HADITS AHAD DAN HADITS MUTAWATIRSebuah Catatan Atas Sebuah Penjelasan
Pendahuluan
Ilmu hadits adalah ilmu yang sangat mulia dalam Islam. Orang-orang yang bergelut di dalamnya telah menyandangkeharuman tersendiri dalam sejarah. Sebutlah misal seperti : Malik bin Anas, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal,Al-Auza’I, Ali bin Al-Madini, Yahya bin Ma’in, Ibnul-Mubarak, Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, An-Nawawi,Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, Ibnu Rajab, Asy-Syaukani, Al-Mubarakfury, Ahmad Syakir, danlainnya yang tetap berlanjut sampai saat ini. Merekalah Ashhaabul-Hadits (para ahli hadits). Dan merekalah orang-orangyang mendapatkan pengakuan bahwa sebagai penghulu/pemimpin
Al-Firqatun-Najiyyah
(Golongan yang Selamat).Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ةدحاو لإ رنا يف مهك قف عبسو ث ى ا ذ ت مسو آو مسو ا ىص ا سر ق ق أ جا يو : ظ يفو .يصأو ا أ ق قا ي و اق
Dari Anas bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
“Akan terpecah umat ini menjaditujuhpuluh tiga kelompok yang kesemuanya masuk neraka kecuali satu”. Para shahabat bertanya : “Siapa mereka wahaiRasulullah ?”. Beliau menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang kondisinya seperti kondisiku dan para shahabatku dihari ini”
. [HR. Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghiir no. 724]. Dalam lain riwayat beiau besabda :
“Dan ia adalah Al-Jama’ah”
[HR. Abu Dawud no. 4597, Ahmad 4/102 no. 16979 dari shahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan].
Satu golongan/kelompok itulah
Al-Firqatun-Najiyyah
(sebagaimana disebut oleh banyak ulama). Syaikh Abdul-Qadir Al- Jailani berkata dalam kitab Al-Ghunyah : {
و دحاو مسا لإ مه مسا ل نا أ و ، جا و نا أ يهف نا قا أدا صأ
} “Adapun golongan yang selamat yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Dan Ahlus-Sunnah, tidak ada nama lainbagi mereka kecuali satu nama, yaitu Ashhaabul-Hadiits (para Ahli-Hadits)”
.Ashhaabul-Hadits disebut juga
Ath-Thaifah Al-Manshurah
, yaitu kelompok yang mendapatkan pertolongan (dari Allah)dalam menegakkan al-haq sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
ذك مو ا أ ي ىتح مهذخ مض ل ا ى يتأ ئط از ل
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang memperjuangkan al-haq, tidak membahayakan mereka orang yangmenghinakan mereka hingga datang keputusan Allah (yaitu datangnya hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaanseperti itu”
[HR. Muslim no. 1920].Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang hadits di atas beliau menjawab : {
صأ ةرنا ئا ذ م ام رأ ف دا
} “Apabila kelompok yang mendapatkan pertolongan itu bukanlah Ashhaabul-Hadits, maka aku tidaktahu siapakah mereka…” [Ma’rifatu ‘Ulumil-Hadiits oleh Al-Hakim An-Naisaburi hal. 1 dengan sanad shahih]
.Ashhaabul-Hadits adalah orang-orang yang paling mengerti maksud dan pengamalan sunnah-sunnah Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan mereka lah orang yang telah menghabiskan waktu dan usianya untuk mempelajarihadits-hadits, memilah antara yang shahih dan yang dla’if, serta kemudian memberikan penjelasan kandungannya..Bila kemudian ada permasalahan yang berkaitan dengan hadits dan sunnah Nabi, tentu Ashhaabul-Hadits (para ahli hadits)lah
yang paling mengetahui. Bukan selainnya, seperti dari kalangan ahlul-kalam, ahlul-ushul, dan yang semisal. ImamIbnul-Qayyim mengatakan :
