Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
07_MutuPelayananRS90

07_MutuPelayananRS90

Ratings: (0)|Views: 113 |Likes:
Published by Hendria Putra

More info:

Published by: Hendria Putra on Sep 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2011

pdf

text

original

 
Peningkatan Mutu Pelayanan
Rumah Sakit
Dr Broto Wasisto, MPH
 Direktur Jenderal Pelayanan Medik  Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama yang akan
berakhir dengan berakhirnya Repelita V ini, telah menunjukkanhasil yang menggembirakan. Keadaan sosial-ekonomi dan pen-
didikan 'masyarakat semakin tinggi sehingga orientasi sistem
nilaipun telah berubah.Masyarakat semakin menginginkan
pelayanan umum lebih baik, termasuk pula pelayanan kesehat-
an. Tuntutan dan harapan masyarakat akan pelayanan kesehatan
yang bermutu semakin terasa. Namun disadari ada perbedaanpersepsi
mutu antara konsumen dan provider. Konsumen
mengartikan pelayanan yang bermutu apabila pelayanan ter-
sebut ramah, nyaman dan menyenangkan sedangkan provider
mengartikan mutu apabila pelayanan sesuai dengan standar.
Perbedaan persepsi tersebut sering mengakibatkan keluhan akanpelayanan.
Selain persepsi yang berbeda, istilahpun sering menjadi
topik yang menarik untuk diperdebatkan. Banyak istilah yang
dipakai dalam program mutu ini seperti antara lain program
menjaga
mutu, program pengawasan mutu, program peningkat-
an mutu,
manajemen mutu, peningkatan mutu berkesinam-bungan, dan lain sebagainya. Walaupun banyak istilah yangdigunakan namun pada dasarnya program peningkatan mutu
adalah
"keseluruhan upaya dan kegiatan yang komprehensifdan
integratif yang memperbaiki struktur, proses dan outcome dari
 pelayanan kesehatan yang dilakukan secara obyektif, sistema-
tik 
dan berlanjut serta memantau dan menilai mutu dan ke-
wajaran pelayanan, dan memecahkan masalah-masalah yang
terungkapkan sehingga pelayanan yang diberikan di rumah
sakit berdaya guna dan berhasil guna."
Oleh karena tujuan akhir
adalah meningkatkan mutu pelayanan maka Departemen Ke-sehatan telah menetapkan istilah untuk program mutu adalah
Makalah 
ini disajikan pada KongresVl PERSI & Hospital 
 
Expo
, Jakarta 
,
21 - 25 November 
1993 
.
program peningkatan mutu pelayanan.
Makalah ini akan membahas manajemen mutu dengan
sistematika sebagai berikut : Pendahuluan, Sejarah perbaikanmutu, Mutu Pelayanan RS, Perbaikan Mutu Pelayanan Kese-
hatan di Indonesia.
SEJARAH PERKEMBANGAN
Upaya peningkatan mutu pelayanan, sebenarnya bukanlah
yang baru. Sekitar 20 abad sebelum Masehi pada zaman
Hammurabi dari Babilon telah dikenal upaya-upaya peningkatanmutu pelayanan, demikian pula pada zaman Hippocrates sekitar
25 abad sebelum Masehi. Di Inggris,
Florence Nightingale
(1820— 1910) melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan
terutama pelayanan keperawatan. Di Amerika Serikat,
Ameri-
can Medical Association
(1876) mulai melakukan pembenahan
pendidikan dokter, dimanahasil penelitian
Carnegie Foundation
(Flexner Report)
yang dipublikasikan pada tahun 1910, diikuti
dengan ditutupnya beberapa fakultas kedokteran yang tidak 
memenuhi syarat.
Sebelum tahun 1950, program peni ngkatan mutu pada umum-
nya berupa penyusunan standar tenaga, pelayanan atau sarana.
Pada tahun 1912
 Joint Committee for Consideration of Stan-
dardization of Visiting Nurse
menyusun standar ketenagaan
perawat sedangkan Kongres Ahli Bedah Amerika Utara
menyusun standar pelayanan bedah pada tahun 1915. Setelah itu
pada tahun 1917 telah disusun standar minimum staf inedik 
rumah sakit, tahun 1918 standar minimum saranaRS, tahun 1946
di Amerika Serikat dikeluarkan
 Hill Burton Act 
yang mengaturtata laksana perluasan (termasuk biaya) rumah sakit.
Setelah tahun 1950 sampai tahun 1970, program peningkatan
28 
Cermin Dunia Kedokteran 
, Edisi KhususNo. 90, 1994 
 
