Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
11Bangunan Komersial

11Bangunan Komersial

Ratings: (0)|Views: 1,150 |Likes:
Published by api-3706297

More info:

Published by: api-3706297 on Oct 14, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Jurnal
Infrastruktur dan Lingkungan Binaan
Infrastructure and Build Environment
Vol. I No. 1, Juni 2005
Bangunan Komersial, Olahraga, dan Pendidikan serta Ruang Terbuka Perkotaan
sebagai Ruang Remaja Kota: Needs Assessment, Studi Kasus Kota Bandung
Oleh: Suparti Amir Salim, Wiwik Dwi Pratiwi
Departemen Teknik Arsitektur ITB
Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah identifikasi ruang perkotaan yang menjadi tempat remaja dan menilai teknis perancangan ruang-ruang atau zona publik untuk remaja. Tipologi ruang dan sarana fisik yang diamati adalah bangunan komersial, olahraga, pendidikan dan ruang terbuka perkotaan yang menjadi ajang interaksi remaja. Kelompok remaja didefinisikan sebagai mereka yang berusia 15-19 tahun. Hasil penelitian ini akan menambah kelengkapan panduan rancangan ruang dari aspek kebutuhan remaja, bukan ruang yang dirancang atau terbentuk karena tuntutan standar teknis. Pengamatan menunjukkan sejumlah good practices dalam: lokasi yang bersinergi, pemanfaatan ruang yang multi guna, partisipasi remaja pengguna dalam menentukan ciri tem- patnya, dan subsidi bagi remaja-kurang-mampu. Sedangkan fenomena negatif yang teramati adalah kecenderungan segregasi ruang remaja berdasarkan kelompok sosial, kekuatan pasar bersifat sektoral yang makin menentukan bentuk sarana kota, ruang dan tempat yang bersifat eksklusif dan kurang mampu memfasilitasi karakter sosial remaja yang sangat heterogen.

Kata kunci: Desain Inklusif, Perilaku Remaja Kota, Standard Ruang dan Bangunan Umum
Abstract

This research is to identify urban places that are heavily used by the youth and to asses the places from the youth perspectives. The typology of places and facilities include commercial, sport, and education facilities as well as open spaces where youth interactions are taking place. The youth are those who are 15-19 years old. The research results are meant to enlighten the existing standard and guidelines of designing the facilities observed. It reveals some good practices such as: synergised places within one or few locations, multi-used places and facilities, youth participation in characterizing its places, and indirect subsidy for the youth with low-income families. On the other hand, negative phenomena are observed. These include more segregated urban places and facilities which mainly driven by market force. Urban places and facilities that could facilitate the needs of the heterogonous youth and contribute to their better living condition tend harder to be achieved.

Key Words: Inclusive Design, Urban Youth Behaviour, Public Space and Building Standard
1.
Pendahuluan

Menurut hasil sensus BPS 2000, hampir separuh (49,30%), penduduk kota Bandung berusia di bawah usia 25 tahun. Kebutuhan ruang kota bagi penduduk usia muda umumnya kurang mendapat perhatian dalam perencanaan dan perancangan perumahan dan permukiman, baik ruang yang ada di dalam bangunan maupun di antara sesama bangunan, terutama bagi kelompok usia remaja (15-19 tahun), yang jumlahnya di kota Bandung mencapai 11,08%.

Kebutuhan remaja cenderung lebih didefinisikan
oleh orang dewasa, dengan standar/panduan

perencanaan dan perancangan yang pada umumnya berasal dari negara berlatar belakang sosio-ekonomi dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu dipandang perlu melakukan penelitian yang mengungkapkan respons remaja terhadap berbagai karakteristik ruang dari pandangan mereka sendiri. Dengan mengetahui bagaimana ruang kota yang ada sekarang merespons kebutuhan remaja, dan bagaimana respons remaja terhadap ruang yang ada, diharapkan dapat diperoleh informasi yang dapat membantu meningkatkan pengadaan bangunan dan ruang perkotaan yang lebih tanggap terhadap kebutuhan kelompok usia remaja. Kualitas kehidupan remaja sangat penting, karena akan menentukan kehidupan di masa depan.

