Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsepsi Batasan Maksimal Dan Minimal Penguasaan Tanah

Konsepsi Batasan Maksimal Dan Minimal Penguasaan Tanah

Ratings: (0)|Views: 795 |Likes:
Published by rasya1902

More info:

Published by: rasya1902 on Sep 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

 
HAK PENGELOLAAN (HPL) ATAS TANAHSEBAGAI KEBIJAKAN OTORITAS NEGARA BARU DALAM PENGELOLAAN PERTANAHAN
Oleh: Munsyarief 
1.Latar Belakang
Hak Pengelolaan tidak disebutkan secara eksplisit di dalam pasal UUPA, namun di dalamPasal 2 ayat (4) intinya menyatakan bahwa Negara dapat memberikan tanah yang dikuasainyakepada suatu Badan Penguasa (Departemen, Jawatan atau Daerah Swatantra) untukdipergunakan bagi pelaksanaan tugas masing-masing. Selanjutnya dalam penjelasan umumdinyatakan bahwa kekuasaan Negara atas tanah yang tidak dipunyai dengan sesuatu hak olehseseorang atau pihak lainnya adalah lebih luas dan penuh, dengan berpedoman pada tujuanuntuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana tercantum dalam Pasal 2ayat (2) dan (3).Di dalam Pasal 16 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 menetapkanbeberapa macam status hak atas tanah, antara lain: Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak GunaUsaha, Hak Pakai dan seterusnya. Artinya, apakah Hak Pengelolaan (HPL) itu sendiri tidaktermasuk di dalam status hak atas tanah?Ketentuan tentang HPL itu sendiri pertama kali muncul pada tahun 1965, yakniberdasarkan Peraturan Menteri Agraria Nomor 9 Tahun 1965 tentang Pelaksanaan Konversi HakPenguasaan atas Tanah Negara dan Ketentuan-Ketentuan Kebijaksanaan selanjutnya. DalamPasal 1 antara lain dikatakan bahwa hak penguasaan atas tanah negara yang diberikan kepadadepartemen-departemen, direktorat-direktorat dan daerah swatantra sebelum berlakunyaperaturan ini, jika tanah-tanah tersebut dipergunakan untuk kepentingan instansi dikonversimenjadi Hak Pakai. Pasal 2 antara lain menyatakan “jika tanah negara selain dipergunakan untukkepentingan instansi itu sendiri, juga diberikan kepada pihak ke III, dikonversi menjadi HakPengelolaan”. Dalam Pasal 6, dikatakan bahwa Hak Pengelolaan memberikan wewenang kepadapenggunanya antara lain:
menyerahkan bagian-bagian dari tanah kepada pihak ke III dengan Hak Pakai dalam jangkawaktu 6 tahun
Luasnya maksimal 1.000 m2
Menerima uang pemasukan/ganti rugi dan/atau uang wajib tahunan.Kemudian diterbitkan pula Peraturan Mengeri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1974 tentangKetentuan-Ketentuan Mengenai Penyediaan dan Pemberian Tanah untuk Keperluan Perusahaan.Di dalam Pasal 3 dikatakan Hak Pengelolaan yang diberikan kepada perusahaan mempunyaiwewenang selain untuk menggunakan tanah tersebut bagi keperluan usahanya, maka dapat jugamenyerahkan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ke III menurut persyaratan yangditentukan oleh pemegang HPL (hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6Tahun 1972 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak atas Tanah).Setelah itu dilanjutkan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1977tentang Tata Cara Permohonan dan Penyelesaian Pemberian Hak atas Tanah HPL sertapendaftarannya. Kemudian dalam PP Nomor 40 Tahun 1996, Pasal 1 dan Peraturan MenteriAgraria/Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999 yang di dalam Pasal 1 menyatakan antara lain bahwaHak Pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagiandilimpahkan kepada pemegangnya.Berdasarkan kebijakan-kebijakan yang diterbitkan tersebut maka dalam perkembangannyapemberian Hak Pengelolaan yang pada awalnya diberikan kepada instansi pemerintah juga
 
