Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dyo Cerpen My Dreams

Dyo Cerpen My Dreams

Ratings: (0)|Views: 11 |Likes:

More info:

Published by: Dyonisius H S Jewaru on Sep 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2011

pdf

text

original

 
Dream is a key for getting a bright future…
Aku terpana melihat sebuah gambar yang tergantung di sekitar tembok sekolahku,SMAN 1 waikabubak. Bentuknya membuat benda di sekitarnya tampak malu-malumenunjukkan mukanya. Berdiri megah di antara aliran sungai seine yang beriak-riak kecil. Ajaib dan sungguh membuatku terkagum-kagum. Menjulang ke atas dantampaknya ingin mengambil sesuatu di atas sana. Kulihat di bagian bawah gambar itu,tertulis jelas: “EIFFEL TOWER-PARIS, PERANCIS”. Saat itulah terbesit angan danmimpiku! Aku tak akan pernah berhenti bermimpi untuk ke sana, menginjakkan kakikudi rana Perancis… rana khayalanku!!!“Dyo, kamu belum pulang?,” tanya Gadi, sahabatku. Gadi adalah orang yang paling kusayangi selain keluargaku. Dilahirkan dari sebuah keluarga yang
broken home
ternyata tak menyurutkannya untuk menjalani hidup. “Masih ada tugas yang belum akukejakan, so… kamu pulang saja duluan,” jawabku. Gadi menganggukkan kepalanya dantak lama kemudian sudah menghilang di tikungan piket. Aku berjalan ke kelasku, XIISains, dan mulai sibuk mengerjakan tugas-tugasku.Identitasku sebagai orang pedalaman ternyata membuat nyaliku menciut melihatekstrimnya trend modernisasi di kota. Berhadapan dengan teman sebayaku yang mulaidibayang-bayangi oleh laknatnya kehidupan kota, membuat diriku merasa diasingkan.Tampaknya mereka hanyalah generasi penerus bangsa yang tak bisa diharapkan. Lihatsaja perawakannya!. Tata krama mereka lenyapkan dan euforia hedonisme merekatonjolkan. Sekolah mereka hancur berantakkan dan berakibat fatal bagi mereka yangmenikmatinya.Seperti biasa, ayah dan ibu selalu menungguku ketika aku hendak pulang kerumah. Ayah adalah sosok pendiam yang selalu kukagumi. Seberkas senyuman menjadi pertanda baik dan sebaliknya raut wajah pucat menjadi pertanda buruk. Ah… sungguhtemperamental! Satu sahabatku masih ada di rumah. LAPTOP! Yawalaupunmurahan,tapi benda pasif itu hasil kerja keras ayahku selama usia produktifnya. Tak heran apabila aku sudah berada di kamar, rasanya ingin berjam-jam mengutak-atik laptopitu. Tiba-tiba di monitor, tertampak sebuah alamat “Azeliaclara@yahoo.com”, yangsebelumnya tak pernah kuketahui.Clara: hai… salam kenal! Namaku Clara Azelia Devi, biasa dipanggil Clara. Akuorang NTT, tapi sekarang tinggal di paris.Dyo: salam kenal juga! Namaku dyo, panjangnya Dyonisius Aditya Sandryng.Asli Flores dan tinggal di Sumba Barat, NTT.Clara: oh…,eh… sorry! Aku dapat alamat e-mail kamu karena aku ingin sekalicurhat dengan orang Indonesia, ya… seperti kamu ini…he…he…he…Dyo: oh… begitu…Lama kami saling berbagi pengalaman. Tidak lama kemudian kami bisa mengenalsatu sama lain. Dia rupanya mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendididikan di
 
universitas Sorbonne-Paris. 5 jam kami saling curhat. Tiba-tiba…’teng’! I’m falling inlove on the first sight! Maybe….!?******************Kawan…! Bukannya aku merasa sombong, tapi aku termasuk anak yang berprestasi di sekolahku. Superiorku Albert Einstein, sang Alkhemisku moyangAristoteles, panglimaku Mr. Achilles dan malaikat kecilku, tentu saja… ayahku tak hentimemberi inspirasi untukku. Tak terasa aku sudah di ambang pergantian status dari‘pelajar’ menjadi ‘mahasiswa’. Tekadku satu! LULUS dengan predikat A! satu minggumenjelang ujian akhir rasanya seperti menjemput kiamat. Penuh penantian dankecemasan yang menyelimuti pikiranku.Seperti sekarang ini, aku mesti membaca ratusan buku. Lama aku belajar.Mekanika kuantum, percepaatan gravitasi, integral dan bidang dimensi tiga, ribuan kata bahasa inggris, logika vektor, dan sidikit berbelok ke personifikasi dkk, semuanyamelebur menjadi satu di dalam saraf pusatku. Belum lagi ditambah dengan praktikum- praktikum biologi yang makin hari tak karuan banyaknya dan karya tulisku yang sangattebal. Sore hari aku mau tak mau harus pulang-pergi dari rumah menuju perpustakaandaerah dekat sekolahku. “Bahaya penggunaan sistem bayi tabung bagi moral dankesehatan manusia” menjadi tema besar dalam halaman pertama karya tulisku. Kursi danmeja seakan marah kepadaku karena kebisingan akibat umpatan-umpatan kontradiktif terhadap tugas-tugas praktikumku yang makin menggunung jumlahnya.Akhirnya aku sampai kepada titik jenuh, sebuah prosesi klimaks yang berakibatfatal bagi otakku. Mesin-mesin di dalamnya pasti sudah mulai panas, tanda tak mampulagi. Aku masih bisa memahami bahwa inilah yang menjadi faktor fundamental yangmembedakan orang sepintar Albert Einstein dengan manusia paling dungu sedunia,Mr.Bean. Superiorku itu memandang nasib yang harus dijalaninya sebagai isyaratkontradiktif-sama sekali bukan isyarat kekalahan, dan aku percaya bahwa aku tak akan pernah mendahului nasib.Kelelahan karena belajar tadi membuat diriku seakan terbang ke langit ketujuh.Mata semakin meredup, sipit seperti kebanyakan orang tiongkok, akhirnya tertutup, tandaaktifitas tidur tak bisa ditunda lagi.*** 1 minggu selanjutnya…***Tibalah saat yang kunantikan, ujian nasional(UN)…! Sebelum ke sekolah, akumeminta restu dan berkat dari ayah dan ibu. Ayahku yang pendiam dan ibuku yangcerewet hanya tersenyum simpul pertanda harapan abstrak ada di pundakku.Sekarang, aku dihadapkan pada bebeapa kertas ujian yang telah dihiasi beribu-ribu huruf dan angka. Satu kesalahan sama dengan mengubur impian “
 getting perferct  point 
”, berpikirlah lalu mengambil kesimpulan. Satu demi satu kuisi lembaran jawabanku. Sampai nomor 39, keningku naik dan berkerut tak menentu. Mekanikakuantum!, ilmu Ernest Rutherford, sang konspiratorku. 2 menit jariku menjadi korbanakibat kebingunganku. Begitu teganya aku menggigit jariku sendiri.***
 
