Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hadits Ahad Dan Hadits Mutawatir

Hadits Ahad Dan Hadits Mutawatir

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 7,805 |Likes:
Published by api-3715579

More info:

Published by: api-3715579 on Oct 14, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

 
HADITS AHAD DAN HADITS MUTAWATIRSebuah Catatan Atas Sebuah Penjelasan
1
Pendahuluan
Ilmu hadits adalah ilmu yang sangat mulia dalam Islam. Orang-orang yang bergelut di dalamnya telah menyandangkeharuman tersendiri dalam sejarah. Sebutlah misal seperti : Malik bin Anas, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal,Al-Auza’I, Ali bin Al-Madini, Yahya bin Ma’in, Ibnul-Mubarak, Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, An-Nawawi,Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, Ibnu Rajab, Asy-Syaukani, Al-Mubarakfury, Ahmad Syakir, danlainnya yang tetap berlanjut sampai saat ini. Merekalah Ashhaabul-Hadits (para ahli hadits). Dan merekalah orang-orangyang mendapatkan pengakuan bahwa sebagai penghulu/pemimpin
 Al-Firqatun-Najiyyah
(Golongan yang Selamat).Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ةدحاو لإ رنا يف مهك قف عبسو ث ى ا ذ ت مسو آو مسو  ا ىص ا سر ق ق   أ جا يو : ظ يفو .يصأو ا  أ  ق قا  ي و اق
Dari Anas bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
“Akan terpecah umat ini menjaditujuhpuluh tiga kelompok yang kesemuanya masuk neraka kecuali satu”. Para shahabat bertanya : “Siapa mereka wahaiRasulullah ?”. Beliau menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang kondisinya seperti kondisiku dan para shahabatku dihari ini” 
. [HR. Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghiir no. 724]. Dalam lain riwayat beiau besabda :
“Dan ia adalah Al-Jama’ah” 
[HR. Abu Dawud no. 4597, Ahmad 4/102 no. 16979 dari shahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan].
2
Satu golongan/kelompok itulah
 Al-Firqatun-Najiyyah
(sebagaimana disebut oleh banyak ulama). Syaikh Abdul-Qadir Al- Jailani berkata dalam kitab Al-Ghunyah : {
 
  و دحاو مسا لإ مه مسا ل نا أ و ، جا و نا أ يهف نا قا أدا صأ
} “Adapun golongan yang selamat yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Dan Ahlus-Sunnah, tidak ada nama lainbagi mereka kecuali satu nama, yaitu Ashhaabul-Hadiits (para Ahli-Hadits)”
3
.Ashhaabul-Hadits disebut juga
 Ath-Thaifah Al-Manshurah
, yaitu kelompok yang mendapatkan pertolongan (dari Allah)dalam menegakkan al-haq sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
ذك مو ا أ ي ىتح مهذخ  مض ل ا ى  يتأ  ئط از ل
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang memperjuangkan al-haq, tidak membahayakan mereka orang yangmenghinakan mereka hingga datang keputusan Allah (yaitu datangnya hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaanseperti itu” 
[HR. Muslim no. 1920].Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang hadits di atas beliau menjawab : {
 
