Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aug2011 Posted by Umarabduh in Aug 22

Aug2011 Posted by Umarabduh in Aug 22

Ratings: (0)|Views: 116 |Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Sep 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2014

pdf

text

original

 
Aug2011
Posted by umarabduh in Aug 22,2011
 
SKANDAL POLITIK, INTELEJEN ORDE BARU DAN RADIKALISASI DI INDONESIA
Oleh
 
Umar Abduh
ORDE BARU MEMILIKI CATATAN sepak-terjang skandal dan rekayasa intelejen yang sangat panjang dalam peransertanya sebagai sutradara, aktor dan sekaligus figuran di berbagai peristiwa konflik dan kekerasan politik. Ia selalumenyusup, memagut, membelit berbagai individu dan kelompok dalam masyarakat yang dianggap dan diposisikan sebagailawan politik ideologi negara (penguasa). Tugas dinas intelejen semenjak ORBA pada umumnya memang dirancang tidak sekedar untuk mengetahui secara rinci terhadap setiap potensi, baik yang akan terjadi maupun yang sedang dan tengah berlangsung dalam masyarakat yang menurut disiplin intelejen dianggap dapat mengancam keselamatan dan keamanankekuasaan Negara. Yang problematis, secara lebih jauh aparatus intelejen semenjak ORBA memiliki fungsi rangkap, pertama untuk mendata dan menggalang sekaligus berwenang mengeksekusinya [1]Berdasarkan kajian maupun pengalaman pahit kalangan aktivis pergerakan, tingkat penyusupan dan derajat pembusukanIntelejen atas pergerakan sangat demikian tinggi dan terus berlangsung sampai saat ini. Hal ini disebabkan karena terlalulemahnya kesadaran masyarakat, khususnya kalangan pergerakan Islam terhadap taktik-strategi destruktif yang diterapkanoleh penguasa mana pun melalui program intelejen mereka. Operasi intelejen cenderung berprinsip dan menerapkanmetodologi aksi
 galang, rekrut, bina, tugaskan
dan (khususnya)
binasakan
terhadap kelompok mana pun yang dianggap potensial, berlawanan dan membahayakan penguasa, ideologi maupun kekuasaan negara.Operasi intelejen yang diterapkan terhadap rival politik ideologis berprinsip memperlemah dan memprematurkan melaluiaksi
 susup, kacaukan
dan
 pecah-belah
. Lain halnya terhadap individu-individu yang menonjol dan potensial, intelejensangat berkepentingan untuk merekrutnya, tetapi kalau mereka menolak, maka prinsip intelejen akan menerapkankebijakan mempersulit dan mengkondisikan melalui berbagai kendala, baik fisik, psikologi maupun akses kordinasi. Namun bila dianggap tetap membahayakan, prinsip intelejen akan menerapkan aksi fitnah, sudutkan dan jebak dalam
killing ground 
.
 