mutu semakin aktif diselenggarakan. Hal tersebut terlihat dengan
dibentuknya
Joint Commision on the Acreditation of Hospital 
pada tahun 1950, dimana pada tahun 1952 komisi ini telah
berhasil menyusun standar pelayanan terutama tentang tindakan
pembedahan. Dengan telah disusunnya standar tersebut maka
pada tahun 1953 dilakukan akreditasi rumah sakit. Upaya lainnya
dalam peningkatan mutu pelayanan adalah dilakukan
medical 
audit 
(1956),
utilization review 
(1960) dan
 peer review 
(1970).
Perkembangan program peningkatan mutu semakin pesat
setelah tahun 1970. Hal tersebut karena adanya pengaruh dari
program yang sama yang diterapkan pada sektor industri dan
dimotori terutama oleh negara Jepang. Program yang berkem-
bang setelah tahun 1970 adalah diperkenalkan
Professional 
Standard Review Organization 
di
 Amerika pada tahun 1972.
Kemudian tahun 1975 mulai diperkenalkan
cost containment.
Diagnostic Related Group System,
kegiatan
outcome audit 
dan
risk m anagem ent.
 Tahun 1976
infection
control standard,
tahun
1979
quality assurance standard 
dan tahun 1983
 peer review
organization.
Setelah tahun 1983 mulai diperkenalkan
quality 
improvement program, continuous quality improvement pro- 
gram 
dan
total quality management,
yang prinsip-prinsip dasar-nya sebenarnya tidaklah berbeda dengan program peningkatan
mutu pelayanan rumah sakit.
 Apabila di luar negeri program peningkatan mutu dimulai
sebelum tahun 1950, maka di Indonesia langkah awal yang 
sangat mendasar dan terarah yang telah dilakukan Departemen
Kesehatan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan adalah
penetapan kelas rumah sakit pemerintah melalui SK Menkes No.
033Birhup/1972. Pada awalnya ditetapkan kriteria dari masing-
masing kelas yang kemudian berkembang menjadi standar-
standar. Untuk rumah sakit swasta telah dikeluarkan Keputusan
Menteri
KesehatanNo. 806b/Menkes/SK/XII/1987
,
yang 
selain
menetapkan kelas rumah sakit, juga dilengkapi dengan
standar berdasarkan kemampuan pelayanan.
Kemudian dari tahun ke tahun disusun berbagai standar baik 
menyangkut pelayanan, ketenagaan, sarana dan prasarana untuk masing-masing kelas rumah sakit. Selain itu Departemen Kese-
hatan juga mengeluarkan berbagai pedoman
(guidance) 
untuk 
meningkatkan penampilan rumah sakit. Pada tahun 1984 De-partemen Kesehatan telah mengembangkan berbagai indikator
untuk mengukur dan mengevaluasi penampilan rumah sakit pe-
merintah kelas C dan rumah sakit swasta yang setara yaitu dalam
rangka Hari Kesehatan Nasional. Indikator ini setiap dua tahun
ditinjau kembali dan disempurnakan. Untuk tahun 1991 telahdilengkapi dengan indikator kebersihan dan ketertiban rumahsakit dan yang dievaluasi kelas B, C, D, dan rumah sakit swasta
setara.
Program peningkatan mutu yang lainnya adalah pe-
menuhan standar ketenagaan yaitu dengan mengirim dokter
empat spesialis dasar untuk rumah sakit kelas C, mengadakan
pelatihan dan bimbingan teknis petugas rumah sakit.Selain hal di atas secara sendiri-sendiri beberapa rumah sakit
telah
mengadakan
monitoring 
dan evaluasi pelayanan rumah
sakit.
 Ada yang melakukan penilaian mutu berdasarkan derajat
kepuasan pasien, penilaian mutu berdasarkan penilaian perilaku
dan penampilan kerja perawat, penilaian melalui infeksi noso-
komial, penggunaan obat secara rasional dan yang akhir-akhir
ini
mulai berkembang di rumah sakit adalah penerapan gugus
kendali mutu dan manajemen mutu terpadu.
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa ke-
sadaran untuk meningkatkan mutu sudah cukup meluas walau-
pun dalam penerapannya sering ada perbedaan. Untuk itu agar
ada persamaan persepsi maka Departemen Kesehatan telah
mengeluarkan buku pedoman program peningkatan mutu pela-
yanan yang kemudian dilanjutkan dengan pengadaan pelatihan
peningkatan mutu.
 ANALISIS SITUASI MUTU PELAYANAN RUMAH
SAKIT
a)
Gambaran umum rumah sakit
Pada tahun 1990 terdapat 938 rumah sakit umum dengan
108.133 jumlah tempat tidur. Dari jumlah rumah sakit tersebut36% adalah rumah sakit swasta, 44,4% rumah sakit pemerintah,11,9% rumah sakit ABRI dan 7,7% rumah sakit milik BUMN.Dibandingkan 10 tahun sebelumnya, keadaan tersebut merupa-kan perbaikan yang bermakna.
b)
Tenaga
Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan rumah sakit
maka dilakukan penyebaran dokter 4 spesialis dasar ke rumahsakit-rumah sakit pemerintah khususnya rumah sakit umum di
kabupaten dan kotamadya. Namun disadari sampai saat ini
banyak rumah sakit masih kekurangan tenaga medik demikianpula untuk tenaga paramedik. Permasalahanumum mengenaitenaga adalah jumlah dan mutu yang tak memenuhi sertadis-tribusi yang tidak merata.
 Tenaga yang merisaukan jumlahnya adalah tenaga para-medis. Pada tahun 1990 secara umum dokter yang bekerja di
sarana-sarana pelayanan kesehatan jumlahnya sudah cukup
memadai, hanya distribusinya masih timpang. Hampir 70%dokter bertugas di pulau Jawa-Bali dan 23% di DKI. Tenaga
perawat penyebarannya lebih baik: DKI 17,5% dan Jawa-Bali58%. Keadaan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap-
mutu pelayanan yang diberikan.
Dari pengkajian diagnosis rumah sakit oleh HSF Usaid
secara umum dapat dikemukakan bahwa rumah sakit kelas A dan
B memiliki tenaga paramedik perawatan dan non medik yang 
cukup jumlahnya sedangkan tenaga medik nampaknya ber-
lebihan. Di rumah sakit kelas C dan D pada umumnya keku-
rangan tenaga untuk semua katagori, namun standar kepega-
 waian yang digunakan sekarang masih perlu dievaluasi kembalidan komposisi tenaga medik masih kurang serasi. Temuan lain-
nya adalah banyaknya tenaga dokter rumah sakit pemerintah
yang bekerja sebagai tenaga
 parttimerdi 
rumah sakit swasta dan
banyaknya tenaga honorer di semua rumah sakit. Hal ini tentu-nya juga akan mempengaruhi mutu pelayanan.
Mutu pelayanan tak terlepas dari mutu keperawatan, di
mana masih banyak permasalahan yang dijumpai. Sampai saatini belum ada standarisasi tenaga perawat yang sesuai dengan
peran dan fungsinya. Upaya peningkatan kemampuan dan ketram-
pilan tenaga perawat melalui pelatihan-pelatihan belum mampu
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi 
Khusus No. 90, 1994
 