صأ ةرنا ئا ذ  م ام  رأ ف دا
 
} “Apabila kelompok yang mendapatkan pertolongan itu bukanlah Ashhaabul-Hadits, maka aku tidaktahu siapakah mereka…” [Ma’rifatu ‘Ulumil-Hadiits oleh Al-Hakim An-Naisaburi hal. 1 dengan sanad shahih]
4
.Ashhaabul-Hadits adalah orang-orang yang paling mengerti maksud dan pengamalan sunnah-sunnah Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan mereka lah orang yang telah menghabiskan waktu dan usianya untuk mempelajarihadits-hadits, memilah antara yang shahih dan yang dla’if, serta kemudian memberikan penjelasan kandungannya..Bila kemudian ada permasalahan yang berkaitan dengan hadits dan sunnah Nabi, tentu Ashhaabul-Hadits (para ahli hadits)lah
5
yang paling mengetahui. Bukan selainnya, seperti dari kalangan ahlul-kalam, ahlul-ushul, dan yang semisal. ImamIbnul-Qayyim mengatakan :
اح عا ، دا ء مو ، و قطو د معا أ لإ قدص دو دا دص ى ا يف بتع ل ذكو، خو  ىإ من ات معا أ ف ، مهبت اق دا ن  دشأ ه نتعا ، عفأو اق ضا ، مهبعفأو اق مهبو ، مهب ن مهتن ةد دا ف ، مدن ات أ  ً ضف ، مغ  ً ع  ل  صا دن اتفتبا  مغ رعش ل  ف  ل  ً    ع احأو
“….Demikian pula dalam perkara yang berkaitan dengan membenarkan sebuah hadits atau tidak, mesti disepakati olehpara ahli hadits yang lebih memahami jalur periwayatan dan
‘illat 
-nya. Mereka itu adalah ulama hadits, karena merekamengetahui keadaan nabi mereka, yang senantiasa memelihara sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, danmemiliki perhatian lebih terhadap periwayatan dibandingkan mereka yang masih bertaqlid pada perkataan-perkataan yangmereka ikuti. Sebagaimana ilmu pengetahuan itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu khusus dan ilmu umum. Maka adailmu yang diyakini oleh orang khusus dimana tidak diketahui oleh orang lain, apalagi diyakini. Dan Ahlul-Hadits denganperhatian mereka yang lebih kepada sunnah Nabi mereka, pemeliharaan mereka atas sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau; mereka mengetahui permasalahan ini dan tidak meragukannya. (Dan tentu mereka sangat berbeda)dibandingkan orang-orang selain mereka yang tidak mempunyai perasaan perhatian kepada sunnah Nabi sebagaimanamereka[
Mukhtashar Ash-Shawaaiqul-Mursalah
juz 2 hal. 373 melalui perantara kitab
 Al-Hadits Hujjatun binafsihifil-‘Aqaaid wal-Ahkaam
hal. 70-71; Maktabah Sahab].
Hadits Ahad dan Hadits Mutawatir
Pembagian hadits mutawatir dan hadits ahad – dalam ilmu hadits – adalah berkaitan dengan hadits dilihat dari segisampainya kepada kita.
6)
 
Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari
at-tawaatur 
yang artinya berurutan. Sedangkan
1
Catatan atas penjelasan materi yang diberikan pada tanggal 13 Januari 2008 M di Masjid Al-Hijri Ciomas Permai mengenai IlmuHadits, khususnya pembahasan hadits mutawatir dan hadits ahad.
2
Hadits ini dengan keseluruhan jalan periwayatannya adalah shahih. Telah dishahihkan oleh banyak ulama hadits seperti : At- Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah, Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham, Ibnu Hibban dalam Shahihnya,Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Ibnu Taimiyyah dalam
Majmu’ Fatawa
, Ibnu Hajar dalam
Takhrij Al-Kasyaf 
, Al-Albani dalam
 Ash-Shahiihah
,dan yang lainnya.
3
Dinukil melalui perantara kitab
Minhajul-Firqatin-Najiyyah wath-Thaaifah Al-Manshurah
oleh Ibnu Zainu, Cet. 9.
4
Silakan disimak perkataan para ulama dalam kitab tersebut tentang eksistensi Ashhaabul-Hadiits !
5
Penyebutan para Ahli Hadits secara khusus dalam cakupan makna Ashhaabul-Hadits merupakan penisbatan yang dilakukan olehpara ulama Ahlus-Sunnah. Silakan lihat kitab
Ma’rifatu ‘Ulumil-Hadiits
oleh Al-Hakim An-Naisaburi.
6
Sebagian ahli hadits tidak membaginya menjadi dua, namun menjadi empat : mutawatir, masyhur, ‘aziz, dan gharib. Tidak adaperbedaan mendasar dalam permasalahan ini, karena hadits masyhur, ‘aziz, dan gharib termasuk klasifikasi hadits ahad.
7
Sebenarnya pembagian hadits muatawatir dan ahad tidaklah dimulai oleh kalangan ahli hadits di kalangan awal (tidak adaasalnya dari kalangan Ashhaabul-Hadiits). Namun, pembagian itu dimulai oleh kalangan ahli ushul dan ahli kalam. Pembagian tersebutpertama kali dilakukan oleh Abdurrahman bin Kaisan Al-Asham yang kemudian diikuti oleh muridnya yang bernama Ibrahim bin Isma’ilbin Ibrahim. Ibrahim bin Isma’il ini adalah seorang Jahmi (penganut paham Jahmiyyah – paham sesat yang telah dikafirkan para
Halaman 1 dari 8
 