Skandal kebijakan politik intelejen secara sistematis mulai dirintis Soeharto sejak berhasil memperoleh dan memanfaatkan peluang emas mencuri jalan di tikungan sesaat setelah proses kudeta-prematur 
(abortive-coup)
serta kontra-kudeta yangamat berdarah dengan memakai PKI sebagai alat.[2] ‘Kudeta’ gagal tersebut serta jurus telikung Soeharto bersamakomplotannya berhasil memanfaatkan momentum berdarah tersebut sebagai bukti pengkhianatan dan dosa sejarah terhadapPancasila, sementara kontra-kudeta sesungguhnya adalah yang dilakukan oleh Soeharto sendiri dengan menyingkirkanBung Karno. Sambil menyalahgunakan momentum Surat Perintah 11 Maret, Soeharto tampil menjadi pahlawan, penguasadan sebagai bukti kesaktian Pancasila.[3] Peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 dan hari-hari kelanjutannyamempertontonkan praktek kekejian yang amat vulgar di hadapan siapa pun yang bersedia mengkaji peristiwa tersebutsecara jernih. Tetapi karena sistem politik, hukum dan perundangan di negeri ini tidak mendukung, akibatnya sampai hariini skandal politik dan intelejen yang sebesar itu masih bisa ditutupi dan tetap seakan menjadi misteri. Masyarakat politik dan insan pers hanya bisa berupaya membuka wilayah perbincangan yang masih amat terbatas. Pergantian rezim punternyata tidak mampu membuka brankas informasi yang berisi dokumen
classified 
tentang peristiwa dan skandal politik intelejen terbesar di negeri ini.Skandal politik dan intelejen berikutnya sebagaimana yang dirujuk di muka membuktikan berlangsungnya penerapan teoridan praktek intelejen yang amat jahat dan keji di negeri ini. Betapa pun operasi intelejen telah berhasil melemahkan musuh politik-ideologisnya (Islam maupun Komunis) baik yang di permukaan (ormas dan partai politik) maupun kekuatan
underground 
(seperti gerakan DI-TII atau NII).[4]Peningkatan kualitas dan kuantitas skandal politik dan intelejen dari tahun ke tahun terlihat semakin telanjang dansignifikan, namun pihak yang menjadi musuh politik ideologis militer dari dulu hingga sekarang justru bertambah pulakedunguannya. Jika di awal perselingkuhan politik intelejen terhadap para pecundang itu mereka cukup ditipu hanyadengan sedikit bantuan dana dan iming-iming pasokan senjata, namun setelah mereka berhasil menyusun rencana, datainventarisasi anggota dan sebagainya mereka segera ditangkap dan dikambing hitamkan.Metode jebakan seperti ini kemudian diterapkan intelejen hingga tahun 1990, sebagai contoh kasus NII-Komando Jihad(1974-1977), Woyla (1981), Talangsari Lampung (1989). Taktik serupa digunakan kembali pada rentang tahun 1998-2002terhadap komunitas NII dan laskar pesantren. Apa yang terjadi di lingkungan pesantren sejak arus politik intelejendikesankan berpihak kepada Islam, apalagi pesantren yang sejak dahulunya memiliki hubungan dengan gerakan NII ataugerakan yang lain seperti pesantren
 Al Mukmin
Ngruki atau pesantren-pesantren lain dan mungkin termasuk pesantrenHidayatullah. Berbagai latihan ‘kemiliteran’ memang lazim dilakukan komunitas pesantren, seperti latihan bela-diri,ketahanan fisik dan termasuk barangkali latihan menggunakan, bongkar pasang, membeli, mengumpulkan dan menyimpansenjata api pada akhirnya menjadi suatu
trend 
pada kalangan masyarakat Islam dan pesantren pada tahun-tahun 1996hingga 2001 tersebut. Agaknya skenario intelejen memang membutuhkan prakondisi semacam itu. Antara lain melibatkandan memperalat, dan kemudian menarik jeratnya, setelah jaring berhasil ditebarkan melingkupi berbagai gerakan Islam
 
 beserta simpul-simpulnya ke dalam kerusuhan politik dan pertarungan ideologis di Indonesia, sebagaimana yang bisa kitasaksikan bersama dalam rentetan peristiwa kekerasan di Jawa, Ambon dan Poso antara tahun 1998-2001.Ponpes NgrukiJika saat ini pemerintah dan institusi kepolisian tidak melihat latar belakang beberapa pesantren –terutama pesantren
 Ngruki
dan sejenisnya- secara jernih, obyektif proporsional tentang fenomena keterlibatan pesantren dan organisasi Islamtertentu dalam tindak kekerasan maupun “terorisme”, maka seluruh sikap, penilaian dan kebijakan pemerintah yang tidak adil tersebut sepatutnya dikesampingkan, bahkan harus dilawan. Jika tidak, pemerintah cq. institusi Polri telah sama artinyadengan ikut bersekongkol dan terlibat dalam operasi represi intelejen dan berbagai tindak kerusuhan, kekerasan maupunterorisme itu sendiri. Termasuk latar belakang dan jebakan dibentuknya
 Pam Swakarsa
, rekayasa kasus Ambon, Malukudan Poso yang terang-terangan mengijinkan para ‘Laskar Mujahidin’ menggunakan senjata, baik yang berstandar organik maupun rakitan dalam wujud senjata api atau bom dalam perang melawan ‘Laskar Kristen’.PamswakarsaDi masa lalu semua senjata pemberian intelejen militer yang jatuh ke tangan gerakan Islam militan tidak akan pernah berlangsung lama, karena begitu mereka ditangkap, secara otomatis senjata-senjata dan amunisinya dirampas kembalidengan tuntas oleh tentara. Bahkan kerap kali operasi intelejen tersebut malah menjarah barang-barang berharga milik aktivis dengan alasan sebagai bukti dan sebagainya. Nah, bagaimana bila skenario intelejen justru tidak menarik kembalisenjata-senjata yang didistribusikan secara besar-besaran kepada aktivis gerakan Islam militan yang terlibat di Ambon,Maluku dan Ternate maupun Poso (?) Gerangan apakah yang hendak dimainkan ?!Bahkan membiarkan para aktivis gerakan Islam militan tersebut membawa senjata-senjata organik maupun rakitan yang jumlahnya puluhan ribu keluar dari daerah konflik dengan leluasa menyebar ke Sulawesi, Kalimantan maupun yangterkonsentrasi di Jawa. Bukankah keberadaan senjata-senjata di tangan
mujahidin
Ambon dan Poso yang berjumlah ribuan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->