Teknik Sipil
Geodesi & Geomatika
Arsitektur
Teknik Lingkungan
Perencanaan Wilayah & Kota
Teknik Kelautan
Jurnal
Infrastruktur dan Lingkungan Binaan
Infrastructure and Build Environment
Vol. I No. 1, Juni 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ruang perkotaan yang menjadi tempat remaja, dan melakukan penilaian teknis perancangan atas ruang publik atau yang bersifat sebagai zona publik untuk remaja, yang ada pada bangunan komersial, olahraga, pendidikan dan ruang terbuka perkotaan merupakan sarana dasar sosial per- mukiman. Batasan usia kelompok remaja adalah usia siswa sekolah menengah umum, 15-19 tahun.

Untuk mengetahui jenis aktivitas, intensitas aktivitas, frekuensi aktivitas, jumlah pelaku, dan pola titik lokasi aktivitas, dikumpulkan data primer dengan metode pendekatan perilaku. Wawancara tidak terstruktur juga dilakukan kepada sejumlah pengguna ruang, danpengamat remaja. Pengamatan lapangan tersebut dilakukan dalam bulan Maret sampai Agustus 2004.

2.
Studi Pustaka
2.1 Standar Sarana Pelayanan Perumahan
dan Permukiman

Dalam standar perencanaan perumahan dan per- mukiman, luas dan jenis ruang untuk sarana dasar umumnya dikaitkan dengan jumlah penduduk yang dilayaninya. Standar tidak menjelaskan secara spesifik konteks kondisi sosio-ekonomi dan budaya dari penduduk yang dilayaninya.

Pertimbangan usia secara terbatas ada dalam penentuan lokasi. Taman kanak-kanak dan sekolah dasar misalnya, disarankan dapat ditempuh dalam jarak berjalan kaki dari kelompok rumah yang dilayaninya. Sedangkan tempat bermain anak (playground), disarankan berlokasi pada jarak jangkauan yang mudah diawasi dari rumah.

Standar sarana pendidikan umumnya mencakup sarana olahraga dan ruang terbuka, yang sekaligus ditempatkan sebagai ruang untuk kegiatan olahraga dan rekreasi penduduk. Dalam kenyataannya sarana pendidikan kurang terkait dengan area pelayanan, karena pilihan sekolah cenderung terkait dengan kualitas sekolah, status sosial dan tingkat kemampuan orang tua, serta prestasi akademik siswa.

Standar umum juga menetapkan sejumlah persyaratan berkaitan dengan fungsi dari sarana yang bersangkutan. Bangunan sekolah misalnya mempunyai panduan tentang jumlah dan luas kelas, ruang guru dan sebagainya. Penelitian ini dimaksudkan untuk menambah kelengkapan panduan rancangan ruang dari aspek kebutuhan

remaja, bukan ruang hanya sebagai fungsi teknis
semata.
2.2 Remaja: Definisi, Karakter dan
Kebutuhannya

Lieberg (1995), menyebutkan bahwa youth tidak bisa didefinisikan secara seragam. Remaja terdiri dari banyak grup pada masing-masing subkultur. Masing- masing kelompok dan tiap individu mempunyai gaya, ketertarikan dan tujuan yang berbeda-beda. Namun demikian, Lieberg menyebutkan ciri remaja sebagai berikut: \u201cIndividuals who are active, creative and

able to act, who (re)create their own environments
and contexts\u201d.

Berdasarkan usia, remaja dapat dibagi atas usia awal remaja dan remaja dewasa. Pada awal remaja, relasi hetero-seksual mulai tumbuh, adanya ketertarikan dengan lawan jenis, juga mempunyai keinginan untuk berkelompok dengan kawan sejenis. Pada usia remaja dewasa, mereka mulai mengeksplorasi cita-cita dan bidang/pekerjaan yang ingin dipilihnya pada usia dewasa.