mutawatir menurut istilah adalah “apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan merekaterhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad”. Atau : “hadits yang diriwayatkan oleh perawi yangbanyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta danmemalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan inderaseperti pendengarannya dan semacamnya”. Ada empat syarat satu hadits dikatakan mutawatir :1.Diriwayatkan oleh jumlah yang banyak.2.Jumlah yang banyak ini berada pada semua tingkatan (thabaqat) sanad.
3.
Menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersekongkol/bersepakat untuk dusta
8
4.
Sandaran hadits mereka dengan menggunakan indera seperti perkataan mereka :
kami telah mendengar 
, atau
kami telah melihat 
, atau
kami telah menyentuh
, atau yang seperti itu. Adapun jika sandaran mereka denganmenggunakan akal, maka tidak dapat dikatakan sebagai hadits mutawatir.Menurut jumhur ulama, tidak ada batasan tertentu dalam jumlah perawi sehingga satu hadits dikatakan mutawatir. Bisadikatakan, sifat kemutawatiran itu
nisbi
yang berbeda antara satu ulama dengan ulama lainnya. Namun itu bukanlahmenjadi satu permasalahan yang berarti bagi ulama Ahli Hadits karena yang terpenting bagi mereka adalah keshahihandari riwayat. Hadits mutawatir ini dibagi menjadi dua, yaitu :
1.
Mutawatir Lafdhy 
adalah apabila lafadh dan maknannya mutawatir. Misalnya hadits : {
أبتف ادعتي ذك  رنا  دع
}
”Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) maka diaakan mendapatkan tempat duduknya dari api neraka” 
. Hadits ini telah diriwayatkan lebih dari 70 orang shahabat, dandiantara mereka termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga.
2.
Mutawatir Ma’nawy 
adalah maknannya yang mutawatir sedangkan lafadhnya tidak. Misalnya, hadits-hadits tentangmengangkat tangan ketika berdoa. Hadits ini telah diriwayatkan dari Nabi sekitar 100 macam hadits tentangmengangkat tangan ketika berdo’a. Dan setiap hadits tersebut berbeda kasusnya dari hadits yang lain. Sedangkansetiap kasus belum mencapai derajat mutawatir. Namun bisa menjadi mutawatir karena adanya beberapa jalan danpersamaan antara hadits-hadits tersebut, yaitu tentang mengangkat tangan ketika berdo’a. [lihat
Mabaahits fii‘Uluumil-Hadiits
oleh Manna’ Al-Qaththan, Maktabah Wahbah, Cet. 4].Ahad menurut bahasa mempunyai arti “satu”. Dan
khabarul-wahid 
adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang.Sedangkan
Hadits Ahad 
menurut istilah adalah “hadits yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir”. Hadits ahadterbagi menjadi 3 macam, yaitu :
Masyhur 
,
‘Aziz 
, dan
Gharib
.
Masyhur 
(atau juga dikenal dengan nama hadits Mustafidh) menurut bahasa adalah “nampak”. Sedangkan menurut istilah,
Hadits Masyhur 
adalah : “Hadits yang diriwayatkan oleh 3 (tiga) perawi atau lebih pada setiap thabaqah (tingkatan) danbelum mencapai batas mutawatir”.
9
 Contohnya, sebuah hadits yang berbunyi : {
 