mengatasi kesenjangan antara tuntutan peningkatan mutu pe-
layanan keperawatan dan kemajuan IPTEK kesehatan/ke-
perawatan. Pengembangan karier tenaga perawat ke arah pro-fesionalisme, melalui penyelenggaraan pendidikan berjenjangbelum terarah jelas. Tanpa melalui pendidikan berkelanjutan,
pengembangan profesionalisme sulit diwujudkan.
Pemahaman terhadap budaya melayani dirasakan masih
kurang, hal tersebut terlihat dalam melakukan tugasnya perawat
kadang-kadang kurang tanggap dan kurang ramah. Selain itu
uraian tugas, peran dan fungsi setiap katagori perawat berdasar-kan jenjang pendidikan belum ditetapkan secara jelas dan kuali-
fikasi tenaga perawat untuk jenjang dan jenis keperawatantertentu
masih perlu ditetapkan. Kesemuanya itu tentunya akan mem-
pengaruhi mutu pelayanan khususnya mutu asuhan keperawatan
di RS.
 Managerial skill
dan
technical skill
perawat masih kurang.
Keadaan tersebut sering menjadi keluhan khalayak ramai.
c)
Dana
Beberapa masalah yang dihadapi dalam pembiayaan kese-
hatan antara lain : keterbatasan biaya, penggunaan biaya yang
kurang efisien dan distribusi yang kurang merata. Bila di-
bandingkan Produk Domestik Bruto (PDB), maka total biaya
kesehatan secara relatif menunjukkan kecenderungan menurun.
Untuk kurun waktu lima tahun (1982–1987) persentase biayakesehatan terhadap PDB berturut-turut adalah 2,78%, 2,48%,2,23%, 2,39% dan 2,51%. Angka tersebut belum pernah men-
capai 3% PDB, apalagi mencapai 5% PDB seperti direkomen-
dasikan oleh WHO. Di Thailand pengeluaran untuk kesehatan
mencapai 5,1% GNP (1985), RRC mengeluarkan 3,1% (1985),Korea 4,3% (1986) dan Philipina 2,4% (1985).
Bila dirinci lebih jauh mengenai anggaran pemerintah, maka
anggaran yang dialokasikan oleh Departemen Kesehatan untuk 
rumah sakit hanya sekitar 45%, dan hampir 95% di antaranya
untuk kegiatan kuratif.
Sistem pembayaran di rumah sakit kebanyakan masih
 fee
 for service
dan
out of pocket,
sedangkan pembayaran melaluisistem asuransi masih terbatas. Keseluruhan pendapatan rumah
sakit pemerintah
(revenue)
harus disetor kepada kas negara pada
hari yang sama. Akhir-akhir ini beberapa RS Pemerintah telahditingkatkan menjadi RS Unit Swadana yang berarti RS dapat
menggunakan langsung pendapatnya.
Biaya rumah sakit pemerintah dapat berasal dari berbagaisumber yang disalurkan pemerintah, melalui jalur yang cukup
banyak dan terpecah-pecah. Keadaan ini mencerminkan ku-
rangnya koordinasi dan integrasi dalam perencanaan dan pe-laksanaan. Akibatnya penggunaannya menjadi kurang efisien.
Di samping itu terjadi pula ketidak seimbangan antara biaya
pembangunan dan biaya operasional dan pemeliharaan. Kenaik-an anggaran pembangunan tidak selalu disertai dengan kenaikan
yang memadai dari anggaran operasional dan pemeliharaan.
Biaya operasional dan pemeliharaan pada RS Pemerintah hanyadialokasikan sebesar 50%. Subsidi pemerintah untuk rumah sakit
pemerintah sangat besar karena tarif yang terlalu rendah.
