Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Manajemen Konflik Dalam Pendidikan Islam

Manajemen Konflik Dalam Pendidikan Islam

Ratings: (0)|Views: 289|Likes:
Published by mocoz

More info:

Published by: mocoz on Sep 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/29/2012

pdf

text

original

 
MANAJEMEN KONFLIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
OLEH : RAWANUDDIN(Kepala MIN Teluk Kuali, Jambi)I.
 
PENDAHULUANKehidupan masyarakat dewasa ini diwarnai dengan banyak persaingan dan perlombaanhidup, dimana orang suka membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Suasana yangserba kompetitif ini sering kali diwarnai dengan oleh tingkah laku yang kurang wajar atauabnormal. Hal ini memicu munculnya banyak konflik antar individu bahkan antar kelompok.Suasana rivalitas ini cenderung menonjolkan
individualisme
dan melonggarkan kontak-kontak sosial.Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terjadi banyak perubahan sosial dan pertumbuhan kebudayaan yang tidak sama, sehingga munculnyadisharmoni, disintegrasi dan disorganisasi masyarakat, yang mengandung berbagai konflik terbuka. Perubahan sosial yang serba cepat dan mendadak, yang tidak cocok dengan salah satuatau beberapa sektor kehidupan. Sehingga terjadi ketidaksinambungan pengalaman kelompok yang satu dengan dengan kelompok sosial lainnya. Disamping itu juga tidak ada konsensus diantara sesama warga masyarakat. Kondisi yang demikian ini sering disebut disorganisasi sosial.Kondisi demikian dapat menggerus dan menghilangkan hubungan manusiawi yangakrab dimana orang lebih cenderung menonjolkan egoisme. Kontak sosial menjadi terpecah-pecah dalam fraksi-fraksi, yang pada akhirnya akan memudahkan timbulnya konflik. Kepecahandan keanekargaman dengan banyak unsur konflik inilah yang mengakibatkan masyarakatmodern menjadi masyarakat yang pluralistis. Sehubungan dengan itu, maka manajemenmasyarakat moderen identik dengan manajemen konflik. Dan memimpin masyarakat yang terdiridari individu-individu di abad modern ini sama dengan memimpin kelompok-kelompok yangberkonflik. Fenomena inipun tak luput merambah dunia pendidikan, sehingga tidak jarang dilngkungan pendidikan diwarnai dengan berbagai kepentingan kelompok, individu bahkan elittertentu yang pasti mempengaruhi sistem manajemen pendidikan dewasa ini.Ketersediaan sumberdaya di sekolah, baik sumberdaya alam, sosial, manusia, sarana,dana, kurikulum, dan potensi siswa yang tinggi belum menjamin kesuksesan proses pendidikandi sekolah
,jika seorang kepala sekolah tidak memenej pluralitas yang potensial menimbulkanpermasalahan. Heterogenitas sumberdaya yang dikelola, banyaknya kepentingan antar unitdalam keseluruhan struktur organisasi, personel pendukung pelaksanaan pendidikan yang
 
memiliki latar belakang, kepentingan, tugas, wewenang, dan tanggungjawab yang bervariasi.Persaingan antar komponen, bagian atau unit, kepentingan, tujuan, kebutuhan, individualismeyang makin merebak, materialisme eksklusif, dan lain-lain memunculkan potensi terjadinyakonflik dalam kehidupan kelembagaan di sekolah.II.
 
MANAJEMEN KONFLIK DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAMA.
 
Pengertian Konflik Kata konflik dalam bahasa yunani :
configere, conflictum
berarti saling berbenturan. Artikata ini menunjukkan pada semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, ketidakserasian,pertentangan, perkelahian, oposisi, dan interaksi-interaksi yang antagonis bertentangan. Dapatdiartikan pula bahwa konflik merupakan relasi-relasi psikologis yang antagonis, berkaitandengan tujuan-tujuan yang tidak bisa disesuaikan, interes-interes eksklusif yang tidak bisadipertemuakan, sikap emosional yang bermusuhan, dan struktur-struktur nilai yang berbeda
. Kartini Kartono, mendefiniskan konflik secara positif, negatif dan netral. Dalampengertian negatif, konflik diartikan sebagai: sifat-sifat animalistik, kebuasaan, kekerasan,barbarisme, destruksi/pengrusakan, penghancuran, irrasionalisme, tanpa kontrol emosional, huru-hara, pemogokan, perang, dan seterus.Dalam pengertian positif, konflik dihubungkan dengan peristiwa: petualangan, hal-halbaru, inovasi, pembersihan, pemurnian, pembaharuan, penerangan batin, kreasi, pertumbuhan,perkembangan, rasionalitas yang dialektis, mawas-diri, perubahan, dan seterusnya.Sedangkan dalam pengertian netral, konflik diartikan sebagai: akibat biasa darikeanekaragaman individu manusia dengan sifat-sifat yang berbeda, dan tujuan hidup yang samapula.
 Fink (dalam Kartini Karton
o, 1991) menyebutkan bahwa konflik merupakan “interaksi
yang antagonis, mencakup tingkah laku lahiriah yang tampak jelas, mulai dari bentuk-bentuk perlawanan halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung; sampai pada bentuk perlawanan
terbuka.”
 Muhyadi, mengemukakan definisnya dengan menekankan pada usaha melawan ataumenghalangi orang lain agar gagal mencapai tujuan.
 Menurut Chatlinas Said, sebagaimanayang dikutip oleh Soetopo, menekankan pada cekcok tujuan, ketidak sejalanan tujuan.Selanjutnya pendapat Mastenbroek, yang dikutipnya lagi, memberikan pengertian yang agak luasdan memandang konflik sebagai situasi di mana ketentuan tak berjalan, pernyataanketidakpuasan, dan penciutan proses pembuatan keputusan.Pengertian yang lebih padat dan simpel dapat dilihat dari pendapat Ross Stagner yangdikutip oleh C.R Mitchel dalam
The Structure of International Cinflict 
:
“...konflik merupakan sebuah situasi, di mana dua orang (atau lebih) menginginkan
tujuan-tujuan yang menurut persepsi mereka dapat dicapai oleh salah seorang di antara mereka,tetapi hal itu tidak mungkin cicapai oleh kedua belah pihak .
 Bertumpu pada beberapa pendapat di atas, dapat disimpulakan bahwa konflik merupakanperbedaan, pertentangan, dan ketidak sesuaian kepentingan, tujuan, dan kebutuhan dalam situasiformal, sosial, dan psikologis, sehingga menjadi antagonis, ambivalen, dan emosional diantaraindividu dalam suatu kelompok atau organisasi.Dari definisi dan konklusi di atas kelihatan adanya perbedaan pandangan para ahlimanajemen terhadap konflik. Sehubungan dengan ini, Muhyadi mengemukakan tiga pandanganterhadap konflik yang terjadi di alam organisasi, sebagaimana dikutip oleh Soetopo, yaitu: aliran
 