Pergaulan dengan teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar hidup bersama orang lain yang bukan anggota keluarganya, dalam satu kelompok baru yang memiliki ciri, norma, kebiasaan yang jauh ber-beda dengan lingkungan keluarganya. Umumnya remaja mempunyai rasa takut diabaikan oleh kelompoknya.

Menurut Astuti (psikologi UNPAD), kelompok remaja mempunyai hirarki berdasarkan pada keterikatan antara anggotanya yang berbeda satu dengan lainnya, yaitu:

a. Kelompokchum s (sahabat karib): persahabat an yang sangat kuat, 2-3 orang dan biasanya berjenis kelamin sama.

b.Kelompok clique (kelompok sahabat): sejenis,
kegiatan bersama.
c.Kelompokcrowds (kelompok banyak remaja):
agak renggang, hetero-seksual.
d. Kelompok yang diorganisasikan dan dibentuk
oleh orang dewasa.

Dalam kelompok yang tidak diorganisasikan secara formal, figur teman lebih berarti daripada figur otoritas. Yang berlaku adalah minat mayoritas. Mereka menyesuaikan diri dengan minat geng atau kelompoknya, karena takut. menjadioutgroup. Orang tua dan orang dewasa merupakan pihak yang \u201cdi-musuhi\u201d oleh remaja. Mereka ingin membuat otoritas atas diri sendiri, guna membuktikan bahwa dirinya sudah bukan lagi anak-anak.

Teknik Sipil
Geodesi & Geomatika
Arsitektur
Teknik Lingkungan
Perencanaan Wilayah & Kota
Teknik Kelautan
Jurnal
Infrastruktur dan Lingkungan Binaan
Infrastructure and Build Environment
Vol. I No. 1, Juni 2005

Perilaku agresi sangat mungkin berkembang, karena remaja cenderung mempunyai enersi berlebih. Bila enersi yang berlebihan tidak tersalurkan sebagaimana mestinya, tingkah laku agresif akan timbul, misalnya berupa tawuran dan perkelahaian. Kelebihan enersi ini dapat ter- salurkan melalui olahraga, sekaligus memenuhi keinginan untuk tampil di depan publik remaja lain. Mereka menyukai aktivitas dan tempat yang memungkinkan untuk saling melihat kelompok lawan jenis seusianya.

Remaja juga cenderung berfantasi, kadang tak masuk akal orang dewasa. Juga menyukai penjelajahan alam. Komputer dan perpustakaan memberi peluang untuk ber-fantasi. Fasilitas ini dapat merupakan bagian dari sekolah, atau usaha sosial maupun yang bersifat profit. Juga fasilitas lingkungan alami di dalam kota, misalnya sarana buatan untuk berlatih panjat tebing, dapat bermanfaat bagi remaja. Mereka dapat berlatih dan melihat serta dilihat oleh sesama remaja lain, terutama lawan jenisnya. Ruang semacam ini dapat dilengkapi dengan dinding untuk ditulisi/ digambari oleh remaja, untuk menyalurkan kecenderunganv an da lism.

Remaja juga dapat merupakan sasaran kejahatan dan kriminalitas, atau korban; tetapi juga berpotensimenjadi pelaku kriminal. Karena itu ruang perkotaan perlu aman, dan membatasi terjadinya tindak kejahatan remaja. Ruang kota yang bersifat campuran cenderung dinilai sebagai ruang yang lebih aman. Fungsi campuran memberi peluang berbagai orang datang dan saling memperhatikan, sehingga peluang tindak kejahatan dianggap akan berkurang.

Kebutuhan remaja, sebagaimana dengan kelompok sosial lain, akan dipengaruhi oleh latar belakang sosio-ekonomi dan budaya. Di Indonesia, termasuk di kota Bandung, remaja usia 15-19 tahun tidak hanya merupakan angkatan sekolah, tetapi juga angkatan kerja atau putus sekolah.

