatan dan pengaturan distribusinya diatur oleh Departemen Perindustrian danPerdagangan. Berdasarkan pembinaan tersebut masih terdapat ketimpangan keberadaan industripengelolaan rotan karena didalam pengolahannya ternyata masih belum memperlihatkan dayasaing yang tinggi. Rancangan produk yang dimiliki masih belum berkembang dari bentuk
 furniture 
, keranjang, alat olah raga dan beberapa bentuk produk lainnya
9)
. Hal ini karenapemerintah dan instansi lain terkait didaerah masih belum menunjukkan perhatian yang seriusterhadap pengembangan rotan karena perhatian mereka selama ini telah diberikan kepada produkhasil hutan lainnya terutama kayu. Sebagaimana diketahui kayu masih dipakai sebagai barometerkeberhasilan ekspor hasil hutan Indonesia.Kebijakan pengelolaan sumber daya hutan termasuk rotan sampai sekarang masihmengacu pada ketentuan dalam Undang-undang Pokok Kehutanan tahun 1967. Kebijakanpemanfaatan itu belum menghantarkan kepada perhatian yang khusus sebagaimana perhatiankepada kayu
11)
. Rotan masih ditempatkan sebagai produk hutan sampingan sebagaimana dikenal
dengan istilah “
minor forest product 
”.
Pemanfaatan hasil rotan alam dan rotan tanaman cukupberpeluang untuk meningkatkan penerimaan ekspor
2)
. Beberapa perubahan kebijakan pemerintahakhir-akhir ini telah memberikan harapan bagi peningkatan penerimaan ekspor rotan Indonesia,sebagaimana dilaporkan bahwa ternyata hasilnya telah menempatkan Indonesia menjadi ekportirproduk rotan yang cukup berhasil pada tahun 1991
3)
. Walaupun telah terjadi peningkatanpenerimaan ekspor, namun di sisi lain masalah yang dihadapi oleh para petani, pengrajin,
 
industri pengolah rotan dan pedagang rotan di lapangan yaitu pemanfaatan rotan masih sangatrendah dan bahkan sering tidak menarik lagi bagi para petani
9)
.Untuk itu pemerintah mencoba mencari pemecahan masalah dengan menetapkanbeberapa kebijakan melalui beberapa perangkat hukum seperti peraturan pemerintah, keputusanpresiden, keputusan menteri perdagangan dan berbagai peraturan lainnya. Ketentuan tataniagaekspor rotan seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan PerdaganganNo.187/MPP/Kep/4/1998 adalah awal dari penerapan reformasi ekonomi nasional yang menjadiharapan bagi penyelesaian persoalan yang ada. Namun demikian, dari berbagai forum diskusirotan terungkap adanya banyak hal yang belum terakomodasi oleh kebijakan pemerintah, karenamasih belum menyentuh permasalahan yang ada di lapangan baik menyangkut masalah sumberdaya, petani/pengumpul rotan, pedagang, pengolah dan tataniaga rotan itu sendiri
4)
. Dan yangtidak kalah pentingnya adalah rendahnya daya saing yang dimiliki oleh semua tingkatan membuatpermasalahan yang dihadapi semakin panjang.
B.
 
Rumusan Masalah
Dalam menjawab permasalahan industri yang dihadapi pelaku bisnis rotan di Indonesiadan kebijakan pemerintah mengenai pemanfaatan rotan, penulis akan lebih mengkajipermasalahan yang menyangkut:1.
 
Peranan pemerintah dalam penetapan kebijakan terhadap pengelolaan industri rotan.2.
 
Identifikasi permasalahan rotan di tingkat petani, pengumpul, pedagang, dan industri daribeberapa kasus dari beberapa daerah dan sentra-sentra industri rotan.3.
 
Peranan daerah dalam menyediakan sumber daya rotan untuk kebutuhan industri4.
 
Peranan industri pengolahan rotan di Indonesia5.
 
Langkah yang diperlukan untuk keberlanjutan pengelolaan rotan di Indonesia
C.
 
Dasar Teori
Kebijakan pengelolaan sumber daya hutan termasuk rotan sampai sekarang masihmengacu pada ketentuan pengelolaan kehutanan yang tertuang dalam Undang-undang PokokKehutanan tahun 1967. Pemerintah mengeluarkan peraturan tataniaga ekspor rotanNo.187/MPP/Kep/4/1998 yang merupakan awal penerapan reformasi ekonomi nasional sehinggaberdampak pada perkembangan selanjutnya yaitu ekspor bahan baku rotan dibuka kembali padatahun 2005 dengan dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005tentang Ketentuan Ekspor Rotan. SK tersebut dikeluarkan karena industri pengolahan rotannasional perkembangannya mulai terhambat dan kegiatan usaha menjadi lesu, sehinggaberdampak pada terjadinya pengangguran, kredit macet, berkurangnya perolehan devisa danmenurunnya kontribusi industri pengolahan rotan nasional dalam pembentukan PDB
14)
. Padatahun 2009, Departemen Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag)Nomor 36 Tahun 2009 tentang Tataniaga Rotan
14)
. Regulasi tersebut pada intinya masih

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->