Adanya kendala dana tadi akhirnya akan mempengaruhiupaya peningkatan mutu pelayanan. Rumah sakit pemerintah
sangat sulit dapat memelihara sarana fisik dan kegiatan-kegiat-
annya. Dengan konversi beberapa rumah sakit menjadi unitswadana maka kendala-kendala di atas untuk sebagian dapat
dikurangi.
d)
Fasilitas
Gedung rumah sakit pemerintah maupun swasta kebanyak-
an dirancang tidak tuntas dan banyak yang belum mengikuti
kaidah-kaidah rumah sakit, seperti
 zoning
yang baik,
 flow o
 patients
yang efisien dan etis, pembuangan limbah, erosi, dan
lain sebagainya. Selain itu, lingkungan rumah sakit banyak yang
masih kotor terutama di rumah sakit pemerintah. Hal ini menu-
runkan citra pelayanan pada banyak rumah sakit. Diharapkan
secara bertahap citra ini akan menjadi lebih baik.
Alat-alat di rumah sakit sangat bervariasi. Perbaikan sosial
ekonomi dan kemajuan iptek kedokteran akan mempengaruhi
perkembangan rumah sakit seperti misalnya penyediaan fasilitas
dan alat di rumah sakit.
Dengan berkembangnya iptek kedokteran, maka banyak 
ditemukan alat-alat canggih.Walaupun alat canggih tersebutdapat meningkatkan mutu pelayanan, namun banyak masalah
yang dihadapi dengan banyaknya alat canggih yang ada misalnya
biaya kesehatan yang dapat meningkat. Selain itu, diperlukan
tenaga yang profesional untuk dapat menerapkan teknologi ter-
sebut. Alat canggih, macam dan jenisnya sangat banyak. Depar-
temen Kesehatan mencoba menginventarisir alat-alat canggih
dan didapatkan data sementara (tahun 1990) bahwa alat canggih
lebih banyak di rumah sakit swasta dari pada rumah sakit pe-merintah. Sebagai contoh di rumah sakit pemerintah MRI = 1,
CT 
scan =
5 dan ESWL = 1, sedangkan di rumah sakit swasta
MRI = 2,
CT 
scan = 10,
ESWL = 9. Ternyata utilisasi (peman-
faatan) alat-alat canggih tersebut masih cukup rendah (35%).
Hasil rangkuman pengkajian diagnosis rumah sakit yangdibiayai oleh Usaid mendapatkan data bahwa pada umumnya
rumah sakit telah memiliki perangkat kemampuan maupun
pengetahuan teknis untuk memberikan pelayanan kesehatansesuai dengan kelasnya, meskipun perangkat di rumah sakit
tersebut masih sederhana.
Pelayanan dengan menggunakan alat-alat kadang-kadang
terganggu, sebab-sebab gangguan adalah :
Pemeliharaan sarana tidak memadai, di antara rumah sakit
yang dikaji, tidak satupun yang melaksanakan
 preventive
maintenance.
Keterpaduan antara tenaga dan peralatan kurang serasi.
Alat pembantu seperti reagensia tidak tersedia pada waktu-
nya.
Pengkajian ini juga menemukan bahwa kemampuan
manajemen sangat menentukan mutu pelayanan yang dicer-
minkan dari lama tunggu untuk memperoleh pelayanan. Con-
tohnya ialah lama perawatan pra-bedah di rumah sakit kelas B
ditemukan berkisar antara 5,8 dan 9,4 hari. Lama perawatan pra-
bedah ini menunjukkan kurangnya koordinasi antara pelayanan
penunjang seperti laboratorium, radiologi, ruang rawat dan ruangbedah.
Selain itu, pengkajian diagnosis rumah sakit juga men-
30 
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->