بعا  زتن ازتا معا ب ل ا إاأو اضف م غ اتفف اف له سوؤر نا ذا  ب م اإ ىتح ءعا ب معا ب و
}
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengambil ilmu dengan melepaskan dari dada seorang hamba. Akan tetapi akan melepaskan ilmu denganmengambil para ulama. Sehingga apabila sudah tidak terdapat seorang yang alim, maka orang yang bodoh akan dijadikansebagai pemimpin, lalu memberikan fatwa tanpa didasari ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan” 
(HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).
ulama). [Lihat
 Al-Mukhtarah fii Ajwibatil-Musthalah
oleh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i hal. 63-64; Maktabah Sahab]. Maka, kita tidak akantemukan pembagian ahad dan mutawatir ini di kalangan ulama ahli hadits terdahulu. Kalaupun misal sebagian ulama menyebutkanahad dan mutawatir, itu bukanlah seperti maksud yang dimaui kalangan ahli ushul. Namun hal itu semata-mata hanya dilihat dari jumlah perawi saja. Hal itu tercermin sebagaimana dalam kitab
 Ar-Risalah
karangan Imam Asy-Syafi’i. Beliau menyebutkan khabarwahid atau khabar ahad, namun maksud beliau semata-mata hanyalah penekanan pada jumlah perawi saja yang menyampaikanhadits yaitu satu orang. Hal itu dipertegas dengan penjelasan Al-Imam Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafy ketika mensyarah kitab
 Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah
karangan Imam Ath-Thahawi Al-Hanafy :
ك إو - اتف ، حآو ات : ق ربخا  ئا ، ضفااو زتعاو عاو هجا ى ا ىإ ذ ا حر ا ا د ل ا ا ف ، لدا يعق  ن - دنا يعق !
“Syaikh rahimahullah (yaitu Imam Ath-Thahawi) mengisyaratkan kepada bantahan terhadap Jahmiyyah, Mu’aththilah, Mu’tazillah, danRafidlah yang mengatakan bahwa khabar itu terbagi menjadi dua, yaitu mutawatir dan ahad. (Mereka mengatakan :) adapun khabarmutawatir, meskipun sanadnya telah qath’i namun dilalahnya tidak qath’i, maka dalil-dalil lafdhiyyah tersebut tidak menghasilkankeyakinan” [
Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah
, hal. 161, Maktabah Al-Misykah].Berbeda halnya dengan Ushuliyyun yang mendefinisikan sebagai hadits/khabar yang tidak terpenuhi syarat-syarat hadits mutawatir.Pembagian hadits antara ahad dan mutawatir dari kalangan Ushuliyyun ini kemudian diikuti oleh sebagian kalangan Ahli Haditsmuta’akhkhirin, seperti Ibnul-Atsir Al-Jazri dalam muqaddimah kitab
 Jami’ul-Ushul
dan juga Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitabnya
 Al-Kifayah fii ‘Ilmir-Riwayah
. Imam As-Suyuthi berkata : “(Termasuk di dalamnya) yaitu masyhur (yaitu mutawatir yang dikenal dalamilmu fiqh dan ushul-fiqh, dan tidak ada disebutkan oleh Muhadditsin) dengan nama khusus yang mengesankan maknanya khusus pula.Meskipun terdapat perkataan Al-Khathib, yaitu Al-Baghdadi, namun dalam perkataannya tersebut terkesan ia mengikuti selain AhliHadits. Demikianlah yang dinyatakan oleh Ibnu Shalah” [
Tadribur-Rawi
juz 2 hal. 176].
8
Syarat ini menjadi sangat penting, sebab Ahlus-Sunnah menolak riwayat para perawi Syi’ah Rafidlah yang ekstrim walau jumlahmereka banyak. Hal itu dikarenakan bahwa perawi Syi’ah Rafidlah adalah para pendusta yang telah banyak membuat kesepakatan(ijma’) dalam dusta. Misalnya ijma’ mereka tentang kafirnya Abu Bakar dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma. Ijma’ ini tentu saja tidak kitaanggap.
9
Hadits masyhur di luar istilah tersebut dapat dibagi menjadi beberapa macam yang meliputi : mempunyai satu sanad,mempunyai beberapa sanad, dan tidak ada sanad sama sekali; seperti :
a)
Masyhur di antara para ahli hadits secara khusus, misalnya hadits Anas : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallampernah melakukan qunut selama satu bulan setelah berdiri dari ruku’ berdoa untuk (kebinasaan) Ra’l dan Dzakwan” (HR. Bukharidan Muslim)
 b)
Masyhur di kalangan ahli hadits dan ulama dan orang awam, misalnya :
”Seorang muslim adalah orang yang kaum musliminselamat dari lisan dan tangannya” 
(HR. Bukhari dan Muslim).
c)
Masyhur di antara para ahli fiqh, misalnya :
”Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talaq” 
(HR. Al-Hakim; namunhadits ini adalah dla’if).
d)
Masyhur di antara ulama ushul fiqh, misalnya :
”Telah dibebaskan dari umatku kesalahan dan kelupaan…..” 
(HR. Al-Hakim danIbnu Hibban).
e)
Masyhur di kalangan masyarakat umum, misalnya :
”Tergesa-gesa adalah bagian dari perbuatan syaithan” 
(HR. Tirmidzi dengansanad hasan).Lihat
Nuzhatun-Nadhar 
hal. 26 dan
Tadribur-Rawi
halaman 533.
Halaman 2 dari 8
 