Di daerah Rancaekek misalnya, remaja cenderung menjadi buruh pabrik di daerah sekitarnya, daripada melanjutkan sekolah (Astuti, 2004). Pemuda usia remaja tampak juga bekerja di sektor informal, misalnya sebagai pedagang kaki lima, kenek angkutan umum, dan sebagainya. Adanya karakter sosio-ekonomi yang berbeda, akan ber- implikasi kepada kebutuhan yang berbeda pula.

Secara ringkas dapat disebutkan bahwa remaja
membutuhkan
petualangan,
persahabatan,
kesempatan berkreasi, kegembiraan dan bebas

dari tekanan; prestasi, status dan pengakuan sosial. Sarana komersial, pendidikan, olahraga dan rekreasi perkotaan dapat memfasilitasi sebagian atau seluruh kebutuhan tersebut, baik sebagai ruang maupun dari kualitas kegiatan yang diadakan atau berlangsung.

3. Kasus Studi Sarana Pendidikan:
Bangunan Sekolah dan Perpustakaan
3.1 Bangunan Sekolah

Pendidikan bagi remaja perlu dilihat sebagai aktivitas, sarana kemandirian belajar dan interaksi sosial. Sifat keingintahuan remaja perlu mendapat bimbingan dan pengarahan, tanpa mengekang kebebasan remaja itu sendiri. Interaksi sosial pada masa remaja diperlukan guna mengasimilasikan nilai- nilai yang ada pada individu dengan nilai-nilai yang berlaku pada lingkungan masyarakat, untuk mencari harmoni di antara keduanya.

Sebagai sebuah komunitas remaja, sekolah merupakan ruang akademik sekaligus ruang sosial dan rekreasional. Dengan sifat seperti itu, maka sarana sekolah tidak cukup dilihat sebagai semata- mata bangunan, melainkan keseluruhan ruang yang ada di dalam maupun di luar bangunan. juga peralatan dan terutama aktivitas di luar pengajaran, yang lazim disebut sebagai ekstra kurikuler. Di Bandung, kebutuhan seperti itu baru dapat dipenuhi oleh sebagian sekolah. Sementara banyak sekolah yang harus berbagi sarana, atau berbagi waktu dengan sekolah lain atau antarkelas yang tak sama.

Dari kepustakaan, diketahui bahwa sekolah bagi remaja memerlukan ruang untuk diskusi, sarana/ ruang yang dapat memfasilitasi aktivitas demo-kratis, seperti misalnya ruang untuk kegiatan organisasi siswa di sekolah, majalah dinding, dan lain sebagainya. Juga perlu ruang untuk unjuk kemampuan, seperti misalnya ruang pameran dan ruang pertunjukan. Ruang-ruang seperti itu tidak selalu harus merupakan ruang terpisah sendiri- sendiri, melainkan sebagai suatu ruang yang sifatnya multi fungsi, yang dapat digunakan sebagai tempat unjuk kemampuan olahraga atau kesenian yang dapat ditonton oleh keluarga siswa, siswa, dan guru, serta kegiatan lainnya.

Selain itu, bangunan sekolah perlu memperhatikan kemungkinan perubahan dalam pendidikan, seperti misalnya perubahan kuri-kulum. Bangunan yang dirancang fleksibel, strukturnya bisa diubah mengadaptasi perubahan yang terjadi, akan membuat pembangunan lebih ekonomis. Berbagi sarana dengan komunitas setempat dan atau organisasi bahkanu sah a

Teknik Sipil
Geodesi & Geomatika
Arsitektur
Teknik Lingkungan
Perencanaan Wilayah & Kota
Teknik Kelautan

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
su3h3ri liked this
Kjedod Doll liked this
DevinaSusilo liked this
devinasusilo liked this
Luqman Raafi liked this
anchumy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->