Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Terbelenggu Wujudul Hilal-Metode Lama Yang Mematikan Tajdid Hisab

Terbelenggu Wujudul Hilal-Metode Lama Yang Mematikan Tajdid Hisab

Ratings: (0)|Views: 824 |Likes:
Published by Iwan Husdiantama

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Iwan Husdiantama on Sep 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

 
Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: MetodeLama yang Mematikan Tajdid Hisab
Suara Pembaca 27/8/2011 | 28 Ramadhan 1432 H | Hits: 15.306Oleh: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin 
Pedoman Hisab Muhammadiyah (tdjamaluddin.wordpress.com)
dakwatuna.com -
Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebabutama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi padaperbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalahutama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bilaposisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteriavisibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi,dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 juga hampirdipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikanawal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat
 bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, ―mari kita saling menghormati‖. Adakah
 
solusi permanennya? Ada,
Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harusbersepakati untuk mengubah kriterianya
.Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudahpositif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat Maghrib 29Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajatatau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semuaormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudahdiketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisamenghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah
mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (―hilal‖) sudah wujud di
atas ufuk saat Maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga,yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karenamendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saatMaghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yangteramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalambeberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilalpada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat danseringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selaludihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. Seperti apa sesungguhnya hisabwujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itusebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkandengan metode rukyat. Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapisesungguhnya tidak paham ilmu hisab. Oktober 2003 saya diundang Muhammadiyah sebagainarasumber pada Munas Tarjih ke-
26 di Padang. Saya diminta memaparkan ―Kritik terhadapTeori Wujudul Hilal dan Mathla‘ Wilayatul Hukmi‖. Saya katak 
an wujudul hilal hanya adadalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mengatakan
teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar‘i dan astronomisnya. Darisegi syar‘i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin
39-40 terkesan dipaksakan. Dari segiastronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan dikalangan ahli falak.
 
Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (yang kinidigunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnyabeda dengan metode hisab atau rukyat). Lalu berkembang hisab imkan rukyat, tetapi masihmenggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya maish rendah. Muhammadiyah punsempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitanimkan rukyat, digunakan hisab
ijtimak qablal ghurub
(konjungsi sebelum matahari terbenam)dan hisab
wujudul hilal
(hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambatdaripada matahari). Kini kriteria wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapakelompok atau negara yang masih kekurangan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untukkalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteriaimkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat sudahsangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi.Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online diinternet.Muhammadiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan(kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kalendernya.Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapatdianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi namalembaga
think tank 
mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islamlain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasukkacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskopcanggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah,walau mereka pengamat rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas
―kecil‖ yang
sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteriahisabnya. Padahal, Persis
kadang mengidentikkan sebagai ―saudara kembar‖
Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persisbeberapa kali mengubah kriterianya, dari
ijtimak qablal ghrub
, imkan rukyat 2 derajat,wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.Lalu mau ke mana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besaryang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Semoga!

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Wildan Sutono liked this
Kiani Laras liked this
Qurroh Aini added this note
Kalo ditanya :Mengapa anda mendahului puasa atau beridul fitri, maka Muhammadiyah menjawab "Ya, memang agar kami berbeda dengan yang lain". Jika demikian, apa makna profesional?
Mustahar Latif liked this
Abdan Syakura liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->