‘Aziz 
secara bahasa artinya : yang sedikit, yang gagah, atau yang kuat.
Hadts ’Aziiz 
menurut istilah ilmu hadits adalah :“Suatu hadits yang diriwayatkan dengan minimal dua sanad yang berlainan rawinya”. Contohnya : Nabi shallallaahubersabda : {
 
عأ ناو دوو داو  إ حأ كأ ىتح مكدحأ ل
}
”Tidaklah beriman salah seorang di antarakamu hingga aku (Nabi) lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, serta serta seluruh manusia” 
(HR. Bukhari danMuslim; dengan sanad yang tidak sama).
Gharib
secara bahasa berarti yang jauh dari kerabatnya. Sedangkan
Hadits Gharib
secara istilah adalah : “Hadits yanghanya diriwayatkan oleh seorang perawi secara sendiri”. Dan tidak dipersyaratkan periwayatan seorang perawi itu terdapatdalam setiap tingkatan (thabaqah) periwayatannya, akan tetapi cukup terdapat pada satu tingkatan atau lebih. Dan biladalam tingkatan yang lain jumlahnya lebih dari satu, maka itu tidak mengubah statusnya (sebagai hadits
gharib
). Sebagianulama’ lain menyebut hadits ini sebagai
 Al-Fard 
. Hadits gharib dibagi menjadi dua :
1.
Gharib Muthlaq
, disebut juga :
 Al-Fardul-Muthlaq
; yaitu bilamana kesendirian (
gharabah
) periwayatan terdapatpada asal sanad (shahabat). Misalnya hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : ”Bahwa setiap perbuatan itubergantung pada niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Umar bin Al-Khaththab, lalu darinya hadits ini diriwayatkan oleh Alqamah.Muhammad bin Ibrahim lalu meriwayatkannya dari Alqamah. Kemudian Yahya bin Sa’id meriwayatkan dari Muhammadbin Ibrahim. Kemudian setelah itu, ia diriwayatkan oleh banyak perawi melalui Yahya bin Sa’id. Dalam
gharib muthlaq
ini yang menjadi pegangan adalah apabila seorang shahabat hanya sendiri meriwayatkan sebuah hadits..
2.
Gharib Nisbi
, disebut juga :
 Al-Fardun-Nisbi
; yaitu apabila keghariban terjadi pada pertengahan sanadnya, bukanpada asal sanadnya. Maksudnya satu hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari satu orang perawi pada asal sanadnya,kemudian dari semua perawi itu hadits ini diriwayatkan oleh satu orang perawi saja yang mengambil dari para perawitersebut. Misalnya : Hadits Malik, dari Az-Zuhri (Ibnu Syihab), dari Anas radliyallaahu ‘anhu :
”Bahwa Nabi shallallaahu‘alaihi wasallam masuk kota Makkah dengan mengenakan penutup kepala di atas kepalanya
” (HR. Bukhari danMuslim). Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zuhri. Dinamakan dengan
gharib nisbi
karena kesendirianperiwayatan hanya terjadi pada perawi tertentu. 
Itulah garis besar penjelasan hadits dilihat dari segi sampainya kepada kita. Pembagian antara hadits mutawatir dan ahadsama sekali bukanlah masuk dalam ranah diterima atau ditolaknya satu khabar/hadits.
Antara
Dlarury 
dan
Nadhary 
 Telah disinggung sebelumnya bahwa pembagian hadits mutawatir dan ahad bukanlah dilihat dari segi penerimaan ataupenolakannya. Para ulama Ahlul-Hadits telah sepakat bahwa diterima atau ditolaknya satu hadits berdasarkan validitas(keshahihan) hadits. Jika hadits itu shahih (atau hasan) maka diterima (
maqbu
l), dan jika hadits itu dla’if (apalagimaudlu’/palsu dan
laa ashla lahu
/tidak ada asalnya) maka ditolak (
mardud 
). Adapun hadits mutawatir merupakan bagiandari hadits
maqbul
; yang tidak berbeda secara makna dengan hadits shahih. Dengan demikian, dengan bahasa sederhanaklasifikasi diterima atau ditolaknya suatu hadits dapat dirinci sebagai berikut :
1.
Hadits
Maqbul
