Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
UU Kebebasan Beragama - By Victor Silaen

UU Kebebasan Beragama - By Victor Silaen

Ratings: (0)|Views: 223|Likes:
Published by Gilbert Hanz

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Sep 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/20/2012

pdf

text

original

 
UU Kebebasan Beragama
Dimuat pada Harian
 Jurnal Nasional
, 23 Maret 2011
Pentingnya UU Kebebasan Beragama
Oleh
Victor Silaen
 Pasca-tragedi Berdarah Cikeusik (6 Februari 2011), apakah yang sudah dilakukan pemerintahterhadap para pelaku aksi brutal yang menewaskan tiga warga Jamaah Ahmadiyah Indonesia(JAI) itu? Di Kupang, 9 Februari lalu, saat memperingati Hari Pers Nasional, Presiden SusiloBambang Yudhoyono (SBY) melontarkan pernyataan tegas sekaligus instruksi agar mencari jalan legal untuk membubarkan organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas) yang seringmenimbulkan keresahan.Kini, setelah lebih dari sebulan, apa yang terjadi? Alih-alih ada ormas anarkistis yangdibubarkan, justru JAI yang kian dibatasi ruang-geraknya. Jadi, bukannya semakin dilindungikarena telah berulang kali menjadi korban kekerasan, JAI malah dipojokkan dandiperlakukan secara diskriminatif melalui peraturan resmi yang dikeluarkan oleh beberapapemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota. Alih-alih para pelaku aksi kekerasan ituyang dikriminalkan, malah JAI yang dikambing-hitamkan sebagai biang-keroknya. Inilahyang disebut viktimisasi korban.Paradoks betul sikap pemerintah ini: ke luar terkesan gigih membela HAM, tapi di dalam justru diskriminatif, utamanya terhadap umat beragama minoritas (secara statistik) yangkerap mengalami ancaman dalam menikmati hak kebebasan beragama dan beribadah.Berdasarkan itu masihkah Indonesia hari ini layak disebut bangsa yang religius? Bukankahbangsa yang religius seharusnya justru berada di garda depan dalam menegakkan HAM? Danbukankah HAM tidak membeda-bedakan orang berdasarkan agama maupun aqidahnya? Masih berkait dengan kebebasan beragama dan beribadah, mengapa membangun rumahibadah begitu sulitnya bagi sebagian umat beragama? Di Ciketing, Bekasi, tahun silam, jemaat gereja HKBP berbulan-bulan lamanya menghadapi hambatan untuk beribadah.Kendati begitu, pemerintah bergeming. Barulah pada 12 September 2010, ketika salah
seorang pengurus gereja itu ditusuk dan pendetanya dipukulin, pemerintah “agak” heboh.
 
Tapi solusinya malah diserahkan kepada para pembantu presiden di pemerintahan pusat dandaerah untuk duduk bersama.Sintua Sihombing - dalam perawat di rumah sakit setelah ditikam massa FPI yang dikoordinirUstad Murhali Barda 
Di Bogor, jemaat gereja GKI Taman Yasmin bahkan mengalami ketidakpastian yang jauhlebih lama untuk dapat membangun rumah ibadahnya sampai-sampai harus beribadahdi trotoar sebanyak sebelas kali. Itu pun sulit dan kerap dihalang-halangi karenadianggap mengganggu ketertiban. Buka-tutup gembok gereja juga telah dialami berkali-kali, oleh pihak Satpol PP dan polisi. Bahkan pernah gembok gereja dibuka, tapi hanyaberumur 1x24 jam, karena harus ditutup kembali akibat tekanan pihak tertentu.Jemaat GKI Taman Yasmin beribadah di trotoar setelah gereja mereka disegel olehPemKot BogorSemua langkah damai dan sah secara hukum telah dilakukan oleh pihak GKI TamanYasmin. Mulai dari upaya sosialisasi, negosiasi, proses peradilan, pelaporan kepada
 