diberikan kepada Pemerintah Daerah dan Badan-badan Usaha Milik Negara/Daerah, sertapenerima HPL juga mempunyai kewenangan untuk memberikan sebagian dari HPL yangdikelolanya untuk dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Fakta di lapangan menunjukkan bahwapemanfaatan HPL/kegiatan instansi penerima HPL, juga untuk pemanfaatan kegiatan lain yangbersifat komersial, yakni seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa pemberianbagian-bagian tanah hak pengelolan (pada Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1953 HakPenguasaan) hanya sebagian kecil dari hak tersebut yang tidak/belum dimanfaatkan untukkepentingan pelaksanaan tugasnya. Oleh sebab itu, ganti rugi atau uang wajib tahunan yangdipersyaratkan atas bagian-bagian tanah yang diserhakan kepada pihak ketiga bukan merupakantujuan pokok dari pemegang Hak Pengelolaan (HPL).Dengan berkembangnya obyek pemegang Hak Pengelolaan (HPL), maka tujuan utama daripemegang Hak Pengelolaan tersebut saat ini adalah bagaimana memaksimalkan uangpemasukan yang berasal dari penyerahan bagian-bagian tanah tersebut kepada pihak ketiga. Haltersebut dilakukan baik dalam upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) jikapemegang Hak Pengelolaan merupakan Pemerintah Daerah maupun meningkatkan keuntungandari BUMN, BUMD atau perusahaan lainnya sebagian pemegang Hak Pengelolaan.Tanah-tanah HPL tersebut harus pula didaftarkan di Kantor Pendaftaran Tanah. Hal inimerujuk kepada Permen Agraria No. 9 Tahun 1965. Kemudian, bagian-bagian HPL yangdiserahkan kepada pihak III harus pula didaftarkan. Hal ini berdasarkan Permendagri No. 1 Tahun1997 tentang Tata Cara Permohonan dan Penyelesaian Pemberian Hak atas Bagian-Bagian TanahHak Pengelolaan dan Pendaftarannya. Pendaftaran HPL tersebut diperkuat pula oleh PeraturanPemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Pasal 9 ayat (1) b bahwa tanah HPLharus didaftarkan.Memandang hal-hal tersebut di atas, bagaimana dengan pengelolaan tanah-tanah HPLtersebut yang dilaksanakan oleh pemegang HPL dan bagaimana BPN menyikapi tentangpengelolaan dan pemanfaatan tanah HPL? Sehubungan dengan itu, diperlukan penelitianmengenai pengelolaan dan pemanfaatan HPL dan peran Badan Pertanahan Nasional dalammengendalikan pengelolaan dan pemanfaatan tanah HPL sesuai dengan tujuan pemberiannya.
2.Perumusan Masalah Penelitian
Pengelolaan dan pemanfaatan HPL dewasa ini telah berkembang sedemikian rupa yangtidak sesuai dengan kebijakan pemberian HPL, sehingga menimbulkan berbagai masalah yangperlu dikendalikan. Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahanmengenai HPL, yaitu:a.Bagaimana perkembangan kebijakan HPL?b.Bagaimana pengelolaan dan pemanfaatan HPL oleh pemegang HPL?c.Bagaimana pengelolaan data HPL oleh BPN?d.Bagaimana peran instansi pertanahan dalam mengendalikan pengelolaan dan pemanfaatantanah HPL ?
3.Tujuan Penelitian
a.Menganalisa perkembangan kebijakan HPL;b.Menginventarisasi dan menganalisa pengelolaan dan pemanfaatan HPL oleh pemegang HPL;c.Menganalisa masalah-masalah yang ditimbulkan dalam pengelolaan dan pemanfaatan HPL;d.Mengidentifikasi dan menganalisa pengelolaan data HPL oleh BPN;e.Menganalisa peran instansi pertanahan dalam mengendalikan pengelolaan dan pemanfaatantanah HPL.
 
4.Ruang Lingkup Penelitian
Lingkup Materi Penelitiana.Pengelolaan dan pemanfaatan HPL oleh pemegang HPL, setelah HPL didaftarkan olehpemegang HPL yang difokuskan pada :1)Pengelolaan dan pemanfaatan HPL oleh pemegang HPL;2)Inventarisasi permasalahan HPL;a.Pengelolaan Data HPL oleh Kantor Wilayah BPN Provinsi dan Kantor PertanahanKabupaten/Kota difokuskan pada :1)Inventarisasi sebaran data HPL yang sudah terdaftar di Kantor Wilayah BPN dan KantorPertanahan Kabupaten/Kota;2)Pengelolaan data HPL di Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota;b.Peranan BPN dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota dalam kaitannya dengan pengelolaandan pemanfaatan HPL.
5.Metode Penelitian
Metode penelitian bersifat deskriptif analitis. Penelitian dilakukan di 5 (lima) provinsi yakniProvinsi Sulawesi Selatan, Pulau Batam, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Sumatera Selatandan Provinsi Jawa Timur.
6.Hasil Penelitian Menyimpulkan sebagai berikut :
a.Kebijakan HPL1)Perkembangan HPLHPL pada mulanya berasal dari hak penguasaan menurut Peraturan PemerintahNo. 8 Tahun 1953 (sebelum UUPA) maupun setelah lahirnya Undang-Undang PokokAgraria dengan Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965 sebagai peraturanpelaksanaannya. HPL tersebut diberikan kepada pemerintah kota, kabupaten maupuninstansi pemerintah lainnya dalam rangka menyediakan tanah untuk kepentinganpelaksanaan tugasnya dengan status hak yang kedudukan hukumnya sama dengan hakyang ada secara formal dalam UUPA. Adanya kewenangan untuk menyerahkan bagiantanah yang belum digunakan kepada pihak ketiga dengan uang pemasukan/ganti rugiatau uang wajib tahunan hanya bersifat jangka pendek agar tanah yang belum digunakantersebut tidak terlantar dan dimanfaatkan secara optimal dan dengan luasan tanah yangterbatas bagi pihak ketiga.Dalam perkembangannya, HPL lebih dominan memperlihatkan unsurkomersialisme dari penguasaan tanah daripada penggunaan untuk kepentinganpelaksanaan tugas instansi yang menguasai dan memiliki HPL. Kondisi seperti ini mulaiterlihat sejak Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1974 tentang Penyediaan danPemberian Tanah untuk Keperluan Perusahaan Suatu Hak atas Tanah Negara, pada Pasal2 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1974 dinyatakan bahwa kepadaperusahaan yang berbentuk badan hukum dimungkinkan pemberian HPL dan memilikikewenangan :a)merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan;b)menggunakan tanah tersebut untuk keperluan usahanya;

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->