(Diterima) : Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad Shahih (atau Hasan).
2.
Hadits
Mardud 
(Ditolak) : Hadits Dla’if, Maudlu’, dan saudara-saudaranya.Di sini kita tidak akan menyinggung Hadits Mardud. Kita akan fokus pada Hadits Maqbul, yang terdiri dari hadits mutawatirdan hadits ahad shahih.Para ulama telah menjelaskan bahwa hadits mutawatir memberikan ilmu yang bersifat
dlarury 
(aksiomatik). Maksudnya,hadits mutawatir ini mengandung ilmu yang harus diyakini yang mengharuskan kepada manusia untuk mempercayainyadengan sepenuh hati sehingga tidak perlu lagi mengkaji dan menyelidiki. Seperti pengetahuan kita akan adanya Makkahdan Madinah berada di Saudi Arabia, matahari itu panas, es itu dingin, dan lainnya; tanpa membutuhkan penelitian danpengkajian. Maka hadits mutawatir adalah qath’i tidak perlu adanya penelitian dan penyelidikan tentang keadaan paraperawinya .Adapun hadits ahad (yang shahih), maka ia memberikan ilmu yang bersifat
nadhary 
. Maksudnya, satu hadits ahad bisamemberikan satu ilmu setelah dilakukan pengkajian dan penelitian dengan seksama. Jika memang setelah ditelitimembuktikan bahwa hadits tersebut shahih, dibawakan oleh para perawi terpercaya, dan selamat dan
‘illat 
(cacattersembunyi yang menyebabkan kelemahan hadits) dan
syudzudz 
(kejanggalan)
,maka hadits tersebut adalah diterimalagi mengandung ilmu (keyakinan). Hadits ahad bisa menjadi semakin terangkat jika mempunyai penguat (
qarinah
) antaralain (ditulis secara ringkas) :-Hadits ahad tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahihnya.
-
Hadits masyhur yang memiliki banyak jalur sanad yang kesemua jalur tersebut berbeda-beda dan didalamnya tidak ada perawi-perawi yang lemah serta selamat dari
illat 
hadits.
-
Hadits yang diriwayatkan secara berkelanjutan (
musalsal
) oleh para ulama hadits yang terpercaya danteliti, sehingga hadits tersebut tidak asing lagi.Hadits-hadits ahad yang mempunyai qarinah sebagaimana di atas, maka kedudukannya adalah kuat lagi qath’i (pasti). Al-Hafidh Ibnu Shalah berkata :
  ل  ئا ا   ا ا ل مو ربا ا  نعو    ت ص اك دا أ  فخ  قاو نا ينا معاو ت  ع ما اذو ب  ا  ي ى ا ل ع صحوا لإ صأ يف د ل  جت  ى
“Para ahli hadits sering menyebut hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan
(
shahih muttafaq ‘alaih
)
. Maksudnya adalahyang disepakati oleh keduanya saja, bukan disepakati oleh umat secara keseluruhan. Akan tetapi, kesepakatan kaummuslimin sejalan dengan kesepakatan Bukhari dan Muslim karena mereka sepakat menerima hadits-hadits yang disepakatioleh Bukhari dan Muslim. Semua hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim adalah qath’i keshahihannya danmengandung
ilmu yaqiny nadhary 
. Hal ini berbeda dengan orang yang menafikkkannya dimana mereka berhujjah bahwahadits-hadits tersebut tidak menghasilkan sesuatu kecuali
dhann
[‘Ulumul-Hadits
hal. 8-9, Maktabah Sahab].Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata :
10
 
Nuzhatun-Nadha
r oleh Ibnu Hajar hal. 28
dan Taisir Musthalah Al-Hadits
oleh Mahmud Ath-Thahhan hal. 28.
11
Hadits
syadz 
adalah hadits yang dibawakan oleh perawi yang terpercaya (
tsiqah
) yang menyelisihi perawi yang lebih terpercayadarinya, baik dari segi hafalannya, jumlahnya, atau yang lainnya sehingga periwayatannya dimenangkan.
Halaman 3 dari 8

Activity (0)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Khairul Atiyyah liked this
Indah Suhardini liked this
Asef liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->