Aku yakin kalau Tuhan telah menentukan mozaik hidupku. Demi mendapatkankesuksesan, aku rela melepuh terbakar panas matahari, limbung dihantam dahan-dahan pohon beringin, dan menciut dicengkram angin. Semuanya telah aku rasakan dalamkemenangan manis yang gilang-gemilang dan kekalahan getir yang paling memalukan.Masa depanku ada di sekolah yang paling kudambakan ini, SMAN 1 waikabubak.Sudah 45 menit aku menunggu ayahku yang belum juga muncul untumenghadiri acara pengumuman kululusan di aula sekolahku. Berdiri mematung seperti batu sambil diserang oleh sekelompok nyamuk jahat membuat denyut jantungku samar-samar mulai menghilang. Namun, setelah itu aku melihat sebuah benda hitam kecil yangsamar-samar melesat… itu motor ayahku! dia datang dengan pakaian terbaiknya, baju berlengan panjang putih berdasi kupu-kupu. Motor bututnya itu pelan-pelan diparkirkandan ayah segera menghampiriku. Kami berdua melesat ke dalam aula sekolah.Dengan segala kerja kerasku, aku mempersembahkan suatu hal untuk orang-orangyang kucintai: ayah, ibu, kakek-nenek, Gadi, dan Clara; LULUS dengan predikat A dantahukah engkau kawan!? Hadiahnya beasiswa ke unversitas Sorbonne-Perancis…
it’s awonderful dream for me…! Yeah…
Aku bangga pada diriku sendiri. Tuhan telah memeluk mimpi-mimpiku.Persiapan menuju Paris adalah peristiwa terbesar dalam hidupku. Semua kerabatkumengantar kepergianku. “aku tak akan pulang sebelum menjadi sarjana,” janjiku dalamhati. Sekali lagi, kulihat teman-temanku, kru XII Sains. Mereka juara 1 seluruh dunia!Aku akan merindukan sosok mereka. Tak bisa kutahan air mata ini. Mereka selalumeyakinkanku untuk menjunjung tinggi mimpi-mimpiku, lalu mereka membakar semangatku untuk mencapainya. Mereka adalah antitesis sikap pesimis, panglima yangmengobrakk-abrik mentalitas penakut, dan hulubalang bagi jiwa yang besar. Merekatelah membawaku untuk mengalami hidup seperti apa yang kuinginkan. Hidup dengantantangan dan gelegak marabahaya.Perjaalanan ini seakan membuka jalan rahasia dalam kepalaku. Jalan menuju penaklukaan-penaklukan terbesar dalam hidupku, untuk menemukan diriku sendiri…yamenemukan
 self identity
adalah tantangan terbesarku…***Di Perancis***Sehari sebelum aku pergi ke Paris, aku telah menghubunngi Clara, dan kami berdua akan bertemu saat musim gugur di bawah kaki menara Eiffel. Aku telahmembawa kado special di hari ulang tahunnya. Haatiku tak sabar ingin melihat‘wajahnya’ yang telah mengalihkan duniaku…Di universitas Sorbonne, aku mengambil jurusan biologi dan tengah menyusunskripsi mikrobiologi modern. Ini sangat bertentangan dengan ajaran si penipu Darwin.Sebagai sumber penghasilan, aku bekerja sebagai seorang wartawan pada salah satu suratkhabar di Perancis. Ayah dan ibu sering mengirimkan surat padaku. Hammpir setiap saataku membacanya di bawah patung Sir Robert Sorbonne yang sudah kusam, dimakan usia.Musim gugurpun tiba.aku teringat akan janjiku pada Clara. Aku segera pergi kesuatu tempat yang masih merupakan area menara Eiffel. Modalku untuk melihat Clarahanyalah baju putih dan celana kuning! Ambisi besar telah membawaku datang ke sini.Akhirnya aku berhenti karena melihat sesosok manusia yang samar-samar membuat jantungku terasa mau copot. Rasa lelahku seakan hilang ditelan bumi. Seorang wanita

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->