Komnas HAM, Ombudsman RI, Presiden RI, Komnas HAM ASEAN hingga PBB, dan upayamengampanyekannya di media lokal, nasional dan internasional. Namun hingga kini,mereka masih harus berjuang untuk memperoleh hak beribadah.Kalau benar negara ini negara hukum (
rechstaat 
), seharusnya pemerintahmemperlihatkan keteladanan dalam menaati hukum. Tapi, pihak Pemkot Bogor malah
bersikap “cuek” terhadap putusan Mahkamah Agung Nomor 127 PK/TUN/2009 yang
menyatakan bahwa Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pihak GKI Taman Yasmin sah.
 “Pemkot Bogor akan membatalkan IMB GKI Taman Yasmin dan akan membayar
kerugian pengurusan IMB dan merelokasi dan membeli tanah serta bangunan GKITaman Yasmin. Hal ini sangat berbeda dengan pernyataan mereka sebelumnya yangmenyatakan Pemkot Bogor akan membuka gembok segel gereja dan siap melaksanakan
keputusan MA,” demikian diungkapk
an Fatmawati Juko, pengacara GKI Taman Yasmin,di Gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Salemba, Jakarta, 14 Maretlalu.Apa yang dapat kita katakan tentang sikap Pemkot Bogor ini? Pertama, tak taat hukumdan tak menghormati lembaga hukum tertinggi di negara hukum ini. Kedua, agakmengherankan bahwa sepertinya justru Pemkot Bogor yang tak ingin warga gereja GKITaman Yasmin beribadah di sana. Ada apa gerangan? Ketiga, arogan, karena Pemkot
Bogor merasa dapat ”membeli” hak yang sudah dimiliki
pihak GKI Taman Yasmin.
Inilah wajah Indonesia hari ini: tak ramah dan mencemaskan bagi sebagian umat beragamaminoritas (secara statistik). Tak dapat dipungkiri bahwa peristiwa diintimidasi dan/atauditutup-paksanya sebuah rumah ibadah oleh pihak-pihak yang tak menghendakinya, seakansudah menjadi cerita lama. Ironisnya, peristiwa-peristiwa tersebut kerap berlangsung tanpaupaya preventif yang maksimal dari negara. Tidakkah ini dapat dikategorikan sebagaikejahatan negara melalui tindakan pembiaran (
state crime by omission
)?Kita menyesali negara ini karena tak serius mengatasi masalah-masalah seperti ini dengan jalan menangkap dan mengadili para pelaku aksi anarkis yang telah menodai Pancasila, UUD45 dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.Kita meragukan kalau-kalau Indonesia masih
seperti dulu: yang “bhineka” tapi tetap “tunggal ika”. Kita pun ragu bahwa penegakan HAM
di Indonesia betul-betul mengalami kemajuan, sebagaimana yang pernah dipuji ASEAN danPBB. Sebab, fakta-fakta menunjukkan bahwa selama ini negara tak serius menyikapikelompok-kelompok 
vigilante
 (kelompok warga sipil yang gemar melakukan kekerasandengan mengambil alih fungsi penegakan hukum) itu. 
Terkait pembangunan rumah ibadah, negara memang sudah membuat peraturannya(Perber Dua Menteri 2006). Namun jika dicermati, pasal dan ayatnya lebih banyak yangtak berkaitan langsung dengan hal-hal di seputar bangunan itu sendiri, melainkandengan hal-hal lain seperti berapa banyak pengguna rumah ibadah dan berapa banyakwarga sekitar yang setuju dengan rencana pembangunan rumah ibadah tersebut.Mengapa negara tak juga membuat peraturan yang terperinci tentang hukuman bagipara pelaku gangguan terhadap sebuah rumah ibadah?
Terkait kebebasan beragama, negara mestinya tidak mengintervensi substansi dan corak keyakinan manapun, kecuali ada hal-hal di dalamnya yang melanggar hukum. Jika Indonesiakonsisten sebagai negara hukum, seharusnya hanya hukum-hukum buatan negaralah yang

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
Reza Ibnu liked this
Gilbert Hanz liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->