Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penipuan Atau Kecurangan Di Bidang Perkreditan-Nin Yasmine Lisasih

Penipuan Atau Kecurangan Di Bidang Perkreditan-Nin Yasmine Lisasih

Ratings: (0)|Views: 547|Likes:
Published by Nin Yasmine Lisasih
Kecurangan (fraud): pemalsuan, penipuan atau pemberian gambaran atau keterangan yang tidak sebenarnya dengan tujuan memperoleh keuntungan dengan menimbulkan kerugian materiil bagi pihak lain. Contohnya dari bentuk kecurangan dalam perkreditan yaitu tindakan mark up (penggelembungan jumlah kebutuhan investasi suatu proyek untuk mendapatkan kredit yang lebih besar dari semestinya). Perbuatan kecurangan perkreditan ini dilihat dari kuantitas kejadiannya dilakukan karena adanya kolusi antara para pihak yang terkait dalam suatu kegiatan perbankan tersebut. Bentuk tindakan lain yang dapat digolongkan pada penipuan dan kecurangan dalam bidang perkreditan (credit fraud) yaitu tindak pidana yang diatur dalam Pasal 35 UU Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yaitu tindakan debitor yang memberikan keterangan secara menyesatkan. Pihak oknum bank memberikan kemudahan kepada si pelaku dengan melakukan penyimpangan atas ketentuan perkreditan.Perbuatan semacam itu menurut peraturan yang berlaku sekarang dapat dikategorikan sebagai suatu kejahatan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 49 ayat (2) huruf a UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Kecurangan (fraud): pemalsuan, penipuan atau pemberian gambaran atau keterangan yang tidak sebenarnya dengan tujuan memperoleh keuntungan dengan menimbulkan kerugian materiil bagi pihak lain. Contohnya dari bentuk kecurangan dalam perkreditan yaitu tindakan mark up (penggelembungan jumlah kebutuhan investasi suatu proyek untuk mendapatkan kredit yang lebih besar dari semestinya). Perbuatan kecurangan perkreditan ini dilihat dari kuantitas kejadiannya dilakukan karena adanya kolusi antara para pihak yang terkait dalam suatu kegiatan perbankan tersebut. Bentuk tindakan lain yang dapat digolongkan pada penipuan dan kecurangan dalam bidang perkreditan (credit fraud) yaitu tindak pidana yang diatur dalam Pasal 35 UU Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yaitu tindakan debitor yang memberikan keterangan secara menyesatkan. Pihak oknum bank memberikan kemudahan kepada si pelaku dengan melakukan penyimpangan atas ketentuan perkreditan.Perbuatan semacam itu menurut peraturan yang berlaku sekarang dapat dikategorikan sebagai suatu kejahatan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 49 ayat (2) huruf a UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

More info:

Published by: Nin Yasmine Lisasih on Sep 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/19/2012

pdf

text

original

 
Nin Yasmine Lisasih (110120100040)Tugas: Kejahatan Bisnis.Penipuan atau Kecurangan di Bidang Perkreditan
Kecurangan (
 fraud 
): pemalsuan, penipuan atau pemberian gambaran atauketerangan yang tidak sebenarnya dengan tujuan memperoleh keuntungan denganmenimbulkan kerugian materiil bagi pihak lain. Contohnya dari bentuk kecurangandalam perkreditan yaitu tindakan
mark up
(penggelembungan jumlah kebutuhaninvestasi suatu proyek untuk mendapatkan kredit yang lebih besar dari semestinya).Bentuk tindakan lain yang dapat digolongkan pada penipuan dan kecurangan dalam bidang perkreditan (
credit fraud 
) yaitu tindak pidana yang diatur dalam Pasal 35 UU Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yaitu tindakan debitor yangmemberikan keterangan secara menyesatkan, sebagaimana diatur dalam Pasaltersebut, yang intinya mengatur sebagai berikut:“Setiap orang yang sengaja memalsukan, mengubah, menghilangkan, ataudengan cara apapun memberikan keterangan secara menyesatkan sehinggaterjadinya perjanjian fidusia maka dapat dipidana dengan pidana penjara palingsingkat satu tahun dan paling banyak Rp. 100.000.000,00.”Perbuatan kecurangan perkreditan ini dilihat dari kuantitas kejadiannya dilakukankarena adanya kolusi antara para pihak yang terkait dalam suatu kegiatan perbankantersebut. Pihak oknum bank memberikan kemudahan kepada si pelaku denganmelakukan penyimpangan atas ketentuan perkreditan di antaranya terhadap ketentuanyang tertuang dalam Surat Edaran Bani Indonesia Nomor SE 6/22/UPK/1973.Oknum pihak bank telah menerima fasilitas dari si pelaku tindak pidana tersebut gunamemperlancar pencairan kreditnya sementara kredit tersebut kemudian tidak dapatdikembalikan pada waktunya.Perbuatan semacam itu menurut peraturan yang berlaku sekarang dapatdikategorikan sebagai suatu kejahatan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 49
 