tradisional, alairan behavioral, dan aliran interaksi.
 Aliran tardisional memandang knflik sebagai sesuatu yang jelek,tidak menguntungkan, dan selalu menimbulkan kerugian dalamorganisasi. Oleh sebab itu konflik harus dicegah dan dikentikan. Cara yang efektif untuk menghindari dan menghentikan konflik menurut faham ini adalah dengan menemukansumbernya untuk kemudian diatasi. Selanjutnya aliran
behavioral
memandang konflik sebagaisesutu yang wajar terjadi dan alamiah dalam suatu organisasi. Karena tanpa perlu diciptkan,konflik ini akan terjadi dalam organisasi. Berdasarkan pandangan ini, maka konflik tidak selamanya dipandang sebagai sesutu yang merugikan, akan tetapi juga bisa menguntungkan.Dengan demikian, maka konflik yang terjadi di lingkungan organisasi harus dikelola denganbaik. Lebih lanjut aliran interaksi memandang bahwa konflik dalam suatu organisasi harusdiciptakan (dirangsang timbulnya). Pandangan semacam ini dilatar belakangi oleh konsep bahwaorganisasi yang tenang, harmonis dan senantiasa dalam kedamaian akan cenderung menjadistatis dan kurang inovatif. Oleh sebab itu oragnisasi semacam ini sulit bersaing untuk maju.Dalam kehidupan organisasi secara riil, konflik bisa menguntungkan dan bisa pulamerugikan organisasi. Konflik yang menguntungkan disebut konflik fungsional, sedangkankonflik yang merugikan disebut konflik disfungsional.
 Contoh konflik yang menguntungkanantara lain: memungkinkan munculnya ketidakpuasan yang tersembunyi ke permukaan sehinggaorganisasi dapat mengadakan penyesuaian dan mengatasinya, memungkinkan munculnya norma-norma baru yang sangat membentu mengatasi kekurangan norma-norma lama, berguna untuk mengukur kemampuan struktur kekuasaan yang ada pada organisasi, memperkuat ciri kelompok yang ada sehingga kelompok itu memiliki identitas yang pasti, menyatukan beberapa kelompok yang terpisah, dan merangsang usaha untuk mengurangi stagnasi.Di sisi lain konflik ini juga merugikan organisasi, sebagai contoh dapat dikemukakan disini antara lain: Menyebabkan timbulnya perasaan tidak enak sehingga menghambat komunikasi,membawa organisasi ke arah disintegrasi; menyebabkan ketegangan antar individe maupunantar kelompok; menghalangi kerjasama diantara individu dan menganggu saluran informasi;memindahkan perhatian anggota organisasi dari tujuan organisasi.Kefektifan organisasi dalam mencapai titik optimum kinerja juga dipengaruhi olehkonflik yang muncul. Sehubungan dengan ini Tosi mencoba menghubungkan antara konflik dengan kefektifan organisasi, dengan menjelaskan bahwa kefektifan organisasi akan berada padalevel rendah mana kala level konflik berada pada posisi rendah; pada level konflik sedang,keefektifan organisasi dapat mencapai titik optimum tinggi. Sedangkan pada level konflik tinggi,kefektifan organisasi jadi menurun.Organisasi yang level konfliknya rendah atau tidak ada konflik sama sekali, cenderungmangalami stagnasi, tidak meningkat, dan gagal mencapai kefektifan. Untuk itu seorangpemimpin harus menendalikan konflik pada level sedang agar organisasi tersebut menjadidinamis dan mencapai keefektifan yang tinggi. Jika konflik berada pada level yang tinggi,dikhawatirkan organisasi sulit dingendalikan, bahkan bisa jadi seluruh potensi organisasidigunakan untuk memikirkan solusi konflik. Hal ini akan merugikan organisasi bahkan bisagagal mencapai kefektifan.B.
 
Sumber Dan Faktor-Faktor Konflik 1.
 
Sumber Konflik Menurut Smith
,konflik dalam suatu organisasi, termasuk di dalamnya organisasisekolah pada dasarnya bersumber dari tiga hal, yaitu: masalah komunikasi, struktur organisasidan faktor manusia itu sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->