اح عا ، دا ء مو ، و قطو د معا أ لإ قدص دو دا دص ى ا يف بتع ل ذكو، خو ىإ من ات معا أ ف ، مهبت اق دا ن دشأ ه نتعا ، عفأو اق ضا ، مهبعفأو اق مهبو ، مهب ن مهتن ةد دا ف ، مدن ات أ ً ضف ، مغ ً ع ل صا دن اتفتبا مغ رعش ل ف ل ً ع احأو
“….Demikian pula dalam perkara yang berkaitan dengan membenarkan sebuah hadits atau tidak, mesti disepakati olehpara ahli hadits yang lebih memahami jalur periwayatan dan
‘illat
-nya. Mereka itu adalah ulama hadits, karena merekamengetahui keadaan nabi mereka, yang senantiasa memelihara sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, danmemiliki perhatian lebih terhadap periwayatan dibandingkan mereka yang masih bertaqlid pada perkataan-perkataan yangmereka ikuti. Sebagaimana ilmu pengetahuan itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu khusus dan ilmu umum. Maka adailmu yang diyakini oleh orang khusus dimana tidak diketahui oleh orang lain, apalagi diyakini. Dan Ahlul-Hadits denganperhatian mereka yang lebih kepada sunnah Nabi mereka, pemeliharaan mereka atas sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau; mereka mengetahui permasalahan ini dan tidak meragukannya. (Dan tentu mereka sangat berbeda)dibandingkan orang-orang selain mereka yang tidak mempunyai perasaan perhatian kepada sunnah Nabi sebagaimanamereka” [
Mukhtashar Ash-Shawaaiqul-Mursalah
juz 2 hal. 373 melalui perantara kitab
Al-Hadits Hujjatun binafsihifil-‘Aqaaid wal-Ahkaam
hal. 70-71; Maktabah Sahab].
Hadits Ahad dan Hadits Mutawatir
Pembagian hadits mutawatir dan hadits ahad – dalam ilmu hadits – adalah berkaitan dengan hadits dilihat dari segisampainya kepada kita.
Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari
at-tawaatur
yang artinya berurutan. Sedangkan
1
Catatan atas penjelasan materi yang diberikan pada tanggal 13 Januari 2008 M di Masjid Al-Hijri Ciomas Permai mengenai IlmuHadits, khususnya pembahasan hadits mutawatir dan hadits ahad.
2
Hadits ini dengan keseluruhan jalan periwayatannya adalah shahih. Telah dishahihkan oleh banyak ulama hadits seperti : At- Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah, Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham, Ibnu Hibban dalam Shahihnya,Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Ibnu Taimiyyah dalam
Majmu’ Fatawa
, Ibnu Hajar dalam
Takhrij Al-Kasyaf
, Al-Albani dalam
Ash-Shahiihah
,dan yang lainnya.
3
Dinukil melalui perantara kitab
Minhajul-Firqatin-Najiyyah wath-Thaaifah Al-Manshurah
oleh Ibnu Zainu, Cet. 9.
4
Silakan disimak perkataan para ulama dalam kitab tersebut tentang eksistensi Ashhaabul-Hadiits !
5
Penyebutan para Ahli Hadits secara khusus dalam cakupan makna Ashhaabul-Hadits merupakan penisbatan yang dilakukan olehpara ulama Ahlus-Sunnah. Silakan lihat kitab
Ma’rifatu ‘Ulumil-Hadiits
oleh Al-Hakim An-Naisaburi.
6
Sebagian ahli hadits tidak membaginya menjadi dua, namun menjadi empat : mutawatir, masyhur, ‘aziz, dan gharib. Tidak adaperbedaan mendasar dalam permasalahan ini, karena hadits masyhur, ‘aziz, dan gharib termasuk klasifikasi hadits ahad.
7
Sebenarnya pembagian hadits muatawatir dan ahad tidaklah dimulai oleh kalangan ahli hadits di kalangan awal (tidak adaasalnya dari kalangan Ashhaabul-Hadiits). Namun, pembagian itu dimulai oleh kalangan ahli ushul dan ahli kalam. Pembagian tersebutpertama kali dilakukan oleh Abdurrahman bin Kaisan Al-Asham yang kemudian diikuti oleh muridnya yang bernama Ibrahim bin Isma’ilbin Ibrahim. Ibrahim bin Isma’il ini adalah seorang Jahmi (penganut paham Jahmiyyah – paham sesat yang telah dikafirkan para
Halaman 1 dari 8