ayat (2) huruf a UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang selengkapnya berbunyi :“Anggota dewan komisaris, direksi atau pegawai bank yang dengan sengaja:a.Meminta atau menerima, mengizinkan atau menyetujui untuk menerimasuatu imbalan, komisi, uang tambahan, pelayanan, uang atau barang berharga, untuk keuntungan pribadinya atau untuk keuntungan keluarganya,dalam rangka mendapatkan atau berusaha mendapatkan bagi orang laindalam memperoleh uang muka, bank garansi, atau fasilitas kredit dari bank,atau dalam rangka pembelian atau pendiskontoan oleh bank atas surat-suratwesel , surat promes, cek dan kertas dagang atau bukti kewajiban lainnya,ataupun dalam rangka memberikan persetujuan bagi orang lain untumelaksanakan penarikan dana yang melebihi batas kreditnya pada bank”Contoh kasus terkait dengan penyimpangan ketentuan perkreditan oleh Baniialah pada kasus Bank NTB Cabang Sumbawa dengan kasus posisi sebagai berikut:
1
Pihak PT. BN cabang Sumbawa telah sengaja memberikan fasilitas kredit mitrawira usaha (KMWU) kepada 151 debitur Karyawan PT. NNT dengan total plafondkredit senilai Rp.7,5 Miliar. Sementara, sesuai aturan PT.BN, jenis kredit KMWUhanya berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pensiunan PNS, yang gajinyadibayarkan melalui PT.BN. Kredit KMWU itu juga diberikan untuk peningkatankesejahteraan PNS dan pensiunan PNS yang memiliki wira usaha, bukan untuk karyawan swasta yang gajinya tidak lewat PT.BN. SOMASI menilai adakongkalikong dalam penyaluran kredit tersebut, yang bertujuan untuk memperkayaorang lain, atau memperkaya diri sendiri. Dalam penyalurannya tidak pernah adakontrak kerjasama antara PT.BN dengan PT.NNT berkaitan dengan teknis pemotongan gaji debitur bersangkutan. Terlebih lagi, para karyawan PT.NNTtersebut mengambil kredit itu bukan untuk modal usaha melainkan diduga untuk kepentingan konsumtif, membeli tanah kaplingan yang berlokasi di Olat Rarang,Sumbawa Besar. Ada unsur korupsi yang merugikan negara di sini, karena PT.BN itu
1
GeRAK NTB,
 Kasus BAnk NTB Cab. Sumbawa : Penyimpangan Kredit diusut Kejaksaan,
 
milik pemerintah daerah. Maka Bank NTB Cabang Sumbawa dilaporkan ke KPK.Dalam laporan yang sama, SOMASI juga melaporkan dugaan penyimpangan kreditmodal kerja (KMK) PT.BN cabang Sumbawa kepada tiga perusahaan lokalSumbawa, masing-masing sebesar Rp.500 juta, Rp.500 juta, dan Rp.350 juta.Ancaman pidana terhadap tindakan demikian, yaitu pidana penjara sekurang-kurangnya tiga tahun dan paling lama delapan tahun serta denda sekurang-kurangnyalima miliar rupiah dan paling banyak seratus miliar rupiah. Ketentuan pasal 49 ayat(2) huruf a ini pun dapat pula dihubungkan dengan UU Nomor 31 Tahun 1999tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi sebagai penggantu UU Nomor 3Tahun 1971, khususnya Pasal 2 dan 3 karena tampak ada unsur-unsur korupsinya,misalnya unsur memperkaya diri.Menyangkut
mark up
apabila dilihat lebih mendalam, tidak selalu terjadi karenaadanya kolusi, tetapi dapat pula terjadi karena adanya ketidakmampuan pihak bank dalam menganalisis informasi dari data yang diajukan nasabah (pemohon kredit).Kondisi ketidakmampuan bank dalam melakukan pengkajian (
 financial rcasting 
) di bidang perkreditan disebabkan masih lemahnya sumber daya manusianya atau karenakurang profesionalnya pejabat perkreditan bank tersebut sehingga harga yangdigelembungkan tidak terdeteksi. Dalam hal demikian jadi benar-benar sepenuhnyamerupakan tindakan nasabah dengan pemalsuan data-data dan fakta tanpa bantuandan kerja sama dari pejabat bank, nasabah demikian sudah secara sengaja dengan niatdan itikad baik bertindak dan berbuat curang.Mengenai bank yang menadi objek tindak pidana berupa pelanggaran perkreditan, misalnya menyangkut pengajuan kredit dengan agunan fiktif.Penanganan untuk kasus seperti itu biasanya digunakan ketentuan Pasal 378 atauPasal 372 KUHP, atau berupa pemalsuan kartu kredit, kasus seperti itu penanganannya dapat menggunakan KUHP Pasal 263 dan 264 tentang pemalsuansurat. Selain itu ketentuan-ketentuan pidana khusus seperti dalam UU Nomor 31Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, atau UU Nomor 11PNPS Tahun 1963 tentang Tindak Pidana Subversi dapat juga dipakai dasar 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->